
Chapter 117: Mungkin Angker?.
"Kamu yakin kita bakalan terus mengambil arah ini?" tanya Ben.
"Entahlah. Tapi, kamu lihat foto ini" kata Marid.
Ben melihat foto yang ada di ponsel Marid.
Marid memperlihatkan foto sebuah pohon yang diberi tanda X yang sama seperti tanda dari pohon yang sudah terbelah menjadi dua.
Ben mulai berpikir dengan salah satu petunjuk yang diberikan oleh temannya itu.
"Kau lihat sama kan?" tanya Marid.
"Tidak sia sia kau ada disini" kata Ben.
Remaja itu tertunduk ke arah kakinya.
"Pinjam senter mu" kata Ben.
Senter itu berpindah ditangan kanan Ben mengarahkan mendekat dia sampai jongkok disana dengan apa yang ia temukan.
"Coba lihat. Cairan ini sepertinya sama dengan yang ada di pohon itu.
Marid ikut melihat dengan lebih dekat apa yang Ben temukan.
Ben juga menemukan sebuah jejak lain dibawah kakinya merujuk bahwa warna dari cairan kental di pohon itu sama dengan tetesan cairan di bawah kakinya.
"Apakah kita harus mengikuti jejak ini. Bisakah kita berpikir ini bukan jebakan?" tanya Marid.
"Menurutmu siapa yang membuat tanda di pohon pohon itu?" tanya Ben.
"Sungguh aku belum ingin mati disini" kata Marid.
"Kau pikir aku tidak takut jelas takut" kata Ben.
"Tapi aku lebih takut dengan Ayahku" kata Marid.
"Sudah tahu" kata Ben.
Kemana arah mereka pergi yang jelas mereka tidak tahu batas wilayah hutan yang sedang mereka lalui apakah ada di pinggir hutan atau bahkan masuk didaerah pedalaman hutan karena sinyal disana sama sekali tidak tersedia baik itu didalam ponsel Ben ataupun Marid sama saja tidak bisa melacak lokasi mereka secara online atau bahkan menelepon dan mengirim pesan tidak bisa mereka lakukan.
"Coba kita periksa sinyal lagi" kata Ben.
Mereka berdua memeriksa sinyal di ponsel mereka lagi.
"Luar biasa" kata Marid.
"Kita jalan lagi?" tanya Ben.
"Ayo!" kata Marid.
Mereka berdua melanjutkan petualangan.
Kabut asap hitam kian bertambah terlihat mengisi di setiap arah mata melihat menyusup tiap tiap rerumputan tinggi dan pepohonan tinggi hutan.
Pandangan mereka masih bisa melihat arah depan mereka menyingkirkan kabut kabut didepan mereka dengan tangan.
Sebuah perasaan yang sangat takut sudah jelas dan tak bisa lari atau menghindar dalam kenyataan ini bahwa nyawanya sedang dalam bahaya lagi.
Kejar mengejar terus terjadi.
Flow dan Uri mengalami ini.
Kabut itu terus mengejar keduanya meraih lengan tangan pemilik raga wanita yang sedang berlari.
"Sttttttt!"
Satu sayatan kabut itu melukai lengan wanita itu.
Wanita itu masih tidak peduli dan mereka tetap berlari menyelamatkan diri.
"Stttttt!"
Lengan kirinya terkena sayatan lagi.
Dia tak ingin berhenti berlari.
Luka sayatan kembali ia dapat beberapa kali di kanan dan kiri lengan tangan wanita itu separuh wajah itu semakin jelas bertambah pucat dengan darah yang terus jatuh dari lengan tangan.
Mode tak terlihat oleh raga Flow mulai kembali makhluk itu berhenti kehilangan jejak wanita dan hantu wanita didalam raganya.
Rambut acak acakan tak beraturan terlihat dengan keringat yang bercucuran. Dia menarik napas berhenti dalam langkah berbalik ke arah hantu yang mengejar.
Segera dia mengambil kesempatan ini untuk berlari lebih jauh lagi menghindar dari makhluk yang mengejarnya sedari tadi.
Dia berlari lagi dan berhenti.
