
Chapter 24: I Believe.
Setahun yang lalu.
Papan-papan reklame dengan lampu lampu di tiap-tiap toko menyala berwarna-warni dan baliho-baliho yang dipasang di atas toko atau sepanjang jalan yang akan dilewati.
Pukul tujuh malam jalanan kota sangat ramai toko toko penuh lampu terang dengan penuh seni dekorasi dan strategi pemasaran yang mereka lakukan untuk menarik para pembeli agar mau datang ke toko mereka.
Orang orang berlalu-lalang di sepanjang jalan dengan aktivitas di malam ini.
Seorang anak yang sedang memakan bakso bakar bersama kedua orangtuanya di depan salah satu pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan kota. Ada yang bersama dengan keluarga.
Remaja-remaja masih dengan seragam sekolah menengah atas mereka bergabung dengan teman teman mereka meski hanya sekedar lewat ataupun membeli camilan pinggir jalan ada bersama teman dan sahabat.
Tak jarang juga terlihat bersama dengan kekasih mereka bahkan tak jarang mereka yang sudah berusia lanjut tak mau kalah ikut meramaikan.
Pemuda dengan sepatu high-tops dan celana jeans hitam pendek berkaos putih Gallace dengan jaket galet hitam memandang ke depan arah jalan yang akan ia lalui.
"Aku hampir sampai tunggu aku"
Pemuda ini kemudian berlari menuju tempat sekarang pacarnya sedang menunggu di tempat wisata air yang ada di danau dekat pasar malam ini.
Dua puluh meter lagi pemuda ini akan tiba ditempat tujuan.
Kapal belum dinyalakan mesinnya dan masih tenang mengapung diatas air danau masih menunggu para penumpang lain yang telah memesan tiket yang akan segera datang sesuai batas waktu naik kapal.
Dari bawah danau muncul sebuah tangan seperti tangan wanita penuh luka sayatan di setiap pergelangan tangan sampai lengan pucat dan kemudian menarik gadis bergaun hitam berambut panjang tersebut.
"Burrrrr!"
Gadis ini tertarik kedalam danau oleh pemilik tangan pucat tadi.
"Tolong!"
Suara gadis itu meminta tolong.
Pergerakan hantu perempuan itu sangat cepat tak memberi kesempatan lebih banyak pada gadis itu.
Gadis itu berusaha naik ke atas air danau. Dia menendang kepala hantu yang menariknya ke dasar danau hantu itu menarik kaki gadis itu kemudian dengan kekuatan jahat yang ia miliki. Tak butuh waktu lama, dia mulai sulit untuk bernapas dan tenggelam jauh menuju dasar danau.
Ponsel gadis itu ada diatas kapal penumpang untuk wisatawan yang ingin menumpang untuk menikmati pemandangan danau di dalam hari.
"Uri. Aku sudah sampai, kau dimana?"
Tak ada jawaban dari kekasihnya hanya terdengar suara dari pemuda pacar gadis pemilik ponsel itu.
Di lantai kapal tertinggal satu sepatu high heels hitam milik gadis yang terjatuh kedalam danau tadi. Lima menit lalu, dia ada disana.
Pemuda itu terus mencari dimana tepatnya pacarnya sedang menunggu. Dia menemukan kapal yang dinaiki oleh pacarnya tapi tak ada gadis yang ia cari di atas kapal itu.
Pengemudi kapal bermesin itu baru menyadari bahwa ada penumpang kapalnya terjatuh kedalam danau.
Ia memanggil bantuan dari pihak keamanan yang ada di danau dan pihak kepolisian melalui ponselnya. Lalu, ia beserta para awak perahu terjun kedalam danau untuk mencari gadis yang menumpang di kapalnya tadi.
Orang orang disana mulai berkumpul di sekitar tempat kejadian hilangnya gadis itu dan banyak para awak kapal terjun ke danau mencari gadis tersebut. Ini mereka lakukan agar mencegah gadis itu tidak terlalu jauh jatuh ke dasar danau yang terkenal dengan kejernihan tidak terlalu dalam untuk ukuran danau lainnya.
Pemuda yang merupakan pacar dari si gadis sudah ada diatas kapal dan menerima ponsel dan sepatu milik gadis itu dari awak kapal lain yang ada diatas kapal.
