
Chapter 38: Berlari, Bersembunyi dan Dia marah.
Bintang bintang bersinar diantara wajah tampan Bob.
Red penuh kegirangan saat dipilih oleh Bob untuk naik keatas panggung bersama dengan Bob.
Saat semua menunggu Bob mengucapkan kalimat penyambutan untuk Red lampu mati begitu saja.
Pihak pusat perbelanjaan langsung bertindak dan dalam satu menit semua lampu menyala kembali dan apa yang terjadi tak ada Red diatas panggung.
Mencari dan satu pesan masuk kedalam ponsel Ran yang masih ada di baris depan diantara para fans.
"Aku pergi dulu" kata Red.
Ran pergi dari kerumunan fans itu pergi mencari sahabatnya yang pergi secara misterius.
Red sedang berada di sebuah area balap liar tempat yang baru pertama kali ia datangi.
Area balap ramai dengan orang orang yang mengikuti kegiatan ini. Tak jarang Red juga melihat orang orang bertaruh siapa yang akan memenangkan balapan yang akan segera dimulai.
"Kau yakin balapan belum dimulai?" tanya Red pada seseorang.
"Jika kau ingin datang, datanglah" kata seseorang itu.
Yang dilakukan oleh Red untuk mengajak Ran pergi ke sebuah launching parfum baru adalah salah satu cara agar Ran tak mengikuti kemana Red pergi saat ini.
"Kau mendengarku?" tanya Hantu bergaun hitam pada salah satu pembalap yang sedang ada di area race balapan.
Pembalap ini mulai sulit berkonsentrasi.
"Aku ingin membunuhmu" kata hantu bergaun hitam.
Red melihat hantu itu lagi tidak seperti sebelumnya.
Dia melihat seseorang sedang diikuti oleh seorang hantu yang mengarah ke sebuah jalan yang terkenal untuk diadakan sebuah balapan liar di dekat pusat perbelanjaan sepuluh menit tadi Red ada disana.
Red mengedipkan matanya sekali dan mengeluarkan kekuatannya hingga sampai ke arah pemuda yang diikuti oleh hantu itu.
Hantu itu kesakitan dan terlempar di area tengah rumput balapan dan menghilang.
"Aku tidak percaya kau benar benar datang" kata Jimmy.
"Jimmy" kata Red.
Kedua remaja ini adalah teman yang bertemu saat mengikuti sebuah pencarian bakat modeling.
"Kau sedang mendukung temanmu?" tanya Jimmy.
"Teman ku?" tanya Red.
"Iya. Temanmu ada disini juga" kata Jimmy.
Acara balapan ini akan segera diketahui siapa yang akan menjadi pemenangnya.
"Lihat juara kedua itu. Dia temanku namanya Ge, jangan dekati laki laki itu" kata Jimmy.
"Aku rasa kau terlalu mengistimewakan ku" kata Red.
Jimmy tertawa kecil saat mendengar Red berkata ini padanya.
"Dia kan?" tanya Red.
"Remaja yang menjadi juara itu?" tanya Jimmy.
Red tak melanjutkan perkataannya tadi.
"Dia Jun. Juara bertahan disini" kata Jimmy.
Red belum memberi komentar.
Ge berjalan ke arah Jimmy dan Red setelah selesai balapan.
Sedangkan untuk Jun sedang mendorong motornya ke arah pinggir jalan agar lebih aman.
Helm nya ia lepas saat ia sudah melepas helm ia melihat seseorang yang ia kenal ada disana.
"Untuk apa Ge ada disana. Dia akan mencari korban lagi" kata Jun.
Jun dengan membawa helm berjalan ke arah dimana Ge tuju sekarang.
Ge mulai akan menyapa Red dan mengajak dia mengobrol.
Jun langsung menarik tangan Red.
"Apa kalian sudah selesai. Ayo kita pergi!" kata Jun raut wajah yang agak kesal.
"Kau mau bawa dia kemana?" tanya Ge.
Jimmy sedang melihat kedua pemuda ini yang mulai emosi.
