Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 99: Bisakah kamu kembali.


__ADS_3

Chapter 99: Bisakah kamu kembali.


 Tanda gambar api di pergelangan tangan seseorang kembali muncul dari seorang gadis berambut panjang memakai seragam abu abu sekolah menengah atas dan celana olahraga hitam miliknya lalu menghilang terbawa oleh angin seperti api yang memudar begitu saja di udara.


 Dia terlihat dari langkah cepat memasukkan bola basket ke dalam keranjang yang ada diatas ring.


 Istirahat pertama sekolah kali ini tidak hujan seperti hari kemarin.


 Wren melempar minuman soda kepada Jun.


 Jun segera menangkapnya.


"Terimakasih" kata Jun.


"Terimakasih sudah membeli produk ini" kata Jun.


 Wren duduk disebelah kiri Jun.


"Aku lupa itu perusahaan milik mu" kata Jun.


"Kau selalu merendah" kata Wren.


"Itu satu yang tidak aku tahu kan?" tanya Jun.


"Sudahlah kita sedang di sekolah" kata Wren.


 Jun kembali terdiam disana menatap seluruh lapangan sekolah.


 Menatap langit lagi.


 Berulang lagi.


"Aku boleh bertanya dengan mu?" tanya Jun.


"Tanya saja" kata Wren.


"Bagaimana perasaan mu jika kehilangan orang yang kamu sayang?" tanya Jun.


"Sedih dan sibuk" kata Wren.


"Kenapa harus sibuk?" tanya Jun.


"Kita akan meluapkan segalanya dengan kesibukan yang kita kerjakan" kata Wren.


"Hal apa yang membuat mu sedih?" tanya Jun.


"Jika Red sedih" kata Wren.


"Kau terang terangan ingin menjadi rival ku" kata Jun.


"Mungkin aku hanya second male  lead" kata Wren.


 Jun kali ini bertanya lagi, kenapa dengan kakaknya sudah berulang kali datang ke sekolahnya seperti pada pagi ini.


 Dia dengan mudah menemui gadis yang ia sukai.


 Jax terlihat mengusap kepala Red seperti dia sedang berbicara kepada adiknya sendiri.


"Sepertinya aku cemburu dengan gadis itu" kata Jun.


 Wren meminum air soda lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Jun.


"Jika kau cemburu kenapa tidak menghampirinya?" tanya Wren.


"Dia akan mengirim banyak uang lagi. Itu terlalu baik" kata Jun.


 Satu notifikasi muncul dari layar ponsel milik Jun.


 Jun memeriksanya.


"Lihat baru aku bilang. Dia langsung mengirimi ku uang lagi" kata Jun.


 Jax masih bersama dengan Red melambaikan tangannya kepada Jun.


 Adiknya terlihat terpaksa melambaikan tangannya kepada Kakaknya saat ini. Namun, Wren membantu Jun agar terlihat lebih natural membalas perbuatan kakaknya itu. Dia mengangkat tangan Jun lebih ke atas lagi.


"Kau membuatku tidak bisa berbohong" kata Jun.


"Kau tidak lihat banyak orang melihat mu. Sekarang, kau artis ku" kata Wren.


 Jun tersenyum sesuai saran temannya.


"Ini memang luar biasa" kata Jun.


"Dunia bisnis memang seperti ini" kata Wren.


 Jax selesai menyapa adiknya dia melanjutkan mengobrol sebentar dengan Red sambil perjalanan menuju ke tempat parkir sekolah.


"Dia terlihat sekali sedang berakting" kata Jax.


"Benarkah. Aku kira dia benar benar melakukan itu" kata Red.


"Jika tidak berakting dia akan lebih dari tadi" kata Jax.


"Kau memang kakaknya" kata Red.


 Gadis yang sedang Jun awasi telah pergi dari lapangan basket.


 Dia melihat ke arah Jun dan Wren yang sedang melihat ke arah Jax.


 Dia bersama bergabung dengan  teman temannya yang lain.


"Kau mengantar ku sampai disini saja" kata Jax.


"Ok" kata Red.


 Red mengantar Jax hampir di depan tempat parkir sekolah.


 Mereka berdua berpisah disana.


 Red ditarik oleh Sima.


 Keduanya ada disamping ruang komputer.


