Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 65: Seseorang Yang Tak Terduga


__ADS_3

Chapter 65: Seseorang Yang Tak Terduga.


"Aku ambil tempat ini" kata Bob.


Bob menghubungi Jun yang ada di tempat gym milik Ben dan sekarang dia benar benar datang.


Jun sibuk sekali dengan permainannya.


Bob juga disana tanpa mempedulikan orang orang sedang memperhatikan. Dia kan artis.


"Ada apa kau mencari ku?" tanya Jun.


"Tidak ada apa apa. Aku hanya merindukanmu" kata Bob.


"Tidak mungkin" kata Jun.


"Mungkin saja" kata Bob.


"Kau gagal mendapatkan Kak Flow?" tanya Jun.


"Mudah sekali menebak" kata Bob.


"Mau apa lagi paling muter muter itu" kata Jun.


"Kapan kau pulang ke rumahku?" tanya Bob.


"Ngapain?" tanya Jun.


"Astaga. Kenapa punya satu keponakan kaya begini?" tanya Bob.


"Masih ada lagi" kata Jun.


"Oh ya yang itu" kata Bob.


"Tadi. Aku ketemu "Yang itu" bareng Flow sama Dan" kata Bob.


"Yang itu ada namanya" kata Jun.


"Iya tahu ada namanya" kata Bob.


Obrolan ringan antara paman dan keponakan di jeda sebentar. Si Paman sedang menerima panggilan telepon dari seseorang kemudian pergi ke luar tempat gym sebentar untuk berbicara dengan orang yang meneleponnya.


"Paman mu ternyata aktor itu?" tanya Wren.


"Katanya sih begitu. Tidak tahu benar apa nggak" kata Jun.


"Dia memang pamannya" kata Good.


Good lewat membawa segelas teh buah hangat.


"Untuk ku" kata pamannya Jun.


Good cuma bisa bilang.


"Kita harus menghormati orang yang lebih dewasa" kata Good.


Dia kembali ke dapur untuk membuat teh buah hangat lagi.


Dia duduk kembali di depan layar monitor dan menaruh teh buah hangat disebelah kiri keyboard.


"Kita sampai dimana?" tanya Bob.


"Memang kita tadi bicara apa?" tanya Jun.


"Kau ingin memutus kontrak dengan ku?" tanya Bob.


"Ayo kita lanjutkan obrolan kita saja" kata Jun.


Jun memang sedang sibuk bermain game online dan tak ingin bertengkar dengan pamannya itu.


"Tadi aku tidak bertengkar dengan Flow tapi dia langsung pergi saat ketemu aku" kata Bob.


"Tidak mungkin. Kamu pasti buat masalah lagi" kata Jun.


Didalam ruangan bermain game online hanya ada Jun dan teman temannya.


"Mengapa aku harus berbohong" kata Bob.


"Terus Paman mau aku gimana?" tanya Jun.


Dia agak kesal.


Teman temannya Jun sudah mulai memasang semua headphone mereka di kedua telinga mereka termasuk Ben yang sedang makan es buah dari Bee tadi.


Bob belum menceritakan semuanya dan Jun tahu itu.


"Bujuk Flow agar dia mau maafkan aku" kata Bob.


Good kembali dengan teh hangat miliknya.


Good melihat atmosfer di ruangan yang baru saja ia masuki.


Dia mengambil headphone di depan layar monitor kasir yang ia jaga.


Good duduk sambil mengecek jumlah pengunjung malam ini di pusat gym ini.


Lalu meminum sedikit teh hangat buatannya sendiri.


Mereka berdua masih mengobrol dengan topik pembahasan yang belum berganti.


"Coba jujur saja. Tadi, kenapa Kak Flow sampai pergi?" tanya Jun.


Jun masih belum percaya dengan kata kata yang di ucapkan oleh Bob.


"Dia cemburu disaat aku bawa temanku di sebuah kafe dan pada saat itu juga ada Flow di kafe itu" kata Bob.


"Teman paman yang mana. Yang model baru itu kan?" tanya Jun.


"Iya" kata Bob.


Jun tak percaya dengan penjelasan itu semua karena dia tahu bahwa wanita itu bukan teman dari Bob melainkan adalah pacar barunya.


