Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 148: Magic and Love. The end.


__ADS_3

Chapter 148: Magic and Love. The End.


 Dia telah berubah menjadi lebih runcing darah itu masih didalam sana bertambah lebih banyak seiring bertambah berubah bentuk pulpen kristal yang Jun terima menjadi sebuah tombak cahaya putih kristal datang diantara tombak itu kemudian mereka saling menyerang dengan satu arah yang sama.


 Jun dengan kristal kristal yang keluar dari dalam raga.


 Tombak itu masuk kedalam tengah tengah atas  kepala Makhluk Misterius itu dengan darah keluar sekaligus dari dalam tombak itu segera menyebar ke seluruh bagian raganya.


 Jun melewati menembus makhluk misterius itu yang telah mengubah dirinya jauh empat kali lipat lebih besar di setiap detiknya.


"Daaarrrrrrrr!"


 Makhluk misterius itu meledak tertembus tombak yang di tusuk di bagian atas kepalanya oleh Jun.


 Energi pelindung milik Ran menaikkan levelnya naik satu tingkat menjadi pelindung teman temannya sejak mulai Hech terjatuh.


 Semua sudah berakhir, dia sudah benar benar telah hancur.


 Jun dengan seragam sekolah penuh darah dan luka yang sudah sembuh tombak itu kembali menjadi pulpen kristal indah miliknya lagi ikut menghilang dengan kristal kristal yang masuk kedalam raga.


"Kau sudah sadar?" tanya Marid.


"Ini bukan mimpi" kata Samima.


 Kristal kristal milik Jun keluar dari punggung Jun dan itu tidak bisa ia lakukan untuk saat ini.


 Dia duduk diatas tanah berumput kemudian melihat kedua temannya yang penuh tanda tanya yang terlihat di sorot mata mereka.


 Marid masih membantu pacarnya untuk duduk setelah tadi tidak sadarkan diri berbaring diatas lantai berumput.


 Mencoba lagi mengeluarkan kristal penyembuh untuk teman teman mereka namun belum juga berhasil.


 Menarik nafas.


 Hech dengan kekuatan yang sudah pulih dengan bantuan dari Ran.


"Kau sudah kembali" kata Hech.


"Dimana Ran?" tanya Jun.


 Red datang kemudian dengan teleportasi, dia ada di samping kanan memberikan senyum hangat miliknya tapi yang Jun lihat bukanlah Red melainkan gadis lain yang sedang tersenyum padanya saat ini.


 Hech memberikan buku yang ada di saku dalam  jaket sebelah kanan kepada gadis yang ada di sebelah kanannya itu.


"Ini sudah menjadi tugasmu" kata Hech.


 Red mengambil buku itu dan mengambil botol yang dimiliki oleh Sima sebelumnya yang diberikan olehnya kepada gadis itu.


 Menaruhnya di atas telapak tangan sebelah kiri botol berwarna merah menyala sangat terang ketika tutupnya terbuka jatuh semua isi dari botol itu di atas buku yang menyala membiru terang terbang kemudian sangat terang perlahan meredup dan tersisa cahaya biru ada di dalam buku kembali di tangan Red dengan cepat. 


 Inilah waktu disaat mereka benar benar keluar dengan sendirinya dari raga mereka yang menjadi rumah singgah sementara.


"Misi ku sudah selesai" kata Doe.


 Hech mengaktifkan mode energi kedap suara di antara mereka menutup pembicaraan antara Doe dan Samima begitu juga dengan dirinya yang tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh keduanya.


 Samima yang sudah tersadar segera berlari menghampiri Doe.


 Dia ingin memeluknya dengan erat dan tidak bisa.


"Kenapa kau menangis wajahmu jadi tidak cantik?" tanya Doe.


"Ini kakakku yang sangat tampan itu. Kau tidak berubah sama sekali" kata Samima.


"Aku hanya … " kata Doe.


 Dia pergi dengan cepat di hadapan mereka yang ada disana.


"Kakak Doe!" Samima memanggil.


