Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 47: Aku Tidak Mengenal Mereka, tapi Mereka Mengenal Ku


__ADS_3

Chapter 47: Aku Tidak Mengenal Mereka, tapi Mereka Mengenal Ku.


Jun dan Bee berangkat sekolah di waktu yang sama.


Red ada dibelakang mereka.


Bee tak sengaja melihat ke arah belakang. Dia berbalik dan akan menyapa.


Bee teman satu kelas dengan Red dia ingin menyapa teman satu kelasnya itu. Jun mencegahnya.


Menarik lengan Bee, Jun.


"Aku hanya ingin menyapa Red" kata Bee.


Jun dan Bee mempersilahkan untuk Red berjalan lebih dulu dari Red. Lalu, setelah jarak mereka kira kira sepuluh meter. Jun dan Bee berjalan kembali ke kelas mereka.


"Suasana hati Red sepertinya sedang tidak bagus" kata Jun berpendapat dalam hati.


Jun berbeda kelas dengan Bee dan Red. Namun, Jun duduk di kelas mereka untuk mengikuti pelajaran di jam pertama ini.


Apa yang harus di nasehati untuk apa yang Jun lakukan saat ini. Dia bersikap kooperatif saat mengikuti kelas.


Jun mengambil kursi duduk milik ketua kelas Red yaitu Good dan ketua kelas pindah di belakang Jun duduk saat ini.


Memperhatikan Red yang diam dan patuh mengikuti mata pelajaran matematika pagi ini.


Red melihat Jun lalu Jun melihat Red yang memang sejak tadi memandang wajah Red disana duduk didalam kelas.


Kemudian, Red kembali lebih fokus memperhatikan penjelasan Guru matematika yang sedang mengajarkan materi didepan kelas.


Hati Red tersentuh dan berkata, "Apa dia tidak punya kerjaan lain?".


Itu berlangsung hanya sepuluh menit saja.


"Kamu bukan dari kelas ini kan?" tanya Guru matematika yang mengajar di jam pertama di kelas Red.


"Iya" jawab Jun.


"Terus?" tanya Guru matematika.


"Iya. Saya harus pergi ke kelas saya sendiri" kata Jun.


Dia mengambil tas miliknya lalu kembali ke kelasnya.


Kelas mengajar berlangsung sebagai mestinya.


Guru matematika Red untung saja tidak mempersoalkan ini lebih panjang, dia lebih mengarah ke sebuah kenakalan remaja yang masih bisa ditolerir.


"Besok yang mau tiru Jun, harus ikut olimpiade matematika. Mau?" tanya Guru matematika mereka.


"Good katanya pengen ikut" kata Ben menunjuk kepada Good.


"Tidak mungkin" kata Good.


Semua tertawa mendengar jawaban Good barusan.


"Boleh. Setelah istirahat kamu bisa mengajukan diri di ruang guru" kata Guru matematika mereka.


"Apa salahku lagi?" tanya Good.


Satu kali melihat dalam lapisan pertama mata melihat kelas nampak seperti biasa.


Melihat lebih jauh dua kali dari pandangan mata Red kelas tidak berjalan seperti biasa dalam dunia mereka bukan dunia Red. Semua yang nampak bersih dan lantai putih menjadi berdebu dan banyak jejak jejak yang mereka tinggalkan dari tangan mereka di kaca kaca jendela pintu dan lantai serta dinding bercat krim menjadi berlumut berdebu menghitam tak terurus.


"Kau telah membunuh teman kami" kata seorang hantu bergaun putih dengan lekuk rahang yang tegas.


"Coba jelaskan bagaimana aku bisa membiarkan teman temanmu baik baik saja?" tanya Hantu tersebut.


Hantu itu meraih wajah Red dengan mudah dengan tangannya melalui arah samping kiri Red sedang duduk menahan diri tetap disana mengikuti pelajaran sekolah seperti tak terjadi apapun.


Kukunya yang tajam tak segan melukai wajah bahkan mengambil nyawa Red dengan mudah.


