Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 51: Dia Sudah Pulang Lebih Awal


__ADS_3

Chapter 51: Dia Sudah Pulang Lebih Awal


"Sore semua. Aku ada perban dan kapas medis, Apa teman kalian membutuhkannya?" tanya Red dalam suasana hening.


Kaki Marid mengalami beberapa luka gores di lutut dan pergelangan kaki.


"Kau memilikinya, aku butuh bantuan mu" kata Marid.


Red mengambil perban dan obat luka serta kapas medis untuk Marid.


"Aku juga ada alkohol juga" kata Red.


"Berikan padaku" kata Mirad.


"Siapa namamu?" tanya Mirad.


Ekspresi wajah agak ingin menjauh.


"Aku Red, Mirad" kata Red.


"Marid. Namaku adalah Marid bukan Mirad, Ok" kata Marid.


"Namamu membuat ku bingung" kata Red.


Semua tertawa mendengar obrolan mereka itu.


Sang Pangeran Tampan datang menyelamatkan temannya sendiri.


"Stop!" kata Good.


Dia menghentikan Red yang akan mengobati Marid.


"Ada apa?" tanya Marid.


"Kau lihat Jun" kata Good.


Marid melihat Jun sedang bermain game online dari dalam ponsel.


"Kenapa?" tanya Marid.


"Kau lihat orang yang sedang ada di kolam itu" kata Good menunjuk kearah Ran.


"Bicara aja, kenapa muter muter" kata Marid.


"Kamu ingin mendapatkan luka lebih dari itu" kata Good.


Marid langsung mengambil kapas dan alkohol medis dari tangan Red.


"Biar aku sendiri mengobati luka ku" kata Marid.


"Aku akan menjadi anak baik kalian" kata Marid lagi.


"Kau sedang bicara apa?" tanya Jun.


Jun kemudian menyusul Ben di rumahnya yang sedang mengambil makanan untuk mereka. Sedangkan, untuk Red kembali lagi bekerja.


"Sudah selesai" kata Ran.


Ran bergabung bersama mereka duduk bersebelahan dengan Marid. Sibuk dengan buku pengantar kriminologi.


"Dimana orang yang bernama Tuan Ran?" tanya seorang karyawan Ben.


"Saya Ran" kata Ran.


"Ikan pesanan Tuan sudah kami taruh semua dibelakang mobil anda" kata pria berusia tiga puluhan itu.


"Terimakasih, Bapak bisa melanjutkan pekerjaan Bapak" kata Ran.


Ran belum pergi dari tempat sekarang membaca buku masih melanjutkan membaca.


Teman mereka, Red sedang mengirim pesan kepada salah karyawan restoran yang tadi malam ia menginap ditempat itu.


"Red" sapa seseorang datang.


Seorang datang dengan aura bintangnya dia adalah seorang pelanggan tetap di restoran tempat Red mendapatkan keluarga baru, restoran pemilik rumah yang dulu berhantu yang saat ini ditempati oleh Red. Dia adalah calon menantu pemilik restoran.


"Kakak disini" kata Red.


Dia memeluk Red dengan erat di depan teman teman Red.


"Kamu sudah makan belum. Kakak bawa makanan banyak?" tanya Flow.


"Pasti lezat" kata Red.


"Sini sini duduk" kata Flow.


Red duduk di sebelah kanan Ran mendorongnya agak excited dilihatnya. Ran nggak marah jadi bahan tertawaan sedangkan dua orang yang sibuk dengan obat luka serta perban ketawa kecil melihat hal itu menimpa Ran.


"Maaf" kata Red, lalu gadis ini menyuapi Ran dengan satu cookies buatan Flow.


"Makasih" kata Ran.


Ran memakan cookies cokelat dari Red.


Jun dan Ben datang membawa banyak makanan.


"Kak Flow" kata Jun.


"Kau disini?" tanya Flow.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Red.


"Dia teman adikku" kata Flow menjelaskan sebelum Jun menjelaskan.


"Bagaimana kalau kita makan bersama?" tanya Ben menawarkan kepada semua orang orang disana.


Dari jauh datang teman dari Flow berteriak memanggil Flow.


