Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 58: Bukan Love Triangle lagi


__ADS_3

Chapter 58: Bukan Love Triangle lagi.


"Aku mendengar suara itu. Lalu, ... "


"Lalu suara itu menghilang"


"Aku mencoba mencari dimana sumber suara tadi dan aku kehilangannya"


Suara kereta api melintas memberi nyawa di waktu yang cukup gelap. Kemana dia akan pergi, dia terus melangkah berharap dia bisa menemukan sesuatu yang ia juga belum sadar atas apa yang terjadi padanya.


Dia mendengar teriakan lagi dan sialnya dia tak bisa tahu dari mana suara itu berasal hingga suara kereta api telah berakhir disisi kanan ia ada di antara bangunan bangunan tua.


"Aku bahkan takut melewati daerah ini. Apalagi manusia" kata Bling.


Waktu sudah beranjak pukul sembilan malam dan dia belum pulang kerumah.


"Hera pasti sedang menunggu ku" kata Bling.


Dia juga tidak tahu kenapa kedua kakinya melangkah sampai di tempat sekarang ia berada dalam perjalanan pulang.


"Mungkin ini adalah efek ketika menjadi hantu. Anggap saja begitu" kata Bling.


Bling meloncat keatas terbang lebih cepat melewati daerah yang menyeramkan tadi dengan cepat berpindah terbang menuju jalan kota yang ramai.


"Ku dengar bangunan disana sudah lama tak di huni oleh banyak orang" kata Ran pada Red.


Waktu kembali saat awal awal Bling atau Bay meninggal karena kecelakaan.


"Jangan sampai kau melewati tempat itu" kata Ran yang sedang makan ayam bakar.


"Iya. Ini kau suka ini juga kan" kata Red memberikan potongan tumis jamur.


"Terimakasih" kata Ran.


Red merasa bahwa perasaannya tidak enak saat membahas daerah itu bersama dengan Ran.


Tempat kedai yang didatangi oleh Red dan Ran adalah kedai dekat rumah mereka yang juga berjarak satu kilometer dari daerah yang tadi Ran ceritakan padanya.


"Tempat ini sangat ramai" kata Red.


"Kau benar selain letaknya strategis, makanan disini juga terkenal lezat" kata Ran.


"Dan juga ramah di kantong kita" kata Red dan Ran kompak.


Masa remaja di usia mereka yang saat itu berusia masih lima belas tahunan.


Beberapa jam kemudian seseorang dikabarkan jatuh dari sebuah apartemen dekat rumah mereka ketika hampir tengah malam.


Jatuh didepan seorang hantu yang sedang melintas dibawah apartemen tempat seorang gadis jatuh bunuh diri.


Kedua mata gadis didepan Hera belum tertutup mulutnya mengeluarkan banyak darah dan sangat banyak terutama di bagian kepala.


Bajunya yang cerah berwarna biru laut terdapat banyak darah yang terus mengalir di setiap bagian tubuhnya yang sudah tak bernyawa.


"Air matanya masih dapat kulihat dengan jelas" kata Hera.


Orang orang mulai berdatangan diantara Hera yang masih termenung disana syok setelah apa yang ia saksikan. Raganya tertembus oleh orang orang yang datang untuk melihat kondisi gadis muda di bawah kakinya yang sudah tak bernyawa.


"Apa aku menangis?" tanya Hera.


Dia benar benar menangis saat itu juga ia melihat gadis yang baru saja jatuh dari salah satu kamar dari apartemen di depannya itu melihat ke arahnya.


Matanya menghitam dengan wajah sangat pucat dan bergaun hitam.


"Kau pasti mendengar suara ku. Kenapa, Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Hera pada hantu itu.


Dia tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Hera, hantu bergaun hitam itu pergi menghilang dari penglihatan Hera.


Ambulans dan pihak dari kepolisian datang memeriksa apa yang telah terjadi.


Hera bergerak pergi menjauh meninggalkan tempat gadis itu telah tiada. Ia duduk di pinggir bebatuan dekat taman apartemen itu yang hanya berjarak tiga meter dari gadis itu jatuh.


