Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 80: Bunga Lily di Rumah No. 5


__ADS_3

Chapter 80: Bunga Lily di Rumah No. 5


 Red sedang berada disisi jalan tidak mengganggu orang lain berada di jalan yang sudah disediakan untuk pejalan kaki.


"Kau bisa minggir!" kata seorang wanita berteriak kepada Red.


 Red berbalik melihat siapa yang sedang memanggilnya.


 Orang itu mendorong gadis ini disaat dia tahu bahwa orang di depannya adalah Red.


 "Bruggg!" 


 Red terjatuh.


 Kemudian, dia mencoba akan bangun langsung disaat ia jatuh terdorong oleh Sima.


 Sima kemudian melayangkan tangan kanannya untuk menampar wajah Red.


"Kau berani menampar gadis ini" kata Flow.


 Tangan Sima di tahan oleh tangan Flow.


 Mata Sima memelototi mata Flow. Dia sangat marah dengan perlakuan Flow terhadap dirinya.


"Kau belum selesai?!" tanya Flow membentak.


 Flow menghempaskan tangan Sima.


 Kemudian, dia membantu Red yang belum terbangun dari jatuhnya tadi masih dengan suasana kaget karena kedatangan Flow.


"Apa alasan mu menyakiti gadis ini?!" kata Flow.


 Orang orang melihat kejadian ini.


 Sima langsung teringat dengan siapa orang yang ia ajak bicara saat ini. Dia lebih murka dari detik sebelumnya.


"Kau juga ingin menampar ku?" tanya Flow.


 Sima merasakan kesakitan akibat tangannya yang digenggam erat oleh jemari tangan Flow.


"Hentikan!" kata Flow.


 Sima tak bisa melawan perlakuan dari wanita bergaya classy dengan setelan serba merah dan lipstik merahnya.


"Ayo kita tinggalkan gadis ini" kata Flow.


 Mereka berdua meninggalkan Sima yang masih belum menerima bahwa dia terkalahkan oleh seseorang.


 Red dengan baju olahraga merah dan celana olahraga hitam pendek dan sepatu sport putih bertali biru pergi dari sana.


"Kenapa kau tidak menolongnya?" tanya Doe.


"Aku ingin melihat apakah seseorang akan menolong gadis itu" kata Jun.


"Dia pasti akan menolong Red" kata Doe.


"Kau belum mengerti apa itu cinta" kata Jun.


"Kenapa harus menyindir ku?" tanya Doe.


 Jun masih di roof top rumah kakaknya yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.


"Kau dimana?" tanya Jax.


 Jax datang disaat yang tepat ketika ia mencari Flow yang tidak ada disana di tempat Sima masih dengan dirinya.


 Dia masih berbicara dengan Flow lewat ponsel.


 Dia melihat Sima. 


 Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


 Dalam beberapa detik waktu terasa milik mereka berdua.


"Apa ini maksudmu?" tanya Doe.


"Ini hanya salah satu dari bagian kisah baru ini" kata Jun.


"Apa kau peramal. Kau bisa tahu segalanya" kata Doe.


"Tidak perlu meramal. Aku hanya mengamati" kata Jun.


 Sima dan Jax mulai saling berbicara satu sama lain.


 Menit pertama.


"Kau?" tanya Sima.


 Jax segera akan meninggalkan gadis yang baru saja ia temui secara tidak sengaja itu.


"Tunggu. Sungguh kau akan pergi?" tanya Sima.


"Apa aku boleh tinggal?" tanya Jax.


 Jax berbalik kepada Sima.


 Sima terlihat senang dengan sikap Jax.


"Bisakah kita?" tanya Jax.


 Situasi berubah lebih dingin dengan tatapan mata yang Jax berikan kepada gadis ini.


 Dia amat sedih tapi juga sudah tak begitu ingin melanjutkan perbincangan dengan Sima.


"Bicaralah. Apa itu sulit?" tanya Jax.


 Sima belum bisa berkata apapun lagi.


"Apa kau ingat aku sangat mencintaimu. Ya, aku sangat mencintaimu" kata Jax.


"Kau ingat itu?" tanya Jax.


"Sampai sekarang aku ingat aku mencintaimu. Tapi, aku takut kau tidak mencintaiku" kata Jax.