"Dia pacarku. Kau mau apa, lepaskan tangan mu dari tangannya" kata Jun.
Jun menarik paksa Red untuk pergi jauh jauh dari Ge dan Jimmy yang ada disana.
"Pakai helm mu" kata Jun.
Red memakai helm dari Jun.
Ge dan Jimmy melihat mereka berdua yang akan pergi dari arena balapan liar itu.
"Apa benar dia pacar anak itu?" tanya Ge.
"Mungkin" jawab Jimmy.
"Apakah gadis itu bisa mengendalikan remaja itu?" tanya Ge.
"Kau tertarik pada gadis itu?" tanya Jimmy.
"Aku hanya ingin main main saja" kata Ge.
"Sama saja kau ingin berkelahi denganku" kata Jimmy.
"Kau membuatku takut" kata Ge.
"Kau akan menyesal jika tak mendengar nasihatku" kata Jimmy.
Mereka melihat Red ikut bersama Jun melaju dengan motor pergi dari are wilayah balapan itu.
"Turun didepan toko itu" kata Red.
Red turun dari motor.
Red menunjuk ke arah toko buku. Dia melepas helm milik Jun tanpa berkata apa apa.
"Kau marah?" tanya Jun.
"Ya" kata Red berkata membelakangi Jun berjalan ke arah toko buku di depannya.
Jun memarkirkan motornya disebelah toko buku mengejar Red.
"Bukan maksudku seperti itu" kata Jun.
__ADS_1
Red berhenti menatap Jun.
"Lalu apa maksudmu? tanya Red.
"Aku. Aku tak masalah jika kau pergi ketempat itu" kata Jun.
"Lalu?" tanya Red.
"Aku hanya tidak ingin temanku bergaul dengan Jimmy dan Ge temannya itu" kata Jun.
"Aku mengerti. Kau mau tinggal atau pergi?" tanya Red.
"Tinggal" kata Jun.
"Oh ya. Maaf soal tadi" kata Jun.
Tingkat kemarahan Red telah turun level dari delapan menjadi ke level tiga.
"Pria baik" kata Red.
Jun terpaku saat mendengar Red mengatakan kalimat itu.
"Pria baik" kata Bay.
Jun teringat oleh Bay yang mengatakan hal sama dengan Red barusan.
Mengingat lagi kenangan masa bersama dengan Bay dulu.
"Apa kau akan berdiri disana terus?" tanya Red.
"Oh" kata Jun.
Jun ikut kedalam toko buku bersama Red.
Remaja ini tersenyum saat melihat Red.
Toko buku cukup ramai banyak orang orang datang terutama para pelajar dan mahasiswa ada disana didalam toko buku.
Meja meja juga disediakan untuk para pengunjung untuk membaca buku disana. Jun belum berhenti memandang Red yang sedang membaca buku budaya di tangannya.
"Kau sedang apa?" tanya Red.
"Memperhatikanmu" kata Jun.
"Mau sampai kapan?" tanya Red.
"Sesuka ku" kata Jun.
"Jangan tunjukkan semua pesonamu" kata Red.
"Aku baru mulai" kata Jun.
"Aku tahu, lalu?" tanya Red.
"Aku tahu kamu orang sibuk, berhentilah" kata Red.
"Ok" kata Jun.
"Oh ya. Darimana kau kenal dengan Jimmy?" tanya Jun.
"Terlalu dini untuk cemburu" kata Red.
"Apa kau bercanda, aku mengkhawatirkan mu" kata Jun.
"Oh. Terimakasih" kata Red.
"Kau bebas berekspresi" kata Jun.
Ran ada di dekat toko buku.
Ran sedang menghubungi Red lagi tapi belum juga diangkat oleh Red.
Didalam toko buku Jun melihat ada Ran yang ada disekitar toko buku. Ponsel Red terus di telepon oleh Ran. Jun sudah berusaha mendiamkan ponsel Red agar gadis yang sedang memilih buku itu tidak mendengar bahwa ponselnya berdering.
Siswa siswa itu sedang mencari seseorang dan itu adalah Jun.