"Kamu mau pulang tidak?" tanya seorang wanita teman kerja Flow.


"Iya. Tunggu aku" kata Flow.


Flow memberikan semua makanannya yang baru ia buka dari kotak makan yang ia bawa dari rumah kepada Red.


"Aku harus pergi. Kita bertemu lagi di restoran nanti malam" kata Flow.


Flow mengejar temannya itu yang baru saja memanggilnya untuk pulang setelah survei lapangan untuk tempat syuting di sebuah drama baru di perusahan Film tempat ia bekerja.


"Ran juga harus pulang. Aku harus bekerja" kata Ran.


Apa yang dikatakan oleh Ran membuat ia terlihat menggemaskan didengar oleh Red tidak untuk teman teman Red yang lain.


"Ya ampun. Ayo kita makan saja" kata Good kepada Jun.

__ADS_1


Jun dalam mode cemburu menurut saja apa yang dikatakan oleh Good.


"Kau mau pulang, besok boleh main kemari lagi" kata Ben pada Ran.


"Kamu hati hati menyetir mobilnya" kata Red.


"Bye bye" kata Ran.


"Bye bye" kata Red.


Marid merasa tidak tahan lagi dengan apa yang ia lihat.


"Apakah ada obat demam?" tanya Marid.


"Aku ada" kata Red.


Ben dan Good menahan tawa.


Ran sudah pergi menjauh dari tempat mereka untuk makan makan. Dia akan membawa ikan ikan yang ia beli dari Ben untuk dibawa ke bagian konsumsi untuk di olah kemudian diberikan sebagai makanan untuk para pensiunan tentara tempat ia bekerja saat ini.


"Kau juga harus makan masakan ibu ku" kata Ben.


Ben memberikan nasi lengkap dengan sup Ikan dan sayuran dalam dua piring yang terpisah.


"Atau aku akan ambilkan juga duri duri ikan ini?" tanya Ben.


Red langsung mengambil makanan yang diberikan oleh Ben.


"Aku bisa makan sendiri" kata Red.


"Masih banyak makanan disini. Kau bisa tambah lagi" kata Ben.


Red menikmati makanan yang diberikan oleh Ben.


"Aku mau ini. Kamu mau juga?" tanya Marid.


Marid kemudian melihat Jun yang sedang makan.


"Oh tidak. Ini buatku saja" kata Marid.


"Tunggu. Kenapa aku tidak boleh perhatian sama gadis ini?" tanya Marid.


"Karena kau terlalu keren mungkin" kata Good.


"Itu kamu Good. Kita tahu itu" kata Marid.


"Kalian menyudutkan ku" kata Ben.


"Kamu kan lebih atletis dari kita semua" kata Jun pada Ben.


"Dia selalu membelanya" kata Marid.


"Kenapa kamu berisik terus?" tanya Good sedang makan sotong pedas pada Marid.


"Hey. Jangan makan pedas nanti perut mu sakit" kata Marid mengambil sotong pedas dari piring Good.


Red sedang menonton teman temannya makan dan dia juga lagi makan.


Jun mengambilkan air minum dalam botol baru untuk Red.


"Makasih" kata Red.


Mata Red selalu menatap wajah hantu bergaun hitam itu. Ada apa dengannya yang selalu mengincar Jun untuk menjadikannya sebagai tempat untuk balas dendam. Terkadang gerak gerik Jun sedikit mencurigakan kemana ia pergi dengan siapa begitulah dia membingungkan siapa saja yang mengikuti Jun.


"Ia menelepon ku secara tiba tiba tanpa ia tutup. Dia masih bersuara" kata Red.


"Tapi dia seperti tidak berbicara dengan ku. Dia sedang berbicara dengan siapa?" tanya Red.


Apa yang dilakukan oleh hantu itu membuat Ran merasa perlu untuk tetap begadang mengawasi seseorang yang tiba tiba ada di depan rumah orang lain tanpa suatu alasan kemudian pergi.


"Penghuni rumah itu bukanlah teman Jun. Tapi, kenapa dia datang kerumah itu" kata Ran mengambil sisi tempat dan waktu untuk menjaga temannya itu.


