Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 112: Reflection of you.


__ADS_3

Chapter 112: Reflection of you.


 Disaat mulai masuk kedalam rumah Ben dan temannya Jun berbalik ke arah jendela yang akan ia tutup.


 Telapak tangan ia buka.


 Kristal kristal putih lembut keluar dari telapak tangan cepat menyebar menjalankan tugas membagi disetiap sisi luar rumah Ben sebagai dinding pelindung.


"Ini tugas mu" kata Jun.


 Ben menutup pintu jendela kamarnya sendiri.


"Seharian, aku tidak bisa menghubungi Red dan Jun" kata Good.


"Apa kalian sudah lupa dengan kami?" tanya Marid.


"Jika kau mau, aku akan bilang Paman ku untuk merekomendasikan mu" kata Jun.


"Tidak!" kata Marid.


 Ben memakan kulit ayam goreng crispy.


"Atau Mau seperti Ben. Dia sudah  mengirim seratus surel dan lima puluh lamaran pekerjaan untuk  menjadi model di agensinya saat ini" kata Jun.


"Panjang sekali perjuangan mu" kata Marid.


  Dia berbicara kepada Ben.


"Katakan permintaan mu?" tanya Good.


"Kamu bukan lampu ajaib" kata Marid.


"Bukan hanya kalian yang sulit menghubungi mereka. Aku juga" kata Ben.


"Kakak mu juga menghubungi nomor ku terus" kata Good.


"Tidak terjadi hal mengerikan kan?" tanya Marid.


"Hey. Sekarang, kau seperti kakakku saja" kata Jun kepada Marid.


"Lihat darah di baju mu sekarang!" kata Good.


  Jun melihat bajunya.


 Menunjuk ke arah perut Jun lalu dia membuka bajunya didepan teman temannya membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lihat!" kata Jun.


 Di perut Jun terdapat perban melingkar bagian perut memutar sampai punggung disana juga benar benar terdapat darah dan obat luka yang nyata dengan perban putih.


 Dia tahu itu akan sembuh dengan bantuan penyembuhan dari Ben tadi dengan sendirinya tapi ia sengaja memasang perban perban di lukanya yang perlahan sembuh karena hal hal seperti ini bisa datang diluar dugaan.


 Semua melihat termasuk Ben yang sedang makan bola bola ikan rebus.


"Puas!" kata Jun.


"Inilah yang terjadi" kata Jun.


 Warna lampu yang putih terang jelas membuat lukanya yang berbalut perban putih terlihat nyata dan bukan hanya dibubuhi obat luka yang biasa digunakan disaat mendapatkan luka sayatan atau luka apapun yang membuat darah keluar dari dalam tubuh.


 Semua makan malam dengan tenang kembali.


 Ben yang sedang makan berpikir tentang dirinya sendiri setelah apa yang Jun jelaskan kepadanya dan yang lainnya tentang luka yang ia alami.


"Sepertinya ada yang perlu diperbaiki oleh ku" kata Ben.


"Kekuatan ku telah berkurang efektivitasnya. Sepertinya begitu" kata Ben.


 Jun tak bisa melihat Ben dengan tatapan seperti sedang berbicara kepada musuh ia dapat darinya.


"Aku tidak akan memarahi mu. Ini kan rumahmu" kata Jun.


"Aku sudah terbiasa dimarahi olehmu" kata Ben.


"Andai ada dewa langit kalian pasti tidak seperti ini" kata Marid.


 


 Red dirumah sakit datang di waktu pukul setengah sepuluh malam.


 Dia disana tiba di ruang rawat Sima memeriksa pintu kamar sudah tertutup.


 Melihat Sima yang belum terbangun dari sakitnya saat ini.


 Red melihat cahaya merah itu muncul lagi di tas gadis ini. 


 Pergi menuju tas Sima.


 Botol dengan cahaya merah terang itu mengenali siapa orang yang memberikannya kepada Sima.


 Dia datang mendekat ke arah tangan Red.


 Red menerima botol itu datang sendiri di telapak tangan kanan membuka tutup botol ini dan mendekatkan pada mulut Sima lalu ia memberikan satu tetes cairan berwarna terang itu lagi di mulut  gadis yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu.