"Maaf" kata Sima.


 Jax mendengar kata yang selama ini ia tak mendengar langsung dari mulut manis gadis di depannya.


"Tolong. Izin kan aku pergi meraih dunia baru ku sendiri" kata Jax..


"Maaf Jax" kata Sima.


 


 Doe mulai berpikir dengan apa yang barusan ia lihat di depannya sendiri sejak ia melihat kedekatan antara kakaknya Jun yaitu Jax dengan Red dan Flow serta cinta pertama kakaknya Jun yang sudah terlihat jelas itu adalah Sima.


"Kau juga membaca ini?" tanya Doe.


"Dia memang terlihat tenang. Tapi, ketika masalah percintaan dia bisa terjebak dengan wanita seperti itu" kata Jun.


"Kau takut dia akan mengulang masa sedihnya itu?" tanya Doe.

__ADS_1


"Aku takut dia akan menyukainya?" tanya Jun.


"Maksudmu sahabat ku?" tanya Doe.


"Aku juga tidak tahu hubungan kakakku dengan gadis di depannya itu" kata Jun.


"Sudah berakhir atau belum" kata Jun lagi.


 Di rumah Sew. 


 Jax datang.


 Dia mencoba memeriksa apakah rumah yang ia datangi memang rumah yang ditempati oleh Red.


"Apakah nomor rumahnya bernomor lima dan ada gambar bunga lily di pinggir papan nomor ini?" tanya Jax.


 Red keluar dari rumah.


 Jax tersenyum setelah melihat Red.


"Kau mencari Kak Flow kan. Dia sedang membuat cookies cokelat" kata Red.


 Jax masih didepan gerbang dan melihat ekspresi wajah Red yang sangat gembira melihat kedatangannya.


"Kamu sepertinya lupa sesuatu?" tanya Jax.


"Oh ya lupa. Ayo masuk ke rumahku" kata Red.


 Red menarik lengan kiri Jax.


"Ayo cepat dia sudah menunggu mu" kata Red.


"Iya. Iya. Kau sangat bersemangat sekali" kata Jax.


 Jun masih memperhatikan mereka dari atas rumah kakaknya.


"Mereka berdua sama sama memiliki inner beauty yang luar biasa. Kau tidak takut Red menyukai Kakak mu?" tanya Doe.


"Dia hanya menyukai Ran. Kenapa aku harus khawatir?" tanya Jun.


"Kenapa kau tidak ikut bergabung dengan mereka?" tanya Doe.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Jun.


"Tak ada" kata Doe.


 


 Melihat situasi yang terjadi kepada Sima setelah pertengkaran dengan Red.


 Dia belum pergi.


 Dia diam diam mengikuti kemana mantan pacarnya datang ke sebuah rumah.


"Ternyata kau merampas Jax diam diam dibelakang ku" kata Sima.


 Jun juga melihat gadis yang dulu pernah mengganggu kehidupan kakaknya ada di depan rumah Red.


 Remaja laki laki ini lebih bertambah fokus ketika Sima disana.


"Dia sedang menderita kesakitan" kata Jun.


"Tubuhnya memerah" kata Jun.


"Rasa panas api sedang membakarnya sekarang" kata Jun.


"Perlahan dan terus menyiksa" kata Jun.


"Dia tidak akan mati. Tapi, dia akan tersiksa" kata Jun.


"Kau terlihat seperti tokoh antagonis saja. Jangan khawatir, itu memang efek dari obat itu" kata Doe.


"Apa aku terlihat mendalami karakter itu?" tanya Jun.


"Ya" kata Doe.


"Tadi, aku hanya sedang menghafal script" kata Jun.


"Dasar bocah ini!" kata Doe.


"Tidak lucu memang. Tapi, aku suka" kata Jun.


 Jun menggigit jagung bakar di tangannya.


 Untuk gadis yang masih ada di depan rumah Red, dia memiliki kondisi yang telah disebutkan oleh Jun barusan.


 Jalanan kompleks sudah mulai sepi ketika ia ada disana mungkin karena saat itu sudah hampir pukul enam kurang lima menit malam jadi orang orang disekitar rumah itu berhenti sejenak lalu akan memulai aktivitas mereka lagi. Hal ini juga terlihat di kedai kedai yang buka di dekat kompleks ini mereka terlihat tenang dengan aktivitas mereka beserta para pengunjung yang datang.