Mengatur napas lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Flow.
Di depannya ada segerombolan anjing hutan yang menghadang terlihat ada yang duduk dan berdiri.
Menatap ke arah Flow dan Uri.
Berbicara dalam hati.
"Berbagi ide denganku" kata Uri.
"Tenang. Kita kurangi rasa panik kita" kata Flow.
Flow mengatur napas lagi agar jauh lebih tenang.
Melangkah pelan ke arah kanan.
Mata anjing anjing liar itu ikut ke arah kanan.
Terdiam. Flow dan Uri.
Melangkah lagi ke arah kiri.
Mereka melihat ikut ke arah kiri.
"Apa mungkin mereka menganggapku sudah menjadi hantu?" tanya Flow.
"Sepertinya iya" kata Uri.
"Tapi mereka tetap sebagai binatang buas" kata Flow.
"Cobalah melangkah lebih berhati hati" kata Uri.
__ADS_1
"Ok" kata Flow.
Perlahan lahan Flow mencoba melangkah untuk melewati mereka semua yang nampak tenang dan tak berbuat jahat disaat dia mulai berhasil melewati melewati anjing anjing hutan itu.
Semua berubah dalam jarak hampir dua meter yang ia sudah kira akan baik baik saja dan berhasil melewati semua itu nyatanya tidak semudah itu perhitungan seorang Flow dan Uri.
Kabut kabut asap itu masuk kedalam raga terhirup oleh binatang binatang liar yang ada didepan Flow dan Uri. Mata mereka berubah memerah semakin memerah.
Pandangan polos mereka berubah menjadi menyeramkan buas siap menerkam siapa yang ada.
"Aku ingat. Jangan pernah percaya dengan siapapun" kata Flow.
Flow kembali berlari lagi.
"Mereka hanya ingin memakan mu!!!!!!" kata Flow.
Kalau ini resiko dan rasa takut itu jauh lebih dari sebelumnya dan dia jauh lebih lebih mendapatkan sebuah tanggung jawab untuk bisa selamat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Merasakan rasa itu.
Lelah tiada terukur dalam pengejaran ini seperti pengejaran seorang yang sedang dalam kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat dan dia harus membayar semua yang bukan urusan atau hutang orang lain dengan kondisi sangat sekarat. Dia masih saja dikejar dan dikejar dengan tanggung jawab ini.
Sangat tidak adil bukan tentang hidup ini jika terus menuntut dan menuntut semua tiada artinya untuk kondisi yang dialami oleh wanita ini dan hantu yang ada di raga wanita itu yang sedang masih menyelamatkan diri dari kejaran anjing anjing liar dibelakangnya itu.
"Cobalah. Apa salahnya kita melawan hidup kita tak harus terus berlari" kata Uri.
"Aku ingat teriakan mu bahkan bisa menghancurkan lampu lampu itu" kata Flow.
"Akan aku coba" kata Uri.
Uri tak bisa berteriak dan kini Flow sedang menunggu dan dia tak terdengar suaranya berbicara dengan Flow baik dalam hati pikiran ataupun lisan Flow.
"Uri!" kata Flow.
Dalam langkah kaki dia mencoba memanggil nama Uri.
"Kau dengar aku!" kata Flow.
Tak ada jawaban dari hantu didalam raganya.
Sekarang hanya ada dia disana masih dalam kejaran anjing anjing yang telah di masuki energi jahat itu.
Separuh raga yang telah dimasuki oleh Uri terlihat otot otot wajah Flow seperti sedang terbakar perlahan disaat ia berlari.
Jejak jejak langkah kaki di sebelah kiri juga terlihat seperti tanah ikut terbakar karena telapak kaki Flow yang sedang menginjak dedaunan dan ranting yang baru saja ia injak langsung terbakar oleh pijakan kaki kirinya.
"Aku harus mencobanya" kata Flow.
Flow berhenti.
Anjing anjing itu bergerak merangkak memutar menatap tajam Flow dengan buas siap menerkam mangsa mereka.
Tangan Flow mendekat menunjukan telapak tangan menunjuk ke arah mata binatang binatang itu. Mereka mengikuti dan lihatlah.
