
Chapter 109: Will it be forgotten?.
"Mungkin makan es krim jam segini asik" kata Jun.
Jun ada di sebuah salah satu wisata perkampungan dekat desa.
Dia sedang melihat seseorang dengan gaun red deep dan sepatu tali hitam bertali putih dan kaus kaki merah.
Dengan kamera hitam yang sedang ia gunakan untuk memotret dirinya.
Dia tidak ingin berpaling darinya.
Dia kini mengajak untuk berlari ikut bersama.
Dia dengan patuh mengikuti pemilik kamera hitam.
Di berlari.
Jun ikut berlari.
Dia dalam sebuah alunan musik pengiring lembut romantis hadir disekitar mereka.
Penuh cinta.
Dia tersenyum lagi kepada Jun.
Dia berkedip manis menarik tangan Jun.
"Ayo kita berfoto bersama!" Ajak gadis perempuan yang sedang bersama dengan Jun.
Jun dengan kemeja polos putih panjang dan celana katun hitam selutut menggandeng lengan gadis itu pergi.
Dia terlihat ceria, gadis itu dan juga Jun.
Semua menjadi manis terasa.
"Kau suka?" tanya Jun.
Berpindah tempat lagi.
Dia sedang di sebuah perkebunan buah jeruk bersama para pengunjung lain menikmati salah satu wisata di desa mereka.
Dia memakan memetik buah jeruk itu.
Jun tersenyum dari balik kamera yang sedang memotretnya.
"Untuk mu" kata gadis itu.
Jun menerima suapan buah jeruk dari tangan gadis itu.
"Sweet?" tanya gadis itu.
"Ya" kata Jun.
Dia menarik kembali tangan Jun untuk mengikutinya lagi.
Jun ikut bersama dengan gadis itu lagi.
Sekarang dia ada disana disebuah taman bunga daisy yang sedang bermekaran dan segar.
Dia membawa gula gula yang berbentuk kapas berwarna awan berukuran cukup besar di tangan memakannya sambil mengedipkan mata kirinya didepan kamera yang sedang memotretnya lagi oleh Jun.
"Pretty girl" kata Jun.
Jun menerima permen kapas dari gadis itu.
Senyum bahagia terpancar dari wajah Jun dengan kedua lesung pipi yang tersembunyi.
Jun memetik bunga bunga daisy disana menjadi bucket bunga dan memberikan kepada gadis itu.
Gadis itu menerima dengan senang hati.
Memeluk gadis itu.
"Ku rasa masih banyak kekurangan dariku" kata Jun.
"Ini lumayan. Bagus kok" kata Sutradara yang sedang memeriksa hasil pengambilan gambar bergerak tadi pagi.
"Bagaimana menurut kakak?" tanya Jun.
"Bagus. Tapi, tidak sebagus aku" kata Bob.
Jun agak merasa ingin lari saja dari sebelah Pamannya.
"Kamu boleh berpendapat disini" kata Bob.
"Aku. Ku rasa kalau menurut Pak Sebe bagus, ya bagus" kata Red.
"Hey. Kau penurut sekali tidak seperti dia" kata Bob.
Dia menunjuk ke arah Jun.
"Iya. Akting ku masih harus ditingkatkan lagi. Sorry" kata Red.
"Kau suka sekali memarahi anak anak. Sudah, kalian boleh istirahat sekarang" kata Sutradara Sebe.
Jun tidak peduli dengan tanggapan Bob.
Mereka berdua baru saja syuting iklan sebuah parfum edisi terbaru yang bermerk yang sama seperti parfum yang ia sukai sebelumnya yang diiklankan oleh Bob yang dipercaya sebagai brand ambassador produk ini.
Ada di taman bunga.
Menatap langit cerah.
Satu es krim sedang dimakan oleh Jun.
Jun melihat ke arah Red yang juga sedang memakan es krim dengan rasa yang sama. Rasa mint.
Red berbalik menatap wajah Jun.
Jun dan Red saling memberi senyum lalu kembali menatap langit.
Memakan es krim lagi. Jun.
