Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 114: Please Stay With Me.


__ADS_3

Chapter 114: Please Stay With Me.


 Dirumah sakit.


 Sima masih dengan alat bantu medis belum sadarkan diri.


 Di stadion sepak bola.


 Disana di tengah lapangan sepak bola di stadion itu dia disana terbakar api berkobar dari wajah merambat raga Flow dibagian kiri tubuhnya.


 Matanya masih menangis dengan apa yang ia lakukan dan dia belum bisa mengendalikan diri.


 Api dari tubuhnya melahap terus dan dia tak merasakan sakit malah sebaliknya Uri yang sedang berteriak dalam rasa sakit yang seharusnya bukan miliknya.


 Air mata itu jatuh ke tanah satu dua dan kembali ke ruang rawat Sima perhatikan dengan seksama seisi ruangan yang padam kemudian disaat separuh halaman buku yang bertuliskan nama Flow dan Uri akan habis terbakar.


 Tangan Sima terlihat menggerakkan jemari jemari terlihat bergerak.


 Makhluk itu segera melihat getaran jemari gadis yang sedang berjuang dirumah sakit itu. Ia langsung lenyap pergi melihat jemari tangan gadis di depannya yang  mulai bergerak.


 Halaman buku itu kembali perlahan menjadi halaman utuh semakin utuh dengan nama Flow dan Uri.


 Buku itu kembali menghapus sendiri kedua nama itu seperti kedatangan angin menghapusnya dengan mudah lalu tertutup kembali buku itu masih dalam keadaan terbang diatas kursi sofa merah muda kembali masuk kembali kedalam tas Sima.


 Warna terang biru buku itu terlihat dari dalam tas Sima.


 Menghitung satu dua tiga detik kemudian cahaya buku itu kembali padam lampu terang didalam kamar Sima kembali menyala terang seperti semula.


 Separuh raga Flow yang terbakar kembali terlihat memulihkan dirinya seperti api mulai mengembalikan waktu yang ia lakukan membayar apa yang telah terjadi menjadikan raga Flow kembali.


 Wajahnya kini mulai terlihat lagi dengan kulit pucat dan otot wajah menghitam memerah sangat jelas ada melekat disana belum hilang sebagai tanda bahwa disana ada sosok lain yang hidup didalam sana, Uri belum pergi.


 Dia ada disana dalam keadaan masih gelap lampu ada disana belum menyala.


 Dibagian kelistrikan stadion bola itu masih sedang berusaha memperbaiki listrik yang tiba tiba padam.


"Semuanya baik baik saja tapi kenapa tidak bisa menyala?" tanya teknisi listrik yang bekerja malam ini.


"Benar kataku kan memang ini aneh" kata Teknisi kedua.


"Apa benar benar ada hantu di tempat ini?" tanya teknisi pertama.


"Meski ada. Apa kita harus meninggalkan tugas kita?" tanya teknisi kedua.


"Ayo kita coba lagi" kata Teknisi pertama.


 Lampu menyala lagi.


 Flow dan Uri belum pergi dari lapangan itu.


"Apa kita akan tinggal disini?" tanya Uri.


"Kita tidak bisa memilih" kata Flow.


 Benar apa yang dikatakan oleh Flow, mereka menghilang lagi dan tidak tahu dimana mereka berada sekarang akan pergi dan berada dimana.


 Kedua teknisi itu menutup bagian yang merupakan pusat kelistrikan di stadion tersebut melihat lapangan sepak bola yang sedang terang dengan lampu lampu yang sudah menyala.


 Keesokan harinya.


 Embun didalam jendela kelas makin menebal air deras terus membasahi luar kaca jendela kelas.


 Hujan masih deras sejak pagi.


 Sekarang, pukul sembilan lebih tiga puluh menit waktu istirahat pertama.


 Red tidak ada di kelas, dia sedang bersama dengan Ben.


"Temanku pergi kemana?" tanya Jun.


"Red bersama Ben" kata Marid.


"Kemana?" tanya Jun.


"Cari sendiri!" kata Marid.


"Kenapa anteng banget?" tanya Jun.


 Jun sedang berbicara dengan Bee.


"Hmmm" jawab Bee.


"Lagi apa sih?" tanya Marid.


