
Chapter 129: Smile Again.
"Ponsel ku sudah tidak aktif sebelum datang kemari" kata Jun.
Jun sedang sangat peduli dengan gumpalan awan awan hitam yang berkurang diantara wilayah luas yang biasa di panggil langit itu.
Dia mengambil tas hitam selempang hitam yang ada di sebelah kanannya berbaring diatas lantai jalan aspal.
Marid terbangun membuka mata.
Terdiam menatap sekitar khawatir dengan apa yang akan terjadi jika hal hal seperti sebelumnya bisa terjadi lagi ketika ia membuka mata.
"Dia masih hidup?" tanya Marid berbicara mengarah Jun.
"Sungguh aku Jun" kata Jun.
"Hey. Kalian sangat serius sekali" kata Jimmy.
Ran sedang memikirkan seseorang sudah pasti dia memikirkan Red. Bagaimana dengan mereka apakah mereka juga sedang memikirkan jalan keluar pergi dari tempat ini bahkan sampai sekarang tidak ada percakapan yang membahas dimana Red berada. Apakah gadis ini masih hidup atau kemungkinan terburuk itu lalu dimana gadis ini tinggal.
Ran cemas dalam diam.
"Dimana Red?" tanya Jun.
Pertanyaan ini membuka obrolan tentang gadis ini.
"Dia" kata Ben.
"Dia pergi bersama kalian bukan?" tanya Jun.
Semua belum bisa menjawab pertanyaan dari Jun.
Jun juga melihat situasi mereka saat ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Jun yang memang lebih parah dengan luka yang mereka dapat.
"Dia tidak terlihat sejak kami datang di dimensi ini" kata Marid.
"Apa kita harus meninggalkan kau disini?" tanya Jimmy.
"Kau marah?" tanya Jun.
"Dia tidak selemah itu" kata Ran.
"Bisa tidak kalian jangan bertengkar" kata Ben.
"Ya. Kita semua disini bersalah karena tidak bisa menjaganya" kata Marid.
Mengalihkan pertanyaan.
"Sudah makan belum?" tanya Jun.
Kemudian, dia mengambil beberapa cokelat dari dalam tasnya.
"Tidak mau?" tanya Jun.
"Kita juga harus makan" kata Jun.
Jun membagi coklat dengan beberapa bagian lalu memberikan kepada semua yang ada disana memutar saling membagi antara teman yang satu dengan yang lain.
Sampai di Marid.
"Apa aku juga harus makan coklat?" tanya Marid.
"Makan saja lupakan phobia mu" kata Ben.
Makan coklat bersama.
Ran juga ikutan makan cokelat pemberian Jun.
Jun memikirkan sesuatu tentang coklat yang mereka makan.
"Seharusnya ini untuk Jamie tapi aku lupa" kata Jun.
"Keburu aku terluka" kata Jun.
Ran sambil makan coklat tapi dia makan sedikit demi sedikit.
Berbicara dalam hati lagi.
"Dia sudah makan belum" kata Ran.
"Aku kangen" kata Ran.
Marid tiba tiba berbicara unik.
"Apa ada diantara kalian yang kangen Red?" tanya Marid.
"Uhuk uhuk uhuk!"
Ran batuk sendirian diantara remaja laki laki di tempat ini.
"Kenapa kau batuk. Aku hanya asal bicara saja" kata Marid.
Jun dan Jimmy tanpa basa basi dengan ekspresi cemburu.
Ran agak malu sekaligus canggung.
Makan satu gigit coklat lagi.
"Apa kita perlu memanggil Dewa langit kemari?" tanya Marid.
"Jangan. Dia sedang sakit nanti tambah sakit" kata Ben.
"Meski kalian berkelahi. Apakah kalian bisa menang darinya?" tanya Marid.
"Siapa dia?" tanya Ran.
"Dewa langit" kata Ben.
"Apakah kita sedang bergosip?" tanya Jimmy.
"Kalian jangan membuat orang ini jealous. Bahaya tahu" kata Ben.
Sepuluh menit berikutnya.
Langit masih sama belum terjadi siang masih malam disini.
Ran dengan kedamaian sendiri sejak delapan menit sebelumnya. Tidur.
