Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 115: Sweet Night.


__ADS_3

Chapter 115: Sweet Night.


 Mereka Bertiga sedang dalam situasi disekitar mereka yang sangat sibuk kesana kemari dengan berbagai urusan dalam peragaan busana sore menjelang awal malam ini.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya seorang pria Asisten Pribadi desainer pembuat acara ini.


 Perkelahian tak jadi terjadi diantara ketiga remaja laki laki ini.


 Semua bergegas pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian karena beberapa menit lagi acara akan dimulai.


 Lampu lampu terang disana semua staf sedang sibuk sibuknya dengan acara ini sebagian model sudah menunggu waktu acara dimulai disana berbaris Ben juga ada disana.


 Red melihat ke arah Ben.


 Red tepat berada dibelakang seorang model perempuan tepat disebelah kanan Ben, gadis ini melihat Ben terlihat sedikit gugup dalam menit menit ini.


"Dia sangat berbakat. Dia hanya harus lebih percaya diri" kata Red.


 Menggenggam kedua tangannya sendiri disaat melihat Ben dalam keadaan ini.


 Acara sudah dimulai satu persatu model maju kedepan bergantian untuk berpose di luar ruangan ini didepan para tamu dan kamera serta reporter dalam bidang kecantikan mulai bertugas menjalankan tugas mereka.


 Jepretan kamera sudah terlihat dari arah Ben, Red melihat itu.


 Ben pergi berjalan diatas panggung catwalk kemudian Red kemudian setelah model di depannya saat ini.


 Lampu terang berpadu musik menyatu dengan riuh tepuk tangan orang orang didepan mereka kamera kamera terus mengambil gambar para model.


 Gadis ini juga berusaha tampil berjalan dengan sebaik mungkin di hadapan orang orang yang sedang memperhatikan semua model dalam peragaan busana ini.


 Red berpapasan dengan Ben.


"No!" kata Red.


 Sepatu highheels milik Red terlalu tinggi dan membuatnya akan terjatuh.


 Ben menangkap Red yang akan terjatuh.


 Terjadi saling pandang diantara mereka.


 Ekspresi wajah kedua remaja ini bukan seperti sebuah falling in love tapi seakan tampak biasa saja.


 Suara tepuk tangan untuk Ben melakukan ini terdengar ramai di gedung itu.


 Kamera kamera dari para reporter terus memfoto kedua remaja ini.


 Ben membantu Red berjalan bersama seperti sebuah peragaan busana bertema romansa anak muda keduanya nampak sangat serasi melanjutkan memperagakan busana yang mereka kenakan.


 Remaja ini memberi kesan bahwa dia adalah pria pelindung yang baik hati kepada pacarnya dan itu mereka anggap adalah Red.


 Sekali lagi mereka memberi respon positif dengan kejadian ini.


 Berjalan sampai paling depan panggung mereka berakting benar benar sangat natural seperti kisah cinta anak muda yang manis kemudian berbalik kembali berjalan kembali menuju ke belakang panggung keduanya masih saling bergandengan tangan kembali dengan mesra dan sesekali saling menatap dan melempar senyum.


 Di belakang panggung.


 Disebuah kursi Red duduk disana Ben mengambil bantal kecil di sebelah kursi yang tersedia untuk staf istirahat yang tidak jauh dari tempat Red duduk saat ini kepada gadis ini.


  Red menaruh bantal itu diatas kaki atas bagian lutut.


 Orang orang yang ada disana melihat ini.


 Ben memeriksa kaki kiri Red dengan teliti.


"Kaki mu tidak apa apa tidak ada yang sakit kan?" tanya Ben.


"Tidak. Cuma sakit sebentar, aku masih bisa menggerakkan kaki kiri ku" kata Red.


"Sudahlah. Aku tidak apa apa" kata Red.


 Red berusaha untuk berdiri lagi dan berjalan seperti semula.


"Lihat. Aku sudah baik baik saja" kata Red.


"Baiklah. Ayo kita lanjutkan pekerjaan ini" kata Red.


