
Chapter 14: Cerita hari ini di sekolah.
Flow dan Bob masih di dalam toko makanan mengadakan reuni secara kebetulan.
"Nenek dan Kakek mau pesan apa?" tanya Red.
"Nenek bisa lihat menunya?" tanya Si Nenek pengunjung toko.
Red memberikan daftar menu.
"Ini. Nenek mau pilih paket atau yang tidak, semua sudah tertera di dalam daftar menu" kata Red.
"Kalau yang ini bagaimana?" tanya Si Nenek kepada Suaminya.
"Sepertinya itu terlihat enak" kata Si Kakek.
"Kalau saya boleh tanya. Apa ada yang tidak suka pedas, kalau ada kami akan buatkan yang versi tak pedas?" tanya Red.
"Kami sangat suka pedas" kata Si Nenek.
"Tapi umur kita sudah tak muda lagi, aku takut perut kita bisa sakit" kata Si Kakek.
"Iya. Kami pesan yang tak pedas saja" kata Si Nenek menyutujui keinginan Si Kakek.
Flow dan Bob diam tanpa suara hanya jari-jemari yang sedang terus mengetik di layar ponsel mereka berdua masing-masing.
"Kau dekat dengan gadis yang bernama Red itu?" tanya Bob.
"Kenal, tapi belum terlalu dekat. Ada apa?" tanya Flow pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Bob.
"Sepertinya dia baik" kata Bob.
"Memangnya kalau baik, kenapa?" tanya Flow.
"Bisa jadi pacarku" balas Bob.
"Red gadis incaran keponakanmu" kata Flow.
"Siapa, keponakanku banyak?" tanya Bob.
"Keponakan kesayanganmu, Jun?" tanya Flow mulai sebal.
"Oh, anak itu" kata Bob.
"Ya. Kamu pikir siapa?" tanya Flow.
"Jangan marah. Lagian kenapa kamu belum menerimaku jadi pacarmu?" tanya Bob.
" ... " Flow dalam mode mengetik.
Flow dan Bob saling tatap menatap seperti akan berperang.
Bob mengetik lagi dan mengirimkan pesan lagi kepada Flow yang ada di sebelahnya.
"Tunggu. Dia seperti mirip seseorang?" tanya Bob.
"Siapa?" tanya Flow membalas pesan.
"Pacar Jun dulu?" tanya Bob.
"Maksudmu, Bay?" tanya Flow.
"Benar. Coba lebih kita perhatikan" kata Bob.
"Menurutku mereka berdua tidak jauh berbeda" jawab Flow.
"Iya memang wajahnya tidak terlalu mirip. Tapi, karakternya hampir sama" kata Bob.
Bob lalu mengetik lagi.
"Kenapa kamu nggak marah atau menuntut. Kenapa kita harus bahas orang lain dan nggak bahas kita?" tanya Bob.
"Kamu tanya, aku jawab. Salah?" tanya Flow balik kepada Bob.
"Sampai besok kita nggak bisa akur kalau begini" kata Bob.
"Kamu ada banyak waktu bisa ngobrol lama disini?" tanya Flow.
"Meski kamu usir aku, aku tetap disini" kata Bob.
"Ya ampun. Bob" kata Flow.
"Aku tak pernah lelah berjuang" kata Bob.
Kakek dan Nenek sudah menghabiskan makan malam mereka kemudian pergi setelah membayar menu yang mereka pesan tadi.
Keponakan Bob datang dengan motor kerja.
"Tidak sibuk. Oh, pantas" kata Jun.
Dia melihat Flow ada disebelah Pamannya.
"Paman kau sudah makan?" tanya Jun.
"Jangan panggil aku Paman. Aku belum menikah dan aku masih muda dan tampan" kata Bob.
"Aku terlihat seperti anak kecil saja" kata Jun.
"Memang masih kecil" kata Bob.
Jun kemudian mengirimkan lagi sejumlah uang yang Bob transfer di rekeningnya.
Bob mengirim lagi sejumlah uang lagi untuk Jun.
Jun mendapat pemberitahuan lagi lewat pesan dari pihak bank.
"Jangan main-main lagi" kata Jun duduk di kursi didepan Bob.