Hatinya memendam amarah.


"Kemarin aku melihat mu bermesraan dengan wanita itu. Kamu bilang itu teman" kata Jun.


"Untung saja dia paman ku sendiri. Kalau tidak" kata Jun.


Jun menunggu Bob melanjutkan kata katanya.


"Cara apa lagi agar dia bisa percaya padaku lagi?" tanya Bob.


"Dia tidak suka hal yang berbau romantis sedangkan kamu sangat menyukainya?" tanya Jun.


Bob belum menjawab pertanyaan dari keponakannya itu.


"Lihat. Tidak bisa jawab kan" kata Jun.

__ADS_1


"Kamu tadi bilang, dia bersama dengan Dan dan Jax. Kau harus minta maaf padanya" kata Jun.


"Tapi aku tidak merasa aku bersalah" kata Bob.


"Begitukah. Jika itu benar lalu bagaimana dia lebih memilih satu diantara Kakak ku atau Dan?" tanya Jun.


"Dia pasti lebih memilih ku" kata Bob.


"Yah kamu memang luar biasa. Coba saja" kata Jun.


Didalam hati Jun cuma bilang, "Dia tidak kenal siapa kakakku dan Radan itu".


Beberapa menit kemudian kursi sudah ditempati oleh pengunjung lain yang menggunakan layar monitor itu untuk bermain game online oleh Bob sebelumnya. Dia sudah pergi setelah asistennya menelepon untuk cepat kembali mengecek lokasi syuting.


Jun sedang bersandar di sofa dekat meja kasir menahan amarah kepada orang yang baru saja pergi dari tempat gym itu.


Sudah jelas dia marah wanita itu adalah Kakak dari gadis yang ia sayangi.


"Sepulang sekolah kita bertemu di kafe dekat bioskop biasa?" tanya Sima.


"Iya kita bertemu disana" kata Jimmy.


Jam pelajaran terakhir akan segera berakhir menunggu sepuluh menit lagi.


"Sorry. Aku tidak bisa menjaga Jun kali ini" kata Hera.


Hantu ini langsung pergi begitu saja.


"Tapi, ... " kata Red.


"Pantas saja hari ini aku disuruh pakai motor milik bos" kata Red.


Sepulang sekolah Red melihat situasi bahwa dia mendapatkan ruang aman untuk bisa mengawasi kemana pun Jun pergi.


Keluar dari kelas Red dengan santai berjalan beriringan dengan Sammy.


"Kita bisa pulang bareng kan?" tanya Sammy pada Red.


"Sorry. Hari ini aku harus pergi ke suatu tempat" kata Red.


Dan tampak biasa saja sikap yang Red tunjukkan didepan teman temannya yang ada di area parkir sekolah.


Red mengambil motor dan tanpa menunggu Jun dan yang lain.


"Aku pergi dulu" kata Red.


Dia terlihat sedang terburu buru dan serius.


Jun dengan Good sedangkan Ben dengan Marid.


Red juga melihat bodyguard Jimmy dengan sepeda motor hitam miliknya sudah lebih dulu mengikuti Jimmy didepan Red.


Jun juga menyusul kemudian bersama Good.


"Aku ada lembur hari ini. Maaf ya kita ke bioskopnya lain kali?" tanya Flow.


"Ok" kata Red.


Dia membalas pesan dari Flow disaat jam istirahat terakhir saat Red masih di sekolah.


Red sudah mengubah wajahnya menjadi wajah orang lain sehingga disaat gadis ini melewati remaja laki laki ini tidak sadar bahwa dia adalah Red.


"Terimakasih Kawan" kata Jun kepada Good.


Good pergi setelah mengantar Jun di salah satu pusat perbelanjaan dekat sekolah.


Jun melihat ini dari arah menuju didepan pembelian tiket bioskop.


Red terus mengikuti mereka dari belakang mereka.


"Akhirnya, dia tahu segalanya tentang mereka" kata Red.


Jun belum mengambil keputusan untuk mendekati mereka lebih dekat lagi. Dia sedang memberi jarak diantara keduanya tapi tetap saja Jun pergi memesan tiket dan ikut nonton film yang sama seperti yang mereka akan tonton.