"Kenapa kau dan aku tak merasakan hal aneh disaat saling bersentuhan tangan?" tanya Jun.
"Mungkin kita semakin sembuh atau memburuk" kata Red.
"Sisa waktu yang membunuh" kata Jun.
"Aku tidak tahu apa aku benar benar masih hidup" kata Red.
Para kru syuting juga ikut ada bergabung disana dengan es krim juga ditangan mereka sedang beristirahat sejenak.
Angin lembut datang melintasi mereka semua yang ada disana.
Jun memperhatikan lingkungan disekitar dan dia melihat sebuah daun berukuran tiga sentimeter terpotong setelah melewati dedaunan yang berjarak sepuluh meter dengannya.
Dia melihat kedua bola mata yang ada di mata Red.
Bersinar biru terang makin terang mengikuti arah angin yang melewati dedaunan didepan mereka.
Angin itu melewati mereka dengan cepat.
Tak ada yang terjadi dengan mereka semua terlihat baik baik saja.
__ADS_1
Dia merasakan bahwa dia semakin lemas dengan dirinya sendiri. Es krim stick jatuh ke tanah milik Jun tangannya tidak bisa digerakkan.
Tanda gambar api muncul di lengan kanan Red dan itu dilihat lagi oleh Jun.
Keduanya pergi dari sana berpindah tempat menggunakan teleportasi.
Rerumputan tinggi ada disana disetiap mata memandang keduanya saling menyerang.
Red mencekik leher Jun dengan sekuat tenaga mendorong Jun hingga mundur menabrak rerumputan tinggi.
Dia berhenti dan menahan serangan dari Red.
Angin besar dari arah barat menerpa rambut dan tubuh mereka.
Mata Jun putih bersinar disaat ini kembali muncul menatap Red dengan tajam.
Mata Red menatap tajam Jun dengan sangat tajam.
Jun merasa sakit yang amat setelah ditatap oleh mata gadis teman satu kelasnya ini.
Suara bising terus melukai raga Jun.
Tangan Red masih di leher Jun dan Juga tangan Jun masih mencekik leher Red dengan sekuat apapun dia dengan kondisi saat ini tidak mau menyerah.
Dengan mata kabur melihat dengan jelas bahwa itu terjadi pada dirinya sebuah tato yang sama yang dimiliki oleh Red muncul di lengan kiri Jun.
Jun merasa bahwa dia semakin seperti terasa tubuhnya terbakar hebat.
Cekikan tangan dari Red juga seperti makin menekan batas kekuatan untuk Jun bisa melawan ataupun menghindar.
Red makin menyerap energi berwarna putih milik Jun.
Jun melempar Red.
"Crassshhhhh!"
Dia terhempas jauh didepan Jun menahan diri dengan tumpuan kaki menapak tanah.
Dia menunduk dan melihat kakinya dengan sepatu yang rusak luka yang tersembunyi terbentuk darah perlahan keluar dari sela jemari jemari kaki kanan Red.
Red akan menatap dengan siapa yang telah melakukan ini padanya.
Jun kembali datang tanpa persiapan apapun yang dimiliki oleh Red.
Tameng biru pelindung muncul.
Sebuah belati kristal biru muncul dari tangan Red dan akan menyerang perut Jun.
Jun menangkap tangan Red dengan tangan kanannya menahan agar dia tidak melakukan itu.
"Hentikan!" kata Jun.
Berbicara pada Red dan dia seakan tak peduli dengan kata kata Jun dan tetap akan melukai bagian tubuh Jun dibagian perutnya.
Pedang putih memerah muncul dari tangan kiri Jun.
"Sruggggggg!"
Keduanya saling melukai.
Belati milik Red masuk kedalam perut Jun sedangkan pedang milik Jun juga melukai perut Red tanpa kehendaknya untuk melakukan hal ini kepada Red.
Red meneteskan air mata.
Angin datang dengan sangat kuat membawa air hujan langit mulai gelap mendung awan hitam datang makin menggelapkan langit diatas mereka.
Jun berkaca kaca dengan apa yang terjadi kepada mereka.