"Apa kau tidak ingin menolongnya?" tanya Doe.


"Untuk apa?" tanya Jun.


"Dimana sisi manusiawi mu?" tanya Doe.


"Aku bukan anak buah Presdir itu" kata Jun.


 Dibalik jendela ruang tamu seorang gadis sedang membuka tirai berwarna abu abu. Siapa gadis itu tentu dia adalah Red yang sedang melihat kondisi Sima.


"Level dosis obat itu naik dengan sendirinya" kata Bling.


"Kau bisa melihat itu" kata Red.


"Nyawanya bisa terancam" kata Bling.


 Red berbicara kepada dirinya sendiri tanpa Bling bisa mendengarnya.


"Obat itu akan bekerja dengan baik menghancurkan racun itu. Jika orang itu mau merubah dirinya sendiri tapi jika tidak obat itu tidak akan bekerja sama sekali" kata Red.


 Sambil memberikan senyum gadis ini menutup tirai jendela.


 Dia. Gadis di depan rumah Red sudah mulai bisa bergerak normal seperti semula.


"Kenapa tubuhku mengeluarkan asap?" tanya Sima.


"Aku tidak gila. Aku yakin itu" kata Sima.


 Tubuh Sima memang sedang mengeluarkan asap hitam sangat pekat dengan warna kulit yang memerah.


 Untuk Red, apa yang terjadi dengan gadis itu pasti merasakan rasa sakit yang di alami oleh Sima. Namun, dia tidak mungkin berteriak didepan kedua orang yang sedang membuat barbeque di roof top rumahnya.


"Gadis itu nampak terbiasa dengan rasa sakit yang ia miliki" kata Jun.


"Dia memang pekerja keras" kata Doe.


"Jika dan jika" kata Jun.


"Kau disini yang lebih mencurigakan" kata Doe.


"Tidak perlu berteriak. Kau ada di raga ku" kata Jun.


"Kata kata mu selalu memperjelas posisi ku" kata Doe.

__ADS_1


"Kau sudah paham. Jadi, tidak perlu ku jelaskan" kata Jun.


"Kau memang terkenal kejam" kata Doe.


 Jun sedang mengingat hari ketika Sima pertama kali terpapar mantra beracun milik "Orang itu".


 Dia datang di sebuah tempat yang sudah hancur tak bersisa bangunan yang ia lihat dari atas sebuah gedung olahraga menggunakan teropong hitam.


"Mereka telah di hancurkan rupanya" kata Jun.


 Dia melihat kembali lokasi kejadian itu dari atas sana.


"Siapa kedua remaja itu?" tanya Jun.


"Ku rasa mereka bisa menjaga diri mereka sendiri" kata Jun.


 Dia menunggu kedua remaja yang sedang sekarat mendapatkan pertolongan dari orang lain selain dirinya.


"Ini waktu yang tepat untuk ku menolong gadis itu" kata Jun.


 Dia dengan teleportasi pergi dari atas gedung olahraga itu. Dia tidak ikut menolong kedua remaja yang baru ia lihat tetapi pergi ke sebuah tempat yang ia duga seseorang yang ia cari ada disana.


 Di seberang jalan kafe Jun melihat gadis itu. Senyumnya membuat orang lain merasa tak curiga tapi bermakna menakutkan jika memandangnya lebih lama disaat ekspresi ini ada pada diri Jun.


 Dia datang mendekat ke dalam kafe.


"Kau punya waktu?" tanya Jun.


"Hey Jun. Aku punya waktu untuk mu" kata Sima.


 Jun mengajak Sima pergi ke suatu tempat menggunakan taksi.


 Remaja laki laki ini melihat lagi wajah gadis disebelah kanannya itu sedang tersenyum kepada Jun.


"Senyum mu, aku suka" kata Jun.


 Dia tidak menunjukkan kesan negatif di hadapan gadis ini.


"Kau mau membawa ku kemana?" tanya Sima.


"Kita akan pergi ke tempat kesukaan mu" kata Jun.


