
Chapter 92: Kamu Pasti Baik Baik Saja.
Di dalam lift kantor.
Flow sedang menunggu lift terbuka.
Datang Jax ada didepan lift yang sama.
"Kau tidak menjawab panggilan dariku. Kenapa?" tanya Jax.
"Sorry" kata Flow.
"Apa demam mu sudah sembuh?" tanya Jax.
Dia memeriksa dahi Flow apakah suhu tubuhnya masih demam.
"Lepaskan. Orang orang melihat ini" kata Flow.
"Maaf" kata Jax.
Orang orang memang ada di depan lift satu persatu datang menunggu lift terbuka.
"Sistem imun mu cukup baik. Kamu cepat sekali sembuh" kata Jax.
"Benarkah" kata Flow.
Lift terbuka dan keduanya masuk kedalam lift bergantian bersama yang lain.
"Kau sudah sarapan?" tanya Jax.
"Sudah. Kau pasti belum" kata Flow.
"Begitulah" kata Jax.
Lift terbuka dan orang orang didalam lift satu persatu keluar.
"Aku ambil ini" kata Jax.
Jax mengambil lunch box milik Flow yang ia bawa menggunakan tote bag hitam.
Dia berjalan cepat menuju ruang kerjanya.
Berbalik ke arah Flow.
"Terimakasih" kata Jax.
Tote bag milik Flow ia tunjukkan kepada Flow dan pergi dari hadapan Flow.
Flow pergi menuju meja kerjanya.
Dia melihat sebuah tote bag ada diatas meja.
Memeriksa isi dari tote bag itu.
"Siapa yang mengirim ini?" tanya Flow.
Membaca notes kuning yang tertempel di box paling atas.
"Semoga kamu suka"
"Dari Kise"
Flow membaca pesan yang ia ambil dari notes berwarna kuning diatas box hijau neon.
"Dia membuat pie mangga dan apalagi ini. Nasi daging juga ada buah yang sudah di potong" kata Flow.
Flow membuka pesan dari Kise.
"Dia juga mengirimkan bukti bahwa ia membuat ini sendiri" kata Flow.
"Terimakasih" kata Flow.
Kise mengirim pesan kepada Flow langsung.
"Aku harap kamu menyukainya" kata Kise.
"Pasti aku makan" kata Flow.
Ponsel ia masukan kedalam saku blazer merah muda yang ia pakai sekarang.
"Dia manis sekali Flow. Kau jangan pergi ada orang lain yang sedang menunggu mu" kata Uri kepada Flow.
Uri terharu dengan apa yang dilakukan oleh Kise padanya.
Makanan yang Kise kirim ia masukkan kedalam laci meja kerja.
Memulai bekerja lagi. Flow.
Pukul dua belas siang di kantor Kise.
"Tuan makan apa?" tanya Asisten Pribadinya.
"Aku sudah memasak resep yang kau berikan untukku" kata Kise.
"Ada yang Tuan perlukan lagi?" tanya Asisten Pribadinya lagi.
Kise menaruh ponselnya diatas meja kerja lalu mengambil sesuatu di sofa putih didalam ruangan kerja.
"Untukmu" kata Kise.
Asisten Pribadinya menerima barang barang didalam tas tas yang Bosnya berikan.
Dia menerimanya belum sempat dibuka namun ia memberikan sebuah pertanyaan untuk Bos mudanya.
"Aku tidak lembur lagi. Ku rasa ini terlalu mewah untuk saya" kata Asisten Pribadi Kise.
"Itu untuk anakmu. Terima saja" kata Kise.
"Tapi Tuan Bob" kata Asisten Pribadinya.
"Jika kau tidak menerima lalu baju itu untuk siapa. Keponakan ku sudah besar" kata Kise.
"Terimakasih Presdir Bob" kata Asisten Pribadi Kise.
"Sama sama. Kau boleh pergi sekarang" kata Kise.
Kise kembali dengan ponselnya sambil tersenyum sendiri.
"Jika Jax memakan masakan dari Flow. Tapi, Flow memakan masakan ku" kata Kise.
Dia tersenyum melihat foto Flow yang menjadi wallpaper ponselnya.