 Red berjalan agak cepat untuk berganti pakaian pergi ke ruang ganti memakai pakaian selanjutnya yang harus ia kenakan dan diperagakan di panggung depan lagi yang masih berlangsung.


 Ben juga pergi diruang ganti untuk berganti memakai desain yang lain yang harus ia pakai.


 Staf staf yang ada disana yang tadi melihat Ben dan Red sudah mulai melanjutkan tugas mereka lagi.


 Acara berlangsung selama satu jam.


 Perjalanan pulang menuju halte bus bertiga Red dan Ben juga Bodyguard Perempuan Jimmy.


 Jalanan di sekitar ramai dengan orang orang yang juga dalam perjalanan pulang dari kerja kedai kedai sudah buka sejak sore tadi toko toko di jalan yang mereka lewati juga sudah buka dengan lampu lampu terang berwarna warni di setiap atas papan nama toko mereka dengan konsep kafe dan toko yang mereka rancang semua nampak kental seperti pemandangan sebuah kota besar pada umumnya.


 Menunggu bus.


 Waktu terus berjalan Bodyguard Perempuan Jimmy sedang melihat arah jarum jam di pergelangan tangan kiri berwarna silver. Kemudian, kembali mengawasi lingkungan sekitar dimana sekarang bertugas.


 Musik musik didalam kafe dan toko toko di sekitar mereka menyala dan terdengar jelas musik retro yang diputar di kafe dibelakang tempat mereka bertiga sedang menunggu bus datang.


 Dia mudah datang dan pergi dengan menyimpan rencana yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. 


 Dia berputar lagi pergi dengan awan gelap berkabut pergi menjauh terbang menerobos arah jalan raya yang berjalan dua arah saling berlawanan menjauh dari Red dan Ben juga Bodyguard Perempuan Jimmy.


"Arrrrgggggghhhhhhhh!" 


 Jun sedang merasakan rasa sakit yang amat sakit di kepalanya tanpa sebuah sebab dan suara itu datang lagi disaat ini.


 Kabut tebal itu ada diatas Red dengan cepat turun akan menyerang Red.

__ADS_1


 Bus datang pintu bus terbuka otomatis lalu gadis itu langsung masuk kedalam sana.


 Kabut tebal itu tiba tiba berhenti.


 Dia hampir saja mencelakakan Red segera dia berhenti dari tindakan buruk itu.


 Justru malah Ben yang akan ia serang.


 Kembali terbang meninggi menjauh dari Ben.


 Melihat Bodyguard Perempuan Jimmy dia segera kembali dan Ben langsung menunggu Bodyguard Perempuan Jimmy didepan pintu.


 Kabut tebal itu menjauh lagi.


 Dia dalam mode tidak dapat dilihat oleh siapapun ada diluar bus pintu bus kembali tertutup otomatis dan bus bergerak mulai pergi ke arah tujuan trayek yang sudah menjadi batas tempat berhenti beroperasi malam ini.


 Jun ada di bawah gedung dia baru saja berlari dari lokasi syuting drama pertamanya waktu itu melanjutkan lagi syuting drama yang bertema keluarga.


 Melihat langit di antara gedung gedung tinggi disetiap sisi ia berdiri disana memegang kepalanya sendiri dengan tangan kirinya.


 Layar cerita ini terhapus dan berganti ditempat lain lagi.


 Sebuah jarum suntik baru ia buka penutupnya segera ia suntikan di lehernya sendiri menyuntikkan isi cairan berwarna putih menyala.


 Obat didalam suntikan itu telah habis dia menutup lagi dengan penutupnya dan memasukkan kedalam saku tas hitam yang melingkar di bagian perut.


 Energi yang ia miliki sudah selesai ia stabil kan lagi.


 Dia sedang terus mengejar lagi makhluk yang kemarin malam menyerangnya bertubi tubi.


 Baru saja ia menemukan dan kini dia menghilang lagi.


 Lagu berganti berputar berganti dari kafe di belakang tempat perhentian bus itu menjadi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi wanita. Sebuah lagu jazz terdengar diputar didalam kafe bertema cokelat.