Pemuda ini juga ikut mencari dengan terjun ke dalam danau.
Lima belas menit berlalu gadis itu belum ditemukan.
Lima menit kemudian, dia akhirnya bisa ditemukan oleh Dan dan bantuan orang orang disana.
Gadis itu dibawa naik ke atas kapal dan diberikan pertolongan pertama dari petugas medis yang sudah datang sedari tadi menunggu gadis itu ditemukan.
Langsung saja, dia dibawa kerumah sakit. Namun, sayang nyawa gadis tersebut tidak bisa tertolong.
Dua tahun yang lalu di sebuah pertandingan olahraga tingkat nasional untuk pelajar dari sekolah menengah pertama sampai tingkat mahasiswa.
Cabang olahraga memanah.
Suara sorak sorai para penonton olahraga ini memberi dukungan kepada seorang gadis pemanah yang masih bersekolah menengah pertama bersiap melepaskan anak panah dari busur di tangan.
Suasana menegangkan di dalam stadion olahraga.
Satu anak panah terakhir tepat mengarah ke tengah papan itu. Tepat di arah nomor sepuluh poin yang sempurna menyempurnakan nilai dari semua nilai gadis kecil peroleh dari perlombaan kali ini.
Pertandingan olahraga bela diri baru saja selesai.
"Lihat gadis itu, selain cantik. Dia juga peraih medali emas tahun ini" kata teman Jun yang mendapatkan medali perak dalam cabang olahraga yang sama seperti Jun.
"Kau bicara apa, ayo kita pergi ke ruang ganti" Jun mengambil tas dan piala yang didapatnya tadi.
"Dia juga cocok dengan mu, kalian berdua sama-sama sebagai pemenang juara pertama" teman Jun mengejar Jun.
Jun dan bersama temannya pergi ke ruang ganti para atlet pria.
"Oh sorry" kata seorang yang membawa sebuah tas menuju area lapangan tempat lomba olahraga memanah telah berakhir beberapa menit lalu.
"Ok. Silahkan" Seorang pemuda mempersilahkan seorang wanita di depannya jalan lebih awal darinya.
Ini adalah awal pertemuan Flow dengan Dan.
Flow menuju adiknya sedangkan Dan menuju anak-anak didiknya yang baru saja selesai bertanding di cabang olahraga bela diri untuk putri di tingkat sekolah menengah pertama.
__ADS_1
"Kau pasti sudah menunggu. Sorry ya" Flow mengusap pipi adiknya yang berkeringat dengan handuk putih.
"Ayo kita ke pinggir lapangan" Ajak Bay.
"Biar aku sendiri" kata Bay mengambil handuk putih dari kakaknya itu yang digunakan untuk mengusap keringat di wajahnya.
Masih berjalan di area lapangan tempat pertandingan olahraga sedang istirahat.
"Kakak kabur dari kantor kan?" tanya Bay.
"Kenapa tidak, ini demi adikku" Flow mengucapkan ini dengan nada gembira.
"Sudah ku bilang jangan datang. Bagaimana kalau nanti Kakak mendapat sanksi dari perusahaan?" tanya Bay.
"Tenang saja. Pekerjaan kakak sudah selesai dan atasan Kakak sangat toleran" kata Flow mengatakan ini agar adiknya tidak cemas.
"Aku tidak merasa sedih jika kalian tidak datang. Aku tahu kalian selalu mendukungku untuk mengikuti lomba ini. Itu sudah cukup" Bay mengambil tas yang dibawa oleh Kakaknya itu.
"Berapa usiamu kau lebih pantas menjadi kakakku" Flow dengan tawa kecilnya.
"Sudahlah. Cepatlah pergi ke perusahaan Kakak lagi" kata Bay.
"Oh ya. Selamat sudah menjadi juara" Flow terlihat sangat senang adiknya menjadi juara.
"Terimakasih. Kakak jauh lebih hebat dariku, aku ingin cepat-cepat dewasa sepertimu" kata Bay.
"Menjadi dewasa itu penuh perjuangan. Sudahlah, ayo kita tidak boleh lama-lama disini teman-teman mu sudah memanggilmu disana" Flow berbicara pada Bay.
"Aku akan menunggumu di rumah kita akan memasak makanan kesukaanmu" kata Flow pada adiknya.
