Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 121: Dia bukan dia?.


__ADS_3

Chapter 121: Dia bukan dia?.


 Sulit untuk bernapas, iya.


 Makin waktu bertambah mereka makin terkurung kekurangan oksigen untuk paru paru mereka tercekik didalam sana. Ingin meminta bantuan kepada siapa, keringat bercucuran beriringan dengan rasa panas yang membakar panas makin menyusup ke seluruh tulang mereka.


  Kabut hitam tebal itu benar benar menangkap mereka memutar menyeluruh mengikat kuat tak mengizinkan orang orang didalam bisa keluar keluar dengan mudah.


 Sebuah udara yang mengikat kemudian mengeras seperti menjadi tanah makin mengeras makin mengeras terlihat mengeluarkan asap panas dari makhluk misterus yang sedang menangkap mereka hidup hidup.


 Jimmy sedang menahan tekanan dari kekuatan energi di luar energi pelindung yang ia buat sedangkan untuk Ben di tangannya mengalir sebuah energi seperti air mengalir menekan kekuatan energi gelap ini menjaga ketiganya untuk bisa masih bernapas didalam ruangan pelindung yang mulai terang oleh runtuhnya energi gelap akibat dari penyatuan energi yang di miliki oleh Jimmy dan juga Ben yang ia salurkan melalu pundak Marid.


 Retakan retakan mulai terlihat di luar benda berbentuk bola besar yang didalamnya terdapat tiga remaja laki laki yang sedang berjuang bertahan hidup.


 Api biru keluar dari retakan retakan energi gelap yang berasal dari energi yang di miliki oleh Jimmy kemudian air juga mulai keluar dari sela sela benda yang makin mengeras mengikat mereka melunakkan energi gelap yang terus bergerak  mematikan mereka secara perlahan.


"Krekrekkrekkrekkrekkrekkrek"


 Energi gelap itu makin retak menyebar oleh tekanan yang ditimbulkan oleh energi yang sedang berusaha untuk di hancurkan.


 Air makin deras mengalir memutar menyebar di tiap tiap sela retakan itu kemudian menjadikan energi gelap itu makin tidak bisa menekan mereka mencair dan mencair hingga menjadi uap gelap tebal lagi.


 Tapi, ketiga orang didalam benteng pelindung disana belum bisa bernapas lega ini semua baru sebuah awal untuk mereka disambut di dimensi ini sebagai orang asing.


 Kabut asap itu mulai menguap di udara gelembung gelembung keluar dan pecah dengan sebagain dari mereka jatuh ke bawah diatas aspal jalan sunyi diantara hutan pepohonan tinggi besar dan tenang tanpa suatu angin yang menggerakkan ranting mereka.


 Ajaib dan semua yang terdengar hanya suara ketiga remaja laki laki yang ada didalam sana dalam teriakan permintaan tolong yang sudah berlalu semenjak empat puluh detik  yang lalu.


 Tubuh ketiga remaja ini mulai merasakan suhu tubuh mereka makin panas meninggi.


 Jimmy melihat keadaan makin kurang menguntungkan dalam level kekuatan yang makin menurun. Melihat ini juga dia berpikir bahwa tidak bagus untuk keselamatan nyawa mereka.


"Kau tidur?" tanya Jimmy.


"Itu efek dari energi yang ku salurkan padanya" kata Ben.


"itu seperti obat bius saja" kata Jimmy.


"Bisa dilihat kau disini yang sangat pelit dengan kekuatan mu!" kata Ben.


"Kita tidak akan mati bersama disini" kata Jimmy.


 


 Kabut asap berubah menjadi gumpalan api merambat menyeluruh ke seluruh bagian luar energi pelindung menjadi seperti lava yang siap melahap mereka.


"Cepat kerjakan tugasmu!" kata Ben.


 Cairan cairan lava mulai masuk berjatuhan kedalam energi pelindung milik Jimmy. 


 Tangan kanan Jimmy sedang mengeluarkan cahaya seperti kilatan petir sepanjang sepuluh sentimeter.


"Duggggggg!" 


 Energi gelap itu terbelah menjadi dua.


"Darrrrrrrrrrrrrrrrrr!"


  Lava lava itu meledak terbagi menjadi dua.  


