Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 76: You are The Winner


__ADS_3

Chapter 76: You are The Winner.


"Aku bisa melihat mu lagi" kata Jun.


 Dia teringat disaat ia melihat Bling pertama kali masuk kedalam raga Red memutar waktu dan dia mulai kacau tentang apa yang ia lihat tidak percaya bahwa itu bisa terjadi didalam hidup ini.


"Waktu tidak mau menunggu. Tapi, kau datang dan aku tidak percaya karena kamu memang sudah pulang" kata Jun.


 Jun dan Red naik bus yang sama berdiri di koridor bus  dengan pegangan besi diatas langit bus yang tersedia untuk para penumpang.


 Jun berbicara didalam hati tenang Bling.


"Kamu yang bersembunyi didalam raga temanku" kata Jun.


"Setiap hari rasanya aku sangat senang bisa melihat mu" kata Jun.


"Itu terdengar berlebihan di usiaku yang masih remaja" kata Jun.


"Aku tahu Bling ada di raga Red lalu aku harus bagaimana?" tanya Jun.


 Di tangga depan kelas kelas Jun dengan kedua tangan di saku celananya menunggu Red yang mulai pergi meninggalkan lapangan basket sekolah.


 Dia melihat ke arah gadis itu diantara siswa dan siswi lain yang juga melewati jalan menuju kelas mereka.


 Gadis itu berhenti.


 Red menatap mata remaja ini dengan amat serius.


"Dia membuatku salah tingkah" kata Red.


 Red melanjutkan langkah pergi ke arah yang sama dengan siswa lain yang juga menggunakan jalan itu.


"Apa aku tampan?" tanya Jun.


  Red menghindar dari temannya yang mulai agak sedikit mengubah emosi.


"Jawab aku. Kenapa menghindar?" tanya Jun.


 Jun mengejar Red terus saat gadis ini akan pergi ke kelas.


 Jun belum menyerah hingga sampai di tangga menuju kelas mereka.


 Red berjalan di sebelah kiri Jun sedangkan Jun sebaliknya.


 Remaja laki laki ini melihat Red yang akan terjatuh dari tangga karena sepatunya yang licin.


"Hati hati!" kata Jun.


 Jun menahan Red yang hampir terjatuh dari anak tangga.


"Kenapa terus melihat ku?" tanya Red.


"Sorry" kata Jun.


 Red terselamatkan dari bahaya jatuh dari tangga sekolah.


  Gadis ini berjalan lagi lebih awal dari Jun.


 Dia membalikkan pandangan mata birunya kepada Jun.


"Kenapa kau terus disana. Ayo sebentar lagi masuk kelas?" tanya Red.


 Jun masih termangu disana melihat Red yang melanjutkan menaiki anak tangga.


"Tidak. Tidak mungkin" kata Jun.


 Jun kemudian melanjutkan berjalan di anak tangga di belakang Red sambil terus memikirkan apa yang baru saja ia saksikan di depan matanya sendiri.


"Kau tadi melihatnya?" tanya Jun.


"Ya. Aku melihatnya" kata Doe.


"Apa aku akan segera mati?" tanya Jun.


"Kemungkinan iya" kata Doe.


"Aku tidak mungkin tahu kapan aku mati" kata Jun.


"Tapi tadi" kata Jun.


"Tubuh mu menghilang dalam beberapa detik" kata Doe.


"Ya. Aku tak melihat bayangan tanganku sendiri" kata Jun.


"Aku harap kau jadi arwah gentayangan yang jahat" kata Doe.


"Serius. Tadi aku melihat diri ku lenyap" kata Jun.


"Biasa saja. Kau pada akhirnya akan mati seperti manusia lainnya" kata Doe.


 Doe mengendalikan raga Jun kali ini. Dia bercermin di jendela kaca kelas sebelum masuk kedalam kelas.


"Jika kau akan mati lalu kau akan bersedih dan bercerita kepada semua orang" kata Doe.


 Doe masuk ke kelas mengendalikan raga Jun.


 Dia tidak langsung duduk di kursinya sendiri melainkan menyapa Sammy.


"Hey cantik" kata Doe.


 "Kau sudah tidak waras" kata Sammy.