 Belum ingin banyak bicara untuk Red sedangkan untuk Sima dia sudah terlihat banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang ingin ia gunakan untuk menyerang teman satu kelasnya itu.


 Ada rasa kecewa yang berusaha Sima sembunyikan disini.


 Red bisa membaca ekspresi wajah Sima.


"Kau tidak ingin bicara, aku akan pergi" kata Red.


 Sima belum melepaskan lengan gadis di depannya.


"Lepaskan!" kata Red.


 Sima melepas lengan Red.


 Tanda gambar api muncul dan hilang dengan cepat di pergelangan tangan Sima.


 Red melihat gambar itu.


 Dalam hatinya berbicara.


"Itu?" tanya Red terkejut.


"Apa dia?" tanya Bling.


 Kali ini raga Red dikendalikan oleh Bling.


"Kenapa kau marah ketika dia menemui ku?" tanya Bling.


"Karena kau tidak setara dengannya. Paham!" kata Sima.


"Kamu ingin apa. Apa aku harus mengambil Jimmy dari mu atau Jax?" tanya Red.


"Kau!" kata Sima.


"Tidak bisa jawab kan" kata Bling.


 Bling pergi meninggalkan Sima yang marah besar akibat pertanyaan dari gadis itu.


 Red bertemu dengan Jimmy.


"Kau urus pacar mu itu!" kata Sima.

__ADS_1


 Jimmy berhenti dari jalannya mendengar Red yang berbicara dengannya. Kemudian, Red pergi dari Jimmy yang merasa dirinya tidak bersalah.


"Mengapa aku harus terjebak dalam situasi ini?" tanya Jimmy.


 Jimmy tidak jadi pergi ke arah dimana Red berasal pergi melewatinya barusan.


 Dia pergi mengambil arah jalan yang berbeda.


"Itu semua bukan urusan ku tapi urusan mereka" kata Jimmy.


 Red sudah terbiasa jika Sima marah maka energi negatif itu muncul kembali di diri Sima yang juga berdampak kepada Red. Dia mulai terbiasa dengan rasa sakit itu.


 Di depan kantin sekolah bertemu.


 Jun baru keluar dari tempat itu dan kebetulan Red akan duduk disana.


"Kau tidak mencari ku?" tanya Jun.


"Tidak" kata Bling.


 Kali ini raga Red masih dikendalikan oleh Bling.


 Bling membagi permen loliop kepada Jun.


"Ini untuk Doe" kata Bling.


"Terimakasih" kata Jun.


 Jun membuka bungkus permen dari Bling untuk Doe.


 Di depan kantin sekolah.


 Saling menatap.


"Oh itu kau rupanya" kata Jun.


"Ya" kata Bling.


 Melihat siswa siswa lain sedang bermain tenis lapangan.


 Kantin sekolah sedang ramai siswa siswa  disana.


"Kemarin siang kau menggunakan teleportasi lagi?" tanya Bling.


"Kau mencari ku?" tanya Jun.


"emmmm begitulah" kata Bling.


 Sesuatu bergejolak muncul diantara mereka berdua.


"Ini bukan waktunya untuk menjalin kasih. Ceritakan apa yang terjadi kemarin!" kata Doe.


 Red memilih untuk tetap mendengarkan mereka lebih dulu berbicara.


"Kemarin aku pergi mencari Kak Flow di sekitar kantor tempat ia bekerja. Dia tidak ku temukan" kata Jun.


"Kenapa kau baru cerita sekarang?" tanya Bling.


"Aku melihat energi cahaya putih  keluar dari  atas toko buku" kata Jun.


"Maksudmu?" tanya Bling.


"Itu belum pasti. Kau jangan sedih dulu" kata Jun.


"Tapi dia kakakku" kata Bling.


 Bling meninggalkan Jun sendiri yang ada didepan kantin sekolah.


 Pagi sebelum berangkat sekolah.


 Hantu yang Red sandera terus menatap ke arah Red yang sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.


"Apa kau tahu sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Bling.


"Aku?" tanya Si Hantu pada dirinya sendiri.


"Katakan saja" kata Bling.


"Rupanya kau hantu anak buah Presdir Ma" kata Si Hantu.


"Katakan saja. Apa yang sedang kau sembunyikan?" tanya Bling.


 Darah keluar dari telapak tangan hantu tersebut.


