
Chapter 132: Not Manipulative.
"Tok tok tok!"
Jamie mengetuk pintu kamar Red.
Tidak ada jawaban.
"Brug!"
"Brug!"
"Brug!"
Pintu didobrak oleh gadis ini.
Jamie masuk beserta hantu hantu yang lain yang juga ikut ke dalam rumah Red.
Red menatap wajah jamie.
Segera dia merebut belati beracun milik Red yang penuh darah.
Wajah hantu wanita itu sudah sehancur hancurnya dibuat oleh gadis pemilik belati yang direbut oleh Jamie.
Jantung hantu itu juga sudah terkoyak kedua tangan gadis itu sudah penuh darah lagi setelah proses penyembuhan yang sudah berhasil.
Red dengan nafas terengah engah menatap tajam mata Jamie seperti berhadapan dengan musuh.
Jamie mengamankan belati milik Red di dalam raganya dan menguncinya segera.
Gadis itu berdiri kemudian menghampiri Jamie.
Gadis ini menatap mata Red fokus dengan mata merah menyala mendekat dan mendekat ke arahnya.
Hantu wanita yang dicabik oleh Red tidak bisa melarikan diri atau menghilang dari serangan Red itulah yang gadis ini inginkan dan memanfaatkan energi jahat yang semakin ingin menguasai seluruh darah yang mengalir di raga gadis ini.
Kedua mata itu masih dengan cahaya merah menyala dan Jamie belum berhenti untuk kembali menatap mata Red.
Piyama yang ia kenakan sudah dengan darah hantu wanita itu dan hantu hantu yang ada di belakang Jamie merasa ketakutan pergi dari sana menjauh dari Red meninggalkan teman hantu mereka yang sedang sekarat.
Energi merah mulai bercampur dengan energi biru berputar di kornea mata gadis di depan Jamie.
Menghitung waktu dalam beberapa detik akhirnya Red bisa mengubah energi merah di matanya menjadi warna biru lalu menjadi normal kembali.
Dia akan jatuh di lantai segera Jamie menangkapnya agar dia tidak jatuh di lantai.
Energi dari dalam raga Jamie menyala seperti merah muda mengarah pada Red menghilangkan bekas darah dari darah milik hantu wanita yang hampir dihabisi oleh Red.
"Sadarlah" kata Jamie kepada Si hantu wanita.
Dia bangun dari lantai duduk disana melihat ke arah mereka berdua terutama kepada Red.
Red dibawa naik ke atas tempat tidurnya dengan lampu tetap dibiarkan menyala.
Selimut hijau gelap ia rapikan lagi menaruh di atas raga Red dari bagian dada sampai menutup kaki.
"Kau ingin mencobanya lagi?" tanya Jamie pada si hantu.
"Terlalu berbahaya untukku" kata Si Hantu wanita.
Jamie mengambil sesuatu dari saku baju hitam yang ia pakai.
Hantu itu langsung masuk kedalam benda yang ada di atas telapak tangan gadis ini masuk kedalam charm berbentuk kelopak bunga mawar merah muda dan benda itu ia memasukkan lagi kedalam saku kanan bajunya.
Ponsel Jamie dinyalakan lalu menghubungi seseorang.
Beranjak bangun dari duduk tempat tidur Red disebelah kanan Red sedang tertidur.
Jamie keluar dari kamar Red sebentar untuk berbicara dengan orang yang ia ajak bicara tanpa menutup pintu.
.
Berbicara di balik dinding kamar Red sebelah kiri.
"Itu yang baru bisa saya laporkan untuk selebihnya saya akan terus pantau misi ini" kata Jamie.
Jamie menutup ponsel dan memasukkan ke dalam saku celana palazzo yang ia pakai kemudian melanjutkan meditasi di depan kamar Red tempat dimana tadi dia menghubungi Radan.
Dua remaja sedang ada di sebuah hutan bakau dengan air yang tidak banjir dan berwarna hijau berlumut di setiap akar akar mereka sedang lalui dengan tinggi air hampir semata kaki.