"Aku lupa. Aku juga harus makan" kata Kise.
__ADS_1
Kise memakan masakannya sendiri masakan yang sama dimakan oleh Flow.
"Wanitaku" kata Kise.
Dia memakan nasi dengan daging tumis serta salad sayur buatannya sendiri.
Pagi di pukul delapan pagi.
Red melihat bukan tapi Bling melihat ke arah Jun yang sedang menulis di buku catatannya.
"Apakah ada sesuatu?" tanya Jun.
Red kembali melihat kearah papan tulis setelah ia menengok ke belakang melihat Jun.
Dia menengok ke arah Jun lagi.
Jun berbisik lagi.
"Kenapa. Ada apa?" tanya Jun.
Gadis itu mulai menggigit jari manisnya.
Dia sedang menutupi rasa paniknya.
"Apa yang sudah terjadi katakan saja padaku" kata Jun berbisik.
Guru mata pelajaran budaya mereka sedang mengawasi mereka dari meja tugasnya.
Red bingung apakah ia harus bercerita atau tidak kepada temannya itu.
Red belum mengutarakan isi pikirannya kepada Jun.
Hingga mata pelajaran di jam pertama ini selesai.
Menunggu guru mereka di mata pelajaran selanjutnya datang.
"Sudah sejak kemarin aku mengendalikan Raga Red. Bagaimana ini?" tanya Bling.
"Pacarku" kata Jun.
"Jangan bercanda ini serius" kata Bling.
Hidup memang seperti melempar sebuah koin kedalam laut.
Tidak tahu apa hasil akhir hidup setiap orang.
"Jangan panik. Jangan panik Red" kata Bling.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan raga ku sendiri?? tanya Red.
"Maka aku bersama pacarku" kata Jun.
Bling memukul lengan pacarnya dengan keras.
"Kau minta dipukul" kata Bling.
"Pacarku" kata Jun.
Ben datang diantara perkelahian ini.
Melihat ke arah Red dan Jun.
"Pacarku?" tanya Ben.
"Tidak. Aku hanya lewat saja" kata Ben.
Ben pergi ke depan kelas untuk membersihkan papan tulis.
"Tidakkah kalian curiga dengan Ben?" tanya Doe.
Jun memperhatikan Ben dari arah ia duduk saat ini.
Mengamati energi yang di miliki oleh temannya itu.
"Dia bisa melihat hantu?" tanya Jun.
"Gawat. Selama ini kita tidak sadar juga" kata Red.
"Bisa melihat hantu" kata mereka berempat kompak.
Ben selesai menghapus papan tulis.
Dia dengan santai melewati Red dan Jun yang sedang melihat ke arahnya.
"Apa aku berbuat salah. Kenapa kalian melihat ku seperti itu?" tanya Ben.
Red dan Ben geleng geleng kepala mereka menyanggah pertanyaan dari Ben.
"Tidak usah panik. Ok!" kata Jun.
"Mungkin dia hanya bisa melihat hantu saja" kata Jun.
"Astaga. Naif sekali" kata Doe.
Jun melihat ke arah Ben.
Terus dan terus.
Ben mulai angkat bicara.
"Kau punya masalah dengan ku?" tanya Ben.
"Banyak" kata Jun.
"Sorry!" kata Ben.
Hari dimana Uri kekasih dari Radan telah terpaksa dibunuh oleh Hera atas perintah "Orang itu".
Uri telah pergi dari cengkeraman "Orang itu" mencari raga Flow atas pengaruh mantra yang diberikan oleh "Orang itu". Ia memiliki sebuah misi untuk masuk kedalam raga Flow untuk kepentingan "Orang itu" semata dan itu berhasil. Dia berhasil masuk kedalam raga Flow.
"Orang itu" tetap mengawasi bersama dengan anak buahnya yang juga seorang hantu yang bertugas sebagai tangan kanan Tuan mereka.
"Tuan. Bagaimana mantra itu telah hilang dari hantu wanita itu?" tanya tangan kanan "Orang itu".
"Menghilang atau tidak. Itu sama saja menguntungkan bagiku" kata "Orang itu".
