Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 107: Diamonds Heart.


__ADS_3

Chapter 107: Diamonds Heart.


  Pukul satu malam dirumah sakit.


 Keduanya sudah menjalani operasi dan masih dalam keadaan belum sadar.


 Orang tua Jimmy sudah ada disana dengan segala kasih sayang yang ia dapatkan.


 Untuk orang tua Wayne sedang menunggu anak mereka sadar kembali.


 Radan melihat disana hanya ada peralatan medis yang sedang bekerja menolong gadis itu.


 Radan dan Hera berjaga didepan ruang rawat Sima.


"Dimana orang tua gadis itu?" tanya Hera.


"Di luar negeri belum datang" kata Radan.


"Tiba tiba aku kasihan pada gadis itu" kata Hera.


"Kita tidak tahu permasalahan orang lain" kata Radan.


 Hera melirik ke arah Radan yang sedang melihat ke dalam jendela ruang rawat Sima.


"Kau akan lembur lagi" kata Radan.


 Hera segera menghilang dari hadapan Radan dengan teleportasi. Dia pergi menembus rumah sakit keluar dari bangunan bercat putih mencari menyeluruh lagi di bagian rumah sakit. Disetiap celah hantu hantu biasa bersembunyi dia sedang makan mencari di sudut sudut ruang gedung yang jarang dilewati oleh orang orang dia ada disana.


 Gaun merah dan wajah cantiknya berubah menjadi menghitam otot otot wajah mulai memerah kemudian menghitam matanya putih dan berdarah.


 Dia sedang mendekati seorang hantu yang sedang makan beberapa tulang di sebuah sudut rumah sakit di luar gedung di sekitar pepohonan cemara berbaris indah.


"Kenapa kamu menjadi berlebihan, kamu tinggal tanya saja?" tanya hantu berpakaian putih lusuh dengan setelan baju dan celana panjang robek.


"Kau bisa jawab pertanyaan ku atau bekerja sama dalam  penyelidikan ku" kata Hera.


"Memang benar hantu penghuni danau ini sangat jahat" kata Hantu tersebut.


 


  "Boooooooommmm!!!"


 Hera yang mudah tersinggung jika ada yang menghina dirinya langsung mengeluarkan cairan hitam sangat berbau dari dalam telapak tangan kanannya kepada wajah hantu laki laki paruh baya tersebut.


 Wajah hantu laki laki itu langsung melepuh seketika mendapat serangan dari hantu ini.


 Wajah tengkorak hantu laki laki itu langsung terlihat dan perlahan kembali terbentuk seperti semula.


"Ini bukan wilayah mu!" kata hantu laki laki itu.


"Jadi, katakan saja apa yang kau lihat disini!" kata Hera.


"Aku sudah cukup tua berurusan dengan hal seperti itu" kata hantu laki laki itu.


"Kau tidak ingin pulang bekerjasama lah dengan kami" kata Hera.


"Tidak" kata Hantu laki laki itu.


"Tapi, kami butuh bantuan ... " kata Hera.


 Hantu ini belum selesai bicara dan hantu laki laki itu pergi entah kemana.


"Apa yang membuatnya takut sehingga tidak mau bicara denganku?" tanya Hera.


 Hera dengan cepat terbang dan melayang diatas rumah sakit melihat menyeluruh dengan kekuatan mata hantu yang ia gunakan mencari saksi saksi yang melihat kejadian yang menimpa Sima dan Wayne.


 Radan didalam rumah sakit.


"Akan butuh waktu untuk keduanya pulih" kata Radan.


 Pagi di hari libur di rumah sakit.


 Jamie dengan penuh kerepotan mau pergi bersama kakaknya mengurus keperluan Wren.


"Sudah biar kakak yang bawa" kata Sookie.


"Aku tidak mau menyianyiakan waktu" kata Jamie.


 Satu kali dia lewat dengan membawa selimut untuk Wren.


 Jimmy melihat ini dengan rasa ingin tahu.


"Apa dia berbuat salah dengan Wren?" tanya Jimmy.


 Dia membaca buku filsafat lagi dan itu milik Radan. Dia masih disana didepan ruangan mereka untuk menjaga sekali lagi. Dia diperintah untuk menjadi bodyguard Jimmy.


 Dari depan kamar Jimmy, dia pergi lagi melewati kamar Jimmy yang berada tepat di sebelah kamar Wren.