Energi mereka terserap habis oleh Flow dalam satu putaran arah mereka langsung mati seperti terbakar mati di tempat.
Api di separuh raga Flow mulai padam.
Flow dan Uri langsung menghilang dari hutan itu.
Makhluk misterius itu juga menghilang entah kemana ia pergi sedangkan untuk kedua remaja laki laki itu masih mengikuti arah kompas dan mengikuti jejak yang mereka maksud seperti jejak tetesan darah.
Tiba disaat mereka pada sebuah jejak yang benar benar bahwa itu adalah jejak darah.
Marid mengambil daun yang terdapat tetesan darah di bawah kakinya.
"Darahnya masih segar" kata Ben.
"Darah ini bukan milik hewan tapi manusia?" tanya Marid.
"Semoga saja ini hanya dugaan kita" kata Ben.
"Semoga saja kita juga selamat" kata Marid.
Darah itu adalah darah yang keluar dari lengan lengan Flow yang tadi terkena serangan dari makhluk misterius yang berwujud kabut hitam tebal.
Ben dan Marid terus berjalan dan kini jauh lebih cepat langkah kaki mereka.
Didepan tempat gym Ben, Good sedang menunggu temannya disana bersama salah satu bodyguard Ben sedang bermain catur bersama.
Sekarang sudah pukul sepuluh malam dan Ben belum juga kembali ke rumah.
Jun datang dengan motornya masuk ke tempat parkir didepan tempat gym tersebut.
Menghampiri Good yang sedang bermain catur didepan bagian tempat gym.
"Ben dimana?" tanya Jun.
"Tadi katanya lagi sama Marid. Tapi, nggak tahu kenapa belum pulang" kata Good.
"Sejak kapan?" tanya Jun.
"Satu jam tadi" kata Good.
"Ini pesan yang aku terima dari Ben" kata Good.
Jun membaca pesan dari Ben.
"Aku lagi sama Marid" pesan Ben untuk Good.
"Kenapa belum balik?" tanya Jun.
Jun merasa perasaannya tidak enak dengan teman temannya yang belum juga pulang.
Dia mencoba menghubungi Ben. Tidak aktif.
Mencoba menghubungi ponsel Marid tak jauh beda sama saja tidak aktif.
Dia mengaktifkan mode mata putih miliknya dan mereka tidak terlihat dan dia tidak merasakan keberadaan mereka semua.
Jun melepas jaketnya dari kaus lengan putih yang ia pakai dan terlihat sesuatu yang aneh terjadi kepada kedua lengannya.
Memeriksa apa yang terjadi pada lengan jemari tangan kanan menyentuh keanehan keanehan itu.
Jun terdiam sesaat.
Dia seperti mendapatkan luka sayatan sayatan ditangan namun disaat ia periksa lagi dan lagi tangannya tak ada bekas apapun tapi jelas yang ia lihat adalah luka bekas sayatan disaat ia menyentuh lengan tangannya tetap tak ada luka apapun dan itu hanya terlihat saja.
Jun menelepon Red.
"Ya. Ada apa Jun?" tanya Red.
__ADS_1
Red sedang bersama dengan Sima.
"Periksa lengan mu!" kata Jun.
Red melipat jaket jeans yang ia pakai ke atas lengan tangan kanan.
"Luka apa ini?" tanya Red.
"Coba kau sentuh!" kata Jun.
Red melakukan intruksi yang diperintahkan oleh Jun.
"Heeeehhhhsttt!" kata Red.
"Kenapa tak terasa ada luka di kulit ku tapi sangat sakit jika disentuh?" tanya Red.
"Aku juga merasakan luka sayatan itu" kata Jun.
"Lalu Ben belum pulang. Dia juga bersama Marid" kata Jun.
"Aku masih berusaha mencarinya" kata Jun.
"Mungkin mereka sedang pergi bermain di suatu tempat" kata Red.
"Tapi setelah kejadian kemarin. Aku takut terjadi apa apa dengan mereka" kata Jun.
"Baiklah. Aku juga akan mencari mereka" kata Red.