 Dia mendekat ke arah Bee yang asik dengan ponsel.


 Good disebelah Jun juga sedang mengomentari para pemesan kue di akun sosial media usaha kulinernya.


"Pantas yang dilihat cuma pacarnya terus" kata Marid.


 Good pura pura cool di hadapan teman temannya padahal seneng.


"Apa aku perlu jadi aktor juga?" tanya Good.


"Sudah. Kelar semua fans ku diambilnya" kata Jun.


"Kamu heboh banget padahal pacar kamu juga artis, cantik pula" kata Bee.


"Meski pacarku dulu bukan artis tapi mereka tidak kalah baik" kata Marid.


"Pacar mu banyak?" tanya Good.


 Semua terdiam dan kemudian Good harus bersiap dengan apa yang akan dilakukan oleh Marid.


 Red dan Ben datang.


"Kalian mau apa?" tanya Red.


"Tidak" kata Marid.


 Red melihat apa yang sedang dilihat oleh Bee.


"Dia cuma minum saja banyak yang memberi tanda hati" kata Red.


"Siapa?" tanya Bee.


"Pacar mu" kata Red.


"Benar. Tapi, pacar mu lebih keren" kata Bee. 


 Good pergi bersama dengan Marid dan untuk Ben dia sudah tahu dengan situasi ini jika mereka membahas Jimmy dengan Bee.


"Kenapa aku pergi?" tanya Good.


 Bee jelas agak merasa situasi ini agak aneh.


"Kenapa kamu pergi?" tanya Bee.


"Tidak jadi" kata Good.


 Terlihat seperti sebuah drama romansa orang lain.


"Aku pergi ke kelasku" kata Marid.


 Marid benar benar pergi.


"Sudah. Ini untuk mu" kata Red.


"Untukku. Terimakasih" kata Bee.

__ADS_1


"Aku?" tanya Jun.


 Ben membawa empat minuman hangat untuk dia dan kedua temannya.


"Terima kasih kawan!" kata Jun dan Good.


"Semangat sekali" kata Ben.


"Tadi kau beli lima kemana yang satunya lagi?" tanya Red.


 Suaranya sedikit pelan dan pelan sambil melihat ke arah Ben ternyata satu cup minuman herbal hangat yang lain ia berikan kepada Sammy.


"Sorry. Aku salah bicara" kata Red.


 Nampak patuh dengan minuman hangat dan ponselnya sendiri sambil melihat Jun.


 Jun langsung memegang mata kiri Red yang tiba tiba berubah warna menjadi biru menyala lalu kemudian berdarah.


 Red terkaget.


"Lepaskan!" kata Red.


 Jun berbisik kepada Red, dan dia berkata "Non aktifkan kekuatanmu" kata Jun.


 Red kemudian mengaktifkan kekuatan penyembuh yang ia miliki.


 Darah yang terasa di telapak tangan kiri Jun mulai mengering dan menghilang.


"Sudah" kata Jun.


 Bee melihat ini dan juga Good kalau untuk Ben malah tidak terlalu terkejut karena dia sudah sedikit tahu maksud dari Jun memperlakukan Red seperti itu mengetahui bahwa mereka partner kerja.


"Jimmy bukan pacar mu kan?" tanya Bee.


"Red pacarku" kata Good.


"Jangan bercanda. Kamu pacarku" kata Bee.


 Ben menahan tawa.


"Kalian terlihat manis. Aku curiga" kata Bee.


 Mulai khawatir.


"Aku tidak ada waktu memikirkan hal ini" kata Bee.


 Dia kembali dengan ponselnya melihat rumus rumus yang sudah ia hafal tadi sebelum melihat akun sosial media milik Good. 


"Nanti malam, kita makan malam dimana?" tanya Good.


"Aku harus belajar" kata Bee.


"Aku akan mengurangi pekerjaanku?" tanya Good lagi.


"Aku tidak setuju" kata Bee.


"Ya sudah" kata Good.


"Ya sudah. Mau bagaimana" kata Bee.


 Jun bersama dengan Ben sedang melihat menu menu yang tersedia di usaha baru milik temannya dari menu yang diiklankan di postingan akun sosial media milik Good di ponsel Good.