Sima dan Jimmy masuk ke ruang bioskop bersama yang lain. Kemudian, menyusul bodyguard Jimmy setelah itu Jun.


Sima duduk disebelah kanan Jimmy sedangkan untuk Bodyguard Jimmy mengambil kursi di bagian belakang mereka dengan sepuluh kursi sebagai jarak kedekatan dari mereka berdua.


Jun datang setelah Dan sudah mendapatkan kursi untuk menjaga Jimmy.


Dia duduk langsung di kursi disebelah Sima.


"Popcorn nya manis" kata Jun.


Sudah Sima dan Jimmy tak bisa bergerak film segera di mulai.


Red mendapatkan kursi tepat disebelah kiri Dan persis. Dia tidak bisa menolak atau pergi karena film segera di mulai.


"Red" kata Radan atau biasa di panggil Dan.


Red terkaget saat kakak Ran itu bisa mengenalinya yang sudah berubah wajah sejak tadi.


"Kenapa dia bisa mengenali ku?" tanya Red.


"Kau lupa kau sedang sakit. Ini salah satu dampaknya" kata Bling mengisi pikiran Red.


Red duduk disebelah kiri Dan lalu film diputar lima detik setelah ia ada disana.


"Ini" kata Dan.


Dia mencoba berbagi popcorn kepada Red.


"Suasana apa ini. Jangan sampai aku naksir dengan orang disampingku" kata Red dalam diam sambil memakan popcorn.


Dan melihat kearah Red lalu memberi kode untuk menonton film yang sedang di putar.


"Ini Ran versi dewasa rupanya" kata Red.


"Fokus gadis jelek" kata Red pada dirinya sendiri.


Dari arah belakang tanpa bersuara Jun jelas jelas terus menggoda Sima yang sedang menonton film bersama dengan Jimmy.


Jimmy tak bisa berkutik dia tak marah karena yang dilakukan oleh Jun bukan menggoda seperti hal yang membuatnya cemburu tapi sengaja agar Sima dan Jimmy mengaku bahwa mereka sudah jadian.


Jimmy yang akhirnya tak tahan mengambil popcorn milik Jun agar di tidak berusaha menawarkan makanan miliknya kepada Sima terus.


Jun melihat layar bioskop lagi dan berbicara didalam akal dan pikiran.


"Aku harap sejak kejadian ini. Sima tak lagi mengganggu ku lagi" kata Jun.


"Maaf aku terdengar jahat. Tapi, kamu juga temanku" kata Jun.


Red agak tidak suka sebenarnya dengan film romantis tapi kenapa dia terlihat menyukainya.


"Aku mau nangis" kata Red.


Dan memberikan dua lembar tisu untuk Red yang menangis karena terharu menonton film.

__ADS_1


Red tak jadi nangis lagi setelah melihat kearah Dan lalu menatap layar bioskop lagi.


"Kapan filmnya berakhir. Kenapa kakak ini sangat menawan?" tanya Red.


"Usia memang tidak bisa berbohong" kata Red.


"Masih tetap labil juga kalau lihat orang tampan dikit" kata Red.


Jun terlihat dari belakang kursinya sudah tak menggoda Sima lagi seperti sebelumnya.


Dan setelah filmnya berakhir semua orang orang mulai keluar dari gedung bioskop tersebut.


Bodyguard Jimmy dan Red sudah lebih dulu keluar dari dalam ruangan itu.


"Aku harus kembali kedalam. Ada sesuatu yang tertinggal" kata Red.


Dia pergi mengambil sesuatu yang ada di kursinya tadi ia gunakan untuk menonton film.


Benda yang tertinggal itu adalah jaket miliknya yang merupakan hadiah dari Ran.


Saat akan keluar dari barisan tempat duduk tadi ia berpapasan dengan Jun.


"Bay" kata Jun.


Dia memanggil Red dengan nama Bay.


"Bay. Maksudmu?" tanya Red.


Wajah Red berubah menjadi wajah Bay atau Bling lalu kemudian berubah menjadi wajah Red kembali.


"Bay?" tanya Sima.


Dia ada di belakang Jun lalu Jimmy menarik tangan kanan Sima mencegah gadis ini untuk melihat seseorang yang Jun panggil sebagai Bay.


