
Chapter 131: Dia ada disini.
Belum berakhir atau tidak akan berakhir Marid ada di balik bebatuan besar mendengar dan melihat perkelahian ini.
"Melawan atau tidak sama saja. Aku pasti akan mati dan itu mungkin sebentar lagi" kata Marid.
Dia kembali lagi melihat kedua temannya yang sedang melawan makhluk misterius itu.
Dia berkedip lagi.
Kini tercium bau yang khas dan sering mereka lihat dalam kehidupan sehari hari.
Orang orang berlalu lalang terlihat diantara mereka dalam pusat kota yang sedang ramai ramainya. Mereka ada disana ketiga remaja ini menghirup udara malam kota lagi saling memandang satu sama lain.
Orang orang juga tak sedikit melihat mereka dengan kondisi luka yang masih sangat baru dan bau darah ada pada mereka bertiga baju seragam sekolah mereka hampir tidak terlihat warna cerah terlihat tapi hanya warna darah menguasai dan itu pun masih dengan darah darah baru yang keluar dari tubuh mereka.
Melihat ke depan jalan raya yang besar di depan tempat penyeberangan jalan.
"Dimana yang lain?" tanya Red.
"Mereka belum kembali" kata Jimmy.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit" kata Marid.
Mereka melihat lampu telah berubah menjadi merah di tempat penyeberangan jalan kemudian menyeberang bersama.
Jimmy menarik lengan Red dan Marid untuk berjalan agak ke arahnya.
Dua sentimeter hampir saja sebuah kabut tebal lewat didepan mereka.
"Kalian belum mati. Ayo kita lanjutkan tujuan kita" kata Jimmy.
Menyeberang jalan dengan cepat diantara orang orang yang melihat kondisi mereka saat ini.
Menunggu bus di tempat perhentian bus.
Red terlihat lebih parah dari sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Red.
"Aku lebih menyukaimu lagi" kata Jimmy.
"Aku lupa kita sudah putus" kata Jimmy.
Marid agak sedikit terkejut.
"Jika tahu akan seperti ini kau jadi pacarku saja" kata Marid.
"Apa yang bisa di lihat dariku" kata Red.
Dia melihat dirinya yang penuh luka dan darah di berbagai bagian tubuhnya.
"Bermain dengan kalian sungguh membuatku tidak waras" kata Marid.
"Tapi kau tidak lari" kata Jimmy.
Bus datang lalu mereka masuk satu persatu ke dalam bus yang sedang ramai dalam lampu dalam bus yang menyala terang semua melihat keadaan mereka.
Bahkan tangan mereka juga masih memberi bekas darah di pegangan penyeimbang di dalam bus saat ini mereka sedang berdiri didalam bus.
Red melihat kebawah lantai bus.
Tetesan darah mereka ada jatuh disana.
Anak anak disana juga terdiam memandang mereka tanpa berkedip.
"Lihat. Anak anak itu akan menangis karena melihat kita" kata Marid.
"Aku bisa membuat mereka menangis" kata Jimmy.
"Jangan bicara lagi orang orang sedang memperhatikan kita" kata Red.
"Mereka takkan mengenalku" kata Red.
"Pura pura diam jika mereka memanggilmu" kata Marid.
Benar benar mereka seperti aktris dan aktor yang baru saja bermain film dengan make up yang ahli sangat natural.
Genggaman tangan ketiganya terlihat dalam gemetar meski obrolan demi obrolan mereka lakukan akan tetapi hal ini belum bisa membuat mereka jauh lebih tenang.
Tangan kiri Red mencengkram rok abu abu tulle miliknya sangat erat ketakutan dan kecemasan tentang bagaimana detik ini menit ini jam ini.
Menghela nafas.
Bus melewati berbagai macam bangunan kota dengan kecepatan sedang sesuai aturan mengemudi para driver alat transportasi umum ini.
Lampu lampu berwarna warni ikut terlihat terlewat oleh mereka. Gadis ini melihat lalu melihat lampu lampu yang sudah pergi jauh dari pandangan.