Hantu bergaun hitam itu mencari seseorang yang ia memang kenal. Dia menatap dengan ekspresi sangat sedih penuh air mata tumpah membasahi kedua pipinya yang tak ia seka terus mengalir di wajah cantik pucatnya itu. Dia tetap cantik meski sudah menjadi hantu.


Dia sedang melihat dan mengawasi seorang teman yang ia anggap takkan pernah ia maafkan seumur hidupnya atas kesalahan yang ia perbuat kepadanya.


Orang itu tertawa tanpa beban bersama teman temannya didalam sebuah kafe mewah berkelas terlihat siapa saja yang datang di kafe miliknya itu tanpa peduli dengan apa yang ia lakukan kepada orang lain yang ia anggap sepele justru berakibat fatal untuk orang lain.


"Kau masih bisa tertawa dan aku tidak memiliki harapan apapun" kata hantu bergaun hitam.


"Sima kau seharusnya tak mengajak ku ikut dalam acara konyol mu itu" kata hantu bergaun hitam.


Sima tertawa dan bermain disana bersuka ria tanpa ada rasa bersalah apapun dia terlihat sangat bahagia tanpa beban apapun.


"Dia sangat hebat. Hebat sekali" kata Dree, hantu bergaun hitam.


Waktu kembali saat Ran sudah pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan strata satunya.


"Kau pasti tidak mengenal ku. Tapi, aku mengenal wajah mu" kata hantu bergaun hitam kepada Bling.


"Ceritakan masalah mu padaku. Aku akan berusaha semampu ku untuk menolong mu" kata Bling.


"Aku tidak bisa percaya kepada siapapun lagi" kata Hantu itu.


"Aku takut aura jahat itu semakin menyiksa mu" kata Bling.


"Biarkan. Aku berharap seperti itu" kata Hantu bergaun hitam.


"Kenapa kalian juga membantu Sima?" tanya Hantu itu lagi.

__ADS_1


"Karena, ... " kata Bling belum selesai berbicara dengan hantu itu.


Dia sudah lebih dulu pergi dari sebelah kanan Bling.


Sudah pukul delapan malam setelah beberapa jam bermeditasi untuk bisa bertemu dengan hantu bergaun hitam tadi.


Hera ada disana juga bersama dengan Bling yang ada didalam raga Red.


Jalanan masih terlihat ramai di pasar malam ini. Suara orang orang terdengar menghibur diri siapapun yang datang.


Ketiganya ada disana berjalan menyusuri pasar malam itu diantara orang lain yang juga berlalu lalang disekitar mereka dengan tetap waspada mereka menikmati malam yang indah ini.


"Kau masih ingat hari pertama kau meninggal?" tanya Hera pada Bling.


"Aku ingat. Saat itu, aku mulai perlahan kehilangan ingatan tentang kehidupan ku ketika masih hidup" kata Bling.


"Dan kau tersesat bukan?" tanya Hera.


"Aku juga ingat itu dan akhirnya aku bisa menemukan mu" kata Bling.


"Hari itu untuk kedua kalinya seseorang meninggal didepan mataku sendiri" kata Hera.


"Kau pergi setelah menyadarkan ku bahwa aku telah meninggal" kata Bling.


"Maaf saat waktu itu" kata Hera.


"Kenapa kau harus meminta maaf. Kau tidak salah apapun?" tanya Bling.


Hera saat itu tidak bisa menahan ketakutan akan apa yang baru saja ia lihat tentang kematian seseorang bahkan untuk yang kedua kalinya.


Bagi seorang hantu itu juga bisa membuat syok dan sampai sekarang dia masih ingat dengan orang orang yang meninggal di depannya selain Bay dan Dree.


"Itu sangat mengerikan bukan" kata Hera dalam hatinya yang menyimpan ketakutan itu sendirian.


Dan kini ia mengingat kembali wajah terakhir saat Dree jatuh tepat di bawah kakinya kala itu di waktu pukul hampir tengah malam.