 Sedangkan untuk Red melihat lagi ke arah lain tentunya ke arah Sammy yang sedang bercanda dengan teman teman kelasnya yang lain.


 Raut wajah sedih jelas ada di ekspresi wajah gadis ini dalam memikirkan situasi  mereka saat ini.


 Jimmy menghubunginya lagi dan dia tidak tahu bahwa apakah dia harus menjawab tapi jika tidak berarti dia tidak memberikan kesempatan untuknya lagi.


"Ya. Aku disini" kata Red.


"Aku hanya ingin mendengar suara mu" kata Jimmy.


"Ya. Aku merindukanmu" kata Red.


 Belum sempat dia mengatakan hal lain ponsel milik Red tiba tiba mati.


"Jimmy!" kata Red.


"Red!" kata Jimmy.


 Red melihat ponselnya yang mati memeriksa lagi dan belum juga menyala.


 Mengingat lagi kenapa ponselnya bisa mati.


"Oh ya aku ingat" kata Red.


 Ponselnya tadi malam terlihat ia keluarkan dari dalam saku gaunnya yang penuh darah akibat pertarungannya dengan Jun tadi malam.


"Padahal sudah dibersihkan. Rupanya tetap akan mati, tapi ini gaji pertama ku" kata Red.


 Dalam hatinya berbicara tentang ponsel yang ia beli dari uang hasil gaji pertamanya.


 Red melihat diluar kelas kaca jendela hujan masih sangat deras dan sepuluh menit lagi akan masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran selanjutnya.


 Dirumah sakit.


 Dia melihat gelang couple yang dipakaikan oleh Red masih ia pakai di lengan kanannya. Dia juga sudah tahu bahwa saat ini gadis yang ia sukai sudah bersama dengan orang lain.


 Wayne baru saja menjenguk Sima dengan batas waktu yang ia miliki dan saat ini dia melewati kamar Wren.


 Dia masuk ke kamar Wren.


"Kamar ku bukan disini" kata Wayne.


"Lalu kenapa kemari?" tanya Wren.


"Aku hanya ingin melihat ada teman Red yang lain sedang dirawat juga" kata Wayne.


"Taruh alat infus mu di tiang itu" kata Wren.


 Wayne menggantung kantung infus di tiang yang digunakan untuk menggantung kantung infus Wren.


"Terimakasih" kata Wayne.


 Wren masih memutar mutar gelang di pergelangan tangannya dan Wayne ingin mengajak bicara apa. Dia sedang mencari bahan obrolan. 


 Wayne punya ide.


"Kau menyukai my sister?" tanya Wayne.


 Wren melihat Wayne.


"Darimana kau tahu?" tanya Wren.


"Gelang mu terukir namanya dan ini edisi terbatas" kata Wayne.


"Tapi. Dia sudah tidak memakainya lagi" kata Wren.


"Kita bisa taruhan?" tanya Wayne.


"Apa?" tanya Wren.


"Rumah baru mu" kata Wayne.


"Ini juga bisnis?" tanya Wren.


"Iya" kata Wayne.


"Bagaiman jika dia tetap bersama dengan anak itu" kata Wren.

__ADS_1


"Aku bisa membuat mereka putus atau sebaliknya. Bagaimana?" tanya Wayne.


"Bercanda" kata Wayne.


"Kalian kan bersahabat" kata Wren.


"Tapi, kau akan lihat arah kisah mereka selanjutnya" kata Wayne.


"Kenapa kau mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan bertahan lama?" tanya Wren.


"Aku tidak bilang tidak setuju tapi kamu punya kesempatan yang sama" kata Wayne.


"Aku ingin dia menjadi hadiah untukku" kata Wren.


"Aku pergi" kata Wayne.


 Wayne mengambil kantung infus miliknya yang tergantung di tiang yang juga digunakan untuk menggantung kantung infus milik Wren.


"Kita akan mengobrol lagi nanti" kata Wayne.


 Berbicara sambil jalan keluar tidak cepat juga tidak lambat keluar dari ruangan Wren.


"Apa dia benar benar sepupunya?" tanya Wren.


"Sepertinya, iya" kata Wren.


 


 Sore di pukul empat tepat Ben sudah ada didepan rumah Red. Dia masih diluar menunggu temannya bersiap ke sebuah acara.


