
Chapter 87: With You.
Jun masih memakai seragam sekolah di saat datang menghampiri kedua remaja yang sedang mengadakan acara barbeque.
"Kenapa kau ikut bergabung?" tanya Wayne.
"Apa aku harus meminta izin mu?" tanya Jun.
"Silahkan lanjutkan pertengkaran kalian" kata Red.
Jun bersama dengan Wayne membuat barbeque bersama dan juga Red menyiapkan yang lainnya seperti piring dan air mineral yang Jun bawa.
"Kau juga membawa nasi?" tanya Red.
"Karena kau suka nasi" kata Jun.
Wayne mendengar sesuatu yang ia anggap sedikit lucu tapi pola pikirnya dipaksa harus otomatis memahami ini.
"Aku seperti robot saja" kata Wayne.
Jun menaruh hasil barbeque yang ia bakar kedalam beberapa piring.
Dia menyiapkan satu piring lagi selain untuknya.
"Untuk siapa itu?" tanya Wayne.
"Ini. Sima" kata Jun.
Wayne semakin menjadi seperti robot setelah mendengar jawaban dari teman sepupunya.
Ekspresi wajah amarah menjadi tak memiliki emosi.
Wayne.
Dia sedang membaca jalan rencana yang sedang coba Jun langsung praktekkan kepada Sima.
Red mungkin sudah lelah dengan kisah asmara yang ia tahu tentang Jimmy dan pada akhirnya dia makin tidak peduli.
"Kita datang kemari untuk menghargai diri kita" kata Red'
"Benar. Daging sapi ini lezat" kata Wayne.
"Itu kau yang membakarnya sendiri" kata Red.
"Ya. Aku selalu hebat" kata Wayne.
Jun menghampiri Sima sedangkan Jimmy sedang fokus dengan dirinya sendiri melihat sedikit kearah Jun yang sedang mulai mendekat kepada pacarnya.
Tatapan mata Jimmy melihat ini, sudah biasa saja.
"Sepertinya kita tidak perlu bergabung dengan mereka" kata Good.
Dari kejauhan diatas tebing Good, Bee, dan Sammy serta Ben sedang berada di atas tebing dekat pantai yang juga tidak terlalu jauh dengan jarak antara keempat remaja yang sedang mengadakan acara barbeque.
"Kau mau ini?" tanya Jun.
Jun datang memberikan hasil barbeque yang dibuat olehnya sendiri.
Sima menganggap Jun sudah menyambutnya lagi.
"Aku senang kau mau bicara lagi padaku" kata Sima.
Sima mendapat senyum hangat yang Jun biasa tunjukkan kepada Red dan kekasihnya dulu. Bay.
Jimmy sedang menyalakan pemantik dan akan menyulut rokok di tangannya. Namun, itu terus padam.
Jimmy melihat ke sisi lain.
"Dia lagi" kata Jimmy.
Bodyguard Jimmy dengan kaca mata hitam dan menggunakan pakaian pantai baju tropis merah dan celana pendek hitam.
"Apa yang ingin kau lakukan kali ini?" tanya Bodyguard Jimmy.
Jimmy menyimpan rokoknya didalam saku celana kanannya lagi.
Dia tidak terlalu terusik dengan Jun yang sedang mendekati gadis yang ia sebut sebagai pacar.
Bodyguard Jimmy masih diantara pepohonan pantai berjarak dua puluh langkah kaki dari jarak Jimmy bersandar di bebatuan dekat pantai.
Hatinya timbul sebuah pertanyaan tentang gadis yang ada di sebelahnya.
"Ada apa dengan gadis ini. Kenapa kakakku masih peduli dengannya?" tanya Jun.
Sima percaya begitu saja kepada keramahan Jun saat ini tanpa rasa curiga apapun.
"Kita hanya perlu mengawasi saja tidak lebih" kata Red.
"Dia tidak suka merayu tapi dia juga tidak suka basa basi" kata Wayne.
Red dan Wayne menikmati barbeque mereka.
Mata mereka tak lepas dari apa yang Jun akan lakukan kepada Sima.
"Kau mencintai kakakku?" tanya Jun.
Sima menghentikan makan dalam lima detik kemudian makan lagi hasil masakan Jun.
"Lalu siapa Jimmy untuk mu?" tanya Jun.