 Pecah ke bagian kanan dan kiri menusuk tiap bagian batang pepohonan seperti benda tajam merah menyala seperti lava. 


 Hening.


 Marid terbangun.


 Satu detik, dua detik, tiga detik.


"Sttttttttttt!"


  Lava lava tertahan oleh Energi air milik Ben.


 Semua benda benda yang tadi menusuk batang batang disekitar mereka akibat lava yang di musnahkan oleh Jimmy kembali berbalik menyerang.


 Mata Marid  berkedip lagi.


 Berbicara dalam hati.


"Red?" kata Marid.


"Tidak mungkin" kata Marid.


 Tangannya menggerakkan sesuatu dan Marid mengikuti kemana arah tangannya sedang mengatur sesuatu. 


 Dia sedang mengatur lava lava yang membara tajam disamping kanan kiri mereka. 


 Lava lava itu mencair dan hancur di hancurkan oleh Ben terdorong kembalii ke arah bagian kanan dan kiri mereka hancur sebelum mengenai pepohonan.


 Lagi lagi hanya Marid yang bisa melihat hal seperti ini lagi dalam dimensi ini. Melihat Red.


"Bukan berarti aku bisa selamat dari tempat ini" kata Marid.


 Red berjalan mendekat ke arah Marid dan kedua temannya. 


 Marid melihat jejak langkah kaki yang menyisakan lava panas terlihat menguap dengan api yang berkobar.


 Marid bergerak mundur dan Red berjalan dua kali lebih cepat.


 Marid bergerak maju, Red memperlambat langkah kakinya.


"Mungkin seperti ini?" tanya Marid.


"Kau bicara apa?" tanya Ben.


 Red melangkah lebih cepat berpindah tempat dan satu tusukan belati hampir saja menyentuh wajah Jimmy.


 Energi biru milik Jimmy menahan belati milik Red dengan kilat petir biru ada di ujung benda beracun itu.


 Jimmy tak melihat apapun selain energi pelindung yang ia miliki sedang memberi respon dari serangan bahaya ini.


"Bergerak salah tidak bergerak apa lagi" kata Marid.


"Bukan waktunya untuk bercanda!" kata Jimmy.


 Red masih dengan niat yang tidak sesuai dengan keinginannya terus ingin melukai wajah Jimmy. 

__ADS_1


 Energi kabut hitam datang menyelimuti mereka dan masuk perlahan menyerap tubuh mereka. 


 Mata kanan Ben kembali menjadi memerah dan dia ingin membantu Jimmy tapi separuh hatinya ingin membiarkan hal ini terjadi pada kawan lamanya.


"Biarkan dia menjalani takdirnya sendiri" kata Ben dengan  jelas diucapkan didepan Jimmy.


 Jimmy jelas mendengar kata kata yang diucapkan oleh Ben.


 Marid sedang berpikir untuk lari dari kenyataan ini tapi hati nuraninya melarangnya. 


 Jemari tangan kiri Red terbuka mengarahkan energi birunya mengangkat bebatuan disekitar pepohonan bagian kirinya terangkat membiru dengan kilatan biru mengikuti kemana arah jemari tangan gadis ini berhenti dengan lembut mengarah ke arah ketiga remaja laki laki ini.


 Diam disana tak bisa bergerak ketiga tiganya bahkan untuk Marid.


 Bebatuan bebatuan dengan mudah melintas  melewati raga mereka dalam limit waktu sekejap. 


 Marid terjatuh tangan kanan  bertumpu diatas aspal tertunduk menatap ke bawah.


 Bebatuan itu berhasil menggores tiap bagian lengan remaja ini.


 Bagian tubuhnya yang lain juga tidak luput dari serangan Red.


 Marid menengadahkan wajahnya melihat kedua temannya. 


   Masih bertahan dengan serangan dari Red.


 Bebatuan itu masih terus menggores tubuh mereka lebih dalam lagi. 


 Red dengan belati yang masih menargetkan wajah Jimmy bertahan dengan apa yang sedang ia lakukan kepada teman temanya.


  Dia melihat ke arah Marid.


  Tersenyum dingin kepada Marid.


  Marid berjalan mundur.


  Senyumnya berubah menjadi lebih lembut.