 Sniper itu melihat lagi seluruh arah mata angin dari atas jalan kota yang berjarak dua puluh meter.


 Berpindah lagi jauh lebih jauh dia sudah diatas sebuah bukit dekat kota melihat pemandangan kota di malam ini dan dia tetap mencari apa yang ia cari.


 


 Dari dalam bus mereka berdua sedang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk dalam perjalanan pulang melihat teman mereka sedang bersama dengan seorang gadis.


  Sedang menunggu lampu merah.


 Masih dengan masker yang mereka pakai dalam lampu terang didalam bus melambaikan tangan kepada driver motor sport di sebelah kiri bus yang mereka naiki.


 Driver dan gadis yang ada dibelakang Marid merasa tidak kenal dengan dua orang yang sedang menyapa mereka.


"Dia tetap pura pura tak mengenal kita" kata Red.


"Hanya ingin tidak menyakiti kedua gadis" kata Ben.


"Aku?" tanya Red.


"Aku ingat disaat aku makan bersama Ran waktu itu" kata Red.


"Ternyata dia tidak berbohong padaku" kata Ben.


"Berbohong?" tanya Red.


"Awal kalian bisa saling mengenal" kata Ben.


 Lampu berubah menjadi berwarna kuning semua kendaraan yang baru saja berhenti kembali bergerak melanjutkan perjalanan.


"Tiba tiba bernostalgia" kata Red.


"Ini juga akan menjadi kenangan" kata Ben.


"Jimmy sedari tadi menghubungi ku tapi aku hanya membalas pesan" kata Ben.


"Dia akan baik baik saja" kata Red.


"Jika aku bilang aku baik baik saja" kata Red.


"Wahhh . Anak itu!" kata Ben.


"Sungguh!" kata Ben.


"Kalian jelas sekali masih menjadi musuh" kata Red.


"Ya" kata Ben.


 Melihat ke arah bodyguard perempuan Jimmy.


 Datar ekspresi wajah wanita itu kepada Red dan Ben.


 Red mengeluarkan satu kotak permen karet dari saku jaket jeans biru miliknya.


"Ini apa?" tanya Bodyguard perempuan itu.


"Permen karet" kata Red.


"Untuk apa?" tanya Bodyguard perempuan itu.


"Hanya untuk kakak saja" kata Red.


"Oh ya. Dia sudah tahu kalau kami berdua belum berdamai" kata Ben.


"Ini juga untuk mu" kata Red.


 Satu kotak lagi permen karet dari saku jaket jeans Red rasa stroberi untuk Ben.


"Aku harus menerima ini kan?" tanya Ben.

__ADS_1


"Hey. Aku hanya beli banyak tadi" kata Red.


 Ben menerima permen karet dari Red dan memasukkan itu kedalam jaket hitam jeans yang ia pakai.


"Besok aku akan menjenguk Jimmy. Kau mau ikut?" tanya Red.


"Tidak mungkin. Kita bisa berkelahi" kata Ben.


"Aku akan pergi sendiri" kata Ben.


"Aku tahu siapa temanku yang lain. Wren" kata Red.


"Aku akan menjenguknya lagi" kata Ben.


"Bagaimana dengan Jun hari ini?" tanya Ben.


"Tadi aku mengirim pesan padanya dan dia masih bekerja" kata Red.


"Dia juga menanyakan mu" kata Red. 


"Dia bilang apa?" tanya Ben.


"Mau pulang ke rumahmu" kata Red.


"Sama juga dengan Marid dan Good" kata Ben.


"Bersyukurlah punya teman baik juga rezeki" kata Red.


"Ya" kata Ben.


 Tiba tiba suara datang dari sebelah kiri mereka.


"Bisa tidak pelan kan suara kalian!" kata seorang laki laki dengan koyo di kedua sisi pelipis kepalanya.


"Kami minta maaf" kata Ben dan Red hampir berkata bersamaan.


 Menjadi hening dan musik rock di setel keras didalam bus dari suara radio yang dinyalakan oleh driver bus itu.


 Red dan Ben melirik pria yang tadi berbicara kepada mereka.


