
Chapter 88: Seseorang Berteriak Kepadamu.
Red dan Jun makan malam setelah bertemu lagi sepulang dari pantai.
"Berhenti tersenyum padaku" kata Red.
Dia belum berhenti menatap wajah gadis di depannya dengan pipi yang mulai memerah.
"Kau bahkan terlihat lucu ketika sedang makan" kata Jun.
Red terdiam beradaptasi dengan kata kata yang Jun ucapkan.
"Kedepannya aku harus lebih terbiasa dengan kata kata mu" kata Red.
Jun juga memakan ayam goreng seperti yang sedang dimakan oleh Red.
Banyak kendaraan melewati jalan di depan kedai itu dibuka.
Suara klakson jelas terdengar di sekitar daerah pedagang kaki lima yang berjualan biasa setiap menjelang sore hampir setiap hari membuka usaha mereka.
Saling menyapa antara para pengunjung lain dengan pemilik kedai beramah tamah.
Keduanya asik menikmati makanan di kedai itu. Red dan Jun ada diantara para pengunjung lain yang juga datang di kedai tersebut.
"Apa Ran memberi kabar lagi?" tanya Jun.
"Mungkin dia sibuk" kata Red.
"Jika hal itu terjadi. Kau tak apa?" tanya Jun.
"Tenang saja kami hanya bersahabat" kata Red.
"Maka ada peluang untuk ku" kata Jun.
Jun tidak tahu kalau yang sedang berbicara dengannya saat ini adalah Bling atau Bay yang sedang mengendalikan raga gadis yang ada di depannya.
"Kau berbicara dengan Red atau aku?" tanya Bling.
Jun tersedak ketika mendengar ini.
Jun mengambil air mineral dalam botol dan meminumnya.
Waktu terjeda sekitar tiga puluh detik.
Setelah selesai minum.
"Sungguh itu kamu?" tanya Jun.
"Ya. Kau tidak bisa membedakan aku dengan Red" kata Bling.
"Tunggu" kata Jun.
Dia mencoba berpikir lagi tentang perbedaan keduanya.
Dia mulai teringat.
Kedua tangan seperti menunjuk ke arah Red dan dia berkata, "Ahhhh. Aku ingat kamu suka ayam goreng dan Red sebaliknya".
Jun melihat ke arah Red.
"Benar" kata Jun.
"Iya kan?" tanya Jun.
Bling meminum air mineral yang ada di botol miliknya.
Jun terlihat senang.
"Kau akan menatapku terus?" tanya Bling.
"Iya" kata Jun.
"Tapi yang kau lihat bukan aku tapi orang lain" kata Bling.
Penghindaran kontak mata terjadi dilakukan oleh Jun.
"Sorry. Aku lupa hal itu" kata Jun.
"Dia pasti lebih cantik dariku" kata Bling.
"Kau cemburu?" tanya Jun.
"Tidak. Semua ini sudah bukan momen ku" kata Bling.
"Sejak aku tahu kau ada di dalam raga Red. Sejujurnya aku senang sekaligus sedih" kata Jun.
"Apa ini. Seharusnya, aku yang sedih kenapa ini terbalik" kata Bling.
Jun mengambilkan makanan lagi di piring Red.
"Kau harus makan banyak" kata Jun.
Bling meminta izin kepada Red yang ada di bawah alam sadarnya.
"Hari ini kau diet lagi?" tanya Bling.
"Makanlah. Aku sedang tidak diet" kata Red.
"Terimakasih sister" kata Bling.
Bling memakan makanan yang diberikan oleh Jun yang ditaruh diatas mejanya.
"Kenapa kau melihat ku terus?" tanya Jun.
"Kau malu?" tanya Bling.
Dia belum menjawab pertanyaan dari Bling.
Jun sedang makan salad dengan bumbu kacang.
Memakan salad dengan perlahan.
"Apa seperti ini wajah pacarku?" tanya Bling.
"Wajahmu terlihat lucu" kata Bling.
"Apa terjadi sesuatu dengan wajahku?" tanya Jun panik.
