Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 82: We Go Up.


__ADS_3

Chapter 82: We Go Up.


"Sedang mencari apa?" tanya Red.


"Tumbler" jawab Jamie.


"Pinjam saja punya ku" kata Red.


"Warna pink?" tanya Jamie.


"Keduanya berwarna sama" kata Good.


 Red sedang memakai sunscreen ketika Jamie bertanya hal ini.


 Jamie kemudian mengambil air hangat di dalam dispenser memasukkan air kedalam tumbler.


"Kau mau juga?" tanya Jamie.


"Air?" tanya Red.


"Ya" kata Jamie.


"Boleh" kata Red.


"Kau tidak minta sunscreen?" tanya Red.


"Aku sudah memakainya" kata Jamie.


"Kau boleh berangkat dulu ke sekolah" kata Red.


"Aku akan pergi ke suatu tempat. Aku berangkat" kata Jamie.


 Jamie pergi dengan tumbler yang terisi air hangat.


 Dasi abu abu ia pakai.


 Red selesai memakai sunscreen lalu mengikat rambut kepalanya dengan tali karet warna merah.


 Ia juga tak lupa memakai masker seperti biasanya ketika keluar berangkat sekolah.


"Jaket ku hampir lupa" kata Red.


 Dia mengambil jaket jeans biru dan tas ransel hitamnya.


 Jarak antara asrama sekolah putri dengan sekolah cukup dekat jika berjalan kaki kira kira bisa menempuh waktu lima menit bisa langsung sampai.


 Di gerbang asrama sudah ada seorang remaja laki laki yang datang menunggu Red keluar dari asrama.


 Red berjalan keluar melewati gerbang asrama.


"Hai. Pagi" kata Ben.


"Pagi. Ayo kita berangkat" kata Red.


"Ini buku mu" kata Ben.


"Kau sudah selesai mencatat semuanya?" tanya Red.


"Sudah" jawab Ben.


 Ben memberikan buku catatan salah satu mata pelajaran di sekolah milik Red yang kemarin ia pinjam.


Berjalan beriringan menuju sekolah.


 Daun daun banyak berjatuhan di bahu jalan seperti sedang musim gugur. 


"Kau begadang lagi?" tanya Ben.


"Sangat terlihat oleh mu" kata Red.


"Bukankah tidur itu dibutuhkan tubuh kita. Tidur tidak buang buang waktu" kata Ben.


"Apalagi untuk perempuan itu jauh lebih penting" kata Ben.


"Aku baru sadar bahwa aku perempuan" kata Red.


"Kau selalu mengajak ku bercanda. Tapi, tidur memang baik untuk keseimbangan dan sistem kerja vital tubuh kita" kata Ben.


"Ternyata selama ini, aku salah paham besar tentang makna tidur" kata Red.


"Kata siapa?" tanya Ben.


 Red berhenti sejenak melihat Ben.


"Hey. Kau memang suka sekali bekerja" kata Ben.


"Ku rasa kita memang akrab" kata Red.


"Kau akan terbiasa. Jika menjadi temanku" kata Ben.


"Ya. Aku sudah terbiasa setiap hari" kata Red.


 Keduanya tertawa dengan diri mereka sendiri.


 Red mendapatkan pesan dari Presdir Ma langsung.


 Dia membaca pesan itu.


"Hati hati!" kata Ben.


 Red hampir menabrak tiang lampu di pinggir jalan. Namun, dia dengan cepat menghindar.


"Wow" kata Ben.


"Biasa saja. Cepat kita harus mengumpulkan tugas ini" kata Red.


 Mereka berdua berjalan lebih cepat melewati pintu gerbang sekolah menuju ruang guru.


 Jamie datang ke sekolah terlambat. Dia tentu sedang menerima hukuman dari guru yang sedang berpiket pagi hari ini.


 Red melihat Jamie yang berlari sendirian di lapangan sepak bola.


"Maaf" kata Jun.


 Red sedang fokus dengan Jamie.


"Maaf!" kata Jun.


 Hingga satu kelas mendengar.


 Red tetap cuek dengan perlakuan ini.


 Jun penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh gadis di depannya itu.


"Hey. Dia akan baik baik saja" kata Jun.


 Red tidak mempedulikan perkataan Jun.


 Akhirnya, Jun menyerah.


