Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 34: Blue Water.


__ADS_3

Chapter 34: Blue Water


Sedang mencoba menebak sesuatu, mengerjakan sesuatu, menyelesaikan sesuatu.


Amat serius.


Di perpustakaan sekolah.


Ada sejumlah siswa dan siswi didalam ruangan tersebut termasuk Good dan Jun.


Good memang terkenal sebagai siswa paling tampan di sekolah. Ya seperti itulah sedikit gambaran dari seorang Good.


Niatnya ingin belajar memang belajar tapi setiap ada Good disana pasti banyak siswi lain ingin mengajak jalan atau sekedar menyapa.


"Kau dapat ini lagi?" tanya Jun.


Good sedang menumpuk banyak kotak berwarna warni hadiah dari para gadis tadi.


"Kau bisa ambil beberapa?" tanya Good.


"Untuk apa?" tanya Jun.


Good agak takut kalau Jun lagi serius begini.


"Tidak. Aku akan belajar lagi" kata Good.


"Baca semua ini!" kata Jun.


Jun memberikan buku catatannya pada Good.


"Jika ada yang kau tidak paham. Tanyakan saja" kata Jun.


Good menarik buku Jun dari tangannya.


"Ya" jawab Good singkat.


Hera ada disana di perpustakaan.


"Kau disini aku sedari tadi mencari mu?" tanya Bling.


"Aku ingin mengupgrade isi kepalaku. Kau juga, ini!" kata Hera memberikan satu buku yang membahas tentang budaya.


"Kau membaca ini juga?" tanya Bling.


"Harus. Kenapa tidak?" tanya Hera.


"Ya sudah. Aku ikut saja" kata Bling.


Bling duduk disebelah Jun yang juga sedang serius belajar sedangkan Hera ada di sebelah Good.


Sima datang, duduk didepan Good dan Jun.


Berbicara berbisik.


"Good kau memiliki banyak penggemar rupanya!" kata Sima.


"Untukmu satu" kata Good memberikan satu kotak cokelat berbentuk hati.


Red dan pastel rainbow crepes cake.


"Kau tidak pergi ke perpustakaan?" tanya Sammy.


"Tidak. Aku baru meminjam buku kemarin" jawab Red.


"Oh. Itu milik siapa?" tanya Sammy.


"Bola ini?" tanya Red menunjukkan bola tenis.


"Ya" kata Sammy.


"Jimmy" kata Red.


"Oh" kata Sammy.


"Aku mendapat ini tadi pagi" kata Red.


"Aku ambil satu potong" kata Sammy mengambil satu potong kue.


"Aku kenal rasa ini" kata Sammy.


"Kau bisa menebaknya" kata Red.


"Aku masih belum percaya dia bisa membuat ini" kata Sammy.


"Kau jauh lama mengenal teman kita" kata Red.


Jimmy masih latihan tenis bersama salah satu teman sekelasnya.


Ran sedang melihat foto Red bersama dengan dirinya saat setahun yang lalu.


"Aku melihat tanda itu. Kenapa dia memiliki tanda itu?" tanya Ran.


"Apakah dia tahu dengan apa yang ia alami sekarang?" tanya Ran.


Ran menelepon Red.


"Iya. Ran, ada apa?" tanya Red.


"Apa sinyalnya susah?" tanya Red kembali.


"Kalau tidak mau bicara, aku tutup telponnya?" tanya Red lagi.


Ran menahan air mata yang berlinang.


"Aku ingin mengganggu mu" kata Ran.


Sinyal lagi terganggu.


"Apa, aku tidak dengar bisa bicara ulang?" tanya Red.


"Apa aku bisa datang ditempat kerja mu?" tanya Ran.


"Datang saja, siapa yang melarangnya" kata Red.


Red menahan rasa sakit yang tiba tiba menyerang perutnya.


"Ok. Kita ketemu disana" kata Ran.


Tanda silang biru mulai muncul di punggung Red.


Kepalanya mulai sedikit pusing lalu kembali normal.


"Kau mau ikut aku ke kelas?" tanya Red pada Sammy.


"Bagaimana dengan Jimmy?" tanya Sammy.


"Aku akan membawa bola dan kue ini" kata Red.


Jimmy masih bermain tenis.


Red terjatuh saat berjalan menuju kelas saat bersama Sammy di sebelahnya.


"Kau tidak apa apa?" tanya Jun.