"Lepas" kata Sima melepaskan tangan Jimmy.


"Dia Red bukanlah Bay" kata Sima.


Jun dan Red saling bertatapan.


"Ini aku. Red" kata Red.


"Ada apa dengan kalian. Ayo kita keluar dari sini" kata Red.


Gadis ini berusaha untuk tetap tenang.


Jimmy merasa ini adalah sebuah pertemuan yang cukup aneh.


"Kenapa ada Red dan Jun ada disini?" tanya Jimmy.


Jun mengejar Red yang ada di depannya itu.


"Setelah ini kamu ada acara?" tanya Jun.


"Banyak. Banyak sekali" kata Red.


"Baguslah" kata Jun.


Bodyguard Jimmy dengan pekerjaannya memakai topi hitam dan masker kembali menjaga Jimmy.


Perjalanan arah keluar meninggalkan bioskop.


Jimmy terlihat sedih dan juga Sima.


"Ternyata seperti ini melihat orang lain yang kita sukai bersama orang lain" kata Sima.


Kedua remaja ini saling memandang.


"Aku juga tidak tahu arti hubungan kita" kata Jimmy.


"Jangan berkata bahwa kau juga menganggapku" kata Sima.


Berjalan beriringan namun tidak satu arah tapi mau saja diajak ketemu bareng baik itu yang perempuan ataupun laki laki sama saja.


Mereka menjalin hubungan hanya karena mereka sedang butuh seseorang ada disisi mereka yang bisa diajak menjadi teman itu saja.


"Aku harus pergi bekerja di kafe Kak Rose. Kau mau ikut?" tanya Jun.


"Bagaimana yah. Sepertinya, aku tidak bisa. Lain kali saja, ok" kata Red.


"Ok. Oh ya, Apa Ran sudah memberi kabar?" tanya Jun.


"Kenapa hayo?" tanya Red.


Sima dan Jimmy masih berjalan dibelakang mereka. Sudah tentu mendengar apa yang mereka bicarakan.


Tubuh Sima mengeluarkan asap berwarna merah kembali yang juga berdampak pada tubuh Red yang merasakan panas.


Kali ini Jun melihat lagi apa yang sebelumnya ia lihat didalam kelas dengan apa yang terjadi kepada Red dan Sima. Asap asap yang keluar dari tubuh keduanya dilihat oleh kedua mata Jun.


Itu terjadi beberapa detik saja kemudian menjadi normal kembali.


"Aku melihat hal itu lagi dan kembali seperti tidak terjadi apapun" kata Jun.


Itu yang sedang ia rasakan seperti hari sebelumnya setelah melihat kejadian yang sama.


"Aku pergi. Dah" kata Jun.


Jun pergi dengan cepat bersama teman satu profesi dengannya yang bekerja di tempat yang sama datang tepat disaat Jun baru keluar dari bioskop.


"Wren" kata Red menyapa.


"Hai. Kita pergi dulu" kata Wren.


Jun membonceng motor Wren untuk mengarah ke tempat yang sama.


Red mengambil motornya bersama dengan Dan.


Red sedang berpura pura bahwa dia baik baik saja padahal setelah Sima berbuat baik dia pasti merasakan rasa sakit yang luar biasa disaat itu juga.


"Kau baik baik saja?" tanya Dan.


Dan menepuk pundak Red sebelah kiri lalu disaat itu juga tubuhnya langsung tak merasakan rasa sakit apapun.


"Siapa dia sebenarnya?" tanya Red.


Red menatap mata Radan yang ada disebelah kirinya.


Di arah lain seseorang sedang mengawasi mereka terutama Red yang sedang bersama Dan.


"Dia bersama Radan. Apa dia tahu siapa itu Dan?" tanya seseorang yang sedang mengawasi Red.


"Dia masih sangat junior dibidang ini" kata Seseorang itu.


"Mengapa harus dia yang menjaga bocah nakal itu" kata Seseorang itu tentang Jimmy.


Seseorang dengan berpakaian serba hitam pergi dengan kekuatan teleportasi untuk melaporkan informasi ini kepada atasannya.

__ADS_1


__ADS_2