"Tidak. Itu benar, kamu memang sangat cantik melebihi pacar temanmu ini" kata Doe menujuk ke arah Jimmy.


 Jimmy tersenyum mendengar kata kata yang Doe ucapkan. Dia ada didepan Sammy duduk di kursinya menghadap arah depan kelas sambil bermain ponsel.


 Jun pergi dari hadapan Sammy.


 Sammy berbalik arah melihat Jun yang berjalan menuju kursinya.


"Anggap saja dia sedang kemasukan hantu" kata Sammy.


 Sammy berbalik ke arah depan kelas lagi.


 Red melihat Jun yang sedang di kendalikan oleh Doe.


 Doe, dia melihat ke arah luar jendela menatap langit.


 Melihat kearah pesawat terbang yang melintas di atas langit gedung sekolah melewati langit biru tanpa awan putih terlihat meninggalkan jejak putih jelas terlihat dari dalam kelas.


 Cahaya tak berhenti masuk di jendela jendela kelas semakin menambah cahaya setelah mendung tadi.


 Doe berbicara kepada Jun didalam hati.


"Apa kau ingin terlepas dari penyakit mu ini?" tanya Doe.


"Apa kau punya solusi?" tanya Jun.


"Ada" kata Doe.


"Katakan apa itu?" tanya Jun.


"Ambil saja botol merah milik Sima itu" kata Doe.


 Botol merah itu terlihat oleh Doe dan Jun.

__ADS_1


"Apa konsekuensinya jika aku mengambilnya dari Sima?" tanya Jun.


"Dia bisa pergi selama lamanya dari dunia ini" kata Doe.


"Jangan bicara lagi!" kata Jun.


"Jika kau tidak melakukan itu. Orang lain juga bisa melakukan itu" kata Doe.


"Kenapa kau memberitahu ini kepada ku?" tanya Jun.


"Kau memang harus tahu" kata Doe.


"Apa dia sudah tahu?" tanya Jun.


"Maksudmu Red?" tanya Doe.


"Ya. Dia" kata Jun.


"Sejak awal dia tahu tapi untuk saat ini dia menolak tawaran itu" kata Doe.


"Kenapa dia tidak mau?" tanya Jun.


"Dia tidak suka hal hal yang tidak sempurna seperti jika saat ini ia merebut obat itu dari tangan Sima" kata Doe.


"Oh ya. Jika obat itu terbentuk sempurna itu lebih baik dan Sima tidak akan meninggal" kata Doe.


"Apa kita punya cukup banyak waktu?" tanya Jun.


"Sudah ku bilang kau akan cepat meninggal" kata Doe.


"Jangan bicara lagi padaku" kata Jun.


"Itu memang benar. Kau akan mati" kata Doe.


 Perbincangan yang tidak berakhir dengan perdamaian.


 Doe mengambil ponsel dari saku celana Jun. 


"Kau mau apa?" tanya Jun.


 Hantu yang merasuki tubuh Jun sedang memesan dua tiket untuk pergi ke tempat wahana permainan.


"Siapa yang akan kau ajak pergi?" tanya Jun.


"Sammy cantik" kata Doe.


"Hey. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jun.


"Tenang saja. Aku tidak akan berbuat macam macam dengan gadis itu" kata Doe.


"Siapa yang akan menjamin?" tanya Jun.


 Beberapa menit kemudian.


"Berhasil" kata Doe.


 Dua tiket berhasil Doe beli secara online melalui aplikasinya yang ada di ponsel yang baru di install sebelumnya.


 Seberapa keras usaha ia untuk melepas kendali dari hantu yang bernama Doe itu tetap saja dia tidak kuasa dengan hal ini.


"Sekarang kau mau apa?" tanya Jun.


 Doe dengan sesuka hati memanfaatkan raga yang ia pinjam dari Jun untuk datang menemui Sammy yang sedang sibuk dengan orang orang yang memesan kue nya secara online.


"Why?" tanya Sammy.


"Sore ini kita pergi ke tempat ini?" tanya Jun.


 Dia menunjukkan tiket yang tertera di layar ponsel satu adalah milik Sammy dan yang satunya lagi atas nama Jun sudah terverifikasi nama mereka berdua.


"Apa kau berbuat salah padaku atau aku berbuat salah pada mu?" tanya Sammy.