 Jimmy melihatnya lagi.


"Niatnya sangat gigih" kata Jimmy.


 Jamie bahkan lebih antusias dari kakaknya disaat ini.


 Dia sedang mengejar kakaknya lagi keluar dari ruangan Wren menuju lantai bawah ruangan yang baru saja ia datangi.


 Jimmy berinisiatif untuk pergi menemui Wayne yang belum sadar ada di kamar disebelah kiri Wren.


 Radan melirik sambil tetap fokus membaca buku bertema tentang sosiologi.


 Radan melihat Jimmy yang sedang berusaha untuk pergi menjenguk Wayne karena dia berada lurus diantara ke empat remaja yang sedang ia jaga.


 Jamie dengan keceriaan yang ia miliki berjalan cepat mendahului Jimmy.


 "Deggggggg!!!"


 Dia menyenggol pundak Jimmy yang sedang terluka.


 Dia menghadap wajah Jimmy.


"Oh. Sorry!" kata Jamie.


 Jimmy akan marah kepada Jamie.


 Sorot mata Radan lebih menakutkan dari biasanya.


 Dia tidak jadi marah kepada Jamie.


"No. Problem" kata Jimmy.


"Ternyata benar. Kau memang Pangeran Tampan!" kata Jamie. 


 Jimmy merasa apa yang dikatakan oleh gadis ini tidak ada maksud lain. Dia memang benar benar mengatakan hal itu.


 Jun datang.


 Dengan cepat dia membawa pergi gadis itu menjauh dari Jimmy.


"Ayo kita pergi!" kata Jun.

__ADS_1


 Jun menarik pergelangan tangan kanan Jamie membawa ia pergi menuju ruang rawat Wren.


 Jimmy terlihat kesal mengapa dia selalu harus disalahkan dan mendapat cap sebagai playboy.


 Kemudian, dia melanjutkan untuk pergi menjenguk Wayne.


 Beberapa langkah dan dia melewati Radan yang masih asyik membaca buku.


 Jun sudah melepas tangan Jamie dan masuk kedalam ruang rawat Wren.


 Jimmy lewat kemudian setelah Jamie dan Jun masuk kedalam ruang rawat Wren.


 Pagi yang cerah untuk Wren yang sedang makan buah jeruk. 


"Kalian terlihat akrab" kata Wren.


"Aku hanya berperan sebagai temannya saja" kata Jun.


"Hehhhh. Dia sama seperti kakakku saja" kata Jamie.


 Dua menit kemudian, Bob datang bersama dengan Sookie.


 Merasa ada sesuatu yang telah terjadi, itu yang dirasakan oleh Sookie tapi masih menyembunyikan firasat ini dari orang orang yang ada didalam ruang rawat Wren.


 Red juga lewat di ruang rawat inap Wren sambil melambaikan tangan kepada orang orang yang ada diruangan ini.


"Dia pasti pergi menjenguk Wayne" kata Jun.


"Mereka bersaudara?" tanya Bob.


"Ya" kata Jun.


 Jun yakin gadis ini akan pergi menjenguk Wayne.


 Sebelum ia datang ke rumah sakit dia menghubungi Radan memastikan Wayne sedang sendiri dan hanya ada dia yang sedang menjaga tentu dengan alasan tersendiri.


"Kau sudah datang?" tanya Jimmy.


"Ehmm" kata Red.


 Jimmy belum berhenti menatap wajah gadis ini yang sedang merapikan selimut yang dipakai oleh Wayne.


"Aku tidak akan pergi" kata Red.


 Jimmy tertunduk sejenak sambil tersenyum kepada Red.


 "Kamu sendirian kemari?" tanya Jimmy.


"Ya" kata Red.


 "Kau sudah sarapan?" tanya Jimmy.


"Sudah. Oh. Ya, aku bawa ini" kata Red.


 Dia membawa menu breakfast sebanyak dua  kotak satu untuk Radan dan satunya lagi untuk Jimmy.


"Makanlah. Mungkin tidak selezat masakan koki rumah mu tapi aku sudah berusaha" kata Red.


 Jimmy menerima kotak berisi makanan dari pemberian Red.


"Terima kasih" kata Jimmy.


"Iya sama sama" kata Red.


 Red mengambil kursi lain yang juga ada di ruangan tersebut kemudian duduk disisi kanan tempat tidur Wayne sambil membuka ponsel.


