Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 29: Kamu Spesial untuk Ku


__ADS_3

Chapter 29: Kamu Spesial untuk Ku.


Di toko makanan tempat Red bekerja pukul sembilan malam.


Ada dua wanita yang duduk di dalam toko menikmati ayam bumbu pedas dan satai ayam bumbu manis serta dua porsi nasi dengan salad sayur saus bumbu kelapa.


"Ini ice tea pesanan anda"


Red menaruh dua gelas cube minuman dingin diatas meja pelanggan.


Teman kerja Red sedang memegang mangkuk hijau ukuran sedang dan wooden spoon disisi kiri tangannya.


Red menaruh nampan yang ia gunakan untuk membawa ice tea pesanan pelanggan tadi di dekat lemari es.


Lampu mati, kemudian nyala lagi. Begitu seterusnya, sampai lima kali.


"Listrik tetangga dari tadi masih menyala. Kenapa disini, nyala mati nyala mati?" tanya Red.


"Apa karena ada hantu disekitar tempat ini?" tanya teman Red.


Pelanggan mereka sedang asik menikmati makan malam mereka tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi lampu di toko tersebut.


"Kalau lampunya mati, kita nyalakan senter ponsel kita" kata salah satu wanita yang sedang makan salad ayam bumbu pedas.


Lampu mati dan nyala lagi.


"Benar ada hantu disini" kata teman Red.


Bling ada disana duduk diantara kursi yang tersedia untuk para pelanggan toko.


"Kenapa selalu yang disalahkan hantu kalau kejadian begini. Terus buat apa aku main main listrik, nanti kesetrum" Bling marah marah dan sedang makan donat kentang keju.


Red menahan tawa karena kedua temannya itu.


"Kau punya ide?" Bling duduk di tangga menuju ke roof top gedung sekolah.


Red ingin diam saja.


"Apa kau selalu kemari?" tanya Bling.


"Tidak juga" kata Red.


Suara langkah sepatu seseorang datang dari arah atas tangga.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jimmy.


Red berbalik kearah asal suara itu.


"Ku rasa itu tidak berpengaruh terhadap mu" Red berjalan pergi turun kebawah tangga.


Perlahan pergi membawa buku sastra.


Berhenti berjalan.


"Anggap saja aku tidak melihat kalian" Red mengambil langkah kembali.


Bling ikut dengan Red pergi juga dari tempat itu.


"Aku tahu kau tidak suka bergosip" kata Bling.


"Entahlah. Aku sedang memikirkan hal lain" nada suaranya datar lagi, Red.


Red membuka pintu keluar dari tangga yang ia lalui barusan.


Red ada diatas sana dibalkon untuk turunan anak tangga disisi gedung kelas bertingkat.


Red menaruh bukunya diatas pembatas balkon.


Gadis ini mengambil ikat rambut hitam dari saku baju seragamnya. Meraih rambut panjangnya lalu mengikat dengan tali hitam ditangan.


Jun melihat Red tanpa disengaja saat ia sedang bermain bola basket bersama siswa yang lain.


Red juga tersadar kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang.


Jun menunjukkan sikap manisnya pada Red.


"Kita harus pergi dari sini, mungkin sebentar lagi Jimmy akan keluar dari pintu dibelakang kita" Bling mengingatkan Red.


"Kita sejalan" kata Red.


Bukunya ia ambil dari atas pembatas balkon tadi. Dia akan pergi menuju kelas.


Pandangan Jun beralih kemana Red berjalan menuruni anak tangga.


Red belum membalas sapaan Jun.


"Bunga aster itu sangat cantik. Kau dapat bunga itu dari mana?" Berbicara Red pada Bling.


"Ini kudapatkan tadi pagi dari seseorang" jawab Bling.


Bling membawa seikat bunga aster dari Jun tadi pagi.


Jun menaruh bunga itu ditempat terakhir Jun melihat Bling. Iya, ditempat ia dan Jun mengalami kecelakaan.


Bling dengan gaun berbahan kain tebal lembut orange berlengan panjang dan menjuntai sampai ke mata kaki. Sepatu hitam sport bertali hitam. Rambut cokelat yang terikat oleh jepit rambut dedaunan.