Kristal kristal putih seperti berlian indah mengikuti kemana gadis ini pergi tanpa sepengetahuan dia lagi.
Sima masih di dalam rumah sakit sedang tertidur di pukul sepuluh malam ini di dalam kamar rawat rumah sakit sendirian tanpa ia sadari bahwa buku yang ia dapat menyala lagi sangat terang berwarna biru terang keluar dari tas hitam selempang miliknya membuka sendiri dengan menuliskan tiga nama di satu halaman buku yang bergaya klasik kecoklatan selayaknya seperti notes notes umumnya.
Angin sejuk masuk sedari tadi ke ruang kamar rawat Sima entah itu datang dari mana sedangkan gadis ini masih dengan pintu kamar yang tertutup sendiri sedang menjalani penyembuhan akibat dadanya yang tertusuk oleh seseorang dari mulai koma sampai ia bisa melewati masa masa kritisnya bisa membuka mata kembali.
Cahaya merah menyala dari aura energi yang ia miliki sangat terang.
Radan membuka mata dalam meditasi yang sedang masih ia lakukan menyalurkan energi penyembuh untuk Sima dan Wayne.
Buku itu tertulis nama Red dan Jimmy serta Marid ada di halaman buku kembali menutup kembali buku itu menyala terang kembali lagi ke dalam tas hitam selempang Sima.
Cahaya buku itu kembali meredup dan padam.
Ketiga remaja itu turun dari dalam bus.
Jalan sebentar sekitar dua menit dari tempat perhentian bus dekat rumah sakit. Rumah sakit yang berjarak dekat dari tempat mereka muncul kembali di dunia mereka.
Masuk melewati pintu gerbang di pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit.
Senyum tawa mereka tidak mereka tunjukan datang ke rumah sakit yang mereka syukuri bahwa mereka masih bisa selamat dari dimensi asing yang mengambil jiwa raga mereka tadi.
__ADS_1
Mereka disana melihat ketiga remaja yang berjalan dengan luka luka berdarah dan cara jalan mereka mengatakan bahwa mereka sedang benar benar terluka sebuah pemandangan malam yang bisa membuat mereka tidak bisa tidur darah terlihat memberi jejak di setiap mereka pergi meninggalkan pijakan kaki mereka.
Marid akan jatuh lalu Jimmy dan Red segera memapahnya dengan segera mereka berdua membagi energi pelindung mereka.
Marid bisa berjalan lagi dalam keadaan kaki sakit sedari tadi datang di dimensi ini dan di dalam dimensi misterius itu.
Red sudah memiliki pesan lagi.
Ketiga remaja sekolah menengah atas ini sedang berada di ruang unit gawat darurat menerima pelayanan pertolongan medis dengan bantuan dokter dan para perawat yang bertugas dalam sift malam ini.
"Aku baik baik saja. Jangan khawatir" kata Red.
Bob baru bisa menghubungi Red dan dia belum bisa menghubungi nomor ponsel Jun dan Ben.
Jax juga menghubungi Red.
"Aku masih terus mencari dimana adik kakak" kata Red.
"Lalu. Kamu sekarang ada dimana?" tanya Jax.
"Di rumah sakit bersama Wayne" kata Red.
Obrolan berakhir.
"Untung saja. Aku tadi mengabari Wayne, bisa heboh jika mereka kemari" kata Red.
Lima menit setelah mendapatkan panggilan telepon dari Bob dan Jax.
Lampu masih menyala di ruang unit gawat darurat para petugas rumah sakit juga masih bekerja malam ini. Apa yang aneh disini, tidak ada sama sekali. Suara alat medis terdengar sedang bekerja.
Red melihat ke sisi lain kanan ada Jimmy sudah tertidur dan sebelahnya lagi sedang mengirim pesan.
Marid berhenti sejenak dalam mengetik melirik ke arah Red. Red juga melirik ke arah Marid.
Satu pesan diterima oleh Red.
"Kurasa kita butuh teleportasi" kata Marid
"Aku akan bangunkan Jimmy" kata Red.