Mata biru terang milik Red kian meredup juga mata putih terang milik Jun juga meredup.
Mereka tumbang.
Diatas rerumputan itu menatap langit.
Luka yang mereka miliki penuh racun yang mereka sadari dan tahu itulah kekuatan dari senjata yang mereka miliki.
Menatap langit dengan gerimis dan angin.
Hujan bertambah deras mengguyur raga mereka.
"Apakah kita akan berakhir?" tanya Red.
"Kau bicara apa. Kita bukan Tuhan" kata Jun.
Jun tersenyum setelah menjawab pertanyaan dari Red.
"Racun milik mu sungguh menyakitkan" kata Red.
"Kita tak akan berakhir hanya karena ini" kata Jun.
"Sepertinya aku terlalu menyinyiakan waktuku" kata Red.
"Kita bisa hidup dan membahagiakan orang lain" kata Jun.
Dari langit yang penuh dengan derasnya hujan. Dia ada disana penuh ekspresi yang tertutup topeng hitam dan jubah hitam yang ia pakai melayang dengan jarak tiga puluh meter ada diatas mereka.
Senjata panjang yang ia pegang siap mengarah ke salah satu dari kedua remaja di bawahnya.
"Darrrrrrrrrrr!"
Satu peluru keluar dari senjata berlaras panjang miliknya mengarah ke dada Red.
Red melihat peluru itu dan suara itu terdengar.
"Dugggggg!"
Peluru itu masuk kedalam tubuh Red.
"Darrrrrrrrrrr!"
Satu peluru muncul kembali.
"Dugggggg!"
Jun juga mendapatkan benda yang sama di bagian yang sama dengan Red.
Bob dengan muka khawatir juga marah bercampur menjadi satu karena artisnya belum juga kembali setelah syuting selesai.
Dia mencari bersama dengan para kru syuting yang lain disekitar mereka syuting tadi.
Dia menghubungi lagi ponsel Jun.
"Maaf"
"Nomor yang anda tuju tidak sedang aktif"
Itu yang ia dengar dari ponsel dan juga hal itu yang ia dengar berganti menghubungi berkali kali Red dan Jun.
"Kita perluas pencarian kita. Saya ke arah barat dan semuanya terbagi menjadi lima bagian arah mata angin" kata Bob.
"Kita berdua ikut Bos" kata Kru syuting di bagian kamera.
Di tempat yang belum ditemukan oleh mereka kedua remaja yang sedang mereka cari sedang benar benar sekarat disana darah terus mengalir disetiap luka mereka.
__ADS_1
Sniper itu turun dari langit mendekat ke arah mereka.
Mencabut pedang milik Jun dari perut Red.
Darah sudah pasti bertambah deras ke luar dari perut gadis ini. Pedang Jun langsung menghilang dari genggaman sniper ini.
Kemudian, mencabut belati milik Red yang ada di perut Jun.
Senjata belati milik Red juga menghilang segera setelah di tarik keluar dari perut Jun.
Setelah mencabut senjata dari keduanya sniper ini menghilang dengan cepat dari hadapan Red dan Jun.
Di dalam rumah sakit Wayne sedang melamun sesuatu.
Dia mengambil box yang berisi kue pemberian dari Sammy.
Dia membuka box tersebut mengambil satu kue kering yang terbuat dari tepung almond.
Dia menggigit satu gigitan kue tersebut.
Masih dengan satu pikiran sama yang muncul sedari tadi membuat isi kepalanya tak tenang.
Ponsel silver miliknya ia ambil dari atas meja di dekat ranjang rumah sakit sebelah kanan ia duduk.
Membuka galeri foto dalam ponsel melihat foto seorang gadis remaja yang memberikan kue yang ia makan saat ini.
"Apa dia baik baik saja setelah kejadian tadi pagi?" tanya Wayne.
Kejadian disaat Ibunya mengajak Jamie secara langsung menjadi menantu dan itu dihadapan Sammy.
"Dia terlalu baik dan kenapa dia selalu ada disaat momen seperti ini?" tanya Wayne.