Ran dan Jun sedang bersandar di salah satu batang pepohonan bukan hanya untuk sekadar untuk istirahat tapi juga mengambil sesuatu yang bergerak lambat tapi mematikan datang dan datang meski beberapa kali mereka singkirkan. Lintah menempel di beberapa bagian kulit mereka dengan senang hati.
"Luka mu sudah hampir sembuh?" tanya Ran.
"Ya. Dan mereka datang" kata Jun.
"Hadiah bagus untukmu" kata Ran.
"Hahahahhah"
Jun tertawa.
"Aku tidak akan berbagi hadiahku denganmu" kata Ran.
"Kenapa?" tanya Jun.
"Aku ingin saja" kata Ran.
"Hadiah kita sama kali ini" kata Jun.
"Terjebak disini" kata keduanya berkata bersamaan.
"Hahahahahah"
Keduanya tertawa dalam menempuh perjalanan ini.
Sudah berapa waktu yang telah mereka lalui di dalam hutan tersebut tidaklah jelas karena waktu dan sinyal di ponsel mereka masih saja belum menyala hingga sekarang telah berpindah tempat baru.
"Mungkin ini masih dalam dimensi yang sama" kata Ran.
"Kemungkinan benar. Kita hanya punya kompas ini" kata Jun.
__ADS_1
Mereka menggunakan kompas milik Marid yang ia pinjam tadi sebelum mereka berpisah dan berpindah tempat lagi.
Senter ponsel masih mereka nyalakan untuk menjadi penerang di waktu yang masih malam ini.
Jun ada di depan Ran berjalan.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Jun.
"Kau sudah tanya itu berapa kali" kata Ran.
"Mungkin ini yang keempat kali" kata Jun.
"Tanya topik lain lagi" kata Ran.
"Aku hanya ingin kita menjadi akrab. Itu saja, kenapa kau jadi marah" kata Jun.
Ran sedang tidak ingin diajak bicara dengan temannya ini tapi sejak tadi Jun selalu mengajaknya bicara.
Jun sedang mengajak bicara Ran dengan berbeda topik lagi.
Jun mendengar langkah kaki Ran semakin samar dan dia mulai berpikir dia harus melihat ke arah belakang.
Jun berbalik dan melihat bahwa temannya kali ini sedang memanjat pohon bakau dan dia melakukan itu sendiri.
"Kenapa semua orang mengabaikanku?" tanya Jun.
Ran sedang berusaha mengamati bagaimana kondisi di luar hutan bakau ini di malam hari.
Ran kemudian dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat baru saja lalu dia segera turun dari sana.
"Ada apa?" tanya Jun.
Ran berjalan lebih cepat di depan Jun.
"Jalan yang kita ambil sudah benar. Tapi, … " kata Ran.
"Setiap ujung di atas pohon ini habis terpotong oleh sesuatu" kata Ran.
Jun tidak percaya dan dia mencoba naik ke atas pohon untuk memastikan bahwa yang dikatakan oleh temannya itu benar.
Jun naik ke atas pohon.
Ran melihat tak ada bayangan di air dibelakangnya ada bayangan Jun. Dia berbalik dan kembali berjalan untuk membawa temannya ikut dengan jalan semula yang mereka pilih.
"Dia pikir aku sedang apa. Kenapa aku harus berbohong padanya" kata Ran.
Langkah beberapa langkah untuk kembali mencari anggota timnya itu.
Berpegangan batang batang pohon bakau kuat melewati jalan yang sama dengan tanah berlumpur.
Ran melihat orang yang ia cari itu sedang melangkahkan kaki lebih cepat dari jalannya sebelumnya.
"Aku bilang apa" kata Ran.
"Cepat. Ayo kita bisa mati jika terlalu lama disini!" kata Jun.
Melangkah lebih cepat setelah nyawa mereka benar benar sedang di ujung tanduk.
"SLASH!"
Keduanya terhenti dalam langkah cepat mereka.
Cahaya itu lewat lagi mengambil sebagian ujung pohon diatas mereka. Itulah penjelasan dari keduanya ketika mengamati perkembangan di luar jalan yang mereka pilih untuk Ran memeriksa ini ketika Jun berjalan di depannya saat ia naik diatas pohon begitu sebaliknya yang dilihat dan diamati oleh Jun sama yang dilihat oleh Ran.
