Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 98: Dia Tak Pernah Pergi.


__ADS_3

Chapter 98: Dia Tak Pernah Pergi.


 Pagi ini sangat cerah.


 Red sedang bersama teman teman satu kelasnya mengikuti mata pelajaran olahraga.


"Mereka belum melupakan kejadian waktu itu" kata Bling.


"Rasanya aku ingin memakan gadis itu" kata Red.


"Apa kau zombie?" tanya Bling.


"Bukan" kata Red.


"Lalu untuk apa memakan mereka?" tanya Bling.


 Dia sedang berkeliling lapangan sepak bola bersama siswi siswi satu kelasnya.


 Cuaca sangat cerah dan penuh keringat pasti jika mereka berlari sudah hampir sepuluh putaran semakin bertambah nilai mereka jika mereka mendekati lima belas putaran.


"Gadis di kelas kita sangat bersemangat" kata Jun.


 Hampir semuanya berambisi untuk mencapai lima belas putaran.


 Good mengamati seluruh teman teman perempuannya yang sedang berlari saat ini.


"Ada yang aneh tapi apa menurut kalian?" tanya Good.


"Kau perhatikan saja pacar mu" kata Ben.


"Selalu. Tapi, lihat mereka" kata Good.


 Tak ada yang mau berlari dengan Red meski mereka satu arah dan itu jelas terlihat bagi siapapun yang melihat para siswi siswi yang berlari mengelilingi lapangan sepak bola sekolah saat ini.


"Manusia bukan robot. Dia pasti punya perasaan" kata Good.


"Jangan sembarangan berkata seperti itu kepada selain Bee" kata Jun.


"Kenapa?" tanya Good.


"Wanita itu akan mengejarmu" kata Jimmy.


 Dia pergi setelah mengatakan hal ini kepada Good pergi ke ruang ganti setelah olahraga bagi semua siswa laki laki sekolah.


"Dia memang yang paling berpengalaman dibidang ini" kata Good.


"Kau juga diam saja gadis gadis langsung suka" kata Jun.


"Kau seperti mengajakku untuk berkelahi" kata Good.


"Aku yang paling tak laku" kata Ben.


 Ben pergi dari siswa siswa yang sedang istirahat setelah berlari dengan puluhan putaran tadi sebelum teman teman perempuannya berlari.


"Padahal dia yang paling atletis disini" kata Jun.


"Oh ya. Ngomong ngomong akting mu cukup bagus" kata Good.


"Terimakasih tapi masih pemula" kata Jun.


"Pemula tapi Kakak ku langsung menjadikan mu idolanya" kata Good.


"Ayo kita pergi menemui Ben" kata Jun.


 Jun dan Good pergi ke ruang ganti siswa laki laki menyusul temannya yang sudah pergi lebih awal dengan siswa lainnya.


 Di ruang ganti siswa laki laki.


"Kita akan latihan bela diri lagi sepulang sekolah?" tanya Jun.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Ben.


"Aku akan bekerja setelah selesai latihan" kata Jun.


 Good membawa dua lunch box lagi beserta dua tumbler satu untuk Bee dan satunya lagi untuk dirinya.


 Dia akan pergi menuju lapangan sekolah menghampiri pacarnya.


 Jimmy selesai berganti seragam sekolah pergi dari ruang ganti pakaian sekolah bagi siswa.


 Bel istirahat sekolah berbunyi siswi siswi sudah selesai dengan tugas mereka berlari keliling lapangan sepak bola sekolah.


"Bee. Ini lunch box kesukaan mu" kata Good.


 Bee langsung menerimanya dengan ekspresi wajah ceria.


 Dia duduk bersebelahan dengan kekasihnya.


"Dimana Red?" tanya Good.


 Red datang setelah lima belas putaran keliling lapangan.


"Itu dia" kata Bee.


 Di waktu yang bersamaan Wren datang menghampiri Red.


"Pasti haus. Ini untukmu" kata Wren.


 Dia memberikan air mineral kepada Red.


"Terimakasih" kata Red.


 Dia duduk di sebelah kanan Red.


 Dia membuka minuman soda dengan wadah botol bening.


 Red melihatnya meminum itu.


 Air mineral yang ia dapat dari Wren ia buka tutup botolnya.