"Ini cara mu bernegosiasi?" tanya Si Hantu.


 Bling melepaskan ujung jarinya dari telapak tangan hantu tersebut.


 Hantu itu mengeluarkan mata emasnya dan menyegel kamar asrama sekolah yang di tempati oleh Red dan Jamie.


"Gunakan saja tubuh pengganti mu. Itu jauh lebih baik" kata Si Hantu.


"Kau bisa melakukan ini tapi tidak bisa melepaskan diri" kata Bling.


"Ini tugasku" kata Si Hantu.


 Red menggunakan tubuh pengganti dan mengirim secara teleportasi keluar dari kamar asrama sekolah wanita.


"Siapa yang mengirim mu?" tanya Red.


"Belum saatnya aku memberitahu mu" kata Si Hantu.


 Red ada didalam kamar asrama sekolah tidak bisa keluar dari sana.


 Masih istirahat sekolah Ben dan Marid serta dibelakang mereka ada Wren yang asik dengan ponselnya.


 Berpapasan dengan Bling yang menggunakan tubuh pengganti milik Red.


"Kita baru akan pergi ke kantin. Kau sudah akan pergi?" tanya Ben.


"Aku mau menemui temanku" kata Bling.


 Seseorang berjarak dua puluh langkah dari Red sudah menunggu dan melihat Red bersama teman temannya.


"Dia sudah menunggu mu" kata Ben.


 Jamie menunggu Red dari jarak itu.


 Ben membiarkan gadis itu pergi.


 Ben dan kedua temannya pergi menemui Jun.


 


 Dalam perjalanan ke depan kantin sekolah.


"Malam ini aku menginap dirumah mu lagi" kata Marid.


"Kau kan punya rumah kenapa harus dirumahku terus?" tanya Ben.


"Tak boleh?" tanya Wren.


"Kau juga sama saja" kata Ben.


"Dirumahku tidak ada orang" kata Wren.


"Kau anggap apa semua asisten mu" kata Ben.


"Kita tidak boleh kerumah mu lagi?" tanya Marid.


"Ya tidak juga" kata Ben.


 Mereka bertiga datang didepan kantin sekolah. 


"Bagaimana kalau dirumah Jun?" tanya Ben.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jun.


"Menginap dirumah mu malam ini" kata Ben.


"Jangan jangan. Aku tidak ada dirumah" kata Jun.


"Lalu kau akan pergi kemana?" tanya Wren.


"Rumah Ben" kata Jun.

__ADS_1


 Ben langsung duduk di sebelah Jun sambil makan permen karet yang ia ambil di saku celananya.


 Semua tersenyum dengan kemenangan mereka lagi kali ini.


 Red menghubungi nomor ponsel milik Flow tapi tidak dijawab. 


 Dia belum menyerah, dia menelpon lagi nomor yang ia hubungi sebelumnya.


"Kantor polisi?" tanya Bling.


 Red tidak banyak bertanya lagi. Dia sudah mendapatkan informasi tentang Flow dari mereka.


"Ponselnya ada di kantor polisi" kata Bling.


 Dia melihat ke arah Jun yang juga masih melihat ke arah Bling.


 Mereka berdua saling menatap wajah masing masing dari kejauhan.


"Sudahlah. Ayo kita pergi" kata Jamie.


 Bling akan pergi dari sana ke ruang seni.


"Ayo kita pergi!" kata Jamie.


 Bling pergi bersama Jamie.


 Bel masuk ke kelas kurang lima menit. Red kembali bersama dengan Jamie akan masuk ke kelas mereka.


"Jamie bisa ikut ibu sebentar!" kata seorang guru wanita.


"Kamu pergi dulu ke kelas. Aku harus pergi ke ruang guru sebentar" kata Jamie.


"Ok!" kata Bling.


 Setelah melewati ruang guru Bling berjalan melewati koridor sekolah menuju tangga yang mengarahkan dia pergi ke kelas.


 Mendung lagi.


 Hujan.


 Siswa siswi berlarian pergi menuju ke tempat lebih aman untuk berteduh dari guyuran hujan.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Bling.


"Dia?" tanya Bling.


 Dia melihat seseorang yang ia kenal sedang berlari dari lapangan sekolah.


"Energi itu sama seperti ... " kata Bling.