Perlahan mereka berusaha berjalan di air penuh lumpur tanpa suara yang berlebih meski hal ini mereka lakukan mereka yang mengincar kedua remaja ini tetap dengan tugas mereka mengambil tiap tiap ujung pepohonan itu dengan perlahan namun tetap ingin mengakhiri kesempatan hidup untuk habitat hutan yang mereka lewati.
Kedua remaja ini berjalan pelan lagi melanjutkan kemudian menghentikan langkah lagi.
Menunggu dengan mata dan telinga mereka pasang dengan sangat serius.
Cahaya putih kilatan kekuningan datang lagi dan merasakan bahwa ada tanda tanda kehidupan di bawah mereka.
"Slash!"
Dedaunan dan batang pohon terpotong oleh cahaya itu jatuh ke bawah dan apa yang terjadi dedaunan dan batang pohon pohon itu langsung menghilang terbakar di depan mata mereka sendiri.
"Kau ingin coba?" tanya Jun.
"Aku masih sadar" kata Ran.
"Aku kira mau" kata Jun.
Melihat kejadian ini membuat mereka berpikir bahwa sama saja bohong jika terus terusan berada di tempat berbahaya ini jika terus mempedulikan tingkah mereka yang selalu seenaknya sendiri. Akhirnya, mereka dengan langkah kaki yang diatur serapi dan detail mungkin tetap melanjutkan langkah mereka berdua karena tak ada yang mereka inginkan yang tak mungkin tidak terjadi itu rencana mereka yang ingin berbuat jahat pada kedua remaja ini tanpa berpikir alasan apa kenapa mengapa daun bisa gugur jatuh ke tanah dengan sendirinya.
Dalam situasi ini kenapa mereka melakukan hal semacam ini dan menanyakan arti tentang keberadaan mereka berpikir lagi berpikir lagi mencari jawaban dari pertanyaan ini membuat seisi kepala menjadi terjebak dengan menghakimi sesuatu hal itu sangat menyenangkan tanpa tahu bahwa itu mungkin salah satu tugas mereka hidup didunia ini dan mencerna semua tanpa tahu menahu makna yang harus diambil dari semua ini maka siapa pemenangnya.
Mereka menunduk lagi dalam langkah menghindar dari mereka yang ingin sekali mengambil semua jalan yang menjadi milik mereka untuk merasakan sebuah kesempatan yang bisa saja itu hal terakhir yang bisa dilakukan untuk bertahan.
Mereka berjalan makin merunduk di hutan bakau lebat ini.
"Kayaknya kita tidak bisa seperti ini terus" kata Ran.
"Bagaimana kalau kita menggunakan cara lain?" tanya Jun.
"Ayo kita berbagi ide baru" kata Ran.
"Bagaimana kalau kita naik ke atas menembus mereka?" tanya Jun.
"Ide bagus" kata Ran.
"Kau langsung mengiyakan saja" kata Jun.
"Tak ada jalan lain lagi. Jika di pikir, kita sudah berjalan sekitar tiga kilometer" kata Ran.
"Kau menyerah?" tanya Jun.
"Pasrah" kata Ran.
Jun merentangkan tangan kirinya memberi kode kepada anggota timnya ini.
Melihat sekitar lebih saksama.
__ADS_1
Jun tersenyum sinis dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Lihat mereka" kata Jun.
Jun menunjuk ke arah salah satu batang pohon bakau disekitar mereka.
"Tak ada yang aneh lagi disini selain mereka" kata Ran.
Yang dia maksud adalah pepohonan di hutan bakau itu.
Jun mengeluarkan kristal putih dari telapak tangan dan membentuk seperti senjata tajam seperti pisau dengan panjang lima belas sentimeter mendekat ke salah satu bagian batang pohon pepohonan bakau yang mereka lewati.
Menguliti batang pohon dalam satu kali sayatan dan apa yang terlihat ternyata sebuah mata dan tertutup oleh kulit batang mereka seperti tampak baik baik saja dan tak turut andil dengan apa yang telah terjadi kepada kedua remaja ini.