"Ok. Aku pulang cepat. Dah" Bay berlari cepat menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu untuk pergi ke ruang ganti.
Flow setelah datang menonton pertandingan adiknya tadi ia langsung pergi untuk kembali ke tempat kerja.
"Tak apa juara dua. Semangat untuk tahun depan lagi!" kata Dan kepada Sammy.
"Iya Sammy. Oh ya, aku memberikanmu tiket konser penyanyi kesukaanmu untukmu" kata teman Sammy yang mendapatkan juara pertama.
"Tapi tiket konser itu sangat terbatas dan juga mereka adalah idolamu" kata Sammy.
"Benar. Tapi, sungguh aku ingin memberikan itu untukmu" kata teman Sammy.
"Sungguh. Aku tidak apa-apa, tiket itu juga sudah susah payah kamu dapatkan" kata Sammy.
"Sudahkan saling menyemangatinya. Sekarang, kalian mau pergi makan dimana. Kakak yang traktir?" tanya Dan.
Dan menunggu diluar ruang ganti anak didiknya serta guru guru dan pelatih-pelatih lain yang memiliki kepentingan disana dan peserta lomba lain yang ada di luar ruang ganti menunggu antrian di kamar mandi.
Terjadi keributan di antara dua remaja yang sedang memperebutkan sebuah tas berwarna hitam polos.
"Lepaskan. Ini punyaku!" kata gadis itu mempertahankan tas hitam kotak itu dari tangannya.
"Kenapa kau tak mengalah. Ini memang milikku!" kata gadis itu.
Jun melihat ke sekeliling dan semua orang melihat mereka terutama kepada Jun.
"Dia kan juara pertama bela diri tadi. Ternyata, dia tidak mau mengalah dengan seorang gadis" salah satu dari mereka mengatakan hal ini.
Dan akhirnya, Jun mengalah.
"Ambil saja. Itu memang milikmu. Sorry" kata Jun pada gadis di depannya tersebut.
Gadis itu pergi dari hadapan Jun.
Temannya kemudian keluar dari kamar mandi.
"Eh. Jun. Kau mau pergi kemana?" kata teman Jun.
Jun juga bergegas pergi dari tempat itu.
Banyak orang orang yang melihat ini tentunya Radan juga melihat.
"Ku pikir tas itu milik remaja laki laki tadi. Mereka berdua salah paham ku rasa" Dan sedang menilai kejadian barusan.
Beberapa detik kemudian Sammy dan temannya sudah selesai berganti pakaian setelan olahraga. Sammy berwarna merah sedangkan untuk temannya berwarna biru gelap.
"Kalian sudah siap. Guru guru kalian sudah menunggu di depan stadion ini" kata guru wanita Sammy dan temannya yang menunggu mereka berdua bersama dengan Dan duduk bersebelahan.
Sammy dan temannya ikut dengan guru wanita dan pelatih mereka pergi untuk makan makan.
Saat di restoran Bay sengaja memesan menu makanan dengan porsi sedikit. Dia ingin cepat-cepat pulang.
"Ini ternyata bukan milikku. Ini milik remaja laki laki tadi" kata Bay saat ia membuka tas hitam kecil dari tas ranselnya.
"Ada buku tabungan dan kartu elektronik miliknya juga" Bay menemukan barang barang berharga milik Jun.
"Dia sangat membutuhkan ini. Aku harus mengembalikan ini sekarang juga" kata Bay.
Bay memasukkan nomor ponsel Jun yang ada tertulis didalam halaman pertama notes kecil milik Jun kedalam ponsel Bay.
"Maaf saya ada keperluan sangat mendesak. Jadi, saya harus pergi sekarang" Bay meminta izin kepada guru guru dan pelatihnya yang ada disana untuk segera bertemu dengan pemilik tas hitam yang ada di tas merah muda ranselnya.
Sebelum Bay meminta izin untuk pergi dari acara perayaan makan makan bersama guru guru dan teman-temannya.
"Sorry. Tas hitammu ada padaku?" Bay mengirim pesan kepada Jun.
__ADS_1
Balas Jun.
"Kau siapa?" tanya Jun.
Bay mengirim pesan lagi kepada Jun.
"Aku gadis yang waktu itu di depan ruang ganti berebut tas hitam denganmu" kata Bay.
