
Chapter 86: Dia Muncul Kembali.
"Apa kau sangat sibuk?" tanya Jun.
"Ya. Aku sangat sibuk. Kenapa?" tanya Bob.
"Tidak. Aku hanya tanya saja" kata Jun.
Jun langsung menutup percakapan telepon dengan Bob.
"Ada apa dengan anak ini?" tanya Bob.
Langkah kaki lambat namun tak menyerah dia hanya sedang menikmati dunia ini sedang berbicara padanya.
Jun seperti ingin menangis tapi dia tidak bisa melakukan hal itu dan semua tertahan di hati yang seakan ingin meledak. Bagaimanapun ia ingin mengatakan tentang isi hatinya ia secara kuasa menahan.
"Aku disini. Jangan ada yang datang. Itu harapanku" kata Flow.
Dia sedang bersembunyi sendiri dalam tangisnya yang tak bersuara.
Jun sedang mengingat apa yang di katakan oleh kakaknya ketika ia berpura pura pergi untuk menerima panggilan dari seseorang. Ketika itu dia sedang berbohong bahwa dia memang sedang terburu buru akan sesuatu.
Jawaban dari Jax membuatnya seakan makin sulit untuk mengerti bahwa dia harus berpihak kepada siapa.
"Ternyata aku belum bisa melupakan Sima"
Itulah yang dikatakan oleh kakaknya kepada sahabatnya itu yang bekerja sebagai Psikiater.
"Padahal gadis itu telah menghancurkan hidupnya di masa lalu dan dia masih bisa memaafkan gadis itu" kata Jun.
Jun keluar dari area rumah sakit menggunakan sepeda motornya yang biasa ia gunakan untuk balapan.
Dia masih sulit untuk mencerna apa yang ia ketahui sekarang dengan dia dan dunia ini.
Satu kilometer ia melajukan motornya dari arah rumah sakit. Pandangannya sedikit kabur dan ia memutuskan mencari tempat aman yang akan ia gunakan untuk memberhentikan laju motornya.
"Mungkin aku terlalu overthinking" kata Jun.
Jun secara kebetulan melihat Flow yang baru datang ke ruang rawat gawat darurat sendirian.
Rasa marah datang ketika ia melihat wanita yang ia rasa sedang didekati oleh kakaknya.
Dia mengingat itu waktu itu lagi.
Flow disana belum berhenti didalam tangis yang ia sembunyikan.
"Meski hari ini kau sedang menangis. Tolong, jangan pernah menyerah untukmu" kata itu terucap dari hati wanita yang sedang menangis ini.
"Terimakasih Flow" kata Flow.
Disaat Flow ada di ruang unit gawat darurat Jax melewati ruang unit gawat darurat tempat Flow sedang berbaring disana dengan selimut putih bergaris biru dan putih vertikal. Jax berencana pergi dari rumah sakit setelah masalah bisnisnya sudah selesai.
Dia tak melihat Flow ada di ruangan itu. Dia pergi begitu saja begitu juga Flow yang sedang berbaring menghadap berlawanan arah dengan arah Jax ketika akan pergi.
Jax menghadap ke timur sedangkan Flow berbaring diatas ranjang rumah sakit menghadap ke barat dengan selimut yang ia pakai.
Keduanya tidak saling bertemu meski berada di tempat yang sama.
Seorang remaja masih dengan helm yang ia pakai duduk diatas motor di antara angin sore yang datang ramah tanpa kerisauan dedaunan pohon ikut mengiring arah yang mereka inginkan.
Jun melihat jarum jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Tolong aku!" kata Jamie.
Jun melihat siapa yang sedang menarik lengannya tanpa basa basi ia lakukan kepada remaja teman sekolahnya.
"Selalu saja kau menggganguku" kata Jun.
"Itu tujuan hidupku" kata Jamie.
Jamie masih menarik lengan kiri Jun tanpa melihat kondisi orang yang mendapat perlakuan itu.
"Kapan kau menghentikan ini?" tanya Jun.
Jamie akhirnya melepaskan tangannya dari lengan kiri Jun.
"Kau kalah taruhan lagi?" tanya Jun.
