
Chapter 66: Good Boy.
"Aku tahu kau tidak sejahat itu" kata Jun.
"Mereka meninggal bukanlah salah mu" kata Jun.
"Dimana kamu sekarang?" tanya Jun.
Jun telah kehilangan seseorang yang ia anggap sebagai sahabatnya sendiri.
Dia naik keatas panggung kafe kemudian menyanyikan sebuah lagu. Dia pergi kedalam perasaan itu tenggelam dalam rasa kehilangan seseorang untuk yang ketiga kalinya.
Red mendengar merasakan lagu yang sedang dinyanyikan oleh Jun kali ini membuatnya sangat tersentuh.
"Dia. Siapa yang ia cari lagi selain aku?" tanya Bling.
"Perasaan yang ia gambarkan seperti bukan seseorang yang kehilangan seorang kekasih. Ini bukan itu" kata Red.
Menghitung waktu berapa lama dia sudah menyembunyikan semua ini tanpa semua orang tahu. Dia bersembunyi sendiri tanpa siapapun tahu. Dia menyimpannya sendiri.
Dia bahkan tak menceritakan hal ini kepada Red seseorang yang ia anggap sebagai seseorang yang pantas menjadi pengganti kekasihnya yang telah pergi.
Siapa yang Jun cari, Red ingin mengetahui sosok gadis yang Jun maksud terlebih lagi Bling yang ada di dalam raga Red.
Red sedang bertugas dalam misi ini untuk mengawasi segala yang telah dikerjakan oleh Jun menggantikan Ran dan Hera untuk sementara waktu.
"Berhenti menangis. Berpikirlah lebih realistis" kata Red.
Red mengaktifkan mode penyamaran mengubah wajahnya menjadi wajah dan raga orang lain dan kini dia merubah dirinya menjadi seorang pria.
"Jun. Apa yang sedang kau sembunyikan dari kami" kata Bling.
"Apakah kau tahu. Aku baru melihat dia yang seperti ini" kata Bling.
Seseorang yang tadi mengikuti Jun dari kejauhan dengan pakaian serba hitam dengan tanda api di pergelangan tangan berwarna hitam.
"Pria itu memiliki tanda api di tangannya" kata Red.
Kedua bola mata biru Red tiba tiba menyala kembali tanpa izin dari pemiliknya.
"Kenapa kau menghilangkan sahabat ku?" tanya seseorang itu.
"Apakah dia berdosa padamu?" tanya seseorang itu.
"Dia bukan musuh mu" kata seseorang itu.
"Kau juga tahu, dia tidak bersalah" kata seseorang itu.
"Kamu tidak harus melenyapkan dia dari hidupku?" tanya seseorang itu.
Red menonaktifkan bola mata biru miliknya.
Ombak pantai terdengar sampai kedalam ruang kafe disaat Jun menyanyikan sebuah lagu sedih.
Gadis ini merasa tak berdaya tubuhnya serasa ingin terjatuh kepalanya terasa amat sakit kedua tangan dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia merasa ketakutan dengan dirinya sendiri saat mendengar seseorang memberikan banyak pertanyaan kepadanya. Rasa bersalah ia sadari tak seharusnya ia melakukan hal sejauh itu.
"Maaf. Maafkan aku, aku hanya mencegah pihak pihak lain memanfaatkan sahabat mu" kata Red.
Didepan kafe angin laut datang menerpa Red. Dia diantara orang orang yang menikmati musik di sore hari ini.
"Sungguh maafkan aku. Ini sungguh sulit untukku, mengertilah" kata Red.
Seseorang yang Red maksud belum menanggapi permohonan maaf Red. Dia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.
Apa yang dia rasakan akibat dari Sima yang sedang berbuat kebaikan dan juga akibat dari rasa syok yang ia dapat dengan siapa ia ajak bicara tadi. Dia harus percaya bahwa dia memang orang yang tadi bicara padanya.
Kedua mata Red menjadi biru lagi.
"Kenapa kau tak marah sejak dulu?" tanya Red.