 


 Red keluar dari rumah.


"Motor ku masih dirumah Wayne. Jadi ... " kata Red.


"Iya. Kau sudah mengatakan itu tadi. Santai saja" kata Ben.


 Ben memberikan helm kuning miliknya kepada Red.


"Aku bantu" kata Ben.


 Red langsung dengan cepat memakainya sendiri.


"Luar biasa" kata Ben.


"Aku hanya pakai helm" kata Red.


 Red membonceng motor Ben untuk pergi ke sebuah acara yang sama yang berkaitan dengan pekerjaan.


"Tunggu" kata Red.


 Dia mengambil ponsel barunya dari dalam tas kemudian mengajak foto Ben bersama.


"Senyum ke arahku" kata Red.


"Untuk apa?" tanya Ben.


 Ben merasa malu padahal dia sekarang sudah lumayan terkenal juga.


"Sudah" kata Red.


 Foto itu ia kirimkan kepada Jimmy sebagai bukti bahwa dia pergi bersama dengan Ben dengan alasan yang jelas.


 Jimmy mendapat foto mereka berdua dari Red yang baru saja ia kirimkan kepada pacarnya.


 Seseorang datang dengan motor milik Red.


"Sorry. Aku pakai motor ku" kata Red.


"No problem" kata Ben.


 Red turun dari atas motor Ben dia masih memakai helm temannya itu.


 Dia menerima motornya kembali yang diantar oleh salah satu  bodyguard Perempuan Jimmy.


"Kakak. Terimakasih" kata Red.


 Kakak itu belum pergi dan masih menunggu sampai Red akan menyalakan motornya.


 Red berpikir tanpa sebuah rencana muncul tiba tiba didalam pikiran.


"Bagaimana kalau kita naik taksi?" tanya Red.


"Kita bertiga?" tanya Red lagi.


 Red mematikan mesin motor dan akan berencana memasukkan motornya didalam garasi rumah.


"Ok" kata Ben.


 Bodyguard Jimmy diam disana dengan ekspresi mengiyakan tanpa harus berkata "Iya".


 Red masuk kedalam garasi rumah, Ben menunggu diluar garasi. 


 Red sudah memasukkan motornya dan dia keluar menemui Ben yang masih diluar garasi.


"Kamu bisa langsung menaruhnya didalam" kata Red.


 Red mengirim pesan kepada Ben kemudian.


"Kita pakai penutup wajah dan naik bus saja" kata Red.


"Bus?" tanya Ben.


"Nanti aku ceritakan" kata Red.


 Didalam bus umum yang mereka naiki bersama dengan yang lain bodyguard perempuan Jimmy juga ikut disana menjadi bodyguard Red.


 Ben mengirim pesan kepada Red.


"Kita sedang menghindar sesuatu kan?" tanya Ben.


 Red tidak membalas tapi ia mengiyakan dengan menyenggol sepatu boot milik Ben dengan kaki kanannya.


 Bodyguard Perempuan itu terus menjalankan tugas dari Jimmy.


 Kurang dua puluh menit lagi acara akan dimulai sebuah acara peragaan busana untuk sebuah karya dari salah satu seorang desainer yang sudah memiliki nama brand pakaian yang cukup terkenal.


 Mereka secara pribadi di hubungi langsung dari desainer pakaian tersebut.


"Kalian berdua sudah datang" kata Desainer tersebut.


 Mereka disambut dengan ramah oleh Desainer yang berkulit sawo matang dan berambut lurus dan wajah bulat.


 Mereka kemudian diarahkan untuk mengikuti asisten pribadinya untuk memakai baju rancangan dia sendiri di ruang make up acara ini.


 Bodyguard Perempuan itu mengikuti mereka berdua.


 Ben terpisah dengan Red.


 


 Dia pergi ke ruang ganti khusus Pria sedangkan Red sebaliknya.


"Kenapa bocah ini bisa ikut acara ini?" tanya seorang aktor lain.


 Dia aktor yang sama disaat syuting iklan sebuah produk dalam bidang otomotif yang berakting dengan Ben.


 Ben beranjak pergi berjalan meninggalkan mereka.

__ADS_1


 Tapi anak muda itu tetap mengajak Ben untuk mencari masalah.


 


__ADS_2