 Dia tetap tidak muncul kembali.


 Gadis ini jongkok dan tertunduk menangis.


 Situasi yang sama terjadi kepada Jun melihat dengan sendirinya gadis yang ia sayangi keluar dari raga Red.


 Hech juga mengaktifkan mode kedap suara untuk Bay dan Jun.


 Dia sama seperti Doe tidak bisa diraih oleh jemari tangan Jun sedih dan air mata ada jatuh dari pelupuk mata Jun begitu juga dengan Bay atau juga dipanggil Bling saat ini.


"Maaf" kata Jun.


"Kenapa kau selalu minta maaf. Kau tidak bersalah" kata Bay.


"Mungkin jika aku tidak pergi bersamamu hal itu tidak akan terjadi" kata Jun.


"Jangan menangis hidup ini terlalu singkat hanya untuk terus bersedih" kata Bay.


 Bay makin menghilang dan akhirnya pergi.


 Energi mode kedap suara milik Hech dinonaktifkan.


 Ran belum kembali dengan udara masih dengan energi biru milik Ran ada disana.


 Di pantai dengan Bob yang terlihat sedang tidur di kursi kayu miliknya padahal dia sedang pingsan tidak sadarkan diri setelah Uri keluar dari dalam raganya lima detik yang lalu.


 Radan bersembunyi di antara para pengunjung pantai lain yang juga sedang berpesta mereka di malam minggu ini.


 Dia tidak ingin bertemu dengan Uri pada saat ia keluar dari raga Bob lalu menghilang dua detik kemudian.


 Radan menghapus ingatan tentang misi ini kepada asisten pribadi Bob.

__ADS_1


"Kali ini pasti berhasil" kata Radan.


 Radan menaikan level energi penghilang ingatan miliknya untuk menghilangkan ingatan milik Darren.


 Radan menghapus air matanya lalu segera pergi meninggalkan pantai itu setelah Uri benar benar telah pergi ke tempat tinggal sebenarnya saat ini.


 Cahaya merah muda ada di atas pantai itu.


 Jamie sedang bekerja menyempurnakan roh yang tersesat itu agar bisa kembali ke tempatnya yang sebenarnya.


"Pekerjaanku telah selesai" kata Jamie.


 Pergi dengan jubah hitam dan separuh penutup wajah.


 Energi milik Jamie juga ada di atas lapangan itu indah berterbangan di awan.


 Red masih menunggu dimana Ran untuk kembali disana.


 Good membantu Bee untuk bangun dengan luka parah yang ia miliki.


"Itu pasti sakit" kata Good.


"Semuanya" kata Bee.


 Hech menunggu seseorang yang seharusnya sudah datang sedari tadi.


 Dari langit yang sama Jamie kembali dan sekarang berdiri di atas gedung bersebelahan dengan Ben.


"Kau siap!" kata Jamie.


"Mulai!" kata mereka berdua bersamaan.


 Dari arah seratus meter mereka berdua ada diatas sebuah gedung mengaktifkan energi mereka masing masing tepatnya hanya dengan waktu dua puluh detik waktu yang mereka butuhkan untuk menyembuhkan orang orang yang ada di area lapangan futsal di bawah mereka.


 Dalam waktu dua puluh detik itu sudah mulai mereka menjalankan misi mereka berdua dirasakan oleh ke ketiga teman mereka yang ada disana.


 Hech melihat dari arahnya berdiri saat ini melihat kedua remaja di atas gedung itu lalu Ben melambaikan tangan kanan pada Hech.


"Dia sedang mengawasi kita berdua" kata Ben.


"Senior Hech?" tanya Jamie.


"Begitulah" kata Ben.


 Dua puluh detik berakhir Ben langsung kembali ke rumah sakit tempat ia saat ini sedang dirawat meski ia tahu bahwa ia sudah sembuh total tapi itu terlalu magic untuk seorang remaja seusianya dengan luka yang ia alami saat ini terpaksa ia melakukan ini untuk menghindari kehebohan.