"Cepat kita ke kelas!" kata Marid.


 Bling dan Marid pergi ke tangga menuju kelas mereka.


 Di depan kelas sepuluh dekat dengan anak tangga menuju ke kelasnya.


 Jun belum pergi ke kelas dia sedang menunggu seseorang.


 Dia membaca beberapa artikel disaat ia berdiri disana bersandar di dinding kelas.


 Siswa dan siswi lain yang merupakan para juniornya melihat dari dalam kelas mereka menyadari bahwa itu adalah kakak kelas mereka. Jun.


 Jamie sedang membawa beberapa buku dari ruang guru menuju ke arah Jun.


 Jun kemudian segera mendekat kepada Jamie.


"Berikan sebagian padaku" kata Jun.


 Jun mengambil sebagian lebih buku yang Jamie bawa untuk ia bawa menuju ke kelas.


 Jamie merasa ada hal yang tidak biasa.


"Apa aku masih berhutang padamu. Kemarin aku sudah membayar hutang ku?" tanya Jamie.


"Kenapa isi kepala mu selalu itu?" tanya Jun.


"Karena kita tak pernah seakrab ini" kata Jamie.


"Kalau begitu sekarang kita bisa lebih akrab kan?" tanya Jun.


 Jun pergi lebih awal dari Jamie untuk menaiki tangga menuju ke kelas.


 Jamie masih di bawah tangga melihat Jun menaiki anak tangga.


 Jun berhenti menaiki anak tangga lalu berbalik menghadap ke arah Jamie.


"Kau akan terlambat masuk kelas" kata Jun.


 Jun melanjutkan langkah kakinya melewati anak tangga.


 Jamie akhirnya pergi mengikuti Jun yang sudah ada di depannya itu.


"Tunggu!" kata Jamie.


"Cepat!" kata Jun.


 Hantu yang ada didalam diri Jun sekarang sedang membaca apa yang sedang Jun lakukan.


"Apa kau sedang merencanakan sesuatu?" tanya Doe.


 Jun tidak menjawab pertanyaan dari hantu ini.


 Sekali lagi hantu ini bertanya.


"Jun?" tanya Doe.


"Hey bocah. Kau anggap aku ini apa, pajangan!" kata Doe.


 Jun lebih fokus mengajak bicara gadis yang ada disisi kirinya. Sedangkan untuk Doe sekali lagi ia acuh kan.


 Jimmy ada di kelas sedang membaca sebuah komik duduk di kursi miliknya tidak sengaja melihat ke arah luar ruang kelas.


"Mungkin dia sedang menolong seseorang. Mungkin" kata Jimmy.


 Dia melihat Jun sedang akrab dengan gadis lain selain Red.


 Jamie tidak lantas menerima kebaikan dari Jun dengan mudahnya percaya begitu saja.


"Mengapa dia baik padaku?" tanya Jamie.


"Untuk apa dia baik padaku?" tanya Jamie.


"Kenapa jalan pikir ku selalu negatif jika bersama dengan orang lain?" tanya Jamie.


 Jun sudah didepan kelas Jamie.


"Kau tidak melamun kan?" tanya Jun.


 Dia langsung masuk kedalam kelas Jamie.


 Kelas tiba tiba hening melihat kedatangan Jun di kelas Jamie.


 Wren timbul pertanyaan setelah melihat temannya datang ke kelasnya bersama dengan Jamie.


 Jun menaruh buku yang ia bawa diatas meja tugas guru di kelas Jamie lalu segera pergi ke kelas ia sendiri.


 Bel masuk ke kelas berbunyi tepat Jun keluar dari dalam kelas Jamie.


 


 Siang disaat Flow belum pergi.


 Dari sebuah roof top sebuah gedung Radan melihat sendiri sebuah cahaya menembus langit.


 Dia tak bisa menghentikan air matanya.


 Dia juga tak bisa berkata kata lagi.


 Dia melihatnya sendiri.


 Dia telah pergi.


"Kau sungguh telah pergi" kata Radan.


"Bukankah ini terlalu cepat" kata Radan.

__ADS_1


"Aku tahu kau pasti akan pergi tapi kenapa secepat ini?" tanya Radan.


 Cahaya yang menembus langit itu kian menghilang dan tidak terlihat lagi.


__ADS_2