"Pertanyaan mu membuatku bingung" kata Sima.
"Sebelum aku bersama dengan Bay kau selalu mengejarku. Aku tidak lupa hari itu" kata Jun.
"Apakah kau tidak menginginkan aku lagi?" tanya Jun.
Gadis ini merasa sedang di sudutkan oleh orang yang ia dekati sejak dulu.
Ia seperti menahan tangis dengan air mata berlinang.
"Jawab aku. Apakah kau ingin bersamaku?" tanya Jun.
"Sekali lagi. Kau bisa mendapatkan kakakku, itu yang kau inginkan kan?" tanya Jun.
Jun pergi dari sisi Sima.
Mendekat ke arah Red dan Wayne.
Tas ranselnya ia ambil beserta jaket jeans hitam yang ia pakai kembali saat itu juga.
Jun pergi dari Sima juga meninggalkan Red dan Wayne yang sedang asik dengan aktivitas mereka sore ini.
Jimmy melihat Sima tak bisa marah dengan perlakuan Jun kepada Sima.
Energi seperti menguap memerah dari raga Sima dengan sangat meluap yang sedang terjadi didepan ketiga remaja ini.
Sima berlari mengejar Jun yang belum terlalu jauh darinya.
"Plakkkkkkkk!"
Satu tamparan didapat oleh Jun di dalam suasana pantai yang hening.
Ombak ombak masih terdengar.
Kejutan seperti bom waktu telah meledak semua mata tertuju kepada keduanya.
"Apa ini tidak terbalik?" tanya Jun.
"Kenapa kau selalu meremehkan ku?" tanya Sima.
Memberi jeda waktu kepada keduanya untuk berpikir dalam situasi ini.
Semua teman teman Jun yang ada diatas tebing juga ikut terkejut dengan kejadian ini.
__ADS_1
"Apa disini aku yang bersalah?" tanya Jun.
"Kau tidak bisa jawab kan" kata Jun.
"Terkadang memiliki sifat egois diperlukan di situasi ini" kata Sima.
"Aku. Berhentilah, ini sudah cukup untuk kita berdua" kata Jun.
Jun pergi meninggalkan pertengkaran yang ia anggap tidak akan selesai.
"Kau tidak tahu. Apa yang aku rasakan" kata Sima.
Jun berbalik lagi menjawab perkataan Sima.
"Cukup. Kau sedang berurusan denganku bukan dengan orang lain" kata Jun.
Dia benar benar pergi makin menjauh dengan Sima.
Wayne mengambil ikan bakar lagi memakannya lagi.
"Kau bisa tambah nasinya lagi" kata Red.
"Tentu" kata Wayne.
Suasana di pantai saat ini masih hening.
Sima kembali melihat pacarnya yang sedang memakan daging sapi yang baru saja ia bakar dengan soy sauce.
"Apakah dia benar benar pacarku?" tanya Sima melihat kearah Jimmy.
Angin pantai tak begitu kencang sehingga tak perlu untuk Sima menembus angin. Dia berjalan kembali mengambil tas miliknya yang berada dekat dengan Jimmy sedang makan daging sapi bakar.
Sima datang didepan Jimmy.
"Aku akan pulang" kata Sima
"Ya" kata Jimmy.
"Kau?" tanya Sima.
"Tidak" kata Jimmy.
Jimmy memang nomor satu dalam masalah ini.
"Trouble maker" kata Sima.
"Kau juga" kata Jimmy.
Sima lebih tidak paham dengan apa yang ada di isi kepala pacarnya itu.
Sima pergi meninggalkan Jimmy.
Dua langkah pergi meninggalkan Jimmy.
"Benar. Kau tidak mengantar ku?" tanya Sima.
"Ya. Kau bisa pulang sendiri kan?" tanya Jimmy balik.
"Kenapa aku yang terlihat aneh disini?" tanya Sima.
"Kapan kau pergi?" tanya Jimmy.
Acara barbeque kedua pasangan kekasih ini berakhir dengan Sima lebih meninggalkan area pantai lebih awal dari Jimmy.
Sima terlihat makin menjauh dari mata Jimmy.
"Luar biasa dan aku terbiasa dengan Jimmy" kata Wayne.
"Kita berteman jadi kau juga sama denganku" kata Jimmy.