"Aku tidak tahu tiba tiba saja aku jatuh" kata Red.


Jun pergi dari perpustakaan menghindar dari Sima.


"Kita pergi ke ruang kesehatan sekolah" kata Jun.


Kondisi Red kembali seperti semula. Dia tak merasakan hal sakit lagi di tubuhnya.


Bling terpaku saat melihat apa yang terjadi pada tubuh Red.


Dia juga merasa bahwa ini tidak akan baik baik saja.


"Kita masuk ke kelas" kata Red.


Jun pergi bersama Red masuk ke kelas.

__ADS_1


Jimmy berhenti bermain tenis saat melihat Red terjatuh di sekitar lapangan sekolah tadi.


Sammy ada disebelah Jimmy membiarkan kedua temannya berjalan menjauh ke kelas.


"Mereka sudah baikan?" tanya Jimmy.


"Kau bisa melihatnya" kata Sammy.


"Apa karena memakan kue dariku?" tanya Jimmy.


"Tidak. Aku juga tadi memakannya dan aku tidak apa apa" kata Sammy.


"Sungguh kau tidak marah lagi padaku?" tanya Jimmy.


Satu bola basket akan mengarah ke arah kepala Sammy.


Jimmy sontak menarik Sammy menghindar dari bola basket itu.


Tak ada emosi, Jimmy dan Sammy saling memandang.


"Lepaskan aku" kata Sammy.


Jimmy melepaskan Sammy.


Kening sebelah kanan Jimmy memerah dan berdarah akibat bola basket yang mengenai keningnya.


"Makasih. Oh ya, kening mu terluka. Sudah biasa kan" kata Sammy.


Sammy menyusul Red ke kelas.


Jimmy mengambil raket tenisnya yang jatuh ke rerumputan lapangan.


Red mengambil cuti kerja sore ini, dia tak mungkin bekerja dengan kondisi tubuhnya yang sedang sakit.


Dirumah sendirian.


Red tidak jadi bertemu dengan Ran temannya itu. Dia juga pulang sendirian tanpa ditemani siapapun.


Red ada didalam kamar sendirian.


Dia sudah mengganti baju seragam sekolah dengan piyama hijau berbaring diatas tempat tidur. Berganti posisi ke kanan dan kiri. Berganti lagi ke tengah dan pinggir tempat tidur.


Keringat dingin.


Semua sendi didalam tubuhnya terasa sakit.


Dia juga kurang nafsu makan. Jika dilihat, tanda silang biru bertambah menyala jelas di punggung Red. Dia tidak tahu akan hal ini.


Yang ada dirinya di rumah, Flow dan Sammy masih menginap di rumah sakit seperti hari sebelumnya merawat ibunya Sammy.


Sekarang sudah pukul sembilan lebih dua puluh delapan menit malam. Dia masih dengan ketidaknyamanan sejak pulang sekolah tadi.


Tak mungkin untuk berteriak, Red mengganggap dia akan baik baik saja.


Membuka pesan di salah satu akun media sosial miliknya sendiri.


Red melihat postingan orang lain.


"Dia memang idola"


"Banyak sekali yang menjadi fans club Ran"


Red melihat postingan dari Ran.


"Pasti banyak yang ngajak kenalan atau berteman" kata Red.


Red menaruh lagi ponselnya disisi kiri ia berbaring dengan selimut di tempat tidur.


Red mengirim pesan yang sama kepada Jun dan Ran.


"Terimakasih sudah mau menjadi temanku"


Pesan yang dikirim Red sudah terbaca.


Red mengambil semangkuk buah semangka yang sudah menjadi sorbet dari lemari es lalu memakannya menggunakan sendok teh.


Jun sedang kedatangan tamu, ya tamu. Mereka adalah kedua orangtuanya.


Situasi bukan canggung mengisi satu meja dengan empat kursi yang ada di bagian depan kafe.


"Kau tetap akan bekerja disini?" tanya Ayahnya Jun.


Jun belum menjawab.


"Kau tidak ingin menjawab pertanyaan ku?" tanya Ayahnya Jun lagi.


Suasana kafe sudah cukup malam lampu lampu lilin kafe sudah mulai ditiup oleh para karyawan kafe.


Pukul sepuluh lebih lima belas menit Jun sudah naik bus sendirian. Malam ini Rose sedang pergi mengunjungi Ayahnya.