"Aku tidak main-main" kata Bob.
"Kau bisa datang ditempatku?" tanya Bob.
"Aku takut dengan ular peliharaan mu" kata Jun.
Flow mulai merasa bahwa kedua anggota keluarga ini sangat mencurigakan detik-detik ini.
"Berhenti membuat orang lain bingung!" kata Flow.
__ADS_1
Lalu dia pergi pada Sammy dan Red.
"Aku pulang dulu. Hati-hati saat pulang naik bus nanti" kata Flow.
Bob mengejar dan mengajak Flow ikut dengannya agar mau diantar pulang kerumah oleh Bob.
Mereka bertiga belum makan malam banyak pekerjaan yang menumpuk.
"Kita selesaikan membuat ini lalu makan malam" kata Sammy.
"Kau tidak diet lagi?" tanya Jun.
"Tidak" Jawab Sammy.
Red tahu kalau sebelum Jun mengenalnya, Jun lebih awal mengenal Sammy. Jadi, wajar saja mereka berdua terlihat akrab.
"Kenapa kau menatapku seperti itu. Aku baik-baik saja?" tanya Red.
"Kau boleh cemburu" kata Jun.
"Cemburu?" tanya Red dengan ekspresi heran tapi agak mengiyakan.
Rencana Jimmy pulang dari rumah sakit tidaklah pulang kerumah tapi pergi menemui Red yang ia tahu sedang bekerja di Toko Makan Sehat.
Rencananya berubah total saat ia tahu bahwa ada Ben disana yang sedang bersama kekasihnya dan Jimmy salah paham dengan ini.
"Kau bekerja ditempat ini juga?" tanya Ben.
"Iya. Ada apa, kamu kemarin mau bicara apa. Aku tidak begitu dengar?" tanya Sammy.
Red dan Jun sedang membuat donat kentang rasa daging sapi.
"Katanya sudah putus, tapi kok gitu?" tanya Good sedang makan donat kentang rasa ikan tuna.
Ibunya Good belum pulang masih liburan bersama Ayahnya keluar kota.
"Padahal masih saling suka kenapa putus" kata Jun.
"Kayaknya, dia nggak tahu kalau Sammy adalah pacar Jimmy" kata Red.
"Terserah tahu atau tidak. Tapi yang kulihat Sammy tidak berniat menipu teman kita" kata Jun.
"Jangan membuat orang lain cemburu" kata Good.
"Kenapa tadi aku tak bilang Ben agar Bee datang kemari?" tanya Jun.
"Ada apa dengan Bee?" tanya Good.
"Agar kau bisa berbaikan dengan gadis itu. Jangan berantem terus" kata Jun.
"Kenapa semua seakan salahku?" tanya Good.
Dia memakan donat kentang di tangannya dengan cepat.
"Bukan Good kalau marah gitu" kata Jun santai meledek Good.
Red cuma geleng-geleng melihat tingkah mereka.
Ada Bling dan Hera yang makan malam disana dengan waffle yang mereka bawa dalam box berbentuk tabung yang dipegang oleh Hera.
"Kau mengambil ini di toko sebelah?" tanya Bling.
"Saat hidup kita tak pernah mencuri ada apa dengan kita saat ini?" tanya Bling.
"Kita sudah bukan manusia. Berapa kali aku harus menjelaskan?" tanya Hera.
Jimmy datang dan mengubah rencana dari berniat menemui Red karena melihat Sammy ada disana bersama Ben dia berubah haluan.
"Ada tontonan gratis" kata Bling.
"Siapa yang akan Sammy pilih?" tanya Hera.
"Kalau aku sih Ben" kata Bling.
"Aku pilih Jimmy. Dia ganteng parah" kata Hera.
"Buka mata dan hatimu. Ben jauh lebih terlihat family man" kata Bling.
"Aku tetap memilih Jimmy" kata Hera.
"Untung saja kau bukan manusia" kata Bling.
Jimmy marah-marah lagi kepada Sammy.
Gadis ini sudah sangat bosan dengan tingkah orang yang tak mau putus tapi tetap kasar padanya.