"Dimana temanmu yang selalu bersamamu?" tanya Red.


"Maksudmu Hera?" tanya Bling.


"Ya" jawab Red.


"Dia sedang pergi ke suatu tempat" kata Bling.


Sammy menemukan Red yang ada didalam kelas.


"Es krim untukmu" Sammy mengagetkan Red.


Sammy membukakan bungkus es krim pineapple untuk Red.


"Terima saja" kata Sammy.


Red masih menatap tegas wajah Sammy.


"Oh tidak mau. Aku akan habiskan semua es krim ini" kata Sammy.


Red melihat keluar jendela.


Siswa siswa sedang bermain di lapangan.


"Aku tidak melihat Kak Flow, dia dirumah sakit?" tanya Red.


"Dia menjaga ibuku dirumah sakit bersama ku" kata Sammy.


Sammy menggigit es krim lagi.


"Kau tidak bekerja lagi di toko itu?" tanya Red.

__ADS_1


"Sekarang aku pengangguran Red" kata Sammy.


"Kau kan Sammy. Pasti cepat mendapatkan pekerjaan lagi" Red memuji.


"Maaf ya Red. Jika, aku nggak bisa bantu kamu" kata Sammy.


"Soal kemarin. Ya udah lah, sudah berlalu" kata Red.


"Aku dengar dari Kak Flow. Kamu dapat kerjaan baru lain" kata Sammy.


"Iya. Aku bakalan pulang lebih malam" Red menjelaskan ini.


"Aku ikut senang. Tapi, kamu jangan lupa jaga kesehatan Red" Sammy khawatir.


"Iya. Pasti" jawab Red.


Bel masuk berbunyi.


Jimmy masuk kedalam kelas bersama anak anak yang lain.


Red tertawa kecil melihat apa yang sedang ia lihat.


Jimmy melihat Red yang sedang tertawa.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Red terkaget.


Jimmy menyentuh pipi Red.


Menatap tersenyum dengan senyuman yang hanya ditunjukkan pada Red.


"Lepaskan tangan mu" kata Red lagi.


Jimmy melepas tangannya dari pipi gadis yang ia suka.


Saat itu juga dia melihat Sima bersama Jun, menempel terus.


"Katakan kau juga menyukai ku. Aku akan melepaskan gadis itu?" Pertanyaan Jimmy pada Red.


Gadis ini memberikan ekspresi wajah tanpa emosi dan juga datar seperti biasa sering ia perlihatkan.


"Aku sudah mengatakan bahwa aku tak melihat apapun tadi" Red memperjelas maksud dari Jimmy.


Guru mata pelajaran matematika datang.


Hujan datang lagi.


Juga petir datang terlihat di langit dari arah jendela dekat Red ada disana melihat itu.


Pelajaran matematika terus berlangsung.


Di luar kantor Flow sedang melakukan riset tentang makanan-makanan tradisional yang akan dijadikan produk baru yang akan di produksi oleh perusahan tempat ia bekerja.


Sendirian hujan, ditinggal sama teman temannya yang sudah kembali lebih awal ke kantor.


Tempat perhentian bus masih jauh, akses menuju jalan harus melewati jalan pasar yang sesak.


Menguji mental.


Dia harus cepat mencari tempat berteduh, hujan makin deras.


"Sudah terlambat, aku sudah basah kuyup begini"


Flow berjalan dibawah hujan.


Blouse hitam berlengan panjang dan celana panjang katun dan sepatu bohemian cokelat tas selempang hitam dan rambut yang di ikat serta dokumen yang terbungkus rapat tas waterproof.


Dan ada disana mendapat sebuah pekerjaan.


Dan memakai masker hitam sedang nongkrong memantau seorang pencuri yang sedang bersantai di sebuah kedai dekat pasar tersebut.


Flow tiba tiba duduk disamping Dan.


Flow belum sadar bahwa orang di sebelahnya adalah Dan.


"Jangan sampai dia mengenaliku" Dan berharap itu.


Hujan masih deras ditambah petir.