"Tidak perlu berteriak" kata Wayne.
Red lebih memilih menghabiskan makanan dipiringnya.
Dari arah tebing terdengar teriakan dari banyak orang mulai turun mengarah kepada mereka yang sedang menikmati barbeque di sore hari dengan pemandangan matahari terbenam di pantai.
"Ada pacarnya Good disini" kata Wayne.
"Jangan ganggu mereka lagi" kata Red.
"Ini untuk mu" kata Wayne.
Wayne memberikan hasil barbeque yang baru saja ia buat kepada Bee.
Dan Good langsung mengambilnya.
"Terimakasih" kata Good.
"Bagaimana dengan ku?" tanya Ben.
Sammy datang ikut bergabung juga dengan mereka.
Red tentu menyambut sahabatnya yang kini datang lagi.
Bertambah ramai lagi ketika teman teman Jimmy datang.
Wayne ada disamping Jimmy.
"Pantas saja dia tidak mau pergi" kata Wayne.
"Kau mengundang mereka" kata Wayne lagi.
Teman teman Jimmy dari sekolahnya dulu datang di sore ini ikut bergabung.
Bodyguard Jimmy dengan ice strawberry di tangan kanan duduk di bawah pohon kelapa dekat pantai.
Red juga ada disana melihat orang orang sedang bermain voli pantai.
"Kau tidak ikut mereka bermain?" tanya Radan.
"Tidak" kata Red.
"Jawaban yang sangat singkat" kata Radan.
"Apa dia baik baik saja setelah kejadian tadi?" tanya Red.
"Selama ini dia bisa melewatinya" kata Radan.
"Sungguh dia begitu sangat kuat" kata Red.
"Sudah hampir satu tahun lebih dan dia yang masih bisa selamat lebih lama" kata Radan.
"Tadi sepulang sekolah. Aku juga mengikutinya sampai ke rumah sakit" kata Red.
"Seperti keluarga kita sendiri?" tanya Radan.
"Entahlah. Aku hanya menjalankan misi ku" kata Red.
"Terdengar seperti sangat jahat. Tapi, kau berhak untuk tidak memaafkan" kata Radan.
"Aku pernah dengar sebuah kutipan bahwa Tuhanmu juga bisa memaafkan tapi kenapa kamu tidak" kata Red.
Radan menunduk atas jawaban yang Red berikan.
"Memaafkan adalah urusan hamba dengan Tuhannya. Itu yang aku tahu selama ini" kata Radan.
"Maafkan aku yang sangat menyebalkan ini" kata Red.
Red menghilang dari samping Radan disaat matahari tepat tenggelam.
Radan melanjutkan lagi bekerja sebagai bodyguard Jimmy dan terus memperhatikan aktivitas Jimmy.
"Aku berpikir dia akan mulai menjauhkan diri dariku" kata Radan.
Siang ketika Jun sedang menunggu obat di apotek rumah sakit setelah konsultasi tadi dengan psikiater.
__ADS_1
Sima sudah pergi setelah mengambil obat yang sudah diresepkan dokter untuknya dari apotek yang sama seperti Jun saat ini sedang menunggu antrian obat miliknya.
"Kau disini?" tanya Red.
"Ya" kata Jun.
"Kau sedang apa?" tanya Jun.
"Bekerja" kata Red.
"Kau juga mengawasi ku juga?" tanya Jun.
"Aku pergi" kata Red.
Red sejak tadi sedang mengawasi Sima bersama Hera juga mendapatkan misi yang sama dengan Red.
"Kau tidak lupa kan. Sore ini?" tanya Hera.
"Datang ke pantai tempat dua remaja itu ada disana" kata Red.
"Ya" kata Red.
Red ada di kedai tempat biasa dia dan Ran makan dulu saat masih sekolah menengah pertama.
"Pipi mu sudah tidak sakit?" tanya Red.
"Sedikit" kata Jun.
"Aku sudah menghapus ingatan mereka semua. Jadi, jangan khawatir tentang masalah tadi" kata Red.
"Terimakasih. Aku sadar tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepada gadis itu" kata Jun.
"Kau memang harus berterima kasih pada ku" kata Red.
"Ini" kata Jun.
Dia memberikan satu ayam goreng untuk Red.