"Bisa tidak jangan negative thinking datang saja nanti pukul empat sore" kata Jun.


 Doe langsung pergi duduk kembali di kursi kelasnya.


"Hey. Hari ini, aku sangat sibuk" kata Sammy.


 Hantu ini mengingat kembali di saat ia menyentuh jemari Sammy tadi saat gadis itu mengambil ponselnya untuk memeriksa tiket yang sudah Doe pesan.


"Apa kau sedang berpikir aneh?" tanya Jun.


"Stop. Aku memang aneh tapi apa kau tidak melihatnya tadi?" tanya Doe.


"Apa?" tanya Jun.


"Disaat aku menyentuh jemari tangan gadis itu, tangan mu tidak menjadi bayangan seperti sebelumnya" kata Doe.


"Apa terjadi seperti itu?" tanya Jun.


"Bicara dengan seorang bocah memang sulit" kata Doe.


"Maksudmu aku bodoh dan kau pintar?" tanya Jun.


"Tidak perlu dijelaskan" kata Doe.


"Pintar. Kau sedang mengambil kesempatan didalam kesempitan" kata Jun.


"Tapi yang jelas kau tidak boleh terlalu dekat dengan Red jika nyawamu ingin lebih lama" kata Doe.


 Dia tidak bisa bertindak apapun disaat Doe sedang mengendalikan raga miliknya.


"Kau punya surat izin mengemudi mobil?" tanya Doe.


"Punya" kata Jun.


 Doe melihat alamat rumah Jun yang terselip di sebuah kertas di buku notes hitam milik Jun.


 Dia pergi kesana ke rumah Jun.


 Sampai didepan gerbang rumah bercat putih.


 Para penjaga rumah terkaget dengan kepulangan anak dari bos mereka.


"Tuan Muda!" kata security yang berjaga didepan pintu.


"Tuan Muda" kata Doe didalam hati.


 Pintu gerbang rumah dibuka Doe masuk kedalam rumah dan mencari di mana letak kendaraan roda empat milik keluarga Jun di simpan.


 Dia sedang berada di dalam sana melihat beberapa kendaraan yang terparkir didalam garasi.


 Pilihannya tertuju kepada satu tipe mobil dan itu adalah mobil dengan tipe convertible berwarna merah milik Ayahnya Jun.


 Dia sudah bertanya kepada salah satu asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Jun untuk memberikan kunci mobil tersebut.


"Ini Tuan kunci mobilnya" kata seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahunan.


"Terimakasih Bibi" kata Doe.


 Dia adalah asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Jun.


 Doe berhasil mendapatkan kunci mobil dan kemudian membawa pergi mobil itu.


"Saya pinjam sebentar mobilnya" kata Doe.

__ADS_1


 Security yang berjaga didepan gerbang mengangguk mengiyakan perkataan Doe tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang ada di raga Jun.


"Aku tidak percaya ini" kata Red.


 Setelah mengirim kue setelah pulang sekolah Sammy tiba tiba datang di rumah Flow untuk mengambil Red mengajaknya pergi ke suatu tempat dan hanya ada mereka berdua. Sammy tidak mengajak siapapun temannya yang lain selain Red.


 Doe sudah di depan rumah Sammy namun dia tak  kunjung keluar.


"Telfon saja gadis itu" kata Jun.


 Jun merasa kasihan karena Doe sudah siap siap pergi dengan Sammy dengan banyak persiapan.


"Setelah ini cepat kau kembalikan mobil ini. Rasanya gengsi ku hilang seketika" kata Jun.


"Mengapa kau tidak memanfaatkan semua yang kau miliki ini?" tanya Doe.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Dia menjawab panggilan dari mu tidak?" tanya Jun.


"Ponselnya tidak aktif" kata Doe.


"Sudah itu sudah sangat benar" kata Jun.


 Doe masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesin mobil pergi meninggalkan rumah Sammy.


 Kemudian, Doe menunggu Sammy di tempat wahana permainan yang sudah Doe tentukan akan bertemu ditempat itu.


 Dia menunggu dengan wajah Jun yang terlihat sabar.


"Astaga. Hari ini aku sampai bolos kerja" kata Jun.