"Mengapa kau sebaik ini?" tanya Red.
Orang yang ia maksud tidak menjawab pertanyaan dari gadis ini. Dia masih memberikan senyum hangat kepada Red yang berlinang air mata menatap wajah orang itu.
Gadis ini melihat jarum jam di pergelangan tangan kanannya. Dia hapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku datang tepat waktu" kata Hera.
Hera melihat Red yang terlihat sedang mencoba lebih realistis didepan semua orang lagi.
"Ada apa dengan temanmu?" tanya Hera.
"Dia hanya ingin pulang" kata Bling.
"Baiklah. Kalian bisa pulang sekarang" kata Hera.
Kali ini Jun akan dijaga oleh Hera setelah ia meminta izin kepada Red untuk mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh atasan mereka.
"Terimakasih sudah menggantikan ku" kata Hera.
Red semakin menjauh dari kafe dekat pantai itu tugasnya menjaga Jun sudah selesai sore ini.
Dia berjalan menuju area parkir pantai untuk mengambil motornya.
"Sudahlah jangan sedih terus. Orang orang akan memanfaatkan kesedihan mu" kata Bling.
Sorot mata seperti ingin menerkam seseorang tertuju kepada Red.
Red jelas melihat kearah gadis yang sedang menargetkan dirinya dari tatapan mata bulannya.
"Kau kenal gadis itu?" tanya Bling.
"Sepertinya, iya" kata Red.
Enam langkah dari Red melihat gadis itu terus mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Saling menunggu, tidak hanya itu untuk Red yang sedang menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang gadis itu inginkan dari Red.
Satu langkah persis mereka saling menatap satu sama lain.
Gadis itu mendorong pundak kiri depan Red dengan keras.
"Hey, miskin!" kata gadis itu membentak Red.
Red terdorong mundur ke arah belakang.
"Apa. Coba sekali lagi" kata Red.
"Miskin. Apa kau tuli, miskin?" tanya gadis itu menatap penuh hina kepada Red.
Red mencoba menghindar dari pertengkaran ini. Kemudian, meninggalkan segerombolan remaja gadis gadis itu.
Dua langkah kakinya meninggalkan mereka.
"Hey, miskin!" kata gadis itu berteriak lebih keras.
Red menghentikan langkah kakinya.
Orang orang menghentikan aktivitas mereka setelah teriakan dari gadis itu.
"Coba ulangi sekali lagi!" kata Red.
"Miskin. Apa kau tuli, miskin?" tanya gadis itu sekali lagi.
Suasana bertambah hening di detik detik ini.
Red belum berbalik ke arah belakang.
Lalu, dia berusaha tak menghiraukan tingkah aneh gadis itu dengan melangkah pergi dari mereka.
Sesuatu yang terasa dingin terasa di rambut kepala Red.
Satu es krim vanila terlempar di kepala Red dan jatuh di belakang kaki Red.
Red berhenti dari langkahnya berbalik arah ke belakang berjalan dengan cepat ke arah gadis gadis yang masih seumuran dengannya.
Red ada di depan gadis yang sudah menghinanya di hadapan banyak orang orang di sekitar pantai itu.
"Minta maaf!" kata Red.
Dia mulai serius dengan apa yang ia katakan.
"Minta maaf untuk orang miskin?" tanya gadis itu.
Kemudian, mereka semua menertawakan Red di depan orang orang.
Red masih berusaha sabar.
Kedua bola mata Red membiru menatap tajam mata gadis itu.
"Minta maaf sajalah" kata salah satu teman gadis yang memakai setelan jumpsuit pendek putih itu.
"Lepaskan lengan ku!" kata gadis itu kepada temannya yang sedang menasehatinya.
"Orang kaya tidak perlu meminta maaf. Apalagi kepada gadis pengemis seperti dia!" kata gadis itu sambil menunjuk mata Red dengan tangannya.
"Kau tidak mau meminta maaf kepadaku?" tanya Red.
"Tidak. Kau yang seharusnya meminta maaf" kata gadis itu.