"Kau bisa lihat" kata Jamie.
Jun memberikan uang kepada Jamie untuk mengganti uang taruhan akibat kalah balapan liar tadi sepulang sekolah di tempat balapan liar tempat yang sama dengan biasa Jun datangi.
"Berhentilah ikut balapan" kata Jun.
"Kau juga belum berhenti kenapa aku harus berhenti" kata Jamie.
"Kau memang pintar menyanggah pendapat ku" kata Jun.
Jun memberikan uang kepada Jamie lalu Jamie memberikan uang itu kepada wanita yang meminta uang kepada Jamie.
"Mau saja kau melakukan ini?" tanya gadis yang seumuran dengan Jamie.
Dia salah satu anggota dari anggota balapan liar yang memenangkan pertandingan balapan sore ini.
Remaja ini pergi meninggalkan Jun dan Jamie.
Jun belum ingin melepas helm yang ia pakai sekarang.
Jamie melihat ke arah Jun.
"Ada apa lagi?!" tanya Jun.
"Tenang saja. Aku tidak akan ikut denganmu" kata Jamie.
"Kau boleh ikut dengan ku. Jika kau butuh" kata Jun.
"Berapa hal yang harus aku bayar dari semua hutang ku selama ini?" tanya Jamie.
"Baru kali ini. Berapa bunga yang kau mau?" tanya Jun.
"Aku pergi" kata Jamie.
Dia pergi dengan motor balap warna kuning miliknya.
Jun melihat isi dompetnya hanya tertinggal dua lembar uang didalamnya.
"Ku rasa dia tidak merampok mu" kata Jun.
"Dia berhutang padaku" kata Jun.
Jun pergi dari tempat parkir umum bagi pengendara motor yang ada di pinggir jalan.
Bob sedang memeriksa waktu kapan syuting akan selesai.
Dia seringkali melihat layar ponsel.
"Kapan kita pulang?" tanya Bob.
"Besok pukul tiga pagi" kata asisten Bob.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar" kata Bob.
Dia sedang syuting sebuah drama bergenre romantis.
Ia pucat.
Cukup berantakan penampilannya detik ini.
"Jangan sampai orang orang melihatku dalam keadaan seperti ini" kata Flow.
Cermin dari tas ia pakai untuk bercermin.
Waktu terus bergerak hingga sekarang sudah pukul hampir jam sembilan malam.
Flow terbangun dari tidur dengan selang infus masih ia miliki.
Dia melihat ke arah meja di samping kanan tempat tidur rumah sakit yang ia gunakan untuk berbaring.
"Anak itu" kata Flow.
Remaja yang ia maksud adalah Jun yang telah menaruh banyak makanan diatas meja tersebut.
Dia baru buka ponsel lagi dan ia melihat panggilan telepon masuk dari banyak orang.
Salah satunya Bob, pria ini meneleponnya lagi.
"Kenapa kau tidak mengangkat panggilan telepon dariku?" tanya Bob.
"Kise" kata Flow.
Kise adalah nama asli Bob.
"Tunggu. Kenapa suaramu terdengar lucu. Apa kau sedang sakit?" tanya Bob.
"Tidak. Aku hanya demam saja" kata Flow.
"Aku tebak kau ada di rumah sakit sekarang" kata Kise.
"Tidak" kata Flow.
"Aku belum selesai kerja. Nanti, setelah ini aku langsung pulang dan menjenguk mu" kata Kise.
"Jangan datang. Jika kau ingin terus menjadi temanku" kata Flow.
Pukul empat sore.
Wayne sedang mencari tempat yang masih ada di dekat wilayah tempat tinggalnya di sosial media.
Mencari dan mencari.
Dia sedang ditempat bermain game disalah satu ruang tempat tinggalnya sendirian.
Dia menaruh ponselnya diatas meja di depannya.
"Tuan rapi sekali mau pergi kemana?" tanya asisten rumah tangga di rumahnya.
Menuangkan teh hijau kesukaan Wayne didalam cangkir berwarna abu abu.
"Aku ingin pergi bersama sepupuku tapi dia pasti tak mau" kata Wayne.