"Apakah dia benar benar orang yang ku kenal?" tanya Marid.


 Ben melihat darah keluar tanpa sebab dari perut Marid dari luka perut yang tiba tiba muncul di bagian perut Marid.


  Belati itu menancap di perut Marid.


 Kemudian, melepaskan diri sendiri dan kembali ke tangan kanan Red.


 Ben tak melihat belati milik Red.


 Jimmy juga melihat apa yang terjadi kepada Marid.


 Bebatuan menyerang menembus bagian lain mencari tempat agar bisa melukai Jimmy.


  Pada akhirnya, dia ikut terluka juga sama seperti Ben.


  Ben tersadar.


  Matanya kembali normal.


 Dan bebatuan itu telah melintas dan melukai tubuhnya. Kedua lengan dan bahu serta dada terluka. 


  Marid menatap mata biru Red.


  Mata Marid berkedip.


  Red menghilang.


  Di rumah sakit.


 Radan sedang membaca buku menutup wajahnya disana menyembunyikan bahwa dirinya sedang berusaha keras menahan tekanan dari kekuatan yang ada didalam raga Sima.


 Sima sedang makan buah anggur merah sendirian didalam kamar. 


 Dia tidak tahu bahwa nyawanya sedang dalam bahaya dan berkaitan dengan ketiga nyawa remaja laki laki yang sedang bertahan hidup didalam dimensi itu. Karena disana ada Jimmy yang juga memiliki energi penawar dari mantra "Orang itu" yang sama sekarang di miliki oleh Sima dan menjadi obat untuk gadis ini.


 Radan sedang berusaha agar gadis ini tidak tidur setelah meminum obat tadi pagi yang ia konsumsi barusan karena hal ini bisa memperburuk level energi yang dimiliki oleh ketiga remaja itu yang belum keluar dari sana. 


 Kembali di dimensi tempat Marid dan Ben serta Jimmy ada disana.


 Dengan keadaan yang berdarah lengan dan depan serta belakang tubuhnya Jimmy datang mendekat ke arah Marid.


  Marid duduk diatas aspal.


"Kenapa luka ini terasa aneh?" tanya Marid.


  Ben sudah mulai bisa bergerak lagi.


  Dia juga mendatangi temannya itu.


"Bercanda lagi. Itu karena banyak darah keluar dari perutmu" kata Jimmy.


 Darah keluar dari luka kedua remaja di depan Marid.


"Kalian akan meninggalkanku disini?" tanya Marid.


 Ben sedang mengobati luka Marid menyalurkan energi yang ia miliki secara menyeluruh menyembuhkan luka luka itu.


 Ben berpikir bahwa luka yang didapat oleh Marid seperti luka yang didapat oleh seseorang. 


"Aku pernah mengobati luka yang sama seperti ini" kata Ben.


  Ben masih sedang mengobati Marid.


  Melihat Marid.


"Kau sama saja ingin membunuhnya!" kata Jimmy.


 Meski Jimmy tidak dalam bidang yang dimilki oleh Ben temannya itu dia sedikit paham dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ben.


"Katakan saja kau ingin bertanya apa?" tanya Marid.


 Ben menyeimbangkan kekuatan penyembuhnya lagi kepada Marid.


"Tadi siapa yang menyerangmu?" tanya Ben.


"Kenapa aku mendapatkan luka ini?" tanya Marid.

__ADS_1


"Sudah dia tidak mau diajak bicara" kata Ben.


  Ben masih menyeimbangkan kekuatan miliknya untuk Marid.


"Biarkan aku saja yang mengobati anak ini" kata Jimmy.


 Ben melihat Jimmy dengan tatapan seperti musuh.


"Apa yang kalian rahasiakan dariku?" tanya Marid.


"Kalian berdua dalam kondisi yang sama" kata Ben.


"Dia baik baik saja" kata Marid.


"Dia siap mati kapan saja" kata Ben.


  Jimmy menghitung level kekuatannya lagi. 


 Ben terlihat sedang dalam level sembilan puluh lima persen.


 Marid level delapan puluh persen dan Ben sedang menaikan level kekuatan milik Marid. 


 Dirinya masih naik turun antara delapan puluh dan tujuh puluh sembilan persen.