Dua orang lewat didepan kamar ruang rawat Wayne. Dia melihatnya di pintu kamar miliknya yang terbuka.
Dia melihat dan tidak berkomentar di waktu ini.
Menggeser lagi foto di slide selanjutnya dari dalam ponsel.
Dia melihat foto Sima.
Dia menaruh ponsel diatas selimut yang ada dibawah bagian lengan kanan.
"Lama lama aku bisa seperti anak itu" kata Wayne.
Yang dia maksud adalah Jimmy, sahabatnya sejak kecil.
"Oh. Ya, kenapa tak ada yang mengabari ku tentang Sima?" tanya Wayne.
Dia akan mengaktifkan energi hitam dari dalam tubuhnya.
"Aku lupa aku belum sembuh total" kata Wayne.
Usahanya belum berhasil.
Bob dan para kru syuting iklan hari ini masih terus membantu di pukul empat sore lebih tiga puluh lima menit.
Bob melihat ke arah barat matahari kian untuk terbenam.
Dia menyisir rerumputan tinggi yang sudah hampir satu kilometer bersama dua kru di sebelahnya.
Dia menemukan area yang sudah tidak seperti rerumputan yang tumbuh subur berdiri diatas tanah.
"Tempat ini seperti baru saja didatangi seseorang" kata Bob.
Dia datang ditempat yang sama disaat kedua remaja yang ia cari ada disana sebelum mereka berdua pergi.
Dengan payung hitam ia pakai datang dengan setelan serba hitam.
"Dia seperti malaikat maut" kata Sniper yang sedang ada diatas pohon tinggi mengamati.
Darah darah milik Red dan Jun sudah menghilang karena hujan yang sangat deras dan belum berhenti.
Dia mencoba menghubungi orang orang yang juga membantu mencari kedua remaja itu.
"Mereka belum ketemu!" kata Bob.
Dia mulai bertambah khawatir dalam mode cool yang ia perlihatkan.
Menutup ponsel.
Diantara hujan dan ilalang rumput tinggi angin datang sejak awal gerimis hujan deras hingga saat ini.
Dia melihat sesuatu yang aneh dan tidak mungkin ia lihat. Pada intinya dia tidak begitu jelas dengan apa yang baru saja ia lihat dari jarak dua puluh lima langkah kaki orang dewasa.
Mencoba melihat dengan jelas sesuatu yang ia lihat.
Mengedipkan mata.
Dan dia menghilang.
Sniper itu melihat ke arah kemana Bob sedang fokus melihat sesuatu.
Angin bertambah kencang dan suara guntur mulai datang.
Sesuatu itu menghilang dari indera penglihatan Bob.
"Apa yang aku lihat barusan?" tanya Bob.
"Bos. Ayo kita pergi" kata Pria berkumis sebagai kameramen proyek ini.
Dia belum memalingkan fokusnya dari arah tempat ia melihat sesuatu.
"Daaaaaaarrrrrrrrrrrr!"
Mereka tertunduk dengan payung hitam masih ditangan mereka masing masing.
"Benar. Bos, kondisi semakin gelap" kata Pria Asisten Sutradara.
Ketiga pemuda ini berbalik akan meninggalkan tempat itu dan apa yang terjadi.
"Ha ha ha hahhah haaaaa!"
Suara itu datang jelas melintas diatas mereka.
"Darrrrrrrrrrrrr!"
Sniper itu menembak hantu itu dengan peluru api yang ia miliki.
"Apa ada pemburu disekitar sini?" tanya Pria Asisten Sutradara.
"Kabur!!!!!!" kata Bob.
Bob dan kedua kru syutingnya pergi berlarian menjauh dari tempat itu tanpa berbalik lagi mereka hanya ingin cepat meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Tiga puluh langkah mereka meninggalkan tempat itu.
"Bos tidak tahu?" tanya Pria Kameramen.
"Tahu apa?" tanya Bob.
"Tempat ini sangat angker!" kata Pria Asisten Sutradara.
"Angker!" kata Bob.
"Tapi, kedua orang ku belum kembali" kata Bob.
__ADS_1