"Sudah berapa kali dia memarahi ku" kata Jun betanya tentang Ayahnya.


Lampu putih terang diantara lorong bangunan serba putih. Jendela lebar disetiap depan ruangan. Lantai keramik putih sebagai pijakan.


Di kursi tunggu dekat apotik rumah sakit.


"Cara cepat menjadi kaya"


Sammy melirik orang di sebelahnya.


"Ada apa?" tanya seseorang disebelah Sammy.


"Hah" kata Sammy.


Sammy menatap lurus kedepannya, berpikir.


"Dia cukup kaya"


Sammy membicarakan orang di sebelahnya lagi.


"Tidak. Tidak, aku tidak mungkin menipu dia lagi" kata Sammy.


"Lalu, dimana lagi aku bisa mendapatkan pekerjaan?" tanya Sammy sibuk mencari pekerjaan secara online di ponselnya.


Ben melirik ke arah Sammy.


"Kau ingin cepat kaya?" tanya Ben.


Berbicara dalam hati mata sinis menatap wajah Ben.


"Apa?" tanya Sammy.


"Kau sedang butuh pekerjaan. Bekerjalah ditempat gym ibuku" kata Ben.


Sammy belum merespon ajakan dari Ben.


"Aku tidak bisa membantu lebih. Kau bisa datang kapan saja" kata Ben.


Sammy masih menatap Ben sinis.


"Tatapan mu seperti mengajak orang lain untuk berantem" kata Ben.


"Bekerja dengan ibu mu yang kelewat baik itu. Tidak" kata Sammy.


"Katanya kau butuh pekerjaan?" tanya Ben.


"Darimana kau tahu?" tanya Sammy.


"Dari tadi aku melihat dan mendengar mu berbicara disini membahas masalah pekerjaan" kata Ben.


"Kau menguntit ya?" tanya Sammy.


"Hey. Dengar gadis manis, disini sangat hening dan kau bicara sendiri wajar jika aku mendengar mu bicara sejak tadi" kata Ben.


Ada hantu pria disebelah kiri Sammy duduk saat ini.


"Mereka sedang debat apa sih, tidak jelas" kata Doe seorang hantu yang juga teman Hera.


Sammy merasa bahwa yang dibicarakan oleh Ben ada benarnya dan akhirnya ia memilih untuk diam.

__ADS_1


"Kamu sudah mendapatkan obat. Kenapa masih disini?" tanya Sammy.


"Aku akan pergi tapi benar, kau tidak takut disini sendirian?" tanya Ben.


Pukul sembilan malam Sammy menunggu obat yang sedang di racik di apotik rumah sakit.


"Aku tidak takut hantu. Mereka yang takut denganku" kata Sammy.


"Maksudmu, aku hantu?" tanya Ben.


"Pergi tidak?" tanya Sammy.


Sammy akan melempar sandal karet hijaunya itu.


"Aku pergi. Bye mantan pacar!" kata Ben.


Ben berjalan pergi membawa obat dari apotik untuk Neneknya Bee.


Hantu disebelah kiri Sammy masih duduk di sebelahnya.


"Oh, ternyata mereka mantan kekasih. Pantas bersikap seperti itu" kata Doe.


"Cukup bagus hubungan mereka sebagai mantan pacar" kata Doe.


Hera datang menemui Doe duduk sebelah kanan Sammy.


"Ada apa sebenarnya Doe?" tanya Hera.


"Apa yang kau pikirkan tentang ku?" tanya Doe pada Hera.


"Kenapa kau belum ke alam mu?" tanya Hera.


"Bagaimana dengan mu?" tanya Doe balik.


"Kenapa kau bertanya balik padaku? tanya Hera.


"Kau sudah meninggal. Apa kau masih mencari pekerjaan lagi?" tanya Hera.


"Jangan bahas itu lagi. Aku tidak suka jika ada orang bertanya itu lagi padaku" kata Doe.


Doe ngambek.


"Astaga. Kenapa kau selalu ngambek" kata Hera.


"Aku akan pergi jika kau juga pergi" kata Doe.


"Apa kita berdua sebelumnya punya ikatan. Tidak, jangan meminta hal yang sulit" kata Hera.


"Lagi, kau mendramatisir kondisi kita" kata Hera.


"Aku hanya perhatian padamu" kata Hera.