Hari itu juga hari paling menyedihkan untuk keluarga Bay dimana sebelum Dree memutuskan mengakhiri hidupnya, Bay atau Bling lebih awal telah pergi dari kehidupan ini.


Bling juga belum bisa kembali di dunianya sekarang dunia para arwah meski ia sudah berusaha.


"Anggap saja ini dunia mimpi untuk kita" kata Hera kepada Bling.


Mereka juga belum bisa kembali padahal mereka tak ingin berlama-lama ada di dunia manusia.


"Kalian akan menyerah dengan surga ini" kata Red.


"Kau pasti sudah mendengar semuanya tadi" kata Hera.


"Tentu. Sahabat mu, ada di raga ku" kata Red.


"Aku baru tahu kau tipikal orang yang perhitungan sekali" kata Bling.


"Mungkin dia akan selamanya ada didalam raga mu" kata Hera.


Hera sedang mengajak Red bercanda. Melihat ekspresi wajah Red yang sedang marah marah itu membuat ia ingin tertawa terus.


"Aku tidak menyangka akan mendapat teman seperti kalian" kata Hera.


"Jangan emosional di tempat seperti ini. Kita bisa di copet" kata Bling.


Ketiganya akan tiba sebuah tempat, di tempat itu sudah menunggu mereka dia adalah Sew rekan kerja mereka.


Pukul setengah tujuh malam dirumah Jimmy.


"Kalian tidak mau bicara?" tanya Ben.


Diam keduanya tak mau menjawab pertanyaan dari Ben.


"Bisa tidak dia mengganti kami di kelompok lain?" tanya Jimmy.


"Lalu kau mau mengusir ku. Katakan saja dengan jelas" kata Jun.


"Suasana apa ini. Aku tidak tahan lagi dengan kedua bos ini" kata Ben.


"Disini kita harus adil. Semua harus bekerja" kata Jun.


Guru sejarah mereka yang bisa dikatakan juga wali kelas mereka memberikan tugas yang dikerjakan secara kelompok lagi dan kalian ini mereka bertiga satu kelompok. Sebenarnya ada anggota kelompok lain yang belum juga datang tanpa memberikan kabar apapun dia adalah Red.


Saat jam istirahat setelah mata pelajaran sejarah selesai. Red pergi ke ruang guru mengejar wali kelasnya yang sudah ada disana di meja tugasnya.


Sendirian, Red masuk kedalam ruang guru di suasana ruang guru sudah ramai dengan siswa siswa yang memiliki kepentingan di ruang guru serta guru guru yang mulai masuk kedalam ruang tersebut.


"Pak Gerry boleh saya memilih mengerjakan tugas kelompok kali ini sendirian?" tanya Red.


"Coba Bapak lihat, siapa saja anggota kelompok mu" kata Pak Gerry.


"Baiklah. Tapi, sebenarnya ada kesalahan saat pembagian kelompok mu. Maafkan Bapak, kau boleh memilih masuk ke kelompok lain. Kau tinggal bilang saja kepada Good" kata Pak Gerry.


"Terima kasih. Saya akan bilang kepada Good segera" kata Red.


Red pergi dari ruang guru untuk mencari Good untuk menyampaikan ini.


Perjalanan mencari Good, Red ada di jalan koridor sekolah.


"Aku bisa menggunakan waktuku untuk bekerja. Hore!" kata Red.


Red berlari kegirangan di jalan koridor sekolah.


"Sampailah kita di dunia ini" kata Red.

__ADS_1


Bling tidak mengendalikan raga Red lagi, waktu yang sangat tepat sedangkan untuk Hera sudah lari dari tempat itu dan kini hanya ada Red yang sedang menunggu Sew yang terjebak macet.


"Disini rupanya ada Kak Dan" kata Red.


"Kau disini. Teman temanmu sedang menunggu di rumah Jimmy" kata Dan.


"Apa Good tak bercerita kepada mereka?" tanya Red tentang hal ini didalam hatinya yang sedang grogi.


Dan dengan aura super kece duduk santai di kursi kafe satu meja dengan Red.