Toko sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih masih ada beberapa makanan yang harus dihabiskan. Mereka akan sedikit lembur.
Jun dan Red selesai membuat adonan donat kentang mereka.
Mereka bertiga Jun dan Red serta Good sedang membaca buku.
Ben yang malas meladeni Jimmy akhirnya pergi dari tempat itu. Ben pergi kerumah sakit untuk menemui Ibunya yang sedang menjenguk Nenek Bee.
"Kau siapa?" tanya seorang pemuda blasteran tinggi.
Cucu pemilik toko datang sendiri tanpa Neneknya.
"Kau siapa, aku pacarnya Sammy?" tanya Jimmy.
"Aku pemilik toko ini" kata pemuda itu.
Bodyguard Jimmy datang untuk melerai.
"Maafkan bos saya. Sekali lagi, maafkan kami" kata Bodyguard Jimmy.
Perdebatan sengit berujung perkelahian tidak jadi terjadi diantara keduanya.
Bodyguard Jimmy membawa Jimmy pergi dari sana. Membawa Jimmy dengan motornya dan memberikan helm cadangan yang ia bawa kepada Jimmy.
"Bisa gawat. Jika anak ini berkelahi lagi. Aku bisa dipecat" kata Bodyguard Jimmy dalam hati.
Situasi kembali baik baik saja.
"Akhirnya berakhir" kata Good.
"Pertengkaran yang bikin sakit kepala" kata Cucu Nenek pemilik toko.
__ADS_1
Jun dan Good sedikit segan saat akan bicara dengan orang yang lebih dewasa usianya dari mereka.
"Tak usah takut denganku. Aku takkan memakan kalian" kata Cucu dari pemilik toko.
Sebuah rombongan pemuda-pemuda dengan pembawaan yang rapi tak terlihat anak-anak nakal datang ke toko.
"Bisa dijelaskan?" tanya Cucunya pemilik toko.
Mereka yang datang berombongan adalah teman-teman Jun dan Good. Geng tawuran yang sudah bubar.
"Hallo, Kakak!" kata salah satu dari mereka cukup tegas bersuara.
"Halo" jawab Good sedang minum es jeruk.
Hera pergi dari tempat ini begitu juga Bling.
Tempat tujuan mereka saat ini adalah rumah sakit lagi. Mereka merasa heran kenapa hantu itu ada disana di sekitar toko dalam beberapa waktu saat Jimmy ada disana dan tak pergi saat Jimmy pergi. Namun, sesuatu hal yang terlihat aneh dia pergi saat kehadirannya diketahui oleh Hera. Hera langsung pergi dari dalam toko dan Bling mengejar Hera yang telah pergi untuk mengejar hantu tadi.
Ketika mereka berhenti di suatu tempat, mereka berdua kembali di rumah sakit yang sudah mereka datangi sebelumnya.
Sangat cepat sekali dia masuk kedalam rumah sakit. Keduanya tak mau menyerah terus mengejar antar sesama hantu.
"Dia tak bisa masuk ke dalam sana rupanya" kata Bling.
"Pintunya terhalang oleh sesuatu" kata Hera.
"Kau juga merasakannya?" tanya Bling.
"Aku sulit bernafas. Bagaimana denganmu?" tanya Hera.
"Aku juga. Apa karena pembatas itu?" tanya Bling.
"Itu sudah jelas" kata Hera.
"Biarkan saja hantu itu disana. Dia tak mungkin berhasil masuk kedalam ruangan itu" kata Bling.
Hantu itu menghilang dari hadapan Bling dan Hera tanpa meninggalkan jejak apapun.
Kemudian, tak terjadi apa-apa lagi pada Bling dan Hera. Mereka berdua penasaran siapa yang hantu itu temui.
"Kau bisa masuk kesana" kata Bling.
"Kau saja" kata Hera.
Mereka berdua saling dorong satu sama lain dan akhirnya tak jadi masuk kedalam ruangan itu. Mereka melihat seorang wanita disamping seorang pria yang tidak sadar masih dalam pertolongan medis sedang melakukan meditasi di malam yang belum hampir menuju tengah malam ini.
Kabur berlari cepat dari depan ruangan tadi, Bling dan Hera.