"Apa dia tidur?" tanya Jun.
"Biarkan saja. Dia tetap baik baik saja" kata Jimmy.
Dia, Ran memiliki kebiasaan tersendiri yaitu tiba tiba tidur meski sedang situasi mengobrol contohnya seperti ini.
Waktu berjalan terus sedangkan mereka tetap disana bukankah ini membuat frustasi dengan berbagai tuntutan yang bisa bisa menjadi beban bagi mereka dengan kisah mereka sendiri.
"Ponsel kalian memiliki sinyal?" tanya Jun.
"Tidak" kata Ben.
"Semua?" tanya Jun.
"Tidak" kata Jimmy.
"Bagaimana dengan teman kita itu?" tanya Jun menunjuk pada Ran.
"Sama" kata Jimmy.
"Kita tidak punya pilihan disaat terjebak disini" kata Jun.
"Yang kita punya hanya kompas ini" kata Marid.
Marid memberikan kompas miliknya kepada Jun. Dia menerimanya dan mulai menggunakkan kompas itu.
"Apa tempat ini tidak ada di peta?" tanya Jimmy.
__ADS_1
"Kau membuatku takut" kata Marid.
"Bukan berarti tidak ada kan" kata Jimmy.
Mereka sedang berdiskusi tentang bagaimana mencari solusi agar bisa selamat keluar dari tempat ini.
Marid juga ikut ikutan mengantuk dan dia berkedip lagi.
"Zreg zreg zreg!!!"
Semua teman temannya hilang dalam sekejap secara bersamaan
Semua tak ada di depan Marid kecuali Ran.
Bahkan ia tidak punya waktu untuk menghela nafas.
"Hey. Bangun!" kata Marid
Ran menyentuh wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Membuka mata.
Diam dan juga kaget.
Melihat ke seluruh arah.
"Kemana yang lainnya?" tanya Ran.
Marid panik.
"Pergi. Aku tidak tahu mereka pergi kemana" kata Marid.
"Gimana gimana?" tanya Ran.
Dia berdiri dari duduknya di atas aspal.
Ran mengaktifkan energi mata birunya untuk mencari keberadaan mereka.
"Dimana mereka?" tanya Ran.
Ran mencoba lagi mencari mereka.
Energi pencari telah aktif menyeluruh ke segala arah.
"Kita kehilangan jejak mereka semua" kata Ran.
Marid jongkok tertunduk dengan kedua tangan menutup mata.
Nada suara terdengar sedih.
"Semua gara gara aku" kata Marid.
"Kau bicara apa yang jelas" kata Ran.
Dia masih mencari teman teman mereka dengan kekuatan energinya.
Marid masih sangat menyesal dan merasa bahwa semua ini terjadi karena kesalahannya semata.
Ran ikut jongkok dan bertanya kepada Marid.
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan selama ini?" tanya Ran.
Marid lebih hening lagi dalam bersikap.
Diam tak mengeluarkan suara.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit hingga lima menit belum berkata apa yang ia alami sejak awal kenapa ia bisa ada ditempat ini bersama dengan teman temannya masuk kedalam dimensi ini tanpa sebuah rencana.
"Kenapa kau bisa menangis?" kata Ran dengan nada datar.
Marid masih dengan dirinya menutup wajah duduk di atas aspal jalan.
Energi kilatan biru muncul dari tangan kanan Ran.
Marid melihat pedang biru panjang sudah ada di tangan Ran dengan kilatan menakutkan.
"Itu terlihat berbahaya untuk apa kau keluarkan" kata Marid.
"Ini. Ini untuk orang orang yang tidak mau diajak kerja sama" kata Ran.
"Kau jauh lebih berbahaya rupanya" kata Marid.
Marid masih tetap tenang dengan senjata yang dikeluarkan oleh Ran wajahnya biasa biasa saja meski ia tahu bahwa orang di depannya bisa saja berbalik tidak mau menerima dirinya setelah ia bercerita tentang dampak kedipan matanya.
Pedang yang Ran pegang maju sepuluh sentimeter mendekat ke arah Marid.
"Apa kau tidak mau bekerjasama dengan ku?" tanya Ran.
Marid menempelkan kedua tangan lurus dengan tangan mengepal.