Mata birunya menatap mata gadis itu lalu apa yang terjadi selanjutnya kepada gadis yang sedang menghina Red barusan.
"Ambil es krim itu!" kata Red.
"Ya" kata gadis itu.
Dia mengambil es krim miliknya yang ia lempar ke kepala Red. Kemudian, dia kembali berdiri didepan Red lagi.
Orang orang merasa heran dengan apa yang terjadi di situasi ini.
Gadis itu kemudian menaruh es krim yang telah terjatuh ke pasir pantai diatas kepalanya sendiri.
"Ooooooooohhhh" kata orang orang disekitarnya.
Tak hanya itu, gadis ini meratakan seluruh es krim itu ke seluruh rambut cantik dan indah kepalanya.
Teman teman di sekelilingnya tak ada yang menghentikan tindakan yang dilakukan oleh temannya sendiri.
"Rasakan. Apa yang sering kau lakukan padaku" kata salah satu gadis teman gadis yang menghina Red.
Red berbalik arah meninggalkan gadis itu. Suasana kembali normal seperti sebelum pertengkaran itu berlangsung.
Red sedang menghitung berapa lama kekuatannya berhenti bekerja kepada gadis itu.
Langkah demi langkah ia hitung hingga ia menghitung kemudian.
"Tiga, empat, lima, enam, tujuh" kata Red.
Dia menonaktifkan bola mata biru dan kekuatannya sudah tidak bekerja lagi kepada gadis itu.
Red melangkah pergi meninggalkan remaja remaja yang ada dibelakangnya.
"#&@#;#"<¿*«»%##!" kata gadis itu berteriak kepada Red.
Red sudah tak peduli dengan ocehan gadis itu yang tak berhenti menghinanya meski Red sudah jauh darinya.
"Apa gadis itu pernah menindas mu?" tanya Bling.
"Aku lupa lagi. Sekarang, dia membuat cerita baru lagi" kata Red.
"Aku tidak tahu harus memberi saran apa" kata Bling.
__ADS_1
"Sudah. Jangan dipikirkan, ayo kita temui Sew" kata Red.
Dari arah kafe banyak beberapa orang melihat pertengkaran yang terjadi diantara Red dan gadis itu
Jun juga ada disana bersama dengan Wren.
Jun berdiri didepan kafe sambil menyilangkan kedua tangannya di bagian perut.
Wren merangkul bahu Jun dari belakang ketika pertengkaran beberapa remaja didepan mereka telah selesai.
"Tidak salah dia berguru dengan mu sebelumnya" kata Wren.
Red sedang memakai helm dia mulai lupa kalau wujudnya yang sekarang tidak menjadi seorang pria lagi seperti sebelumnya. Dia dengan rok abu abu selutut sekolah dan atasan putih serta dasi abu abu yang ia pakai serta jaket jeans yang ia pakai.
"Untungnya aku sudah memakai celana panjang olahraga sebelum keluar dari sekolah tadi" kata Red.
Dia sudah siap untuk menyalakan mesin motor.
Motor ia nyalakan lalu siapa yang datang membonceng motor yang di kemudikan Red.
"Kenapa tiba tiba berat?" tanya Red.
"Aku ikut denganmu saja. Disana Hera sangat galak" kata Doe.
"Kamu lagi?" tanya Red.
"Hanya kamu yang mau menerima ku" kata Doe.
"Ya sudah. Kau pegangan yang erat" kata Red.
"Jangan terlalu dekat dengan bosku!" kata Bling membentak Doe.
"Gadis ini galak sekali. Iya iya tahu" kata Doe.
Suara angin datang menerpa seseorang dengan pakaian yang sudah tak layak untuk dipakai.
Koran koran bekas beterbangan diantara orang orang disekitarnya begitu juga koran yang menabrak tubuh lusuh tak terawat itu.
Ia mencari beberapa makanan di sekitar jalan yang ia lewati begitu juga tempat pembuangan barang barang yang tidak di pakai lagi ada disana orang itu sedang mengais makanan.