 Satu tetes air didalam botol itu masuk melalaui mulut Sima dengan bantuan dari Red.


 Red menutup kembali botol berisi cairan bercahaya tersebut. Benda ini segera menghilang dari genggaman tangan Red berpindah didalam tas milik Sima yang bisa dilihat dari cahaya yang benda itu pancarkan sinar merah terang.


 Ia kemudian melihat waktu di ponsel dari saku sweater hitam tebal yang ia pakai.


 Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh delapan menit.


 Dia memasukan ponselnya lagi ke dalam saku sweater berjalan ke arah sofa panjang di kamar ini duduk melepas sepatu lalu juga kaus kaki  putih yang ia pakai di kaki.


 Dia duduk diatas sofa yang berwarna merah muda menghadap ke arah sisi kanan Sima jika dilihat dari Sima berbaring di tempat tidurnya.


 Memasang alarm ia lakukan dan mulai menutup mata melakukan meditasi disana.


 Baru saja ia melakukan meditasi dan yang terjadi dia kembali disana didalam rumahnya sendiri. 


"Tunggu sofa yang ku duduki terasa berbeda" kata Red.


 Dia membuka mata dan benar yang terjadi itulah tempat dia sekarang kembali. Rumahnya sendiri.


  Radan membuka mata.


 Radan yang ada diluar kamar remaja remaja yang sedang ia jaga menyadari kedatangan dari Red di ruang rawat Sima.

__ADS_1


"Ini pasti dia" kata Red.


 Dia berpikir bahwa ini adalah tindakan yang dilakukan oleh Radan.


 Dan dugaannya benar dan dia juga tahu dia memang sedang bertugas menjaga teman temannya yang sedang ada dirumah sakit.


"Biarkan gadis itu menjalani takdirnya" kata Radan.


 Radan kembali menutup mata dan melanjutkan meditasi dengan tetap terus waspada dengan lingkungan disekitarnya.


 Baru menutup mata lagi datang seseorang yang ia jaga.


 Dia dengan alat infus yang ada di tangan berdiri didepan Radan yang sedang duduk menutup mata bermeditasi.


"Kau bisa menyembuhkan ku dengan cepat kan. Kenapa kau pelit denganku?!" kata Wayne.


 Suaranya lumayan keras didengar di pukul hampir sepuluh malam ini.


"Burrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!"


 Sebuah energi berwarna hitam keluar dari raga Radan mengenai raga Wayne.


 Dia seperti terkena angin disaat mendapatkan energi dari Radan.


 Energi milik Radan berhenti mengenai raga Wayne.


"Sorry" kata Wayne.


 Dia berbalik dengan alat infus yang ada ditangan kembali menuju kamarnya saat ini.


 Radan kembali dengan dirinya yang sedang fokus bermeditasi.


 Dari balik dinding ruang rawat Jimmy disana yang juga dengan alat infus ditangan baru saja melihat sendiri apa yang dialami oleh Wayne.


 Dia kembali ke tempat tidur menggantung alat infus nya diatas tiang yang tersedia disebelah kanan ranjang duduk disana sambil berpikir.


"Cara tadi bisa membahayakan nyawaku" kata Jimmy.


 Dari dalam kamarnya Wayne sedang sendirian lagi karena kedua orang tuanya sedang pergi dinas lagi keluar kota.


 Berbaring dirumah sakit dengan perasaan jelas sangat bosan bisa bermalam didalam rumah sakit.


"Aku ingin pulang!" kata Wayne.


 Malam malam dia berteriak.


"Ohhhhh. Ya Tuhan, dadaku sakit" kata Wayne.


 Luka yang ada di dadanya sedikit nyeri lagi.


 Dia kembali berbaring memakai selimut biru muda diatas tubuhnya dari bagian perut sampai kaki.


"Apa yang dia rencanakan menemuinya juga diberi batas waktu?" tanya Wayne.


 Sima yang dia maksud.


"Kamu mau aku berbuat lebih dari itu!" kata Radan.


 Suara itu menggema terdengar oleh Wayne yang sedang membicarakannya saat ini.


 Suara ini juga didengar oleh Jimmy yang sedang membaca buku bertema sosiologi.


 Dia juga sedang minum susu kotak rasa original.