Satu mata terlihat dengan penampakan seperti mata pada umumnya dengan sedikit modifikasi merah menyala di sekitar kornea mereka. Kemudian, Jun menguliti kulit batang pohon lain.
Satu mata lagi terlihat.
"Ckckckck ckckck ckckckck kkkkkkkkkkk!"
Mereka semua membuka mata mereka tertawa dengan apa yang baru diketahui oleh kedua remaja ini.
Banyak mata terlihat disetiap batang pohon menjadi penerang di dalam hutan bakau yang gelap ini.
Marah sudah pasti iya karena telah di bohongi dengan harapan harapan yang berselimut dusta.
"Amazing" kata Ran.
"Wonderful" kata Jun.
"Ckckckck ckckckckck kkkkkkkkkkkkkk!"
Mereka semua tertawa untuk kedua remaja ini begitu juga cahaya langit yang mereka lihat selalu giat dalam melakukan tugas mereka, mereka jauh lebih keras menertawakan kedua remaja laki laki ini.
Tertawa dan terdiam.
Cahaya langit bukanlah cahaya langit sebenarnya. Dia berubah ke wujud aslinya menjadi makhluk misterius yang juga menyerang teman teman mereka sebelumnya.
Ada waktu dimana kedua remaja ini harus menghadapi kenyataan ini sulit memang tapi harus diselesaikan.
Batang batang pohon tidak diam saja setelah manipulasi mereka diketahui semua terlihat sepakat untuk menyerang kedua remaja didepan mereka.
Bau asam menyengat menusuk tercium di hidung menyiksa paru paru memperlambat oksigen masuk kedalam organ dalam. Mendidih air di sekitar mereka makin mendidih gelembung gelembung uap panas berbuih makin mendidih menjalar ke arah kedua kaki masing masing remaja ini.
Energi pelindung keduanya diaktifkan.
Ran dengan kilatan membiru dan Jun dengan kristal putih terang melindungi mereka masing masing.
Mata mereka dengan warna mereka menyerang ke segala arah dalam segala arah menghentikan aksi mereka mematikan seluruh kekuatan mantra yang menyerang mereka dalam satu kali membuka mata.
Semua kembali patuh tanpa pemberontakan.
Bernafas lega, tidak.
Keduanya malah menambah level energi mereka satu tingkat lagi.
Bau asam menyengat yang sama kembali tercium oleh Jun.
Melihat ke bawah melihat air yang ada disekitar kaki Jun.
"Ran!" panggil Jun.
Suaranya menggema.
Tak ada tanggapan.
Berbalik melihat ke arah Ran tadi ada tepat di belakangnya.
"Dia sedang bercanda" kata Jun.
Berteriak remaja ini, dan berkata " Ran!".
Suaranya menggema lagi.
"Ran!" kata Jun berteriak lagi.
"Bukan saatnya untuk bercanda" kata Jun.
"Ran!" berteriak Jun memanggil temannya yang telah pergi.
Berputar melihat ke semua arah dan atas langit memeriksa dimana temannya berada dengan energi matanya putih terang menyala.
Tidak ada.
Mengulang lagi mencari.
Ran hilang tanpa jejak dari pandangan Jun.
Satu detik dua detik suara jam menggema disana terdengar.
Sesuatu yang sering ia lihat akhir akhir ini ada di sekitarnya dan membuat sebuah tanda bahaya.
Datang seperti gerimis hujan dari atas Jun kemudian ia membuka telapak tangan menunggu itu datang lagi.
Warna yang cukup unik dan familiar jatuh di atas telapak tangannya.
"Ini. Ini tidak asing untukku" kata Jun.
Jun melihat ke atas dari sebuah cahaya yang menyilaukan menutup sesuatu.
Sangat silau untuk melihat cahaya yang terang diantara gelapnya malam ini.
Jun mencari celah sebisa mungkin untuk menangkap gambar yang mereka sembunyikan.
Darah menjadi seperti gerimis berjatuhan mengenai wajah dan raga Jun.
"Ran!" teriak Jun.
Jun segera pergi ke atas dengan teleportasi.
__ADS_1