"Aku tidak peduli" kata Doe.


"Apa kau sesuka itu dengan gadis itu?" tanya Jun.


"Jelas jelas dia gadis paling cantik di kelas bukan Si Rubah itu" kata Doe.


"Begitulah kehidupan" kata Jun.


"Kau pasti jauh lebih tahu tentang Sammy" kata Doe.


"Tidak juga karena aku bukan dia" kata Jun.


 Jun baru sadar bahwa di sisi lain juga sudah ada disana seseorang yang pernah menjadi mantan Sammy sebelumnya. Jimmy.


"Tidak perlu menyapa orang itu" kata Doe.


 


 Jimmy juga sedang menunggu seseorang dan itu adalah Sima.


 Jimmy sambil memegang kameranya memotret di sekitar wahana permainan yang mulai gelap.


 Jun sudah tidak bisa dan tidak mau menasehati keduanya yang keras kepala dalam bidang percintaan yang sudah jelas gadis yang mereka tunggu tidak kunjung datang di tempat itu.


"Kau akan menyalahkan ku terus" kata Jun.


"Apa kalian bertengkar. Dia terlihat menyukai mu, tapi kenapa dia tidak datang?" tanya Doe.


"Kita berdua masih berteman saja" kata Jun.


"Tak ada yang lain?" tanya Doe.


"Tak ada. Cepat pulang kembalikan gengsi ku yang hilang itu" kata Jun.


 Maksud dari Jun adalah mobil milik Ayahnya.


"Kau pelit sekali" kata Doe.


"Ketika aku banyak bicara. Itu sangat menyebalkan" kata Jun.


  Doe membuka pintu mobil dan menyalakan mesin mobil pergi dari wahana permainan itu.


 Doe kali ini percaya kepada kata kata Jun dan segera langsung mengembalikan mobil milik orang tuanya.


 Sesampainya dirumah Jun.


 Ayahnya ada disana dan pasti melihat anaknya sudah lama tidak pulang kini pulang.


 Tak ada kata apapun yang keluar dari lisan keduanya.


 Doe yang ingin menyapa Ayahnya Jun tak kuasa dengan lisannya yang terkunci.


  Dia hanya bisa berbicara kepada Jun didalam hatinya.


"Apa seperti ini?" tanya Doe.


"Cepat pergi dari sini. Jangan banyak bertanya!" kata Jun.


 Pemilik raga itu terdengar penuh amarah disaat berbicara itu kepada Doe hantu yang masuk kedalam tubuhnya.


"Kenapa kita tidak bisa bersama lagi?" tanya mantan kekasih Flow.


"Entahlah. Kenapa kita harus berpisah?" tanya Flow.


"Tak ada kesempatan untuk ku lagi?" tanya mantan kekasih Flow.


"Ini tidak mudah" kata Flow.


"Kau masih datang ditempat ini?" tanya mantan kekasih Flow.


"Aku suka melihat lampu lampu mobil dari atas tempat ini" kata Flow.


"Disini sangat indah" kata mantan kekasih Flow.


"Disini selalu indah" kata Flow.


 Hari semakin gelap lampu lampu diatas jembatan panjang itu telah menyala terang.


 Orang disebelah kiri Flow sebelumnya sudah pergi. Sekarang,  tinggal disana teman lamanya yang ada disebelah kirinya baru datang.


 Banyak para pecinta fotografi datang disana untuk mencari momen terbaik mengambil gambar mereka dengan kamera yang ada di genggaman tangan memotret langit yang menguning kian berubah menjadi jingga kemerahan langit tercipta diatas sana bersama matahari yang menemani mereka.


 Jax mengupas kulit buah jeruk yang berwarna kuning.


"Ambil ini. Hmmm" kata Jax.


 Flow terlihat agak canggung.


"Terima saja" kata Jax.


 Flow menerima buah jeruk yang sudah di kupas kulitnya oleh Jax.


 Flow menangis sambil sesenggukan ketika memakan buah dari Jax.


"Kenapa kau menangis?" tanya Jax.


 Dia cemas.


"Baru kali ini ada orang yang mengupas buah untuk ku" kata Flow.


"Ada ada saja" kata Jax.


 Jax tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Flow.


 

__ADS_1


__ADS_2