"Wajahmu memerah" kata Bling.
Jun melanjutkan lagi menghabiskan makanan yang ia pesan bersama dengan Red tadi.
"Apa kau senang?!" tanya Doe.
Suaranya membentak dari dalam raga Jun keras.
Jun sampai terkaget dengan teriakan dari hantu yang ada didalam raganya sendiri.
"Dia berbicara denganmu?" tanya Bling.
"Doe?" tanya Bling.
"Ya" kata Jun.
Lima belas menit kemudian masih didalam kedai.
__ADS_1
Mereka sudah selesai dengan makan malam mereka. Bling sedang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Jun disaat seperti ini.
"Kau tidak ingin berkata apapun lagi?" tanya Bling.
"Tak ada" kata Jun.
"Sungguh?" tanya Bling.
"Sungguh. Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Jun.
"Tidak apa apa" kata Bling.
Jun memeriksa ponsel.
Bling mengetuk meja makan kedai yang ada di depannya.
"Tuk tuk tuk!"
Suara ketukan jemari diatas meja terdengar oleh Bling dan Jun.
Lima menit kemudian.
"Kau tidak mengantar ku pulang?" tanya Bling.
"Mengantar mu pulang. Bagaimana yah, bukankah rumah Red ada disekitar kedai ini?" tanya Jun.
Jun sepertinya sedang mengubah suasana menjadi lebih horor padahal kedai dalam situasi sedang ramai oleh para pembeli yang datang.
"Apa rumah mu ada disekitar sini?" tanya Bling.
"Dia benar" kata Red.
Bling melihat ke arah Jun.
"Ada apa lagi?" tanya Jun.
"Aku akan pergi sebentar" kata Bling.
Jun masih ada didalam kedai ketika Bling mengatakan akan pergi sebentar dan akan kembali lagi ternyata itu hanya sebuah alasan untuk dia pergi melarikan diri dari Jun pacarnya.
"Kita tak perlu mengabarinya. Dia juga tidak terlalu peduli dengan keadaanku" kata Bling.
"Benarkah?" tanya Red.
"Kenapa kali ini kau membelanya sebelumnya tidak?" tanya Bling.
"Aku mau istirahat saja" kata Red.
Red tidak menyahut ketika diajak bicara lagi oleh Bling.
Jun akan memakai helm di area parkir kedai tadi tempat ia makan bersama dengan Red.
"Aku tahu jika aku terlalu dekat dengan Red maka aku akan cepat menghilang" kata Jun.
"Disisi lain kita juga belum tahu. Apakah keluhan yang ia alami lagi" kata Doe.
"Kau benar. Dia akan baik baik saja meski tidak pulang denganku" kata Jun.
Jun sudah memakai helm dan naik diatas motornya lalu menyalakan mesin motor kemudian pergi bekerja di kafe Kak Rose yang ada di dekat sebuah pusat perbelanjaan yang merupakan kafe pertama milik Rose.
Pagi sesaat setelah ia bertengkar dengan Kise atau Bob didepan mini market.
"Ku rasa ini cocok untuk Flow" kata Flow.
Dia sedang ada disebuah toko pakaian.
Mengantri di antara orang orang di kasir.
"Manajer Bim. Saya membatalkan cuti hari ini bisa?" tanya Flow.
Dia membatalkan membeli satu setelan baju kantor yang akan ia pakai pagi hari ini.
"Aku akan memilih baju lain" kata Flow.
Dia akan mencari setelan pakaian yang memang bisa digunakan di momen santai seperti saat ini.
Flow mengambil satu setel pakaian sport yang berbahan sejuk dan tidak terlalu tebal juga tipis.
"Untung saja aku sudah mandi dirumah sakit sebelum datang kemari" kata Flow.
Setelah melewati kasir untuk pembayaran baju yang ia pilih tadi. Flow langsung menuju ke toilet toko yang ia datangi sekarang.
Flow masuk kedalam toilet yang tersedia di toko pakaian tersebut.
Didepan toilet wanita di toko itu juga sudah menunggu para pengunjung toko lain yang juga akan menggunakan toilet wanita yang sama yang saat ini Flow ada didalam sana.