 Dia disana di tatap oleh Jimmy hampir sepuluh menit di sofa ruangan tersebut.


 Red sudah di ruang rawat Sima.


 Dia mendengar suara itu dengan jelas.


 Red membantu Sima dengan menyalurkan kekuatan penyembuh dari tangannya. 


 Menatap Sima yang masih belum membuka mata diatas ranjang rumah sakit dan selang infus serta alat medis yang sedang membantu proses penyembuhan.


"Kenapa dia sampai seperti ini?" tanya Red.


 Buku itu menyala bersinar biru terang dari dalam tas Sima dan dengan cepat menghilang disaat Red mulai teralihkan dengan kehadiran cahaya yang ada didalam tas milik teman satu kelasnya.


 Red menghentikan pengobatan penyakit Sima sejenak.


 Jamie datang sendirian tanpa siapapun lagi.


 Suaranya berbicara lirih.


"Aku membawa ini untuk Sima dan kamu" kata Jamie.


 Dia membawa pie mangga buatannya sendiri menaruh kue kue itu diatas meja sofa ruangan tersebut.


 Pergi bergerak mendekat kepada Red.


"Dia masih belum sadar?" tanya Sima.


"Begitulah" kata Red.


"Aku sedih melihatnya seperti ini" kata Jamie.


 Di luar dari dugaan seseorang menghubungi Ran yang masih mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan perkuliahan. 


 Ran mengangkat panggilan dari Jimmy.


"Bicaralah, jika tidak. Aku sedang sibuk" kata Ran.


 Jimmy tak bicara sama sekali disaat ditanya oleh Ran.


"Aku tutup" kata Ran.


 Panggilan telepon dari Jimmy ia tutup dengan cepat. Dia, Ran sedang mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan oleh kampus tempat ia berkuliah saat ini dengan suatu perusahaan yang bergerak dibidang teknologi.


 Jimmy sedang tertunduk sendirian didalam ruang rawat dirinya sendiri dengan alat infus yang ia bawa lagi setelah menjenguk Wayne yang sekarang sudah bersama kedua orangtuanya didalam kamar rawat.


"Kau belum minum obat" kata Radan.


 Dia memberikan obat kepada Jimmy.


"Ini, kau tinggal minum dan juga ini ada air hangat diatas meja" kata Radan.


 Dia menaruh obat bersebelahan dengan air hangat di meja sebelah tempat tidur yang ia gunakan untuk duduk dan juga bersandar.


 Setelah itu dia kembali duduk didepan ruangan diantara para remaja seperti sebelumnya.


 Jimmy memang bisa menjadi pacar Red tapi itu hanya masalah waktu bisa kapan saja dia akan pergi.


"Sorry untuk diriku sendiri" kata Jimmy.


"Sorry. Sorry, tidak bisa menjaga dirimu" kata Jimmy.


 Dia memakan sarapan yang dibuat oleh Red.

__ADS_1


 Baru satu suap dan seseorang datang.


 Dia datang dengan rok semi kulit hitam mini dan kaus putih bergambar kucing berwarna hitam rambut sebahu lurus dan sepatu boots yang ia pakai.


"Seharusnya aku tidak datang?" tanya Sammy.


 Jimmy memandang Sammy.


"Ini kue kesukaan mu" kata Sammy.


 Dia memberikan kue yang terbuat dari kacang almond yang manis dan berwarna ungu pastel.


"Kau ingin aku lama atau pergi. Aku akan melakukan apa yang kamu katakan?" tanya Sammy.


"Aku sudah jadian dengan Red" kata Jimmy.


"Aku sudah tahu dari pertama melihat di postingan baru kalian" kata Sammy.


 Postingan baru di akun sosial media milik Jimmy.


"Kau tak marah?" tanya Jimmy.


"Untuk apa?" tanya Sammy.


"Baguslah" kata Jimmy.


 Sammy mengambil tempat duduk disalah satu sofa di kamar rawat Jimmy duduk disana satu arah dengan Jimmy menatapnya dari ranjang rumah sakit.


 Sammy tak begitu peduli dengan tingkah mantan pacarnya yang terus menerus penuh rasa tidak percaya dengan perhatian yang Sammy berikan padanya.


"Aku hanya menjenguk mu saja dalam lima belas menit ini" kata Sammy.