Jun bertanya lagi memastikan bahwa ia tidak sedang ditipu.
"Buktinya?" tanya Jun.
Bay kemudian memfoto catatan rangkuman matematika yang ada di notes kuning dari dalam tas kecil hitamnya itu.
Jun memeriksa dengan detail foto yang dikirim oleh Bay apakah itu tulisan di notes tersebut miliknya.
"Benar. Kita ketemu dimana?" tanya Jun.
"Aku akan segera kirimkan alamatnya padamu" kata Bay.
Bay mengirimkan alamat tempat kerja Kakaknya, Flow.
Jun memeriksa tempat yang Bay kirimkan benar-benar aman untuk ia membuat janji bertemu.
Bay naik bus menuju kantor tempat kerja Kakaknya dan Jun menggunakan bus juga untuk sampai ditempat yang sudah ditentukan oleh Bay.
Saat ia akan pergi ke perhentian bus.
"Tempat ini terkenal sangat aman dan banyak orang orang beraktivitas disana dalam kegiatan positif" reaksi Jun setelah menganalisa alamat tempat yang tadi Bay kirimkan.
Pukul empat sore kurang lima menit, Bay sudah datang lebih awal dari Jun karena jarak restoran tempat makan Bay tadi tidak terlalu jauh dengan kantor kakaknya.
Jun belum datang.
Pukul empat sore lebih lima menit.
Bay memakai setelan olahraga berwarna hitam berlengan panjang dan celana panjang.
"Kau kemari?" tanya Kakaknya Bay.
Flow dengan setelan baju kantor putih blazer dan rok style tube berwarna putih pendek. Rambut lurus agak kecoklatan dan high heels hitam. Membawa tas hitam beraksen kerlap-kerlip.
"Wow. Kakakku masih tetap menawan padahal sudah pulang kerja" Bay memuji.
"Kau memuji ku lagi. Ayo cepat kita pulang" kata Flow meraih lengan tangan kanan adiknya.
Bay tersenyum kepada kakaknya.
"Wahhhh. Mencurigakan, ada apa hayo?" tanya Flow mencubit pipi Bay.
"Tunggu sebentar. Aku sedang menunggu seseorang" kata Bay.
Jun datang.
"Maaf sudah membuatmu menunggu" kata Jun.
Flow diam dengan terus mengamati situasi ini.
"Aku yang berbuat salah padamu. Aku seharusnya yang minta maaf" kata Bay.
Bay membuka tas ranselnya kemudian memberikan tas hitam kecil milik Jun.
"Aku coba periksa lagi. Mungkin ada yang tertinggal didalam tasku" kata Bay.
Bay juga memeriksa tasnya kembali.
"Semuanya lengkap. Terimakasih" kata Jun. Dia memberikan senyum manis kepada Bay.
"Oh ya kenalkan ini adalah kakakku namanya Flow" kata Bay.
Jun mengajak Kakaknya Bay untuk berjabat tangan.
"Saya Jun" kata Jun menyapa.
"Nona Flow" Flow memperkenalkan diri.
"Kita juga belum saling memperkenalkan diri secara resmi. Aku Jun, kamu?" tanya Jun memperkenalkan diri.
"Aku Bay" jawab Bay.
"Kalian berdua sudah bertukar nomor ponsel kan. Bagaimana dengan kakak?" tanya Flow.
"Boleh. Katakan berapa nomor ponsel kakak?" tanya Jun.
Jun bertukar nomor ponsel dengan Flow.
"Kita ketemu lagi lain waktu. Bye Bay" Jun pergi dengan cepat dari kedua kakak beradik itu.
Kakak beradik itu saling tatap menatap setelah berjumpa dengan remaja berpakaian olahraga serba abu abu dan ransel kotak hitam serta sepatu hitamnya.
"Kau lebih cepat dari kakak rupanya" kata Flow menggoda adiknya.
"Kau membuatku malu" Bay berjalan cepat di depan kakaknya.
"Dia juga sangat tampan pula" kata Flow terus menggoda adiknya.
__ADS_1
"Ayo cepat pulang. Ibu dan Ayah sudah menunggu" Bay terus menghindar dari godaan kakak perempuannya itu.
Terasa sejuk sore ini dengan pemandangan orang orang yang sedang sibuk beraktivitas dengan pekerjaan mereka masing-masing.