"Dia memang tak menyukai mu" kata Doe.


"Aku sudah tahu" kata Jun.


 Jun hanya bisa melihat gadis di depannya dengan jarak yang jauh meski ia berada dekat dengan dirinya sekalipun. Namun, tetap saja hasilnya seperti ini rasa kecewa sudah tak menjadi prioritasnya dia sampai tak merasakan masalah ini.


 Hatinya tiba tiba tersentuh dengan situasi ini.


"Aku ingin menjalani kisah ku sendiri" kata Red.


 Jun mendengar apa yang dikatakan oleh Red tiba tiba saja.


 Dia tersenyum sekaligus bersedih.


 Di dalam kantor tempat Flow bekerja.


 Dia melihat kearah ponsel yang sedari pagi tidak menyala.


 Dia sedang menunggu balasan pesan dari Jax.


 Di meja kerja Jax, dia juga menunggu pesan atau panggilan dari Flow.


 Saling menunggu memberi respon lebih akrab lagi. Namun, mereka secara tidak langsung memberikan bukti bahwa keduanya belum bisa memulai sebuah hubungan baru.


 Tadi malam Jax menelepon Flow tapi dia tak mengangkat panggilan darinya sedangkan saat ia menelepon Flow sudah tertidur.


 Jadi, pada intinya mereka saling menunggu siapa yang memberi kabar lebih awal.


"Kerjakan ini!" kata Manager Pemasaran, atasan Flow.

__ADS_1


"Siap!" kata Flow.


 Flow mengerjakan pekerjaan kantor.


 Cukup sibuk bisa di bilang begitu hari ini tapi jika di lihat hingga pukul dua siang ini sepertinya tidak akan lembur.


 Pukul dua siang.


"Kau ada acara?" tanya seorang teman kuliah Flow.


"Tidak" kata Flow.


"Jadi, nanti sore tetap datang kan?" tanya teman kuliah Flow.


"Kau dapat undangan darinya juga?" tanya Flow.


"Ya" kata teman Flow.


"Aku akan datang" kata Flow.


 Dia akan datang di sebuah pesta pernikahan salah satu teman kuliahnya malam ini.


 Dia melihat ke arah jam tangan berwarna silver di pergelangan tangan kirinya.


"Aku masih sempat mencari gaun" kata Flow.


 Hingga pukul lima sore disaat pulang kantor Flow dan Jax tidak saling memberi kabar. Padahal bekerja di kantor yang sama tidak berarti akan selalu bertemu buktinya dengan Flow dan Jax yang sudah tak saling bertemu di kantor selama satu minggu.


 Flow sudah merapikan meja kerjanya dan ponsel dan permen stroberi kedalam tas hitam kerlap kerlip yang selalu ia bawa.


 Dia pulang setelah jam bekerja dikantor sudah habis.


 Jax melihat ke arah jam dinding di dalam kantornya.


"Kau akan pulang?" tanya Jax.


"Ya. Bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Flow.


"Aku akan lembur dan pulang lebih malam" kata Jax.


"Kenapa suaramu terdengar sedih?" tanya Flow.


"Ku rasa tidak beginilah suara ku" kata Jax.


 Obrolan mereka berdua berakhir. Flow pulang dari kantor dengan langkah sedikit agak cepat.


 Jax melihat ke jendela ruang kantornya melihat ke luar kantor.


"Dia buru buru sekali. Aku takut dia bisa jatuh" kata Jax.


 Jax melihat Flow yang terlihat sedang berlari menuju tempat perhentian bus yang ada disekitar kantor.


 


"Kau tidak menjawab sapaan ku sejak pagi" kata Jun.


 Red sedang menguji kesabaran remaja laki laki ini.


"Red?" tanya Jun.


"Kau mendengar ku kan?" tanya Jun.


"Kau mendengar ku kan?" tanya Jun lagi.


 Ben sedang berjalan beriringan dengan Red.


 Ben melihat ke belakang melihat Jun yang sedang merajuk.


"Kau tidak kasihan dengan anak itu?" tanya Ben.


 Red tetap biasa saja dengan remaja yang sedang merajuk di belakangnya itu.


 Sudah didepan gerbang sekolah Ben dan Red berpisah. Dia sudah ditunggu driver pribadinya.