 Jimmy melihat jam di dinding kamar dan dia sudah lima menit ada disana.


 Dia benar benar sedang menghitung tiap detik waktu yang memang Sammy katakan.


"Tinggal dua puluh detik" kata Jimmy.


 Kata hatinya melihat jarum jam yang terus berputar mengurangi waktu yang tersisa untuk Sammy.


 Sammy sudah bersiap dengan tas hitam yang ia ambil dari sisi kirinya duduk sekarang.


 Dia beranjak berdiri dari duduknya akan pergi dengan beberapa kotak kue yang ia bawa.


"Sammy" kata Jimmy.


"Ada yang kau butuhkan?" tanya Sammy.


"Bisakah kau tetap disana?" tanya Jimmy.


 Suasana hening dan membuat menjadi kesedihan yang apa adanya.


"Entahlah. Aku tidak terlalu cerdas untuk memahami perkataan mu" kata Sammy.


 Hening lagi.


"Sorry" kata Sammy.


"Kau bersungguh sungguh?" tanya Jimmy.


"Ya. Aku tidak mengerti makna kata kata mu" kata Sammy.


 Sammy benar benar pergi dan dia akan pergi menuju kamar rawat Wayne yang juga ia kenal di sekolahnya dulu sebelum pindah di sekolah Red dan Jun sekarang.


 Jimmy tiba tiba memiliki perasaan ini kepada gadis yang pernah ia terus sakiti berulangkali dan dia tetap bertahan meski akhirnya dia menyerah juga seperti pacar pacarnya yang sebelumnya.


"Apa yang aku tonton mempengaruhi jalan hidupku. Aku tidak menonton film sedih" kata Jimmy.


 Sammy melewati Radan yang sedang membaca buku dan dia kembali sebentar.


"Ini untuk Kakak" kata Sammy.


 Radan melihat siapa yang sedang mengajaknya berbicara.


"Oh muridku" kata Radan.


"Aku pergi dulu" kata Sammy.


 Radan dengan kue yang sama yang diterima oleh Jimmy dari Sammy tadi.


 Dia langsung membuka dan memeriksa kue dari Sammy.


"Dia masih saja manis. Andai saja anak itu bisa sedikit lebih sadar, dia bisa menjadi teman terbaiknya" kata Radan.


 


 Yang Radan maksud adalah Jimmy.


 Di kamar rawat Wayne sebelum Sammy datang masih dengan kedua orang tuanya yang sedang memikirkan cara agar anaknya cepat bangun.


"Sayang aku punya ide" kata Ibunya Wayne.


 Secangkir teh hangat sedang diminum oleh Ayahnya Wayne.


"Ide apa?" tanya Ayahnya Wayne.


"Tunggu!" kata Ayahnya Wayne.


"Itu tidak berbahaya kan?" tanya Ayahnya Wayne.


 Mata ibunya Wayne mulai berubah menjadi mata seorang penguasa rumah.


"Iya. Iya, Apa itu?" tanya Ayahnya Wayne.


 Dia terlihat langsung menjadi suami patuh.


"Bagaimana kalau kita adakan sayembara?" tanya Ibunya Wayne.


"Sayembara?" tanya Ayahnya Wayne.


"Lanjutkan. Sayembara apa itu?" tanya Ayahnya Wayne.


"Bagaimana kalau siapa saja yang bisa membuat sadar anak kita. Jika dia laki laki dia akan menjadi saudara Wayne?" tanya Ibunya Wayne.


"Kalau perempuan?" tanya Ayahnya Wayne.


"Jadi menantu kita" kata Ibunya Wayne.


 Terdiam mendengar ide ini, lalu meminum teh hangat di meja di depannya lagi.


 Menaruh cangkir itu di tempat semula.


"Jika keduanya tidak mau menikah?" tanya Ayahnya Wayne.


"Itu mudah saja. Kita bisa mengangkatnya sebagai anak. Bagaimana?" tanya Ibunya Wayne.


"Kita bukan raja dan ratu. Apakah metode ini akan berhasil?" tanya Ayahnya Wayne.


"Kau tidak akan menuruti permintaan ku" kata Ibunya Wayne.

__ADS_1


 Nada ancaman sedang terjadi di situasi ini.


 Sammy datang mulai mengetuk pintu masuk ruang rawat Wayne.


__ADS_2