 Bagaimana dengan kondisi kesehatan Wren.


 Dia sudah jauh lebih membaik dan beberapa hari lagi bisa pulang dari rumah sakit.


  Sekarang, remaja laki laki ini sedang tidur dan di sofa terlihat ada disana bersama Ibunya serta dua Asisten Pribadi perempuan tidur sambil duduk disebelah kanan dan kiri Ibunya Wren.  Dua bodyguard pribadi yang satu perempuan dan yang satunya lagi laki laki berjaga secara bergantian.


 Di ruang kamar Ben disana mereka sedang membereskan tempat makan yang selesai digunakan untuk makan memasukkan kedalam tong sampah yang berada di luar kamar turun tangga ke bawah bergantian berempat bersama membuang tempat makan mereka.


 Di dapur tempat gym disana juga terdapat tempat mencuci tangan disana berbaris mencuci tangan setelah makan di wastafel kamar mandi disana.


 Tempat gym masih buka dan dibawah kamar Ben masih banyak orang orang yang sedang berolahraga.


"Marid tadi Ayah mu telepon" kata Ayahnya Ben.


 Marid tersenyum ramah kepada Ayahnya Ben yang sudah selesai memeriksa tempat usahanya tadi duduk di ruang santai tempat ini sambil nonton berita televisi.


 Keluar kemudian dari ketiga sahabatnya setelah Marid terlebih dahulu ia keluar dari kamar mandi.


"Saya kembali ke atas lagi Om" kata Marid.


 Ben didepan Marid berjalan sengaja agak pelan menunggu Marid yang diajak bicara oleh Ayahnya.


"Kau pasti dicari Ayah mu kan" kata Jun didepan mereka.


"Dia pasti mengirim pesan padamu lagi" kata Marid.


"Tiap waktu" kata Jun.


 Mereka sampai didepan kamar Ben dan masuk terlebih dahulu, Ben. Good sedang mempersilahkan tuan rumah untuk masuk ke kamarnya lebih dahulu.


 Dari luar kantor pelayanan publik yang dibuka dua puluh empat jam terlihat dari luar jalan dua orang pria dewasa sedang disana cukup familiar untuk keduanya dalam pertemuannya kali ini. 


 Keluar dari kantor polisi setelah menanyakan kabar informasi pencarian wanita yang mereka kenal.


"Ternyata kau mencarinya" kata Jax.


"Aku juga heran, kenapa kau mencarinya" kata Bob.


"Apa ini benar benar Kise?" tanya Jax.


"Aku juga tahu kau memang Jax" kata Bob.


"Aku tidak tahu bahwa kau benar benar Kise" kata Jax.


"Hormati aku sedikit. Aku ini Pamanmu" kata Bob.


"Salam hormat ku Paman" kata Jax.


 Dia sambil sedikit membungkukkan badan kepada Bob.


"Apa karena dia cantik kau mencarinya?" tanya Jax.


"Bukankah kau juga suka gadis cantik" kata Bob.

__ADS_1


"Sungguh tidak mau mengalah" kata Jax.


"Itu benar kan" kata Bob.


"Paman sudah makan belum?" tanya Jax.


"Belum. Mau makan dimana?" tanya Bob.


"Terdengar seperti Paman sungguhan" kata Jax.


"Aku memang Paman mu meski seumuran" kata Bob.


 Makan malam disebuah kedai terdekat dari tempat mereka berdua berdiri didepan kantor polisi.


 Semua agen Presdir Ma yang menangani kasus ini baru saja telah mendapatkan informasi terbaru mengenai perginya Hera akibat kejadian ditemukannya Flow oleh dirinya dan detail bagaimana dia pergi dijelaskan dengan jelas di informasi yang mereka dapatkan dengan sumber yang jelas didalam informasi data itu tercantum siapa yang ada disana.


 Ketika Red masuk kedalam rumahnya, seorang Sniper juga dengan alat memanah dibelakangnya ia ambil memandang tiap sudut tempat tinggal Red. 


 Cahaya putih menyebar dari anak panah putih itu melawan energi jahat yang muncul dari raga Red yang berwarna biru.


 Empat anak panah yang ia lepaskan terlepas dan kembali mengarah ke arah Sniper itu.