 Dari arah belakang gadis ini, Jun sedang membuka genggaman jemari tangannya yang berisi mantra beracun yang ia ambil dari bangunan terbengkalai yang tadi ia lihat menaruhnya di bagian atas tulang punggung gadis yang ada di sebelah kanannya tanpa menyentuh Sima.


"Aku tidak akan membunuh mu. Tapi, aku ingin kau bisa berubah" kata Jun.


 Kini yang terlihat oleh Jun adalah Sima yang sedang berjalan terus perlahan meninggalkan rumah Red.


 Dia seakan sudah menebak apa yang akan terjadi kepada gadis ini.


 Gadis ini belum berhenti merasakan rasa sakit yang ia derita dan ini diluar dugaan Red yang telah terjadi adalah Sima telah mendapatkan mantra beracun lagi dari orang lain selain ia ketahui dan hal ini sudah dirasakan segala gejala yang Sima tunjukan selama ini dan bukan Jun lagi yang melakukan itu melainkan orang lain.


"Aku berharap kau bisa menahan ini sebentar lagi" kata Jun.


 Jun memberikan senyum hangat disaat melihat Sima dalam kesakitan.


"Pahlawan itu datang" kata Doe.


 Jimmy datang setelah sepuluh menit sebelumnya pacarnya menghubungi bahwa dia membutuhkan pertolongan.


"Aku tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh remaja laki laki itu" kata Jun.


 Sambil membantu pacarnya berjalan menuju mobil, Jimmy melihat ke arah Jun yang sedari tadi memperhatikan orang orang di bawah jalan dekat rumah Jax.


 Senyumnya sinis tanpa penyesalan apapun kepada situasi ini.


 Dia melambaikan tangannya kepada Jimmy.


 Suaranya terdengar lirih tapi Jimmy masih bisa mendengarnya.


"Hello brother" kata Jun.


 Jimmy tak ingin berlama lama ditempat itu. Dia sedang tidak bersama bodyguard kesayangannya sekarang. Dia dengan kendaraan roda empat menjemput Sima dari tempat itu.


 Tanpa emosi berlebih Jun melihat mereka sambil menghabiskan kudapan manis yang ada di meja sebelahnya.


"Ini milik Flow kan?" tanya Jun.


"Ya tadi aku mengambilnya. Ketika mengendalikan raga mu" kata Doe.


"Hanya beberapa detik saja. Kau bisa mengambil cookies cokelat ini" kata Jun.


"Ya. Aku mengambilnya" kata Doe.


 Padahal dirumah Jax banyak sekali makanan tapi Doe tetap mengambil makanan buatan Flow.


"Kaget aku!" kata Red.


"Kau kehilangan cookies?" tanya Hera.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Red.


"Tadi aku lihat diambil oleh Doe" kata Hera.


"Apa warna piring cookies itu?" tanya Red.


"Piring keramik berwarna hijau toska" kata Hera.


"Ya sudahlah" kata Red.


"Aku minta itu" kata Hera.


"Hari ini kau sedang diet. Jadi tidak boleh makan cokelat" kata Red.


"Ya ampun. Aku lupa itu" kata Hera.


 Red dan Hera tidak bisa ikut dengan dua orang yang sedang membuat barbeque.


"Aku ingin mengganggu mereka" kata Hera.


"Aku akan melenyapkan mu" kata Red.


"Aku tahu kamu tidak sekejam itu. Jadi, jangan bercanda" kata Hera.


"Katakan apa yang ingin kau katakan" kata Red.


"Aku mendapatkan sebuah informasi bahwa Sima mendapat racun itu lagi" kata Hera.


"Lagi?" tanya Red terkejut.


"Siapa orang itu?" tanya Red.


 Hera membisikkan nama orang itu kepada Red di telinganya.


 Ekspresi wajah Red terkejut dengan nama yang Hera sebutkan padanya.


"Really?" tanya Red terkejut.


"Yes" kata Hera.


 Red melihat ke arah rumah yang Hera sebutkan dan dia melihat ke arah Jun yang sedang memakan cookies buatan Flow.

__ADS_1


 Jun memberikan senyum hangat yang hanya ia berikan kepada Bay dan Red.


"Mengapa dia tetap bisa tersenyum seperti itu?" tanya Red.


__ADS_2