"Biar aku saja yang buka tutupnya" kata Wren.


 Wren membantu membuka tutup botol air mineral milik Red.


"Terimakasih" kata Red.


 Red melihat minuman soda yang sedang di minum oleh Wren.


 Berbicara dalam hati memandang temannya yang sedang minum.


"Itukan merk minuman yang kemarin kita bertiga syuting iklan" kata Red.


 Dari keempat anak muda ini sedang ada didepan lapangan sepak bola sedang istirahat.


 Sekelompok siswi lebih terlihat para junior mereka sedang menyerbu seseorang.


 Jun yang baru keluar dari ruang ganti diteriaki oleh junior sekolahnya untuk minta foto dan tanda tangan.


 Jun mencoba melihat ke arah belakang.


"Mereka semua pergi kemana?" tanya Jun.


 Semua teman teman satu kelasnya telah kabur lebih dulu dengan jalan pilihan mereka sendiri.


 


 Dia dengan para fansnya.


 Wren juga tentu melihat ini bersama yang lain.


 Marid datang.

__ADS_1


"Geser!" kata Marid.


 Marid mengambil tempat duduk diantara Red dan Wren.


"Bagi!" kata Marid.


 Marid mengambil minuman yang sedang diminum oleh Wren.


"Begini cara ku minum" kata Marid.


 Marid menunjukkan bagaimana ia minum seperti yang ada di iklan yang dibintangi oleh teman mereka.


 Red akan tertawa.


"Bagaimana apa sudah mirip dengan kalian seperti di iklan itu?" tanya Marid.


 "Tadi aku baru lihat iklan kalian. Aku tidak percaya dengan Ben yang diam diam ikut audisi" kata Marid.


 Wren membuka air soda lagi dari botol lainnya yang ia bawa.


 Sedangkan untuk Bee dan Good sedang makan lunch box mereka.


 Siapa yang tahu kalau langit yang cerah tiba tiba langsung mendung banyak guntur lalu turun hujan.


 Pagi ini turun hujan.


 Siswa siswi berlarian meninggalkan area lapangan tanpa atap.


 Red melihat ke arah Wren.


"Kenapa?" tanya Red.


"Tidak. Aku hanya alergi hujan" kata Wren.


"Dia punya obat flu minta saja kepada Red" kata Good.


 Good lalu segera pergi menuju kelas.


"Aku pergi ke ruang ganti sebentar" kata Bee.


"Kau akan berikan obat flu itu?" tanya Wren.


"Hmmm" kata Red.


 Jun melihat sendiri lagi kedekatan mereka berdua.


 Perasaan marah dan tak bisa marah lagi.


 Dia masih melanjutkan sesi foto dan tanda tangan bersama adik kelas.


 Di kelas sudah dengan Ben yang duduk di kursi milik Red menatap tajam kedua temannya yang datang tatapan seperti ketika Bee didekati atau mendekati orang orang yang ia sukai.


 Tatapan itu sangat jelas tanpa dibuat buat bahkan untuk seorang Wren.


"Aku tidak mengambil mainan mu kan?" tanya Wren.


"Aku tidak suka mainan aku suka alat tinju" kata Ben.


"Sudahlah. Awas aku akan mengambil tasku!" kata Red.


"Kenapa jadi galak sama aku?" tanya Ben.


 Ben tidak mau pergi dari tempat duduk Red.


 Melihat Red yang sedang membuka kotak obat dari dalam tasnya.


 Mengambilkan salah satu obat dari kotak bergambar stroberi untuk Wren.


"Aku lupa sekarang hujan. Kau pasti membutuhkan itu, sorry" kata Ben.


 Ben berbicara dengan Wren.


"Dia sebenarnya baik tapi memang terlalu protektif" kata Red.


"Minum saja dan pergi ke kelas mu" kata Ben.


 Jun datang ke kelas melihat dan mendengar hal ini.


"Biarkan saja" kata Jun.


 Dia mengambil tempat duduk Ben.


 Buku catatan milik Flow kembali terbuka.


 Dia menulis sebuah nama lagi dengan lembut.


 "Red".


 Disana tertulis nama gadis itu.


 Kemudian tertulis kalimat selanjutnya.