Selesai menuangkan teh hangat milik Wayne asisten Wayne pergi melanjutkan pekerjaannya lagi.
Wayne menatap mata boneka teddy bear besar cokelat yang hadir diruang bermain game.
Boneka besar milik sepupunya masih ia taruh disana.
Satu teguk teh hijau ia minum.
Diam.
Terlihat serius.
Kali ini fokusnya berpindah ke ponsel yang ada diatas meja kaca hitam di depannya itu.
Teh hijau kesukaannya ia nikmati.
Wayne memejamkan mata beberapa saat lantas membuka kedua matanya lagi.
Terasa tenang dan damai.
Diam secara diam diam hatinya menyampaikan kepada Wayne sendiri.
"Apa yang sedang ku pikiran membuat ku bertanya tanya sendiri" kata Wayne.
Teh hijau yang di suguhkan kepada Wayne sudah habis.
Dia sengaja hanya meminta sedikit seduhan teh hijau hangat untuk beberapa cangkir kecil dibuatkan oleh asistennya.
Dia pergi dengan membawa kunci motor dengan gantungan kunci namanya sendiri.
Buku catatan milik Flow kembali terbuka oleh angin yang masuk lewat lubang diatas jendela kamar.
Dedaunan dan bunga mawar putih tergambar sendiri di buku itu dengan tinta hitam tergores perlahan indah.
Buku itu belum berhenti dengan gambar indah yang muncul kembali.
Satu nama muncul di buku catatan Flow.
Sebuah nama muncul kembali lagi setelah sekian lama dari awal nama itu muncul di atas lembar halaman buku yang selalu kosong tak pernah tertulis apapun disana.
Angin lembut datang belum ingin pergi menghapus kembali gambar dan tulisan di buku catatan milik Flow.
Setelah semua yang ada di halaman buku itu terhapus angin mulai pergi buku tertutup kembali seperti semula.
Ruang kamar Flow kembali tenang dengan suara jarum jam yang berputar.
Cahaya putih melanjutkan kisah ini.
"Buka pintunya. Ini aku!" kata Wayne.
Pintu rumah bercat putih didepan Wayne belum terbuka.
Dia melihat ke arah rak sepatu rumah yang ada didepan rumah yang ia kunjungi lagi sore ini.
"Aku tahu kau mendengar suara teriakan ku!" kata Wayne.
"Red!" kata Wayne.
Dia belum ingin pergi dari depan pintu rumah Red.
Red berjalan dengan slippers grey menuju pintu masuk rumah.
Pintu terbuka.
Wayne melihat Red membawa sepatu sport tak bertali cokelat gelap
"Kau mau pergi kemana?" tanya Wayne.
"Aku tebak kau sedang bosan" kata Red.
"Benar. Makanya aku mencari mu" kata Wayne.
Wayne melihat Red yang memakai sweater rajut cokelat dengan kaus putih lengan panjang dan celana panjang hitam berbahan katun.
__ADS_1
Dia mengeluarkan energi berwarna hijau di sekeliling tubuhnya.
"Kau sedang apa?" tanya Red.
Wayne belum pergi dari depan Red.
"Kau belum sadar?" tanya Wayne.
"Yang jelas. Apa maksud mu?" tanya Red.
Wayne menarik Red untuk bercermin di kaca jendela rumahnya.
"Ada apa?" tanya Red.
"Kenapa berubah menjadi wajahku lagi?" tanya Bling.
Wayne mengaktifkan energinya lagi.
"Menghadap ke arah ku" kata Wayne.
Dia mengeluarkan energi dari tangannya lalu ia arahkan kepada Red dalam satu detik waktu yang ia berikan kepada Red.
Wajah Red kembali seperti semula.
"Maaf Bling. Tapi, jika dia kembali dengan wajah yang bukan miliknya. Dia akan cepat pergi meninggalkan kita" kata Wayne.
"Bling. Apa kau membenci ku?" tanya Red.
"Tidak. Setidaknya, aku bisa menolong mu" kata Bling.
Wayne menatap wajah Red dan berbicara kepada sosok hantu yang ada didalam raga sepupunya itu.
"Kau yang bernama Bay itu. Pantas saja dia menyukai mu" kata Wayne.