"Ambil saja nyawaku" kata Marid.
Matanya memerah setelah menangis dalam beberapa detik berlalu.
"Kenapa kau diam?!" tanya Marid.
Ran belum menyimpan senjata tajam sepanjang satu meter itu.
"Aku juga pernah menangis tapi tidak terlihat oleh orang lain" kata Ran.
"Ambil saja nyawaku" kata Marid.
Ran berpindah tempat jongkok di sebelah kanan Marid.
Bumi terasa aneh.
Ran dan Marid menjadi tanpa suara mendengarkan sesuatu itu bergerak dalam satu tempat.
"Gragggggghhhhh!!!!"
Semua yang ada di sekeliling mereka runtuh jatuh ke bawah menjadi jurang dalam gelap tak berujung.
Satu bongkahan aspal sebesar delapan sentimeter di sebelah kiri kaki Marid ikut terjatuh ke bawah jurang baru itu.
"Aku tidak perlu mengambil nyawamu. Lihat tempat ini" kata Ran.
Bongkahan aspal jatuh lagi ke bawah.
"Sepertinya aku telah berbuat salah" kata Marid.
Satu bongkah bagian pijakan kaki mereka jatuh lagi.
"Deg deg deg deg deg deg deg"
Suara jantung kedua remaja ini pelan berdetak namun mematikan kapan saja.
Mengatur ulang pernafasan dan mengumpulkan nyawa kesadaran diri mereka.
"Kenapa … " kata Ran.
Marid menutup mulut Ran dengan tangan kanannya membungkam agar temannya itu tidak bicara untuk saat ini.
Ran sadar apa maksud dari tindakan Marid.
"Kau jangan bicara dulu" kata Marid.
Dia mengetik kalimat di ponsel miliknya.
Selesai mengetik, dia memberikan kepada Marid.
"Apa yang terjadi?" tanya Ran.
Sepuluh sentimeter lagi tempat mereka berpijak hilang jatuh ke bawah jurang. Bongkahan aspal.
__ADS_1
"Kau tidak boleh bicara dan aku tidak boleh berkedip. Bagaimana siapa diantara kita yang paling beruntung?" kata Marid.
Ran tak mau tinggal diam dan tetap berada dalam masalah ini.
Mengaktifkan teleportasi.
Mata birunya bisa menyala dan sayangnya tidak berhasil.
"Kenapa jadi seperti ini Tuhan?" tanya Marid.
Ran duduk mencoba tenang.
Ran langsung loncat pergi dari sana membawa Marid pergi dari sana.
Berada ditempat berbeda dari jurang sebelumnya yang bisa dihitung lebarnya sekitar empat puluh meter.
Jurang itu kembali lagi terbentuk lagi seperti semula.
Marid berkedip lagi.
Ilusi mata yang mereka baca ingin menyimpulkan masih tetap manusia yang terlahir sempurna dan ditakdirkan untuk hidup menjadi stres karena segala bagian bagian tiap cerita baru yang akan mereka lalui selalu misterius terkadang menjadi sebuah kesedihan rasa takut cemas kehilangan yang juga terkadang menjadi sebuah hadiah.
Momen bagian bagian hadiah itu menggabungkan diri kembali dalam senyum sapa dunia ini setiap orang ingin memiliki apa itu yang dinamakan sebagai sebuah hadiah.
Semua bertaburan runtuh dari segala arah jatuh mengenai kedua remaja ini bagian bagian kecil memberi gambaran kepada mereka dalam bentuk terkecil mereka mata biru Ran melihat partikel kecil yang ia lihat.
Diantara gambar mereka juga sudah pasti disana terlihat serpihan kisah dari salah satu dari mereka berdua.
Mencuri waktu hanya untuk sekedar memandang atau berbicara dengan gadis itu dia sudah sangat senang. Dia juga disana dalam bagian cerita dirinya yang tak bisa terlalu ingin mengusik atau ingin tahu tentang sesuatu yang tidak perlu ia tahu meski ia tahu hanya karena tak ada alasan kenapa dia begitu menyukai gadis itu.
Merindukan seseorang tanpa ingin mengumbar kepada orang lain ataupun gadis yang ia sayangi.
Marid berkedip lagi.