 Dia menahan kekuatannya sendiri.


"Krkrkrkkkrkrkrkk" 


  Seperti suara kayu retak.


 Anak panah itu ia tahan dengan kuat agar tak mengarah menembus tubuhnya.


 Cahaya putih muncul sebagai tameng pelindung sekaligus menghancurkan ke empat anak panah yang berbalik menyerang dirinya.


 Indera penglihatannya bekerja lagi menerawang apa yang dilakukan oleh gadis yang sedang ia lindungi.


 Menembus tembok bangunan rumah dia dalam bayang bayang dia masuk memindah mencari seseorang melewati ruang tamu naik ke atas mencari dan dia tidak bisa menembus sebuah pintu kamar yang bercat cokelat sebuah kayu.


 Dia mengamati depan kamar itu.


"Dia sedang bermeditasi lalu apa arti dari semua ini?" tanya Sniper itu.


 


 Dia merasakan getaran energi  cahaya biru keluar dari pintu kamar.


"Srugggghhhhhhhhhh!"


 Sniper itu langsung pergi ke arah langit.


 Sebuah bayangan hitam datang tidak bisa terbentuk seperti manusia. Dia seperti kabut yang sangat tebal.


 Sniper itu siap dengan busur panah dan anak panah hitam yang ia arahkan kepada sesuatu yang belum jelas siapa yang sedang ia lawan.


"Siapa kau?" tanya Sniper itu.


 Memandang Sniper itu tanpa sebuah mata atau apapun tapi yang jelas dia seperti sedang menatap tanpa arti namun sedang menargetkan Sniper di depannya.


 Dia tidak menjawab pertanyaan itu.


 Angin datang di langit terasa mengibarkan energi hitam tebal di makhluk yang ada didepan Sniper tersebut.


 Cahaya putih dari busur muncul anak panah siap akan ia lepaskan.


"Wrrrrrrruuuuuggggghhhhhhhhh!"


 Satu anak panah itu terbagi menjadi sepuluh anak panah menyerang secepat kilat makhluk itu.


"Boooommmmm!"


 Suara anak panah itu meledak di langit.


 Hilang.


 Makhluk itu menghilang.


 Dia berpindah cepat didepan Sniper itu lalu segera dia menghindar dengan cepat.


 Makhluk itu kembali mengejar.


"Pushhhhhhhhh!"


 Cahaya putih dari tangannya segera datang mengarah ke arah makhluk itu.


 Dia berhasil meninju makhluk itu tangannya menembus kabut makhluk yang baru ia tinju.


 Muncul kembali dengan kabut yang jauh berkurang dari sebelumnya di hadapannya dan makhluk itu tetap tak bersuara apapun.


 Busur panah miliknya dengan satu detik berubah menjadi lebih besar dari sebelumnya.


 Anak panah yang jauh lebih besar dan kekuatan yang bertambah lagi ia akan lepaskan dan makhluk itu  menghilang.


 Tameng pelindung ia aktifkan cahaya putih lebih terang ia keluarkan melindungi seluruh raga dia juga langsung memanah anak panah dengan kekuatan pelindung juga ia berikan kepada rumah Red.


 Indera penglihatannya aktif kembali melihat menyeluruh berputar ke sekeliling lebih fokus. Dia juga mengaktifkan mode tak terlihat untuk mencegah hal hal penyerangan yang tidak ia duga.


 Dia sedang menangkap suara apa saja disekitarnya dengan tajam. 


 Makhluk itu muncul lagi mencari targetnya.


 Mencari dan mencari.


 Sniper itu melepaskan anak panah dengan kekuatan yang tidak terlihat seperti dirinya.


 Berpindah tempat dengan cepat. 


 Muncul kembali lalu menghilang.


  Makhluk itu pergi.


 Sebuah suara mengguncang Red sampai terdengar oleh Sniper itu mendengar sangat jelas.


 Perlahan lahan mode tak terlihat yang ia aktifkan dengan sendirinya menjadi tidak berfungsi seperti apa yang ia kehendaki.


"Gruggruggruggruggrugggghhhh"


 Suara itu datang beriringan dengan hilangnya kesadaran Sniper itu.


 Sniper itu langsung jatuh ke bawah.

__ADS_1


__ADS_2