Anjing anjing yang sudah terbakar oleh kekuatan Flow dan Uri kembali dimasuki oleh kabut asap yang penuh energi jahat kembali hidup menghidupkan mereka semua dengan asap yang masih keluar dari raga mereka.
Ben dan Marid ada disana melihat mereka bisa hidup kembali.
"Apa kau punya ide?" tanya Ben.
"Mereka terlalu banyak" kata Marid.
Mereka menyerang kedua remaja laki laki itu lalu semua hancur menjadi abu dengan waktu yang tak terhenti. Dia melakukan ini.
Energi pelindung muncul dari raga Jimmy seperti milik Red berwarna biru.
Jimmy masih menggunakan baju pasien rumah sakit berwarna hijau terang muncul didepan teman temannya.
"Apa Marid bisa menerima ini?" tanya Ben.
"Pukul aku!" kata Marid.
Itu ekspresi kata yang diucapkan oleh Marid melihat Jimmy yang ada disana.
"Kenapa kau sangat pelit sekali dengan kekuatan mu?" tanya Jimmy.
"Kau datang untuk itu" kata Ben.
Marid masih belum percaya dan Ben serta Jimmy sedang membahas tentang mereka dengan santai tanpa memikirkan teman mereka yang harus cepat menerima ini.
"Kalian sengaja membuatku tak waras!" kata Marid.
"Apa hanya aku yang waras disini?" tanya Marid.
"Ayo kita pergi!" kata Jimmy.
Jimmy mencoba untuk membawa mereka pergi dengan kekuatan teleportasi tapi suara tertawa muncul diantara mereka.
"Hahaha"
Itu suara Ben.
"Ini bukan wilayah kita" kata Ben.
"Terimakasih sudah menolong kami" kata Ben.
"Sama sama" kata Jimmy.
"Sejak kapan kalian akur?" tanya Marid.
Jimmy tidak mau berjalan didepan karena dia melihat sesuatu yang sangat aneh. Dia melihat percikan darah disekitar kakinya.
"Bukan saatnya kau takut dengan darah!" kata Ben.
Mereka bertiga berjalan lagi mengikuti arah kompas.
Marid masih sesekali melihat pada Ben dan Jimmy tentu merasa aneh dengan hal ini.
Kedua tangan terbuka dan mencegah kedua temannya yang ada di samping kanan Ben dan Jimmy disebelah kiri.
"Tunggu!" kata Marid.
"Ben dan aku sudah cukup berat ada disini. Kenapa anak orang kaya ini ada disini?!" kata Marid.
Terbata bata menjawab pertanyaan dari Marid.
"Kenapa tiba tiba kau marah?" tanya Jimmy.
"Aku masih belum percaya dengan mimpi ini" kata Marid.
"Anggap saja ini mimpi" kata Jimmy.
Ben juga mulai kesal dengan situasi ini dan malas jika harus menjadi penengah kedua remaja yang agak mirip Ini.
"Kalian sama sama menjengkelkan!" kata kata Ben.
Keduanya terpental jauh sejauh dua meter dari jarak Ben.
Marid jadi syok dengan apa yang dilakukan oleh Ben.
Dia langsung berdiri dan berjalan didepan Ben begitu juga menyusul Jimmy berjalan dibelakang Marid.
"Cepat disini gelap. Kau tidak takut?" tanya Jimmy.
"Aku tidak takut gelap!" kata Ben'
Jimmy sudah tahu kalau Ben memiliki sifat ini dan dia selalu menutupi hal ini dari semua teman temannya.
"Cepat!" kata Ben.
Mereka berdua pergi berjalan mengikuti arah kemana arah yang telah dipilih oleh Marid.
Jimmy mencoba bertanya kepada Ben, dan dia bertanya "Darimana dia tahu ini arah yang benar?".
"Karena dia berkata jujur" kata Ben.
"Ya. Aku memang tukang bohong" kata Jimmy.
"Aku lebih suka kalian tidak akur" kata Marid.
__ADS_1
"Terkadang kita memang seperti ini" kata Jimmy.
"Aku masih teringat dengan ulah mu terakhir kali" kata Ben.