Di dalam sana ada Ge yang masih koma dan temannya yang sedang bermeditasi.
"Berapa waktu yang ingin kau sia-sia kan?" tanya Si Hantu pada diri sendiri.
"Aku sangat lelah dengan semua ini" jawab ia.
"Aku belum ingin pergi. Aku tak mau pergi" kata Si Hantu.
Dia belum menyerah dan mencari orang-orang itu.
Toko-toko yang berjejer di sana sudah mulai tutup lampu lampu di dalam toko juga sudah dimatikan.
Red sudah meminta izin kepada Nenek untuk pindah setelah pulang kerja malam ini pindah kerumah yang sekarang Sammy tinggali disana dan ide ini ia setujui.
"Kebetulan cucu Nenek harus belajar menjaga toko mulai malam ini" kata Si Nenek.
"Perjanjiannya bukan malam ini Nek" kata Cucu Nenek itu.
"Katanya kau ingin belajar. Jangan manja" kata Si Nenek.
Dia tak bisa menjawab kata kata Neneknya lagi.
Red dibantu Sammy membereskan barang-barang miliknya dan memasukkan kedalam koper hitamnya. Sedangkan, Jun dan Good menunggu diluar toko.
Sepuluh menit Red berkemas lalu setelah itu ia dan teman-temannya yang lain berpamitan dengan Nenek untuk pulang.
Mulai malam ini yang menjaga toko adalah cucu Nenek bersama Neneknya karena sudah malam Nenek memutuskan menginap di tokonya sendiri bersama cucunya itu.
Toko sudah ditutup dan keempat remaja itu sedang menunggu bus di pukul sebelas malam lebih.
"Aku sudah bawa baju seragam dan bukuku. Aku akan menginap di rumahmu lagi?" tanya Good.
"Selamat datang lagi" kata Jun.
"Baterai ponsel ku mati" kata Red.
"Kau bisa pakai punya ku" kata Jun.
Di dalam ponsel Jun sudah tak terpasang lagi foto Bay untuk wallpaper layar ponsel. Red sudah tak melihat lagi foto yang sangat mirip dengan Bling.
"Kenapa dia cepat sekali melupakan gadis itu?" tanya Red dalam hati.
Saran yang telah Flow berikan pada Jun.
"Aku tahu kau masih teringat kejadian yang menimpa Bay. Tapi, mau sampai kapan?" tanya Flow.
"Hidup harus lebih baik. Setidaknya bisa berguna dan bermanfaat untuk orang lain" kata Flow.
Nasihat yang ia berikan saat Jun bercerita lagi kalau dia terus memimpikan Bay hampir setiap tidur di malam hari.
Meski sangat awal tapi inilah salah satu usaha Jun untuk melupakan Bay. Dia tak menghapus foto milik Bay tapi ia sudah menyimpan semua fotonya di tempat yang lebih baik dan aman.
Saat Jimmy belum datang di kelas saat ia mendapat teguran dari wali kelasnya.
Kelas sibuk dengan kelompok mereka masing-masing dengan pemimpin yang sudah ditunjuk oleh Pak Gerry.
Ada salah satu pemimpin kelompok dari mereka amat menerima dengan tenang semua anggota. Tapi, apa yang membuat miris dari cerita yang berlanjut adalah pemimpin mereka adalah Good. Dia tergolong siswa yang baik-baik saja tidak bodoh juga masih tergolong pintar. Siapa yang bekerja disini semua sepertinya hanyalah dia. Tak apalah, ia anggap ini sudah tugasnya menjadi pemimpin.
Dengan apapun yang ia jalani dan nilai berapapun yang akan ia dan anggotanya dapat itu sudah terserah.
Benar saja setelah diskusi berlangsung semua sesuai yang ia bayangkan dan apa yang ia katakan setelah jam istirahat dimulai.
Di depan lapangan basket sendirian menurut dia padahal ada Bling disana duduk disebelah kanan Good menghadap ke arah yang sama.
"Apa yang harus kukeluhkan?" kata Good.
"Kamu kenapa?" tanya Bling.
Good tidak mendengar.
__ADS_1
"Hatimu sedang sedih. Lalu?" tanya Bling.