 Hech masih mengawasi Jamie yang sedang mengambil semua hantu hantu yang sudah menjadi serpihan serpihan diantara mereka yang ada disana yang baru saja pulih.


 Kelopak bunga bunga mawar merah muda hadir diantara mereka semua membawa serpihan serpihan daging itu masuk ke dalam kelopak kelopak bunga terbang diantara mereka kemudian dengan cepat kembali di telapak tangan gadis yang ada di atas gedung itu yang  diawasi oleh Hech lalu memasukkan kembali kelopak bunga bunga itu ke dalam kotak kayu miliknya.


 Jamie pergi tanpa jejak dengan teleportasi.


 Jun masih tertunduk menangis dengan kepergian roh gadis yang ia sayangi dan Juga Samima juga merasakan rasa sedih karena baru saja bertemu dengan roh kakaknya yang meninggal karena bunuh diri.


 Red masih melihat energi biru milik Ran yang masih mengudara di sekelilingnya menahan rasa sedih.


 Marid yang sudah ada disebelah kiri Samima sedang menghiburnya di datangi oleh salah satu senior agen dari Presdir Ma itu. Hech.


"Aku akan mengambil kekuatan itu" kata Hech


 Dia dengan petikan jari mengambil kekuatan yang dipinjamkan oleh Hech kepada Marid di kedua matanya.


"Maaf sudah merepotkanmu" kata Hech.


 Kekuatan kedipan mata Hech diambil dari diri Marid.


"Aku kira aku manusia super" kata Marid.


"Kerjamu cukup bagus untuk seorang beginner" kata Hech.


 Hech kemudian menghilangkan ingatan mereka tentang masalah ini yaitu kepada Marid, Bee, Samima, juga Good.


 Mengirim kembali Bee ke dalam kamar pribadinya dalam satu kedipan mata ia lakukan dengan baju piyama putih bersih semula seperti sebelum ia mengalami hal ini. Dia nyenyak dengan beruang besar miliknya selimut merah muda ada menyelimuti diri gadis itu.


 Marid berjalan sendiri ke arah bangku panjang kayu di belakang rumahnya dengan bola futsal di tangan ia tertidur di sana.


 Samima kembali di mobil pribadinya dengan kedua asisten wanita pribadinya ada didalam mobil bersiap akan keluar mobil dengan makanan cepat saji siap dibawa oleh mereka menemui Marid yang sedang tertidur di atas bangku.


 Good ada di sebelah motornya yang ada di lapangan futsal dan baru saja melepas helm hitam yang ia pakai.


"Kita harus pergi" kata Hech.


 Mereka bertiga pergi berpisah dari tempat itu.


 Semua kembali pada waktu yang sedang berjalan sebagaimana mestinya.


 Mobil Samima terbuka dan mereka keluar dari dalam mobil dengan membawa banyak makanan untuk Marid di ikuti dari arah lain driver aktris ini yang datang dari tempat syuting film horor Samima ikut mengejar bos wanita mudanya yang sedang istirahat setelah syuting barusan.


 Good melihat ponselnya.


"Kenapa sudah pukul satu malam padahal tadi kurasa pukul setengah satu malam aku sampai disini?" tanya Good pada dirinya sendiri.


 Berjalan menemui Marid yang masih tertidur dengan ponsel di saku celana pendek sisi kanan.


 Good masih terus membangunkan sahabatnya itu yang masih tertidur meski ponselnya terus bergetar karena panggilan telepon darinya.


 Dia juga melihat pacarnya dengan jaket dan pakaian yang sama berlari dengan sangat cepat ke arah Marid melewat Good diikuti kedua wanita di belakangnya dan satu orang pria yang pernah ia lihat sebagai driver pribadi gadis yang barusan berlari sangat ceria.


 Samima melihat ponselnya dan menyalakan sebuah lagu dan diputar di sebelah telinga Marid sontak dia bangun dari tidurnya yang terlihat sangat lelap.


"Kau tidak mengangkat panggilan dariku" kata Good.

__ADS_1


"Kau menelponku?" tanya Marid.