Suasana terasa biasa saja bagi orang itu semua tampak sama di setiap pandangan yang ia tahu hanya harus menemukan makanan untuk pengganjal perutnya.
Dia melirik ke kanan dan ke kiri melihat sebuah sepotong roti yang terbuang di tempat sampah dengan cepat ia mengambil potongan roti itu tanpa menyadari bahwa roti yang ia ambil adalah makanan yang sudah tak layak ia makan.
Didepan sebuah toko roti yang sesak dengan banyak pembeli datang dan keluar dari dalam toko. Dia disebelah tempat pembuangan sampah duduk disana memakan potongan roti itu.
"Kakak, aku sudah tiba di tempat yang kakak katakan. Kakak dimana?" tanya Red.
"Tiga menit lagi aku sampai. Tunggu" kata Sew.
Red segera memasukkan ponselnya dibagian dalam jaket dan dia tetap duduk diatas motor menunggu Sew yang belum datang.
Red melihat kearah belakang motor dan tak menemukan seseorang yang ia cari.
"Kemana kakak itu?" tanya Red mencari Doe.
"Dia baru saja masuk kedalam toko didepan kita" kata Bling.
Didalam toko roti ada seorang hantu yang sedang memilah dan memilih roti apa yang akan ia ambil.
"Aku memang orangnya pemilih" kata Doe.
Doe dengan keahlian yang ia miliki berhasil menyelinap dari banyaknya orang orang yang membeli roti. Ketika Doe akan mengambil roti yang ia suka tiba tiba saja roti yang ia inginkan diambil dengan cepat oleh seseorang tanpa seseorang pun tahu bahwa roti itu sudah berpindah tempat ke tangan orang yang dengan cepat pergi dari toko roti tersebut.
Doe tidak rela bahwa roti kesukaannya diambil oleh orang itu dia langsung mengejar orang itu yang sedang menyelinap berusaha keluar dari ramainya pembeli.
Salah satu karyawan toko berteriak bahwa dia kehilangan beberapa roti yang di curi oleh seseorang dalam sekejap ia melihat barusan dari arah belakang pencuri itu keluar.
Sontak pencuri itu mendengar teriakan gadis karyawan toko itu lalu dia menenangkan langkah kakinya keluar pintu sambil menyembunyikan roti roti itu.
Dia melihat gelandangan yang ada di samping tong sampah sedang memakan roti lalu dia langsung berteriak.
"Dia pencuri roti itu. Tangkap dia!" kata pencuri itu.
Pandangan orang orang teralihkan dengan kata kata pencuri itu tanpa pikir panjang Doe langsung mengambil tindakan untuk menutup keberadaan orang yang dituduh pencuri itu dengan kekuatan yang ia miliki agar orang orang tak melihat orang yang sedang memakan roti di samping tempat sampah itu.
Orang orang tak melihat siapa yang dituduh pencuri oleh orang yang berteriak tadi yang juga sudah tak ada disekitar toko roti.
Pencuri itu dalam beberapa detik sudah menghilang entah kemana tak terlihat dari pandangan Doe disaat ia menengok ke arah belakang.
"Sedang apa dia disana?" tanya Bling.
"Bermain main" kata Red.
Orang didepan Doe yang sedang ia lindungi adalah orang dalam gangguan jiwa yang sedang kelaparan.
Red dan Bling ada di sekitar toko roti bersama para pedagang kaki lima disisi kanan dan kirinya.
"Ada apa kok ramai sekali?" tanya Sew.
"Lihat dia" kata Red mengarah ke arah Doe.
"Dia sedang bermain lagi" kata Sew.
"Seperti yang terlihat" kata Red.
"Bagaimana, apakah ada kabar lagi tentang Jun?" tanya Sew.
"Tenanglah. Ambil napas pelan pelan, kau baru saja sampai" kata Red.
Sew terlihat dengan napas terengah-engah setelah lari dari macet tadi.
"Minum ini" kata Red.
Dia memberikan satu botol air mineral yang ia beli kepada Sew.
__ADS_1