Satu menit dua menit kemudian para polisi yang sedang menyamar untuk menangkap pencuri itu makin dekat dengan target mereka.


Makin dekat dalam jarak mereka dengan pencuri itu.


Lalu, saat pencuri itu sudah dikepung oleh anak buah Ayah Dan, pria ini langsung membuka masker dihadapan Flow dan membawa dengan cepat Flow dari tempat itu.


"Kenapa kau disini?" tanya Flow.


"Sudah ikut aku saja" kata Dan.


Mereka menghindar dari keramaian penangkapan pencuri tadi. Dan juga akhirnya ikut hujan hujanan sama seperti Flow.


Dibawah sebuah toko parfum.


Dan menatap Flow.


"Wajahnya sangat pucat lebih pucat dariku" kata Dan.


"Ada yang aneh denganku?" tanya Flow.


"Tidak" Jawab Dan.


"Aku membawa mobil" kata Dan.


"Lalu?" tanya Flow.


"Tapi bukan mobil ku. Kau mau ikut?" tanya Dan.


Flow tersenyum pada Dan.


"Aku tidak kasihan padamu. Aku hanya ingin menolong mu?" tanya Dan.


"Kau terdengar tidak merayu" kata Flow.


"Kau ingin aku merayu mu?" tanya Dan.


"Apa kita harus cepat saling melupakan?" tanya Flow dalam bibir merah lembutnya.


Dan memeriksa mobil yang ia parkir.


Ada Flow juga disana.


"Ayo kita naik bus saja" Flow dengan wajah patuhnya.


Dan memanggil montir dari perusahaan legal jasa perbaikan kendaraan beroda dua dan empat.


Sepuluh menit kemudian, orang yang Dan hubungi datang untuk memperbaiki mobil.


Dan ikut membantu memperbaiki mobil tersebut.

__ADS_1


"Apa mobil ini habis digunakan untuk balapan?" tanya montir yang ada disebelah Dan.


"Iya. Kemarin" kata Dan.


Montir itu langsung mengerjakan tugasnya lagi.


Flow memang sedang menunggu agar hujan nya reda atau setidaknya gerimis kecil agar ia cepat pulang.


Hujan tambah besar.


Dan memprediksi bahwa butuh banyak waktu untuk menunggu mobil yang ia dan montirnya perbaiki bisa berfungsi kembali.


"Taksi yang ku pesan sudah datang. Kau bisa pulang lebih dulu" kata Dan pada Flow.


Dan mendorong Flow agar pulang dengan taksi.


"Tapi, kamu ... " kata Flow.


"Udah, aku mah gampang" kata Dan.


Flow masuk kedalam taksi yang Dan pesan sedangkan Dan melanjutkan memperbaiki mobil Jimmy bersama montir yang ia undang tadi.


Kaca jendela taksi sebelah kiri Flow buka.


"Aku pergi, bye bye" kata Flow.


"Bye!" kata Dan agak berteriak karena masih hujan.


Dan tak ingin berhenti memandang Flow B yang pergi dengan taksi.


Sepulang sekolah saat Dan masih kelas tiga sekolah menengah atas.


Dan melihat gadis itu lagi, seorang gadis yang tiga tahun lebih muda dari usia Dan.


Keesokan harinya, gadis yang masih sama seperti kemarin ia lihat lagi.


Dia bersekolah di sekolah menengah pertama di tahun akhir.


Dan tak mengenal gadis itu, tapi ia sering melihat gadis itu menangis dan juga hampir ia lihat setiap hari disana. Di belakang sekolahnya.


Teman temannya akan pergi jika Dan lewat ditempat itu.


Mungkin karena usia dan fisik Dan jauh lebih dewasa dari gadis gadis itu.


Dan tak bicara apapun, dia lalu lewat ditempat itu seperti hari hari biasa.


"Apa mereka sedang mengeroyok gadis tadi?" tanya Dan yang sudah di toko sup seafood milik ibunya.


Dan melahap sup buatan ibunya sendiri.


Gadis itu datang di kedai sup milik ibunya duduk di kursi juga tidak jauh dari sekarang Dan ada disana menikmati makan sepulang sekolah.