  Jimmy tersenyum bahagia dalam keadaan ini.


  Ben melihat ini.


"Pasti kau sedang memilki rencana aneh" kata Ben.


"Sudah" kata Ben kepada Marid.


 Jimmy melihat level kekuatan milik Ben turun di level sembilan puluh persen.


 


 Dia dengan setelan kaus tak berlengan berwarna  putih  dan celana hitam casual sepatu putih ada di tengah jalan dalam keadaan mendung awan mulai berdatangan sangat cepat menutup langit diatas.


 Dalam dimensi yang sama dengan ketiga remaja laki laki tadi yang baru saja bernapas sedikit dengan kondisi ini. 


 Dia datang masih dengan seragam sekolah menengah atas dan sepatu sport hitam tidak bertali dan kaus kaki putih potongan rambut sebahu lurus dengan poni depan dan dia adalah Red. 


 Tangan kanan keduanya siap dengan bebatuan yang dipenuhi energi biru kilatan mereka segera arahkan.


  Saling menyerang tentu iya.


 Gadis itu sedang dengan energi pelindung biru didepannya aktif disaat ia berjalan menuju ke arah Ran. 


 


  Ran berhenti.


 Tangannya sedang menahan Red agar berhenti tidak berjalan terus kearahnya. 


  Tubuhnya menghilang. 


  Ran mencari.


 Red datang dengan belati selesai menggores lengan atas kanannya.


  Darah keluar dari lengan Ran.


  Dia kembali lagi.


"Sekkkkkk!"


  Satu luka ia dapat kembali.


 Darah keluar dari leher Ran dan darah deras keluar dengan cepat pula dia menyembuhkan dirinya sendiri menutup lukanya dengan energi hijau yang keluar dari luka luka itu.


 Separuh matanya yang sebelah kanan telah aktif menjadi warna biru.


 Mata biru yang dimilki oleh Red berubah menjadi warna merah dan menghitam di bagian bola mata korena keduanya.


  


"Benar kau tidak ingat aku?" tanya Ran.


  Red tidak menjawab pertanyaan dari Ran.


 Ran belum berhenti memandang mata gadis ini yang mulai berubah menjadi membiru lagi. 


 Darah Ran yang menempel pada belati Red semakin menyebar dan menekan berusaha melumpuhkan energi yang menguasai gadis ini.


"Gregg" 


 Belati itu terbagi menjadi dua bagian. 


 Di lempar ke arah Ran. 


 Ran langsung berpindah tempat dibelakang Red menghindar dari belati beracun yang tadi di rusak sendiri oleh Red.


  Red mulai berhenti bergerak akan berbalik arah ke arah Ran. 


 Namun, dia lebih memilih menjauh dari Ran. 


 Racun dari darah Ran yang tadi sudah mulai datang menyebar dari jemari tangan Red kini menyebar menjalar di tiap otot jemari lengan ke atas lagi belum berhenti membuat tangannya seperti terbakar membuat kulitnya mengelupas sedkit demi sedikit.


  Dia memandang Ran.


  Ran memandang Red.


 Ran sedang melihat reaksi setelah apa yang ia lakukan kepada gadis ini.


 Luka itu semakin bernanah dan darah mengalir di setiap luka kulit yang mengelupas terbakar oleh racun Ran menetes di ujung jari jemari Red.


 Racun itu mulai menyebar ke arah lengan semakin ke atas bahu baju seragam putih mulai terlihat darah segar menembus bajunya. 


"Dia tak merasakan semua itu" kata Ran.


"Benarkah, dia adalah Red yang ku kenal" kata Ran.


 Luka yang ada di leher Ran sudah benar benar hilang energi hijau yang terlihat semakin menutup diri dan masuk kembali kedalam raganya begitu juga dengan luka yang ada didalam lengan kanan sudah sembuh lebih awal dari luka terakhir yang ia dapat.


 Luka itu kian menyebar menuju bahu atas Red dan gadis itu terus melihat ke arah Ran tanpa emosi.

__ADS_1


 Senyum yang sama dengan senyum bahagia milik gadis ini terlihat lagi oleh Ran. 


 Senyum yang sama dengan Marid dapat tadi.


__ADS_2