"Hantu ini tidak terdapat dalam daftar list pencarian hantu yang diperintahkan oleh Bos, tapi kenapa dia terus mengganggu. Apa hanya aku yang penasaran dengan hantu itu?" tanya Ran.


Jun kemudian pergi dari depan rumah itu kembali memutar arah untuk pulang.


"Aku tidak harus mencari informasi tentang pemilik rumah yang didatangi oleh Jun tadi. Itu bisa melanggar privasi" kata Ran.


Ran melihat data ponsel yang berubah tidak dapat terdeteksi ketika Ran mencari informasi tentang hantu yang sudah keluar dari tubuh Jun tadi beberapa detik yang lalu.


Jun nampak merasa ada yang terjadi dengannya dan apa itu dia tidak tahu sama sekali. Dia masuk didalam mini market yang ramai di pukul sebelas malam ini setelah ia bekerja di kafe Kak Rose untuk menyanyi tadi.


Tubuhnya pasti merespon bahwa dia memang sedang tidak baik baik saja. Benar benar Jun tak merasakan apapun saat hantu itu masuk dan keluar dari tubuhnya hanya tatapan kosong yang ia rasakan.


Ia duduk di depan mini market dengan satu kaleng kopi.


Menengadah ke langit kemudian melihat kopi yang ada ditangan lalu meminumnya disana.


Pukul sembilan malam di restoran.


Ada sekumpulan remaja dan pemuda yang datang ke restoran tempat Red bekerja dengan pemilik rumah berhantu.


Datang beramai-ramai mencari tempat lalu setelah mendapatkan tempat di meja restoran mereka memesan beberapa menu yang tersedia disana.


Red tahu siapa dari salah satu sekumpulan dari remaja dan pemuda pemuda itu yang sedang menikmati berbagai olahan seafood.


Sesekali ia juga mengantar makanan yang mereka pesan ke meja makan. Orang yang Red kenal tak mengganggu saat ini, itu sebuah keberuntungan. Tapi, gadis yang bernama Red ini merasa aneh dengan tingkah Jimmy dan benar saja dengan apa yang di lihat oleh Red sekarang.


Di depan toilet pria berjarak satu setengah meter dari pintu masuknya, Red menunggu Jimmy yang sedang memuntahkan makanan yang ia makan barusan bersama teman temannya.


Cukup lama Jimmy ada didalam toilet kira kira hampir sepuluh menit.


Jimmy keluar dari dalam toilet, melihat Red ada didepan toilet.


"Ada apa?" tanya Jimmy.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit" kata Red memegang lengan kanan Jimmy.


"Untuk apa, aku baik baik saja" kata Jimmy.


"Kau masih berpura pura. Kau alergi seafood kan?" tanya Red.


"Terus, Apa hubungannya dengan mu?" tanya Jimmy.


"Kau?" tanya Red.


"Lepaskan tangan mu dari lengan ku" kata Jimmy.


"Ok. Terserah kau saja" kata Red.


Mereka tak saling akrab setelah kejadian ini dan Jimmy melanjutkan makan malam bersama teman temannya meski ia nampak baik baik saja tapi Red sudah melihatnya sendiri tadi apa yang terjadi dari penolakan tubuhnya terhadap apa yang ia konsumsi saat ini.


Dari mana Red tahu tentang alergi yang di miliki oleh Jimmy saat ini, itu karena ia juga mengalami ciri ciri yang sama dengan apa yang diderita oleh Jimmy jika memakan salah satu seafood.

__ADS_1


Red melihat Jimmy dari dapur restoran.


"Aku memang selalu ikut campur. Sekarang, terserah kamu saja" kata Red.


"Aku harap dia tahu batasan tubuh yang ia miliki" kata Red.


Keesokan harinya.


Jimmy datang lagi menjemput Red didepan rumah.


Jimmy mengantar Red berangkat sekolah.


Diam, namun berpikir.


"Apa aku seorang putri. Aku merasa ini berlebihan" kata Red.


"Kapan dia tak lagi menjemput ku. Aku terdengar sangat sombong dalam masalah ini" kata Red.


Jimmy sedikit bicara pagi ini tapi yang jelas seakan akan tak terjadi apa apa diantara mereka padahal sudah jelas tadi malam mereka sedikit beradu argumen saat di restoran.