 "Inilah waktu, waktu terakhir untuknya".


 Tulisan tulisan itu hilang terbawa oleh angin yang masuk dari celah celah udara di atas jendela kamar Flow.


 Terbang mengudara melewati hujan yang sedang sangat deras melewati disetiap bangunan bangunan pergi menyusup dengan arah ia mencari dimana ia mencari nama yang sudah tertulis di buku catatan itu.


 Dia pergi menemukan nama itu datang kepada pemiliknya masuk menembus jendela kelas Red.


 Waktu terhenti sejenak.


 Suara petir sangat keras terdengar dari langit gedung itu.


 Perisai dari energi biru milik Red muncul dari dalam tubuhnya secara reflek membuat perisai pelindung untuk tubuhnya.


 Mantra mantra itu hancur oleh energi yang dimiliki oleh Red.


"Kau melindungi seluruh isi kelas?" tanya Jun.


 Perisai yang ia keluarkan melindungi menyeluruh ke seluruh teman teman sekelasnya termasuk Jun.


 Waktu kembali berjalan seperti semula.


 Begitu juga dengan energi yang dimiliki oleh Red kembali tidak ia aktifkan lagi.


"Oh. Mulut mu mengeluarkan darah" kata Wren.


 Red mengambil tisu dari dalam tasnya lalu mengusapnya sendiri.


 Ben langsung memberikan tempat duduk milik Red setelah melihat kejadian ini.


 Jimmy yang datang bersama dengan Sima tidak membantu Red. Dia takut Red akan menghilang lagi karena ulahnya seperti tadi pagi. Jadi, dia mengalihkan fokusnya pada pacarnya.


 Jun masih ada di kursi milik Ben. Dia tidak mengambil langkah untuk menolong Red dia sedang mengamati seluruh isi kelas.


"Dia tidak akan menghilang hanya karena itu" kata Jun.


 Jun melakukan ini karena dia sudah mengalami hal yang sama seperti apa yang sedang terjadi kepada Red saat ini tepatnya tadi malam.


 Pukul dua belas siang yang sangat mendung dan hujan.


 Pria dengan berjas hitam dengan kaus putih dan celana jeans hitam ada didepan sebuah kantor yang bergerak di bidang industri makanan.


 Dia terlihat memakai masker putih sambil memasukan kedua jemari tangan kedalam saku depan celananya.


"Dia menggemaskan dengan rambut pendeknya" kata Bob.


 Flow akan keluar sendirian dari dalam kantor dengan membawa tote bag berisi lunch box.


 Dia melewati pintu depan masuk kantor.

__ADS_1


 Bob sedang memperhatikan lingkungan kerja lebih detail melihat segala lirikan mata teman teman kantornya yang sedang memperlakukan wanita yang ia sayangi tidak seperti teman kantor mereka.


 Bob langsung membuka maskernya dia menghampiri Flow yang baru saja keluar dari pintu masuk kantor.


"Siang pacarku" kata Bob.


 Flow menghindar dari sapaan Bob sedangkan orang orang disana histeris dengan kedatangan pria yang berprofesi sebagai aktor ini.


"Wah itu Bob!" 


"Kita kedatangan aktor!" 


"Haaaaaaaaaa!"


 Mereka seperti ingin berebut mendapatkan aktor ini.


 Wanita wanita disana berteriak penuh semangat disaat kedatangannya ada disana.


 Tapi Bob langsung mengejar Flow tanpa mempedulikan orang orang berteriak padanya.


 Flow pergi ke toko buku dan berniat untuk makan siang disana.


 Dia belum menyerah dan memakai masker kembali berlari kepada Flow.


 


 Bob masuk kedalam toko buku.


"Aku ingin mengganggu mu" kata Bob.


 Flow tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Bob.


 Bob mulai memperhatikan cara duduk wanita yang ia sayangi telah berbeda dari sebelumnya.


 Bob berpikir sekali lagi.


 Memandang Flow yang sedang memakan makanan miliknya sambil membaca buku.


 Flow sedang minum infus water yang dibuat dibawa sendiri dari rumah.


"Aku kenal cara minum ini" kata Bob.


"Bahkan ketika dia minum saja menggemaskan" kata Bob.


 Flow menawarkan makanan yang ada di depannya itu.