Lima menit kemudian Flow sudah berubah dengan setelan baju olahraga berwarna biru langit.
Baju yang sebelumnya ia pakai ia sudah memasukkannya kedalam tote bag berwarna cokelat cappuccino.
Didepan toko pakaian ada Flow yang berdiri disana disisi kanan pintu masuk toko.
"Pergi kemana hari ini?" tanya Flow pada diri sendiri.
Lalu kacamata hitam ia pakai pergi meninggalkan toko pakaian tersebut.
Jimmy turun dari pintu belakang mobil yang dikendarai oleh Radan bodyguard Jimmy.
Hera juga datang terbang bersama mengikuti Jun yang juga sudah datang dengan sepeda motor yang ia kendarai menuju tempat parkir sekolah.
Hera melihat kearah Radan dalam dua detik lalu segera cepat mengejar Jun masuk kedalam area sekolah.
Dia sedang bertugas menjaga Jun lagi.
Sebuah bus berwarna hijau datang tepat didepan sekolah yang juga tempat perhentian bus.
Radan terlihat oleh seseorang yang ada di dalam bus yang sedang duduk di kursi baris bagian tengah bus yang sedang berhenti untuk menurunkan para siswa dan siswi yang akan masuk kedalam sekolah.
Seseorang itu menatap lembut kepada Radan yang sedang melihat kearah sekolah tempat ia mengantar Jimmy untuk mengikuti mata pelajaran sekolah seperti hari hari biasa.
Bus kembali bergerak pergi perlahan meninggalkan tempat itu.
Radan mulai melihat ke arah depan mobil mesin mobil masih menyala dikemudikan lagi. Dia pergi setelah melihat kearah sekolah dalam tiga menit memastikan bahwa Jimmy benar benar telah masuk kedalam sekolah.
Flow baru saja melihat Radan ada didepan sekolah gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Red.
Bus melaju pergi dari sana bersama membawa para penumpang agar sampai ke tujuan mereka masing masing.
Kecepatan yang digunakan oleh Radan dalam mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang.
"Sepertinya ada yang sedang memperhatikan ku didepan sekolah Jimmy tadi" kata Radan.
Dia sedikit menggigit jari manis tangan kirinya dengan tangan kanan yang masih menyetir mobil.
"Siapa dia tadi?" tanya Radan.
Tangan kirinya kembali lagi menyetir mobil bersama dengan tangan kanan menuju kampus.
Diruang perpustakaan di jam istirahat pertama sekolah.
"Hey itu tidak mungkin" kata Ben.
"Tapi tadi aku melihatnya" kata Ben.
"Apa aku sakit?" tanya Ben kepada diri sendiri.
__ADS_1
Ben memeriksa suhu badannya melalui dahi yang ia periksa dengan telapak tangan kanan yang ia tempelkan di dahinya sendiri.
"Aku sehat dan normal" kata Ben.
"Iya. Tapi, kamu berisik terus dari tadi" kata Marid.
Ben tidak bisa membiarkan Marid lepas darinya.
"Aku baru lihat kamu serius belajar" kata Ben.
"Bukankah kita sama" kata Marid.
Marid sedang membaca buku di perpustakaan bersama dengan Jun serta Pangeran sekolah yaitu Good.
"Dimana dewa langit?" tanya Ben.
"Dia bersama Red di laboratorium komputer sekolah" kata Marid.
Marid melihat langsung kearah mereka semua.
"Wren sedang mengajari Red dan Bee itu saja" kata Marid.
"Ku pikir Wren cukup kuat menjadi rival ku" kata Jimmy.
Jimmy menjadi salah satu anggota dari tugas sastra kali ini bersama Good dan Jun.
"Kalian bisa lebih pelan saat berbicara diperpustakaan" kata kakak kelas laki laki mereka.
"Siap!" kata mereka kompak.
Petugas penjaga perpustakaan melihat keributan ringan ini.