"Aku pulang" kata Ben.


"Hati hati!" kata Red.


 Ben pergi meninggalkan sekolah dijemput oleh bodyguard Ayahnya dengan mobil tipe hatchback berwarna silver.


"Bagaimana kalau kita beli bakso bakar?" tanya Red.


"Ok" kata Jun.


"Kamu mau saus kacang, kecap, atau saus pedas?" tanya Red.


"Saus kacang dan kecap" kata Jun.


 Memakan jajanan di kedai dekat sekolah.


"Ayo kita duduk disana sambil memakan ini!" kata Jun.


 Mendapat bangku panjang diantara bangku yang tersedia untuk para pejalan kaki yang ingin beristirahat.


"Apa kita akan cepat meninggal?" tanya Jun.


 Red memakan satu buah bakso tusuk berukuran besar.


"Aku ingin makan ini dulu" kata Red.


 Jun ikut memakan makanan yang sama dengan Red.


"Ternyata benar bakso bakar di kedai itu memang lezat" kata Jun.


"Hey. Apa benar kita akan mati?" tanya Red.


"Pertanyaan mu lebih menakutkan dari pertanyaan ku" kata Jun.


"Siapa yang mencuri ramuan ramuan itu?" tanya Red.


"Apa itu satu satunya obat untuk kita?" tanya Jun.


"Ya" kata Red.


"Hidup kita sangat berharga sekarang. Bagaimana kalau kita pacaran?" tanya Jun.


"Aku akan mati tidak sempat memikirkan itu" kata Red.


 Dia mengambil satu tusuk bakso bakar lagi dari kotak berisi bakso bakar di tangan kirinya.


"Kau tidak marah dengan pertanyaan ku?" tanya Jun.


 Jun memakan satu buah lagi dari bakso bakar ditangan kanan.


 Dia mengunyah makanan itu pipinya terlihat lebih berisi.


 Melihat kearah Red.


"Aku tahu kau sedang bercanda" kata Red.


"Lalu kemana perginya obat obat itu?" tanya Jun.


 Dia bersandar di bangku itu.


"Apakah ada orang lain yang lebih membutuhkan itu daripada kita?" tanya Jun.


"Mungkin" kata Red.


"Kasus ini sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab ku sendiri" kata Red.


"Masih ada Tuhan dan aku" kata Jun.


 Jun memakan satu buah bakso bakar lagi.


"Aku tahu. Lalu, kenapa kau tiba tiba muncul di belakang ku kemarin malam?" tanya Red.


"Aku mengikuti mu" kata Jun.


"Dan markas mereka sudah hancur" kata Red.


"Kau juga melihatnya bukan. Ketua dari pimpinan itu ternyata hantu" kata Jun.


"Dia telah hilang meledak menjadi debu putih beterbangan" kata Red.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Jun.


"Dia cukup kuat" kata Red.


"Aku saja belum memulai melawan "Orang itu" tapi dia sudah mati lebih awal" kata Jun.

__ADS_1


"Aku pikir itu keberuntungan untuk kita" kata Red.


"Kau masih bisa tenang dalam situasi ini" kata Jun.


"Dan masih bisa menghirup udara segar serta makan enak" kata Red.


"Apakah kita masih bisa berteman?" tanya Jun.


"Kita tidak pernah berteman sejak dulu" kata Red.


 Red membawa bakso bakarnya menuju asrama sekolah.


 Jun masih disana duduk disana tanpa siapapun selain dirinya sendiri.


 Dari kejauhan seseorang melihat mereka berdua yang terlihat baik baik saja padahal sedang bertengkar hebat.


"Mereka akan sulit bisa kembali seperti semula" kata seseorang itu.


 Seseorang itu memanggil nomor ponsel Red.


 Red merasakan ponselnya bergetar.


 


 Dia tidak melihat nama di layar ponselnya.


 Dia tidak mengangkat panggilan yang ia dapat saat itu juga.


 Selain tidak ingin meladeni nomor asing dia juga sedang sangat kesal dengan orang yang selama ini ia anggap sebagai teman baik bahkan seorang sahabat.


"Kenapa disini aku yang terlihat seperti  orang jahat?" tanya Red.


"Jika aku tidak memaafkan orang itu" kata Red.


 Dia membuka pintu kamar asrama.