 Bob menggelengkan kepalanya.


 Flow melanjutkan makan siangnya.


 Bob masih memperhatikan cara Flow makan saat ini.


 Dari luar toko buku teman teman kantor Flow masih memperhatikan mereka berdua.


 Bob terlihat sangat fokus dengan Flow yang duduk disebelah kanannya sambil menyanggah wajahnya dengan tangan kanannya diatas meja menatap ke  arah Flow.


 Bob membersihkan nasi yang menempel dibawah dagu Flow dengan tangan kanannya.


"Kau tidak sibuk. Seharusnya kau masih bekerja" kata Flow.


 Semua berubah ketika wanita yang ia tatap sekarang berkata seperti itu.


"Aku selalu menunggu saat saat seperti ini" kata Bob.


"Berhenti mengikuti ku pergilah bekerja" kata Flow.


"Ok" kata Bob.


 Bob pergi dari sana setelah mendengar perkataan dari Flow barusan.


 Pergi keluar dari toko buku kembali ke mobil yang terparkir didepan kantor tempat Flow bekerja.


"Astaga. Dia penurut sekali" kata Uri.


"Akhirnya aku bisa kembali" kata Flow.


"Syukurlah. Aku senang sekali" kata Uri.


"Kau merengek padahal kau bukan adikku" kata Flow.


"Aku mencintaimu" kata Uri.


 Bob mengendarai mobil dengan suasana hati yang sedang sangat gembira sepulang dari bertemu dengan Flow.


 Dia menerima panggilan telepon dari asisten pribadinya.


"Makan siang. Aku butuh oxtail soup seperti biasa tidak pedas" kata Bob.


"Salad buah?" tanya Asisten Pribadinya.


"Ya. Juga air mineral hangat" kata Bob.


 Bob menutup obrolan dengan asistennya.


 Melanjutkan perjalanan menuju kantor.


 Di dalam perjalanan menuju kantornya dia terlihat sangat bahagia bahwa baru saja orang yang ia ajak bicara adalah Flow yang sebenarnya.


 Raut wajah penuh bahagia.


 Flow juga sedang menatap keluar jendela toko buku bersama dengan Uri yang masih ada di raga wanita ini.


"Akhirnya aku bisa mendengar suaramu" kata Uri.


"Lama tidak berjumpa" kata Flow.


 Menatap bayangan wajahnya di kaca jendela toko buku.


 Dalam detik yang ke sepuluh dia menghitung senyum itu berubah semakin hilang menjadi senyum sedih tak ada air mata.


 


 Dia sudah tak terlihat oleh manusia lagi meski ada bayangan di jendela di depannya. Raga Flow menguap hilang di udara.


 Dia pergi menghilang.


 Disana hanya ada lunch box dan infus water miliknya dan buku yang ia baca ada diatas meja tempat Flow menikmati makan siangnya sambil membaca buku.


 Untuk Bob dia pergi ke sebuah toko perhiasan sebelum datang ke kantor.


"Anda mencari apa?" tanya karyawan toko perhiasan.


"Sebuah cincin yang manis dan elegan" kata Bob.


"Sebentar saya carikan" kata karyawan toko perhiasan.


 Bob menunggu sambil mencari memilih cincin dari atas etalase toko tersebut.


"Kami punya beberapa koleksi Anda bisa memilih satu dari ini semua" kata karyawan toko perhiasan.


 Bob sedang memilih cincin untuk wanita yang ia sayang.


 Senyumnya mengartikan penuh kebahagiaan.


 Buku catatan milik Flow kembali terbuka dengan perlahan oleh angin yang masuk dari atas celah celah jendela kamar Flow membuka sebuah halaman dan tergambar wajah dan tempat dimana Flow ada disana untuk terakhir kali.


 Namanya kini tertulis.


 Halaman buku itu seperti terbakar hilang terbawa angin buku itu kembali tertutup dengan sendirinya.


 Ponsel milik Flow ada di sela buku yang tadi dibaca masih didalam toko buku terus berdering oleh panggilan dari seseorang.

__ADS_1


 Pintu masuk toko buku terbuka.


 Dia terlihat tak berdaya dengan apa yang sudah ia lewatkan.


__ADS_2