Mereka saat ini berada dalam rumah sakit detik selanjutnya mereka bukan dirumah sakit lagi. Ini berulang.
"Jimmy!" kata Red berbisik.
Jimmy belum bangun juga.
Red dan Marid mulai panik.
Red mengguncang bahu kanan Jimmy dengan keras.
Jimmy terbangun merapikan wajahnya.
"Ya. Ada apa?" tanya Jimmy.
"Gunakan teleportasi mu cepat!" kata Red.
Red lebih mengguncang tubuh sahabatnya itu lebih keras dari sebelumnya.
"Ya. Ya" kata Jimmy.
Berpindah tempat.
Jadi, mereka jadi bingung dengan tempat mereka saat ini berada.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Berteriak bersamaan ketiganya.
Berlari dari tempat mereka tadi berhasil menggunakan teleportasi.
Berjarak lima meter mereka masih menggunakan setelan piyama hijau muda dan perban baru yang mereka dapat di beberapa bagian tubuh.
Marid dengan tas yang ia sempat bawa mengambil senter menyalakan lagi senter miliknya itu mengarah ke arah makhluk makhluk tadi yang meraih kaki kaki mereka.
Senter diarahkan.
Ketiga remaja itu memperhatikan seksama tangan tangan yang terlihat keluar dari dalam tanah dengan jarak diantara mereka sekitar lima meteran.
"Menurut kalian siapa mereka?" tanya Marid.
"Hantu" kata Jimmy
"Tidak mungkin. Apakah semua benar hantu?" tanya Red.
"Menurutmu?" tanya Jimmy.
"Apa mereka teman kita?" tanya Marid.
Pernyataan Marid mengacaukan suasana.
Marid mendekat ke arah mereka melihat tangan tangan itu yang sedang menunggu orang lain.
Dari arah belakang mereka datang sebuah bayangan hitam yang mengikat bayangan raga mereka.
Ya tidak ada selain mereka dan bayangan yang semakin mendekat itu.
"Minggir kalian!"
Mereka langsung konek dengan siapa mereka sekarang bicara.
Minggir ke arah kiri.
Jamie bersama anak buah Presdir Ma yang lain sedang menjalankan tugas mereka.
Menyimak tugas mereka.
__ADS_1
Jamie bersama dua orang wanita yang lain sedang menyelamatkan hantu hantu jahat yang menjadi korban pengusiran hantu oleh seorang cenayang.
"Dia sedang apa?" tanya Marid.
"Kita lihat saja" kata Red.
Tangan tangan hantu itu ia tarik dengan satu kali tarikan tangan.
Satu hantu berhasil dibawa keluar oleh Jamie lalu ia membuat hantu itu menjadi sangat kecil.
Dia meniup hantu di tangannya dengan energi milik Jamie.
Hantu ditangannya berubah menjadi hantu dengan energi positif lalu mengambil satu buah charm gelang memasukkan hantu tersebut ke dalam charm yang berbentuk kelopak bunga mawar merah muda. Kemudian, hal yang sama juga diterima oleh hantu hantu selanjutnya yang Jamie tangkap bersama kedua anak buah Presdir Ma yang ikut menjalankan misi ini.
Kotak kayu yang berisi hantu hantu itu dibawa pergi oleh Jamie yang juga bersama dengan kedua partner kerjanya yang lain.
Berhenti didepan ketiga temannya yang ada di sebelah kanannya
"Apa kalian akan tetap disini?" tanya Jamie.
Ketiganya ikut bersama ketiga anak buah Presdir Ma didepan mereka berjalan ke arah mobil dengan lampu mobil yang masih menyala.
Dari dalam kotak kayu yang sedang dibawa oleh Jamie terdengar suara sangat berisik seperti terjadi perkelahian di antara mereka kepada para penghuni rumah baru itu.
Sudah menunggu disana driver mereka mengantar jemput perjalanan menangkap hantu hantu ini.
Masuk kedalam mobil.