 Hantu itu masih di tawan oleh Red di dinding kamar dengan anak panah yang ia tancap di dinding kamar.


 Hantu itu melihat wajah penghuni kamar barunya sedang murung bahkan sedang sangat marah.


 Dia beradaptasi dan tidak mengajak bicara gadis di depannya itu.


 Orang yang sedang mengawasi Red dan Jun sudah pergi dari sana setelah Red sudah masuk kedalam pintu gerbang asrama.


"Apa ini rasanya berbuat jahat?" tanya Jun.


 Jun masih disana menghabiskan makanan yang belum habis.


"Dia akan menghapus namaku di memori ingatannya" kata Jun.


 Angin datang membuat udara bertambah dingin dedaunan ikut terbawa oleh angin melewati kaki remaja ini.


 Sekolah sudah mulai sepi terlihat hanya beberapa siswa yang melintas di sekitar Jun di waktu pulang sekolah ini.


 Jamie dari kejauhan dengan sepeda putih berkeranjang anyaman rotan datang.


"Aku harus menghindar dari anak itu" kata Jamie.


 Jun melihat Jamie sudah berada makin mendekat ke arahnya.


"Berhenti!" kata Jun.


 Dia malah melewati Jun yang sedang berbicara padanya.


 Jun mengejar gadis itu yang mengayuh sepeda dengan lebih cepat.


"Tidak salah. Jika dia adalah teman Red" kata Jun.


 Gadis itu sangat cepat sekali menggunakan sepedanya.


"Kau bisa menggunakan kekuatan mu untuk menghentikan gadis itu" kata Doe.


"Kau tidak lihat banyak orang orang disini" kata Jun.


"Apa kau tidak bisa lari?!" kata Doe.


"Lihat ini" kata Jun.


 Jun dan Jamie terjadi saling kejar mengejar diantara keduanya.


"Bicaralah baik baik. Apa kau tidak bisa?" tanya Jamie.


"Tidak bisa. Jika itu denganmu" kata Jun.


 Mereka berdua melewati jalanan yang dalam keadaan sepi karena tidak macet saat itu.


 Jam pulang kantor akan datang satu jam lagi.


 Dan mereka berdua sedang menikmati aksi saling kejar mengejar.


 Melewati sekolah menengah pertama lalu berlanjut di lapangan umum di daerah itu hingga melewati restoran milik Good.


"Siapa yang dia kejar?" tanya Good.


"Jamie" kata Ben.


 Mereka berdua ada didepan restoran.


"Kau kenal gadis itu?" tanya Good.


"Dia mantan pacarku" kata Ben.


"Yang baru satu minggu itu" kata Good.


"Apa kau pernah di pukul?" tanya Ben.


"Pernah saat tawuran" kata Good.


 


 Wren dan Marid cuma bisa tertawa dengan kalimat kalimat yang Good keluarkan itu.


 Jamie mengaktifkan perisai pelindung diri di tubuhnya.


"Wuhhh!" kata Jun.


"Kau memiliki kekuatan semacam angin itu" kata Jun.


 Angin berbentuk seperti dinding cekung hadir didepan gadis itu.


 Dia menggunakan kekuatan angin miliknya sebagai perisai diri untuk melindungi dirinya dari serangan Jun yang bisa saja tidak terduga.


"Stop!" kata Jun.


"Kau tidak ingin melukai ku kan?" tanya Jamie.


 Ben datang bersama Good dan Marid serta Wren.


 Pelindung milik Jamie segera menghilang.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Good.


"Kalian mau mengeroyok ku?" tanya Jamie.


 Tak ada yang harus dibicarakan jika kejadiannya sudah seperti ini.


"Dia berhutang uang padaku" kata Jun.


"Aku berhutang uang padamu" kata Jamie.


 Dia menunjuk wajahnya sendiri.


"Dan dia tidak mau membayarnya" kata Jun lagi.


 Menambah Jamie semakin murka.


"Kau!" kata Jamie.


"Kenapa kau tidak mau membayarnya sekarang?" tanya Jun.


 Jun merebut kesempatan ketika Jamie ingin bicara.


 Semua teman temannya sedang menilai dan menganalisa apakah mereka sedang benar benar bertengkar.


"Kau tidak mau bayar kan. Pergi sekarang!" kata Jun.


  


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2