Ran melihat ke arah Marid.
"Future husband" kata Ran.
"Kau melihat apa?" tanya Marid.
"Kau menyukai Red?" tanya Ran balik.
"Hah?!" kata Marid.
"Apa aku perlu meninggalkanmu disini?" kata Ran
"Ya. Aku menyukainya" kata Marid.
"Bagaimana jika dia lebih memilih orang lain?" tanya Ran.
"Suka suka dia" kata Marid.
"Selamat kamu lulus dalam tes ku kali ini" kata Ran.
Marid sudah berpikir bahwa semua akan berbeda jika mereka bertengkar.
"Dasar aneh" kata Marid.
"Aku bisa menjadi lebih aneh" kata Ran.
Suara detak jarum jam terdengar sangat keras menggema di udara.
"Deg deg deg deg deg"
Sangat bising.
"Arrrgggghhhhhhhh" keduanya berteriak.
Mereka di banting diatas aspal.
Darah keluar dari kedua telinga.
Hening lagi.
Melihat ke atas cukup cerah kali ini dengan kerlap kerlip cahaya malam.
Kini lebih kabut asap ringan berada datang lagi di sekitar mereka.
Ran tersenyum sendiri.
"Apa tulang mu patah?" tanya Ran.
"Mungkin saja. Aku tak bisa bergerak" kata Marid.
Meringis kesakitan.
"Bagaimana dengan mu?" tanya Marid.
"Aku merasakan ini untuk yang kedua kali" kata Ran.
"Kau cukup perhitungan" kata Marid.
"Itu yang dia suka dariku" kata Ran.
"Kau sedang pamer bahwa dia sangat mengenalmu" kata Marid.
"Ya" kata Ran.
Mereka masih sempat bercerita tentang asmara mereka.
Tertawa kecil dengan rasa sakit yang belum pergi.
Cahaya hijau keluar mengisi retakan retakan luka dari beberapa tulang diantaranya adalah lengan kanan atas tulang paha tulang punggung dan kepala yang masih basah karena darah keluar dari sana di kepala bagian kanan Ran.
Ran sedang menggunakkan energi penyembuh dan dia membaginya bersama dengan Marid itu niat baiknya tetapi sama sekali tidak bekerja energi milik Ran ditolak oleh raga Marid.
"Sepertinya aku benar benar akan mati" kata Marid.
"Kau sudah mati. Jika kau berkata menyerah" kata Ran.
Marid melihat ke arah lain mengacu ke arah pepohonan lebih serius dan serius belum ingin berkedip.
Dia membalas pandangan remaja ini.
Senyum yang ia kenal sedikit berbeda dengan pemilik wajah aslinya.
Dia tidak berkedip.
Dia tidak membalas senyum orang itu justru dia sedang dalam ketakutan yang elegan.
Dia datang, datang sangat cepat berlari ke arah mereka.
Mendobrak ruang berdinding itu.
"Brug brug brug!"
Usahanya cukup keras mendobrak kaca tembus pandang yang menjadi ruang baru untuk Marid.
Marid benar benar dibuat ketakutan.
Mulutnya terkunci tak bisa bicara.
Pori pori kulitnya makin membesar mengeluarkan darah dari dalam sana.
Belum cukup puas dengan rasa takut ini ruangan itu semakin menyempit. Dia bertambah panik.
"Brug brug brug brug!"
Suara itu muncul lagi terdengar agak samar tapi masih jelas didengar oleh Marid rupanya ia sudah mulai sulit bernafas.
Wajahnya mulai bisa digerakkan dan mencoba melihat ke arah Ran.
Bagaimana dengan remaja yang ada di sebelahnya saat ini. Dia berdiam diri dengan mata terbuka tanpa ekspresi sungguh menambah rasa keputusasaan. Nyawanya benar benar terancam tangan sebelah kirinya yang menyentuh aspal yang juga berdekatan dengan tangan kanan Ran terasa ada sesuatu benda cair dan berbau anyir mulai terasa menusuk hidung.
Ternyata itu darah Ran.
"Kau yang menyemangatiku tapi kau malah pergi" kata Marid.
"Bangun kawan!" kata Marid.
__ADS_1
"Bagun. Cepat bangun!" kata Marid.