Setelah melihat langsung bahwa rencananya telah berhasil, dia dan anak buahnya pergi dari tempat dimana mereka melihat Flow sudah dirasuki oleh hantu Uri.
Peristiwa masuknya hantu Uri kedalam raga Flow ini disaksikan oleh seorang hantu senior yang pada saat itu melintas disekitar sana. Alih alih untuk menolong tapi arwah dari Hantu Uri telah masuk kedalam raga Flow dengan cepat dan mengikat energi baik milik Flow.
Dia dengan senapan api laras panjang berpakaian seperti koboi serta selalu membawa cerutu serta burung yang ada di pundaknya.
"Ini tidak bisa dibiarkan" kata hantu itu.
__ADS_1
Hantu ini langsung pergi untuk menemui seseorang dengan cepat ia berpindah dari lokasi tersebut.
Di ruang kerja Presdir Ma.
Dia datang.
"Hari ini kau sangat santai" kata hantu yang membawa cerutu.
Presdir Ma memfokuskan ke arah hantu tersebut.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Presdir Ma.
"Orang ini memang tida suka basa basi sejak dulu" kata Hantu ini.
Presdir Ma membetulkan kaca matanya.
"Kirimkan anak buah mu untuk melindungi seseorang" kata hantu yang membawa cerutu itu.
Tentu dia datang disana untuk menceritakan apa yang ia saksikan barusan terjadi kepada seorang anak manusia. Dia menjelaskan dengan detail ciri ciri manusia yang ia lihat menjadi wadah uji coba dari eksperimen dari bentuk kejahatan yang direncanakan oleh "Orang itu".
Presdir Ma menggenggam kedua jemari tangannya dengan sangat erat terlihat dia sangat marah dengan ulah yang dikerjakan oleh "Orang itu".
"Aku akan mengirim beberapa agen ku untuk menyelidiki dan melindungi siapa saja yang menjadi korban "Hantu itu"" kata Presdir Ma.
"Terimakasih. Kau telah menanggapi laporan ku" kata Hantu yang membawa cerutu.
Energi biru muncul dari tubuh anak muda ini menyelimuti disetiap senjata yang ia siap digunakan untuk memanah seorang hantu yang ada di depannya.
Seorang anak muda yang berusia enam belas tahun dengan busur dan anak panah siap menembak hantu yang menjadi penjaga danau.
Hantu itu menyeringai dengan pakaian dan perwujudan serba hitam. Lumut lumut dasar danau terlihat dari apa yang ia gunakan sebagai penutup tubuh.
Mantra dari "Orang itu" sangat jelas menggiring hantu tersebut harus melenyapkan anak muda di depannya sekarang.
Apa yang dilakukan oleh pemuda itu kenapa dia tidak langsung menyerang dan menghabisi nyawa hantu itu. Alasannya adalah dia sedang bertarung dengan mantra dari "Orang itu" yang juga ingin menguasai raga anak muda itu yang ia dapat dari hantu tersebut tanpa harus saling menyerang mantra tersebut memang dibuat dengan cara kerja seperti yang terjadi kepada Ran.
Selain itu, tugas dari anak buah ini tidak untuk melenyapkan hantu yang ada di hadapannya sekarang melainkan dia bertugas untuk menghilangkan mantra itu dari hantu yang bernama Hera tersebut mengikatnya menjadi anak buah Presdir Ma.
Ran sedang menyempurnakan mata birunya dari pupil matanya agar muncul warna merah dari sekeliling pupil mata birunya sebagai tanda mantra dari hantu yang ia lihat sekarang tidak mempan pada dirinya.
"Boom!!!"
Suara itu muncul dari anak panah yang telah tertancap masuk kedalam dada hantu wanita itu.
Hilang seketika mantra dari "Orang itu" hancur tak bersisa menguap ke udara disekitar mereka melihat.
Hantu itu terkapar mengapung di tepi danau tempat mereka berdua bertarung dengan kekuatan tenaga dalam mereka masing masing.
Ran menunggu dua detik memastikan bahwa hantu itu sudah tidak membahayakan nyawanya.
Dua detik berlalu.
Ran mendekat ke arah hantu tersebut.
"Kau masih ingin hidup?" tanya Ran.