"Berhenti memuji ku. Itu akan membuatku menjadi menyebalkan" kata Bling.
Wayne menunduk tersenyum mendengar Bling berbicara padanya.
Dia mengangkat wajahnya lagi menatap Red.
"Sekarang aku sedang berbicara dengan Bling?" tanya Wayne.
"Tidak. Kau sedang berbicara dengan ku" kata Red.
Rupanya remaja laki laki ini bisa mendengar Bling yang sedang berbicara di dalam raga Red disaat hantu itu tidak mengendalikan pemilik raga yang ia tempati saat ini.
"Sudah kan. Ayo ikut saja denganku!" kata Red.
Wayne dengan sifatnya yang selalu suka mengikuti kemana Red pergi sejak kecil belum berubah hingga saat ini.
Red mengambil alih untuk mengendarai motor matic milik Wayne.
Pintu gerbang rumah kembali terkunci oleh Red.
Wayne pergi dengan Red.
Istirahat sekolah yang kedua di sebuah kelas yang sedang ramai dengan siswa dan siswi yang memilih untuk tidak pergi dari dalam kelas.
Tak ingin mendengar tapi mendengar dengan jelas.
Dia dan kekasihnya sedang membicarakan yang cukup tidak mereka tutupi dari teman teman kelasnya.
"Sore ini kita jadi pergi?" tanya Jimmy.
"Di pantai kan?" tanya Sima.
"Ya. Sesuai rencana kita" kata Jimmy.
Red saat pembicaraan mereka berdua sedang ada di ruang laboratorium komputer bersama dengan Ben juga Bee.
Kayu kayu untuk membuat barbeque sudah mulai ditumpuk di tepi pantai.
Dua remaja ada disana mereka adalah Red dan Wayne.
"Kapan kau akan membagi pekerjaan untuk ku?" tanya Wayne.
Wayne dengan ikan dan sosis yang siap untuk di bakar.
"Sikap mu seperti Wayne kecil dulu" kata Red.
"Cepat berikan pemantik di saku mu" kata Red.
Wayne masih di depan kayu kayu yang akan digunakan untuk membuat barbeque.
Red melihat kearah sepupunya.
"Lakukan pekerjaan mu" kata Red.
"Ok" kata Wayne.
Wayne memang sangat suka dengan kegiatan barbeque di sore hari apalagi jika dilakukan disekitar yang berbau laut seperti sekarang ini.
Sima dan Jimmy dengan peralatan membuat barbeque datang setelah Red dan Wayne datang lebih awal lima belas menit sebelum mereka berdua datang.
Sima akan menendang tempat pembakaran ikan ikan yang sudah dipasang oleh Wayne.
"Jangan lakukan itu" kata Jimmy.
Wayne langsung ingin marah kepada pacar Jimmy. Namun, ia dicegah oleh Red.
"Sudah. Apa kau akan melawan seorang gadis?" tanya Red.
"Tidak" kata Wayne.
Red mulai merasakan energi yang Sima keluarkan sekali lagi.
Jimmy melihat bahwa Sima tidak mau mengalah dengan Red.
Jimmy melihat Sima.
"Kau mau apa?" tanya Jimmy.
Jimmy terlihat mulai marah kepada pacarnya dengan mengepalkan tangan.
"Kita akan bertengkar gara gara gadis ini?" tanya Sima.
Jimmy menarik nafas lalu ia berusaha menenangkan diri didepan Sima.
"Pantai ini masih luas. Ayo kita cari tempat lain" kata Jimmy.
Lima tusuk sosis yang akan dibakar ada ditangan kanan Red.
Red dan Wayne memperhatikan mereka.
"Kau tidak mau?" tanya Jimmy.
Sima kali ini mau mengalah dengan Jimmy.
Mereka berdua mulai mempersiapkan alat untuk membuat barbeque dengan jarak lima langkah kaki dari tempat Red dan Wayne membuat barbeque.
"Apa kalian akan diam saja?" tanya Jun.
__ADS_1
Jun datang lalu mengambil sosis sosis yang ada ditangan kanan Red lalu membakarnya dengan alat barbeque milik mereka.