 Dia terlihat menikmati musik dengan senang hati. Mau marah gimana masa harus mengajak orang tua berkelahi dan lagi ini masih termasuk tempat umum juga.


 Mata biru Red makin menyala di situasi ini.


"Kamu mau apa?" tanya Ben.


 Mata biru milik Red mulai redup dan tertahan untuk menyerang orang yang baru saja memarahi mereka berdua didepan umum.


 Ben melihat mata kiri Red.


"Pakai ini" kata Ben.


  Darah keluar dari kiri mata Red tanpa rasa sakit dia bahkan tak menyadari hal ini disaat Ben mengatakan hal ini.


 Bus bergerak berhenti sejenak untuk menurunkan beberapa penumpang dan naik lagi beberapa orang ada disana didalam bus itu.


 Red ataupun Ben tidak mengambil kursi kosong yang ada disebelah kanan mereka.


 Disana ada seorang hantu yang terlihat lebih membutuhkan ketimbang mereka berdua.


 Hantu wanita itu melihat Ben kemudian juga Red.


 Seperti baru pertama kali bertemu itulah yang terjadi pada Red dan Ben melihat hantu didepan mereka setelah itu hantu itu mengalihkan perhatian melihat ke arah luar jendela bus yang sudah berjalan lagi.


 Tidak mungkin berbisik berdua di antara keduanya setelah hantu itu terlihat seperti bukan hantu dengan energi jahat bahkan hantu wanita itu hanya memiliki dua persen tingkat energi jahat yang ia miliki.


 Red sedang melacak dengan mata biru yang ia miliki.


 Tak ada keanehan dari hantu yang ia lihat itu.


 Bus berhenti dan kedua remaja ini serta bodyguard perempuan Jimmy akan ikut turun dari bus lalu sesuatu terjadi kepada Red ada didepan Ben lalu langkahnya terhenti sejenak.


"Jadi turun?" tanya driver bus.


"Tidak" kata Red.


 Ben langsung dilewati oleh Red yang berjalan kembali masuk kedalam bus setelah tadi berada didepan pintu bus yang sudah terbuka.


 Dia langsung menelepon Jimmy.


 Jimmy mengangkat panggilan telepon dari pacarnya.


"Red" kata Jimmy.


 Red belum menjawab panggilan dari Jimmy.


 Dia terlihat sedang menahan segala luapan dari dalam hatinya. Ben melihat kondisi ini dan merasa bahwa seseorang sedang ingin menyimpan semuanya hanya untuk dirinya sendiri bahkan untuk orang yang sedang dia ajak bicara. Itulah yang Ben tangkap dalam kondisi yang ia rasakan dari apa yang ditunjukan oleh gadis remaja sahabatnya.


 Dia melihat ke arah luar bus dan berpikir tentang sesuatu yang Red lihat tadi hanya mencoba menebak tak bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya telah terjadi menjadikan seseorang berubah dalam waktu yang sangat singkat ini.


 Dia masih dengan besi yang tersedia didalam bus diatasnya sebagai alat untuk menyeimbangkan diri disaat berdiri didalam bus karena tidak mendapatkan tempat duduk di dalam bus.


"Apa sesedih itu?" tanya Ben dalam pikiran.


"Aku baru melihat ini" kata Ben.


"Dan rupanya orang yang sedang di hubungi lewat ponsel itu jauh lebih tahu dari kami sahabatnya" kata Ben.


 Terlihat kebingungan juga bercampur rasa sedih itulah mata Red yang sedang menceritakan segalanya berkaca kaca dan dia terlihat takut akan sesuatu dan dia tak bisa berkata bercerita tentang memori yang membuatnya seperti ini.


 Menghapus air mata yang jatuh dengan telapak tangan kanan yang juga masih ada ponsel yang ia genggam. Tangan kirinya masih dengan alat yang menempel diatas langit bus sebagai penyeimbang tubuh agar tidak jatuh berdiri didalam bus karena tidak mendapatkan tempat duduk disana didalam bus.


"Sudah. Aku disini, menangislah" kata Jimmy.

__ADS_1


__ADS_2