"Kenapa kau gugup?" tanya Dan.


Dia memang terkenal sangat berterus terang.


"Kau tahu sejak dulu aku sangat mengidolakan mu" kata Red didalam hati sambil meminum cucumber juice.


Dia memang seorang atlet bela diri idaman Red sejak ia kecil.


"Kenapa dia tidak pernah bercerita kalau orang didepan ku adalah Kakaknya" kata Red lagi tentang Ran.


"Kau kemari sendiri?" tanya Dan.


"Aku sedang menunggu teman ku" kata Red.


"Kakak sedang libur kerja?" tanya Red.


"Tidak juga. Tapi, aku tahu disana ada Jun jadi aku tidak terlalu khawatir" kata Dan.


"Kau membeli banyak sekali buku" kata Red.


"Oh ya. Kakak juga sendirian datang disini?" tanya Red.


"Ehmm" kata Dan.


Siapa yang datang coba di kafe itu juga mereka adalah Flow dan kakak Jun.


"Ini membuat ku lebih canggung" kata Red yang pura-pura stay cool didepan mereka bertiga.


"Jadi, Ini adalah Kakak dari Jun" kata Flow.


Penjelasannya membuat Red tiba tiba batuk.


"Ya ampun. Dunia ini memang sempit" kata Red didalam hati.


"Oh ya, kenalkan juga ini teman ku namanya Dan" kata Flow.


"Apa ini alasan Hera pergi dari tempat ini. Mereka lebih horor dari dugaan ku hanya karena mereka tampan" kata Red dalam hati.


Red phobia dengan orang orang yang sangat sangat tampan.


"Teman teman ku memang tampan. Tapi, mereka sudah menjadi tampan yang terlatih" kata Red.


Red belum berani membuka banyak obrolan dengan orang orang dewasa di depannya saat ini.


"Aku takut salah ngomong. Maka, jadilah lebih patuh" kata Red.


"Aku lebih memilih menonton kisah love triangle didepanku ini" kata Red.


Minuman di gelasnya udah hampir habis dan Sew mengirim pesan lagi kepada Red bahwa dia benar benar terjebak macet.


"Kamu teman Jun kan?" tanya Jax pada Red.


"Iya" kata Red.


Pokoknya dia serba salah tingkah disini.


Situasi seperti ini harus selalu di tunggu. Ya benar itu untuk membuat seseorang lebih bersemangat lagi menjalani hidup.


Percikan cinta di kisah mereka berakhir hanya bertahan dalam waktu sepuluh menit saja ketika seseorang tidak terduga datang.


"Kau disini?" tanya Sima menghampiri Jax.


Red lebih syok dari sebelumnya ketika gadis itu menyapa Jax lagi bahkan didepan Flow.


"Aku masih lembur kerja. Aku pergi dulu" kata Flow.


Dia pergi tanpa mengajak siapapun tapi tetap memberikan kode kepada Red dan Dan agar segera menjauh dari kedua mantan kekasih itu.


"Aku harus menjemput Red untuk ikut belajar kelompok dengan klien ku" kata Dan.


Dan dan Red pergi dari lingkaran kisah asmara Sima dan Jax.


Mereka tidak tahu apa masalah mereka berdua sebenarnya yang jelas pergi dari mereka seakan menyelamatkan nyawa sendiri.


Berbicara tanpa suara.


"Apa kita tidak berlebihan?" tanya Red pada Bling.


"Tidak. Aku tidak menyangka Sima mau mengajak bicara Jax" kata Bling pada Red.


Bling belum mengendalikan tubuh Red lagi.


"Kak, kau benar benar bisa tidak sibuk?" tanya Red.


"Tentu. Ini" kata Dan.


Orang yang ditunggu akhirnya datang juga dia tiba setelah melawan kemacetan.


Dunia ini memang sempit Sew melihat kearah Dan tanpa harus berkenalan mereka sudah saling kenal sejak Sew merawat Ge di rumah sakit tempo hari.

__ADS_1


__ADS_2