Jun menutupi wajahnya dengan buku yang berukuran besar saat tahu ada mereka mencarinya.
"Aku bisa mengalahkan mereka tapi bagaimana dengan kedua temanku ini" kata Jun.
Jun tak ingin kedua temannya di incar atau menjadi target mereka karena berteman dengannya.
Ran terus memanggil Red melalui ponsel.
Jun pura pura tidur dengan menutup wajahnya.
Red kembali setelah membeli buku yang ia cari tadi kemudian membacanya duduk di kursi didepan Jun.
"Aku di toko buku biasa" kata Red menjawab panggilan telepon masuk dari Ran.
"Aku sudah dekat toko, tunggu" kata Ran.
Segerombolan remaja laki laki itu masih didepan toko sedangkan untuk Jun masih pura pura tidur.
"Kau bersama dengannya?" tanya Ran.
"Begitulah" kata Red.
"Aku bawakan cokelat untuk mu. Oh ya, ini dari aktor idolamu tadi" kata Ran.
"Wahhh. Aku suka cokelat" kata Red.
"Bukan coklatnya tapi siapa yang kasih" kata Jun.
"Dia pura pura tidur ternyata" kata Ran.
"Kita juga sudah tahu kan" kata Red.
"Iya. Apa kau lihat remaja remaja diluar toko buku ini, mereka berteriak memanggil namanya sejak tadi" kata Ran.
Red dan Ran menahan tawa.
"Terima kasih teman" kata Jun masih pura pura tidur.
Ponsel Jun berdering.
"Good memanggilmu" kata Red kepada Jun.
"Bilang padanya. Jangan datang ke tempat ini atau wilayah ini" kata Jun.
"Tapi, dia ada didaerah ini" kata Red.
"Suruh dia sembunyi di tempat aman" kata Jun.
"Good. Kau sembunyi ditempat lebih aman" kata Red.
Ponsel Jun ditaruh kembali di dekat meja saat Jun masih pura pura tidur.
"Aku bukakan bungkus coklatnya untukmu" kata Ran.
Ran sedang membuka bungkus cokelat untuk Red.
__ADS_1
"Aaaaaaaa" kata Ran.
Red sudah bersiap sambil baca buku.
"Tidak. Ini untukku" kata Ran.
Lalu apa yang dilakukan oleh Red adalah merebut semua cokelat miliknya dari tangan Ran.
"Sudah ku duga" kata Ran.
"Kenapa kalian tidak jadian saja" kata Jun.
"Bukankah kau menyukainya?" tanya Ran.
"Jangan bercanda. Ini cokelat untukmu" kata Red.
"Terima kasih teman" kata Ran.
"Kau meniru kata kata ku" kata Jun.
"Bayi kecil kita harus tetap tenang. Jika ingin selamat, iya kan" kata Ran.
"Betul" kata Red.
"Terimakasih Tuhan telah memberikan teman teman seperti mereka" kata Jun.
Red membuka bungkus cokelat lalu memberikan satu kepada Jun.
"Ini untuk mu" kata Red memaksa Jun menerima cokelat untuk Jun pada tangannya.
"Kita tak harus jadian untuk bisa baik ke orang lain kan" kata Ran.
"Terima kasih coklatnya" kata Red menerima cokelat dari Ran.
"Kita masih remaja tidak tahu jika kita dewasa nanti" kata Jun.
"Kita sudah tahu kan, Red?" tanya Ran.
"Kita dewasa sebelum waktunya" kata Red.
"Apa salahnya kita selangkah lebih dewasa dari yang lain?" tanya Jun.
"Pelan kan suaramu, mereka masih di luar toko ini" kata Red.
"Aku juga mau diperhatikan oleh mu" kata Ran.
"Kapan kita baca buku?" tanya Red.
"Maaf. Semua ini salahku" kata Jun.
Good ketahuan oleh salah satu rombongan yang mengejar Jun yang terbagi di beberapa tempat wilayah Jun ada disana.
Good lari dari kejaran mereka dengan sekuat tenaga segala halangan ia lewati. Dia melewati sebuah pasar tradisional yang pada saat Good akan lewat jalan itu ada beberapa orang yang sedang membawa banyak ayam ayam yang masih hidup dan jumlahnya memang banyak.