Mereka akan di usir oleh siswa lain yang ada di perpustakaan karena berisik terus. Untungnya hal itu tidak terjadi.
"Aku tak ingin sepanik seharusnya" kata Flow.
"Aku juga tak ingin takut dengan hari esok" kata Flow.
"Waktu yang ku miliki begitu tenang hingga membuat ku tak sadar dia menyeretku" kata Flow.
"Menyeret raga ini menjadi milik ku" kata Flow.
"Aku sudah lama tak mendengar suaramu. Apa kabar pemilik raga ini?" tanya Flow.
Flow sedang menghirup udara segar pagi ini di luar stadion umum yang ada di kota ini.
Apa dia sendirian?.
Dia tidak sendirian juga banyak yang juga memiliki aktivitas yang sama seperti apa yang Flow lakukan tapi tidak sebanyak orang berlari ketika di hari libur pagi.
Dia sedang berlari dalam dua putaran.
Seseorang dengan baju olahraga navy dan sepatu sport putih memulai satu putaran lari. Mengejar ke arah Flow yang berlari sendiri.
Mendung.
Pagi ini memang sedang mendung.
"Belum hujan" kata Flow.
Dia masih berlari santai mengikuti arah jalan yang tersedia bagi para pelari di sekitar luar stadion umum tepat di sisi kanan Flow.
"Aku tidak tahu harus berlari kemana" kata Flow.
"Siapa yang akan menolong ku?" tanya Flow.
Dia terus berlari sekarang lebih cepat ia berlari.
Flow adalah seorang manusia biasa pada umumnya dan dia dengan hantu yang juga tidak tahu sama sekali dengan kekuatan yang telah membuat mereka bisa menjadi seperti ini.
Berusaha bertanya kepada para ahli supranatural tapi dia tak mendapatkan sebuah jawaban yang membantunya keluar dari masalah ini.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!"
Teriak Flow.
Dia berteriak ketika melewati para atlet muda yang sedang minum di sisi kanan lain stadion.
"Siapa dia?" tanya salah satu atlet lari disisi kanan stadion itu.
Salah satu mereka sampai tersedak karena ia berteriak tepat didepan para atlet.
Dia terus berlari.
"Help me!" kata Flow berteriak lagi.
Dia melewati para atlet lain yang sedang berlari di pagi ini menggunakan fasilitas yang sama dengan Flow.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
Seseorang berteriak kepada Flow.
"Ya ampun!" kata Flow.
Dia juga terkaget dengan teriakan seseorang.
Dia berhenti akibat teriakan tadi melihat seseorang yang berlari setelah berteriak kepadanya dengan puas barusan.
Nafas yang terengah engah dia terus melihat orang yang baru saja berteriak kepadanya melihat dari belakang.
"Dia belum berbalik juga" kata Flow.
Flow belum mau berlari lagi sebelum orang tadi mau berhenti dan berbalik kepadanya saat itu juga.
Dia semakin menjauh dari jarak Flow saat ini berhenti.
"Aku hanya ingin berbuat adil dengan pemilik raga ini" kata Flow.
"Berhenti" kata Flow.
"Ayo cepat berbalik kepada wanita ini" kata Flow.
"Oh aku lelah dengan permainan ini" kata Flow.
Dia tidak melanjutkan berlari mengikuti pria yang baru saja berteriak kepadanya.
Wajah kesal tak bisa ia sembunyikan. Dia sedang sangat kesal sendiri dan tak ingin dekat dekat dengan orang lain dalam keadaannya yang tidak stabil seperti ini.
Dia berbalik kembali ke awal start dia tadi berlari langkah kakinya santai berjalan.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjadi orang ini" kata Flow.
"Aku tidak ingin terjebak di raga wanita ini lagi" kata Flow.
Dia berlari sangat cepat setelah mengatakan itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
Flow berteriak lagi.
Berteriak didepan para atlet yang sama saat ia pertama berteriak.
Mereka melihat Flow yang berlari sangat cepat didepan mereka.
"Siapa dia?" tanya salah satu atlet lari yang memakai baju olahraga hitam dan sepatu putih.
__ADS_1