Rambut gadis itu lurus dan terlihat tidak terlalu acak acakan seperti Dan lihat sebelumnya.


Mangkuk merah pastel berisi sup seafood dan satu porsi nasi putih serta satu gelas air putih hangat.


Gadis itu ada didepan kedai dan menyantap sup yang ia pesan yang diantar oleh karyawan kedai tersebut.


Dan harus cepat menghabiskan makanan buatan ibunya itu, dia harus latihan bela diri lagi ditempat latihan seperti biasa.


Gadis itu tak menatap atau melirik Dan sama sekali padahal sedari tadi mereka saling berhadapan langsung.


Dan pergi dan gadis itu masih disana.


Hari esoknya mereka bertemu disana kembali untuk makan siang ditempat yang sama dan makanan yang sama.


Sepulang sekolah, Dan akan melihat gadis itu yang sama sekali tak peduli dengan keberadaannya hingga datang hari saat Dan tak ada disana. Dia sudah diterima disebuah universitas. Dia sudah tidak tinggal disekitar gadis itu tinggal.


Untuk pertama kalinya gadis ini melihat kursi tempat Dan sudah tak ada disana. Seakan merasa sesuatu telah pergi jauh dan ia tidak tahu apakah bisa bertemu kembali.


"Apa dia tidak mengingat ku?" tanya Dan berbicara saat Flow sudah pergi.


"Gadis itu sedikit lucu" kata Dan terlihat senyum lalu kembali memperbaiki mesin mobil.


Flow B didalam taksi dan ia tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan, apakah benar Dan adalah siswa sekolah menengah atas yang pernah ia temui tempo dulu.


"Kau sudah bangun dari mimpi, jadi berpikirlah lebih jernih," Flow B berkata lebih realistis.


Di istirahat kedua di sekolah.


Red di kursi tempat ia duduk sekarang dia bersandar diatas mejanya menghadap kearah Sima yang saat ini juga melakukan hal yang sama dengan Red. Dengan arah saling berlawanan. Sima memberikan senyum pada Red dan gadis ini tetap datar tak peduli dengan siapapun yang ada didalam kelas, berangkat sekolah dan pulang dapat ilmu.


Red tak ingin berhubungan dengan orang yang bernama Sima.


Jun datang menghampiri Red.


"Kita tak bisa seakrab dulu?" tanya Jun.


"Aku sadar, aku bukan orang spesial" kata Red'


"Marahlah dan tetaplah menjadi teman terbaikku?" Kata Jun.


"Aku terlihat egois jika ingin menjadi yang terhebat diantara teman temanmu" kata Red.


Jun pergi dari sisi Red berada sekarang.


Red Kembali, melihat wajah Sima yang penuh kebahagiaan di semua rencana keberhasilan yang dimenangkan olehnya. Itu yang dipikir oleh Sima. Tidak dengan Red.


Pulang sekolah.


Jun tak peduli dengan Sima yang berusaha menempel padanya. Dia Jun tak bisa mau kehilangan Red.


Jun menghampiri Red yang sedang membereskan buku bukunya dari atas meja untuk dimasukkan kedalam tasnya.


"Ayo kita pulang bareng?" tanya Jun.


"Kau tak bisa meninggalkan temanmu semua demi aku" kata Red.


Sima mendekat kepada Jun.


"Kita pulang yuk!" kata Sima.


Jun tak menghiraukan Sima yang ia pedulikan adalah bagaimana ia bisa berteman lagi dengan Red.


Sima mulai memperlihatkan sifat emosionalnya.


"Red, maafkan aku. Ok?" tanya Jun.


Kalimat itu terdengar oleh Jimmy dan yang lainnya.


Red tak begitu ingin memakan situasi yang masih panas saat ini.


Sekali lagi, Sima mengajak pulang bareng.


"Dia tak mau pulang denganmu, denganku saja" kata Sima.


Didepan mata teman teman mereka, Jun lebih mengejar Red ketimbang meladeni Sima yang mengajaknya pulang bersama.

__ADS_1


Red pergi dari kelas.


__ADS_2