Red ada di sebelah kanan Jimmy sedangkan Marid ada disebelah kiri Jimmy.
"Kalian jangan sampai tertidur. Jika iya maka hantu hantu di dalam kotak ini akan pergi sendiri dengan mudah" kata Jamie.
"Siap!" kata ketiganya.
Perjalanan pulang melewati jalanan cukup ramai dekat pasar malam dekat kota dan juga danau tempat tinggal Hera sebelum dia bergabung dengan Presdir Ma sebagai agen hantu yang bekerja membantu agen agen lain menjalankan misi seperti misi kali ini yang membuat dia kembali pergi ke tempat tinggal nya seharusnya.
"Aku akan menginap dirumahmu" kata Jamie kepada Red.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Jamie kepada Marid dan Jimmy.
"Aku akan pulang ke rumah" kata Jimmy.
"Aku ikut dia" kata Marid menunjuk ke arah Jimmy.
"Sejak kapan kita akrab?" tanya Jimmy.
"Saat ini" kata Marid.
"Ok. Datang saja" kata Jimmy.
"Kalian berdua akan diantar sampai depan rumah" kata Jamie.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dua remaja perempuan ini telah sampai di tempat tujuan.
Tiba di depan rumah Red.
Red dan Jamie memberi salam perpisahan kepada ketiga partner kerja Jamie dan dua teman sekolah mereka.
Lambaian tangan keduanya ditujukan untuk mereka dari kedua gadis remaja ini.
Perjalanan masih berlanjut untuk Jimmy dan Marid kira kira jika dihitung membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di depan rumah Jimmy.
Mobil hitam itu membawa mereka pergi.
Hantu hantu putih dengan wajah tengkorak wanita dan laki laki ada dibelakang Jamie.
Red melihat ini mungkin sudah terbiasa jadi bisa mengobrol santai seperti hari hari sebelumnya. Jamie membawa kotak berisi hantu hantu yang telah ia kendalikan di hari hari sebelumnya.
"Kau mendapatkan banyak hantu?" tanya Red.
Red membuka pintu depan rumah.
"Silakan masuk" kata Red.
Jamie masuk setelah Red masuk lebih awal.
"Terima kasih" kata Jamie.
Hantu hantu itu ikut masuk bersama dengan Jamie berada di sekeliling mereka berbaur ikut disana dengan tenang.
"Aku ambilkan susu hangat untukmu" kata Red.
"Tidak perlu. Aku akan disini dulu" kata Jamie.
"Ya sudah. Aku akan cuci muka dan tidur lebih awal" kata Red
Red naik ke anak tangga menuju kamarnya.
Berhenti sejenak.
"Oh ya. Kamu kalau mau minum atau makan ada sesuatu di dapur. Kamu tinggal ambil sendiri" kata Red.
"Ok" kata Jamie.
Red mulai naik menaiki anak tangga lalu masuk kedalam kamarnya sendiri.
Pintu kamar ditutup.
Hantu hantu yang mengikuti mereka sebenarnya hantu hantu yang tertarik dengan energi yang dimiliki oleh Red yang bisa dikatakan sangat tertarik.
"Hey. Gadis manis kau melarang kami mendekati gadis itu!" bentak salah satu hantu berjenis kelamin pria.
Jamie sibuk dengan meditasi.
"Bocah ini. Dia pikir, dia sangat sakti" kata Hantu berjenis kelamin wanita.
Karena Jamie tak menghiraukan perkataan dari para hantu itu maka mereka sudah pasti langsung marah dan tak peduli dengan mantra yang sedang dibaca oleh gadis ini untuk mereka.
Karena penasaran seorang hantu wanita yang tadi bicara membentak Jamie masuk kedalam kamar Red.
Jamie merasakan energi hantu wanita itu sudah masuk ke kamar Red.
__ADS_1
Dia belum membuka mata tapi dia tetap dengan mantra putih yang diucapkan sedari tadi diluar kamar Red di ruang bermain game yang berdekatan dengan anak tangga menuju kamar Red.