"Terimakasih" kata Red.
Dia menerima ayam goreng dari temannya itu.
Pagi pukul enam tepat seseorang sudah datang didepan rumah Flow menunggunya sendirian.
"Dia belum keluar lari pagi biasanya dia sudah keluar dari rumah jam segini" kata Kise.
Menunggu.
Dia sedang tidak bosan seperti di hari hari sebelumnya. Dia juga melakukan ini.
Menunggu dia untuk lari pagi bersama.
"Aku merasa saat itu baru saja terjadi kemarin" kata Kise.
Dia dengan kaca mata hitam dan sweater hitam dan celana pendek dan sepatu sport putih.
"Kise?" tanya Flow.
"Oh. Ini aku" kata Kise.
Dia terlihat senang ketika Flow memanggil namanya.
Kise melihat lengannya masih tertempel bekas infus yang baru saja dilepas.
"Kau begini lagi. Kenapa tak bercerita padaku?" tanya Kise.
"Aku ingin takut. Takut jika semakin dekat denganmu" kata Kise.
"Setidaknya aku pernah merasakan hal itu" kata Kise.
Flow menatap wajah kelas.
"Bukankah ini masih terlalu pagi" kata Flow.
"Lihat. Aku buat sandwhich untukmu" kata Kise.
"Buat sendiri?" tanya Flow.
"Ya. Lihat tanganku" kata Kise.
Jemari jemari tangannya terdapat plester luka menempel di ujung ujung jari tangan.
"Coba ku periksa" kata Flow.
Dia memeriksa luka luka yang ada ditangan Kise.
"Benar. Kenapa harus memasak, kau kan bisa membelinya?" tanya Flow.
"Aku ingin membuatnya sendiri untuk mu" kata Kise.
Flow membawa Kise pergi ke depan mini market dekat rumahnya.
Memakan sandwhich buatan Kise.
"Kau syuting drama baru?" tanya Flow.
"Tidak. Kemarin, aku mengecek lokasi syuting baru" kata Kise.
"Terdengar sangat sibuk" kata Flow.
"Ini memang pekerjaan ku" kata Kise.
"Kau bahkan mengambil pekerjaan di hari minggu" kata Kise.
Kise belum berhenti menatap hangat wanita yang duduk di kursi didepan Kise.
"Kapan kau menerima ku?" tanya Kise.
"Aku tidak yakin bisa diterima oleh mu" kata Flow.
"Kenapa?" tanya Kise.
"Kenapa aku tidak bisa?" tanya Kise.
"Aku terlalu beruntung karena sikap mu sekarang" kata Flow.
Haru ada disana di pagi yang seharusnya cerah tapi harus diisi dengan hal yang membuat sedikit pusing kepala.
"Kapan mereka berdua tidak bertengkar?" tanya Hera.
"Mereka bukanlah pasangan tapi seperti pasangan kekasih" kata Hera lagi.
Hera ada di kursi tengah diantara Flow dan Kise yang sedang memulai pertengkaran ini.
"Jadi, kau belum bisa memaafkan aku?" tanya Kise.
"Apa topik yang kita bahas saat ini?" tanya Flow.
"Kau membuatku terus berputar disini" kata Kise.
"Aku tidak pernah kemanapun. Aku selalu disini" kata Flow.
Flow pergi meninggalkan Kise.
Dia tidak masuk ke rumahnya.
"Kau mau pergi kemana. Itu bukan arah rumah mu?" tanya Kise.
"Jangan ikuti aku!" kata Flow.
Dia mengambil jalan lain yang tidak bisa ditemukan oleh Kise.
Hera mengikuti kemana ia pergi pagi ini.
"Apa ada ide lain selain bertengkar?" tanya Hera.
Salah satu didunia ini yang membuat bertambah kacau adalah bahwa Flow yang ia ajak bicara bukanlah Flow yang ia kenal melainkan ada sosok lain yang masuk kedalam raganya.
__ADS_1
Dalam kasus Flow kali ini sama persis dengan apa yang terjadi dengan Red dan Jun. Tapi, yang lebih parahnya lagi sosok hantu ini sudah mengendalikan raga Flow sepenuhnya meski pemilik raga aslinya berteriak dari dalam raga itu. Dia tidak bisa mengendalikan raganya sendiri.