"Apa aku pernah menganggap kita seakrab itu?" tanya Doe.


"Aku ingin melempar mu!" kata Hera.


"Aku sangat takut dengan hantu seperti mu" kata Doe.


"Kau maunya apa sih?" tanya Hera.


"Aku ingin menjadi manusia lagi. Aku ingin bertahan dan melawan orang orang yang tak yakin denganku" kata Doe.


"Penjelasan yang cukup panjang" kata Hera.


"Kau sama seperti yang lain selalu menganggap ku bodoh" kata Doe.


"Aku selalu menganggap mu bodoh. Benar. Jadi, aku mohon jangan seperti ini. Kau membuatku sedih" kata Hera.


"Jangan nangis. Aku yang sedih kamu yang nangis" kata Doe.


Hera menangis karena Doe.


Doe berpindah tempat disamping kanan Hera.


"Sudah jangan nangis lagi. Ada aku, sudah jangan nangis lagi" kata Doe.


"Jangan pura pura baik baik saja terus" kata Hera.


Sammy pergi dari tempat duduknya mengambil obat lalu pergi meninggalkan area apotik meninggalkan kedua hantu yang duduk di sebelahnya tadi.


Malam pukul delapan lebih tiga puluh delapan menit didepan rumah Flow.


Seseorang ada didalam mobil sedang bertengkar.


Hujan amat deras terjadi.


"Kenapa kau melakukan ini pada sahabatku?" tanya seorang laki laki.


Seorang gadis di dalam diam duduk disebelah kiri depan mobil.


"Apa aku bisa menolongnya, tidak" kata laki laki yang duduk di kursi mengemudi.


"Kau ingin aku berbuat apa? tanya Gadis itu yang sedang cemas.


"Apa kita tahu, berapa waktu yang tersisa untuknya hidup?" tanya seorang laki laki disebelah gadis itu.


"Aku juga tidak tahu akan seperti ini. Aku ini adalah ke egoisan ku" kata gadis itu.


"Bersikaplah lebih dewasa lagi, Bay. Aku mohon padamu" kata Ran.


"Aku sudah bilang benda itu jatuh begitu saja di tubuh Red" kata Bling.


"Sengaja atau tidak kenyataannya seperti ini. Kita bisa kapan saja kehilangan Red. Kau tahu itu kan" kata Ran.


Ia menundukkan kepala di alat kemudi mobil berwarna hitam.


Hujan di luar belum berhenti, deras.


Sesekali ada kendaraan yang lewat didepan gang rumah itu. Lampu lampu masih menyala didepan beberapa rumah di malam ini.


Bling bersandar di kursi mobil Ran tidak bisa memejamkan mata berkedip dan berkedip memandang hujan dari dalam mobil.


Ran setengah jam lalu disebuah gedung di ruang tunggu tamu lantai pertama bersama atasan ia mendapatkan pekerjaan.


"Apa kita benar benar tidak bisa menyembuhkan Red?" tanya Ran.


Atasannya terdiam mendengar pertanyaan ini.


"Dia pasti bisa menghadapi ini?" tanya Ran lagi.


Bosnya meminum teh dari cangkir putih.


"Apa kita tidak bisa menggunakan obat itu?" tanya Ran.


Suasana hening penuh kecemasan yang tersembunyi.


Panik yang tersembunyi.


Banyak karyawan kantor yang sedang bekerja untuk lembur berjalan melewati mereka disana.


"Kau tahu apa alasanku tidak mengizinkan mu menggunakan obat itu?" tanya Atasan Ran.


"Ya. Aku ingin tahu alasannya" kata Ran.


"Jika kita menggunakan obat itu, kita tidak tahu dampak psikologis yang akan ditimbulkan" kata Atasan Ran.


"Apa seburuk itu?" tanya Ran.


"Begitulah manusia. Mereka memiliki hati, zat lain selain kita bisa dengan mudah memanfaatkan titik lemah kita" kata Atasan Ran.


Seorang pria datang membawa file dokumen di tangannya.


"Presdir Ma. Anda harus mengunjungi istri anda dirumah sakit" kata sekretaris Presdir Ma.


Pukul sembilan lebih sepuluh menit.


Suasana horor tejadi disebuah ruang rawat rumah sakit.


Dia syok mau tidak percaya, tapi juga dia sudah paham dengan karakter seseorang yang ia kenal itu.

__ADS_1


__ADS_2