Hantu yang diajak bicara oleh Ran sedang sekarat.
"Jika mengangguk kau akan aku selamatkan" kata Ran.
Hantu itu tidak punya pilihan lain akhirnya ia mengiyakan tawaran pertolongan dari Ran.
Sebelum Ran menyembuhkan hantu tersebut dia memasang sebuah segel yang dibuat oleh Presdir Ma agar siapapun hantu yang mendapatkan segel itu harus patuh dengan segala peraturan yang dibuat oleh Presdir Ma. Jika tidak dia akan menghilang seketika menjadi abu dimanapun tempat dan kondisi mereka.
Ran mengeluarkan cahaya biru putih seperti kilatan petir di langit malam mengarahkan ke arah panah itu masuk kedalam dada hantu itu untuk menyembuhkan kondisi si hantu.
"Siapa namamu?" tanya Ran.
"Hera" jawab hantu penjaga danau.
Sejak saat itu mereka berdua bekerja sebagai partner kerja dalam menjalankan misi yang Presdir Ma perintahkan.
Dari peristiwa itu Presdir Ma tidak bisa tinggal diam begitu saja. Dia mengirim beberapa agen untuk Flow dan keluarganya juga untuk melindungi mereka.
Terlepas dari kejadian ini ketika suatu kecelakaan terjadi kepada adiknya Flow yaitu Bay. Itu diluar rencana dari "Orang itu" ataupun pihak pihak lain. Hal itu terjadi oleh sebuah takdir Tuhan yang mengizinkan Bay untuk kembali ke sisinya.
Malam disaat Bay telah pergi.
"Orang itu" segera memerintahkan tangan kanannya untuk mengendalikan hantu Bay agar bisa menjadi obyek percobaan selanjutnya seperti apa yang terjadi kepada Hera.
Hantu Bay masih di jalan tempat raga Bay mengalami kecelakaan dan raganya sedang dibawa ke rumah sakit untuk diberi pertolongan.
"Gadis itu benar benar telah pergi" kata Hera.
Hera mendekat ke arah Bay yang sekarang ia dipanggil dengan nama Bling.
Dari arah lain datang dengan cepat terbang dari arah selatan ke arah Bay.
"Anak buah "Orang itu"" kata Hera.
Hantu Hera dengan sangat cepat datang kepada Bay menarik tangannya lalu memasang segel di lengan kiri hantu Bay.
Cahaya putih dari segel yang baru saja terpasang di lengan hantu Bay.
Dia menarik Bay yang telah berhasil tersegel membawanya ke arah belakang ia berdiri sekarang menghindar dari serangan anak buah "Orang itu".
Hera dan Bay menghilang dari hadapan orang itu.
Hera yang bertugas untuk melindungi Bay dari anak buah "Orang itu" yang berniat jahat kepadanya langsung melihat ini sebagai waktu yang tepat untuk menyegel hantu Bay agar tidak bisa terkena mantra yang dibawa oleh anak buah "Orang itu".
"Sial!" kata anak buah "Orang itu".
Misinya kali ini telah gagal dan dia kembali ke markasnya ditempat "Orang itu" bersembunyi dari kejaran anak buah Presdir Ma.
Kemana perginya Hera dan Bay sudah menjadi sebuah resiko bagi Bay yang baru saja mendapatkan segel dari Hera yang dibuat oleh Presdir Ma.
Mereka terpisah di tempat lain meski telah menghilang secara bersamaan dari tempat yang sama.
Bay dengan kondisinya yang belum stabil karena baru saja menjadi seorang hantu. Dia masih sedikit kurang memahami arti kehadirannya di alam baru yang ia datangi saat itu.
"Namanya Hera dan dimana dia sekarang?" tanya Bling.
"Kenapa kita harus terpisah?" tanya Bling.
"Aku seperti pernah melihat tempat ini. Tapi, kapan?" tanya Bling.
Dia ada di bangunan terbengkalai dekat dengan perlintasan kereta api.
Di sebuah area gedung gedung tinggi kota.
Hera juga masih mencari hantu Bay.
"Aku harap dia baik baik saja" kata Hera.
__ADS_1