 Kemudian mengambil ponsel dari saku celana miliknya itu.


"Banyak sekali yang menghubungi ku" kata Marid.


 Samima menunggu pacarnya menyapa disaat itu.


 Marid melihat pacarnya yang mulai sedih.


"Iya. Iya, kemari duduk di sebelahku" kata Marid.


 Marid menarik lengan kanan gadis itu.


 Gadis itu terlihat sangat senang dengan sikap Marid ini.


 Makan malam bersama di mulai dan suasana hangat bertambah ketika para kru kru pembuatan film juga ikut bergabung dengan mereka karena Ayahnya Marid mengizinkan mereka ikut bergabung dengan mereka.


 Good tidak ikut makan tapi dia menerima pemberian dari Samima berupa air mineral dalam botol rupanya Good sedang merasa situasi akan berubah dalam detik yang mungkin tidak bisa diprediksi olehnya.


 Setelah lima belas menit kemudian Ayahnya Marid menyuruh kru kru film untuk mempersiapkan persiapan syuting di adegan berikutnya yang tersisa disana hanyalah ada enam orang.


"Sayang" kata Samima.


"Ya" kata Marid.


 Good dan kedua asisten Samima serta driver pribadinya ada disana sedang melihat ponsel mereka.


 Good mulai siap siap dengan kaki yang siap pergi.


"Bicara saja" kata Marid.


"Apa ada pilihan lain yang ingin kamu berikan padaku lagi?" tanya Samima.


"Pilihan apa?" tanya Marid.


"Kamu bilang … " kata Samima belum melanjutkan kata katanya pada Marid.


 Good berjalan pergi dari mereka berdua dengan menelepon staf restoran yang sedang bekerja di shift malam di restorannya.


 Ketiga orang yang bekerja dengan Samima juga ikut pergi menuju mobil pribadi gadis itu.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Marid.


"Katanya kamu bilang aku harus memilih kedua pilihan itu" kata Samima.


"Aku lupa" kata Marid.


"Aku memilih putus" kata Samima.


 Gadis ini pergi meninggalkan Marid yang harus menerima bahwa dia harus putus dengan pacarnya.


 Good ada di sebelah motornya melihat gadis itu menghapus air matanya saat lewat tepat di depan mata.


 Berlalu Good menunggu gadis itu masuk kedalam mobilnya lalu pergi meninggalkan area tempat futsal itu.


 Marid. Apakah dia sedih yang jelas sedih tapi dia sudah memberikan pilihan itu kepada gadis itu demi kebaikannya di masa depan.


 Mereka pergi menjauh dari Marid.


 Good datang  duduk disebelahnya berjarak satu meter mengeluarkan tisu dari saku dalam jaket sebelah kiri.


 Melempar kepada Marid.


 Mengenai lengan kiri remaja itu.


"Kenapa dia baik dan aku seperti ini?" kata Marid.


 Marid uring uringan disana sedih karena baru saja putus dengan mantan pacarnya itu.


 Good langsung mengirim pesan dengan kalimat romantis kepada Bee karena dia takut hal yang sama bisa saja terjadi pada dirinya.


 Banyak sekali dan banyak sekali emoticon love untuk pacarnya itu.


 Melihat ke arah Marid.


"Aku tak ingin putus dengan Bee" kata Good.


 Marid melihat ke arah Good.


 Dia sudah tahu akan seperti apa perlakuan yang akan ia dapat dari sahabatnya itu.


"Jangan mencekik lagi" kata Good.


 Good berlari pergi meninggalkan Marid.


"Aku pulang!" kata Good.


 Tangan kanannya sambil melambaikan tangan ke atas sebagai salam perpisahan.


 


 Energi biru milik Ran sudah menghilang dari sana.


 Red sedang di meja ruang tamu di rumahnya sendiri menunggu seseorang menghubungi ponsel yang ada di meja.


 Ponsel itu berdering lembut.


"Red" suara Ran terdengar lagi memanggil.


Selesai sekian dan Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2