Bukan teman Jun kalau tidak berani lebih tepatnya tak ada pilihan jalan lain hanya jalan yang akan Good lewati itu jalan untuk melarikan diri dan dia menerjang rintangan di depannya.
Perang ayam terjadi disana tak di hindarkan. Semua orang disana ada yang berlarian dan membantu mengejar dan di kejar ayam ayam tersebut.
"Mengasyikkan bukan" kata Good sambil tertawa melewati rintangan ini.
"Setidaknya bukan cerita sedih yang ku lewati" kata Good.
Wajah tampan yang berubah agak mengesalkan terutama bagi orang orang yang ada di pasar tradisional disana.
Sumpah serapah oleh orang orang di pasar itu jelas terdengar oleh Good dan remaja remaja laki laki lain yang sedang asyik kejar kejaran.
"Dimana aku bisa bersembunyi?" tanya Good.
Perasaan takut ia tak bisa ia pungkiri.
"Aku sembunyi disana saja" kata Good.
Besi panjang penghalang pintu masuk utama gedung terbuka.
Good masuk ke sebuah gedung sanggar seni.
Dia menerobos dengan cepat karena keberuntungan Good itu dia bisa masuk tanpa ketahuan oleh penjaga disana yang sedang berganti shift.
Good masuk kedalam gedung itu lalu setelah ia masuk dengan mudah. Penjaga di shift kedua baru saja masuk menggantikan penjaga sebelumnya.
Di hadang semua remaja remaja tadi dengan memasang besi penghalang masuk gedung.
"Yes!" kata Good penuh semangat.
Good sudah masuk di lantai pertama di sebuah ruang menari sanggar tari tersebut. Dia membuka tirai abu abu ruangan tersebut melihat remaja remaja laki laki yang tadi mengejarnya gagal menangkap Good.
Good membalikkan tubuhnya dan apa yang ia lihat.
Gadis gadis yang masuk dari pintu lain datang dengan cepat dan dengan terburu buru pula akan mengganti pakaian mereka di hadapan Good.
Satu gadis yang akan berganti pakaian langsung berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaa!"
Satu tumbler berisi air melayang dengan cepat di wajah Good.
Good pingsan.
Gadis gadis itu tidak jadi berganti pakaian disana mendekat kearah Good yang pingsan sekarang.
"Apa yang harus ku lakukan. Dia tidak mati kan?" tanya seorang gadis panik.
"Tunggu. Aku seperti mengenal remaja ini" kata gadis itu.
"Kau mengenalnya?" tanya teman gadis itu.
Good dikelilingi sepuluh gadis di ruangan tersebut.
"Ayo kita seret dia keluar dari ruangan ini" kata gadis pertama.
"Seret" kata temannya yang lain juga.
"Ya. Ayo kita seret" kata gadis pertama.
"Kenapa dia temanku. Jika kalian mau kita harus menggotong anak ini bersama?" tanya Gadis pertama.
"Benar kata Bee. Kita juga belum berganti pakaian dan lebih tepatnya kita salah paham" kata teman Bee.
"Kita harus membawa dia ke security untuk melihat CCTV apakah dia benar ingin mengintip atau ini hanya salah paham" kata Bee.
Bee tidak jadi latihan menari ada disana dan juga para security yang siap memakan Good tapi tidak jadi.
Good sudah pingsan selama satu jam.
"Kenapa kau terus melihat ku. Aku tahu, kau mau bilang aku tampan kan?" tanya Good.
Satu gadis tercantik di sekolah dan satu remaja laki laki tertampan di sekolah bertemu.
"Kau mau ku pukul ya" kata Bee.
"Mau apa kau datang ke sanggar tari ku?" tanya Bee.
__ADS_1
"Aku sungguh tak bermaksud melakukan itu. Tadi, aku benar benar sedang bersembunyi dari kejaran orang orang" kata Good.
Good baru melihat gadis tercantik di sekolahnya sedang marah.