"Maaf soal tadi malam" kata Jimmy.


Red masih berpikir bahwa ini ada yang tidak beres.


"Red kau mendengar ku?" tanya Jimmy.


"Oh" kata Red.


Pagi dengan aktivitas berbagai orang orang hari ini.


Jimmy sudah mengantar Red sampai ke sekolah lalu pergi setelah itu.


Red berjalan masuk menuju kelas.


"Kau berangkat diantar Jimmy?" tanya Jun.


"Ya ampun!" kata Red.


Jun datang tiba tiba di belakang Red.


"Ya" kata Red.


"Dia memang selalu menjadi nomor satu" kata Jun.


"Apa kau tahu?" tanya Jun.


"Apa?" tanya Red.


"Aku selalu menyuruh seseorang untuk putus dengan Jimmy. Kau tahu alasannya?" tanya Jun.


"Kenapa?" tanya Red.


"Karena, dia tidak menyukai seseorang karena dia jelek atau cantik. Tapi, karena dia membenci orang tersebut" kata Jun.


"Maksudmu?" tanya Red.


"Dia memiliki karakter itu. Paham kan?" tanya Jun.


Red terkaget dengan apa yang dikatakan Jun barusan.


"Jangan terlalu syok. Kau akan terbiasa jika berteman dengan Jimmy" kata Jun.


"Darimana kau tahu bahwa dia orang seperti itu?" tanya Red.


"Dia terbiasa menjadi musuh ku" kata Jun.


"Ayo cepat kita ke kelas" kata Jun.


Di lapangan basket Red dan Bee bermain basket bersama dengan Ben dan Good.


"Mereka tidak bergabung dengan kita?" tanya Bee mengarah kepada Jun dan Marid.


"Mereka terlihat sedang bersantai" kata Good.


"Ayo kita istirahat" kata Ben.


Bee duduk bersebelahan dengan Red.


"Aku pinjam ponsel mu" kata Jun.


Jun melihat akun sosial media milik Red yang sedang aktif dan itu tak sengaja ia melihatnya.


Jun berpikir sesuatu saat melihat Red sedang membuka unggahan akun milik Jimmy dengan foto yang ia unggah bersama teman teman sekolahnya.


Jun lalu memberikan tanda suka pada foto yang di uploud Jimmy.


Jun melanjutkan misinya untuk menambahkan teman yaitu Red di akun sosial medianya.


"Dimana ponsel mu?" tanya Ben pada Jun.


"Aku pinjam" kata Marid meminjam ponsel Jun untuk bermain game online.


"Lalu kamu?" tanya Ben.


"Ponsel ku disita setelah kemarin ikut tawuran" kata Marid.


"Pasti disita oleh Ibu mu" kata Ben.


"Kau tahu itu" kata Marid.


"Nanti sepulang sekolah kamu mau ikut dengan ku?" tanya Good pada Ben.


Good menawarkan naik mobilnya.


"Aku naik bus bersama dengan Red. Ya kan Red?" tanya Ben.


Red sedang melihat ponsel dan melirik Jun setelah apa yang ia perbuat tadi pada akun sosial medianya.


"Oh. Iya, kita bareng" kata Red mengiyakan saja.


"Aku pergi ke kelas" kata Red.


Dia benar pergi ke kelas.


Pelajaran diikuti oleh semua siswa hari ini berjalan seperti biasa. Jarum jam berputar dengan cepat sampai waktu pulang sekolah.


Red pergi dari kelas lebih awal dan tak menghiraukan apa yang di katakan oleh Ben. Dia pergi begitu saja.


Sekolah sudah di penuhi siswa dan siswi yang mulai keluar dari kelas dan pergi dengan kendaraan masing masing baik itu alat transportasi umum ataupun pribadi.


Jimmy menghubungi gadis itu lagi.


Gadis itu memutar arah menghindar dari siapapun yang melewati jalan yang sama seperti yang ia lakukan sehari hari untuk arah pulang.

__ADS_1


"Kau menunggu Red. Dia sudah pulang sejak tadi" kata Good kepada Jimmy.


__ADS_2