Red berusaha tetap tenang agar tidak memancing hantu yang masih berada dibelakangnya itu tidak bertindak agresif.


"Kau sebenarnya takut padaku. Kamu hanya bisa menahan dirikan?" tanya Hantu itu lagi.


Darah jatuh mengalir dari tangan hantu itu darah milik Red.


Beberapa tetes darah berjatuhan pelan namun tetap mengalir dari bawah dagunya.


Red tak bisa membiarkan hantu itu terus melukai kulit dibawah dagunya dengan kuku tajamnya itu.


Red membuka lembar buku yang masih kosong dan berusaha menuliskan sesuatu di dalam lembar buku kosong.


"Jika kau tidak pergi. Aku tidak akan memaafkan mu!"


Kalimat itu kemudian dibaca oleh hantu dibelakang Red yang di tulis oleh Red sendiri.


Dia hanya tertawa dan tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Red dalam tulisan di lembar buku itu.


Darah semakin deras mengalir dari bawah dagu Red karena ulah hantu itu.


Red menatap mata hantu itu yang berada disebelah kanannya.


Wajah putih pucat dan rambut panjang segala tentangnya sepertinya dia sudah lama menjadi hantu gentayangan.


Kedua bola mata Red berubah menjadi biru dan dalam satu kedipan ia lakukan menatap mata hantu itu dengan tajam.


"Maaf" kata Red.


Hantu itu perlahan menjadi asap menghilang begitu saja tanpa rasa sakit yang sengaja Red lakukan pada hantu itu.


Hantu itu terpaku menatap Red bahwa dia akan segera menghilang dari hadapan Red saat itu juga.


Hantu itu menjadi asap menghilang dalam waktu dua detik di mulai saat Red mulai menatapnya dengan tajam barusan.


Red melenyapkan hantu tadi, dia mengambil beberapa kapas putih medis dari dalam tasnya lalu menaruh obat luka kedalam kapas tersebut yang kemudian ia tempelkan dibawah dagu untuk menahan darah agar tidak keluar lagi sampai pelajaran matematika ini selesai.


Proses belajar mengajar tetap berlangsung lancar selama satu jam lebih empat puluh menit atau hampir dikatakan selama dua jam berlangsung.


Waktu pergantian mata pelajaran.

__ADS_1


Red mengambil cermin kecil dan menaruhnya di sebelah bukunya agar bisa ia gunakan untuk bercermin.


Dia mengambil plester lalu mengguntingnya dengan dua bagian lalu ia tempelkan dibawah dagu bersama lebih awal kapas dan obat luka yang sudah ia tempelkan di luka yang dilakukan oleh hantu yang telah hilang tadi.


Red sudah menghapus darah yang jatuh diatas mejanya dengan tisu yang ia bawa juga dari dalam tasnya sebagai berjaga jaga jika hal seperti ini bisa terjadi seperti hari hari sebelumnya ia alami.


Semua tisu yang tadi ia gunakan untuk membersihkan darahnya dari atas meja ia masukkan kedalam kantung plastik dan menyembunyikan sementara di dalam laci meja kelasnya sekarang.


Red sudah memasukkan buku matematikanya kedalam tas lalu mengambil buku sastra asing dari dalam tas sebagai mata pelajaran selanjutnya.


Dia membuka buku dan mencari halaman terakhir yang guru sastra asing ajarkan di hari sebelumnya saat pelajaran ini.


Siswa siswi menunggu guru itu datang ke kelas. Red sedang melihat kukunya yang tak bercat warna warni cantik seperti seseorang yang ia lihat saat ini. Dia adalah Bee dengan kecantikan alami yang ia miliki dan pintar juga semua jelas dia memilikinya. Sempurna bukan.


Red kembali melihat kukunya dan tersenyum sendiri.


"Jangan melihat lagi. Kau terlihat lucu" kata Red.


Ran mengirim pesan dengan emoticon lucu dan hati begitu banyak pada Red.


Notifikasi pesan itu muncul dari layar ponsel Red saat ponsel itu ada disebelah buku paket sastra asing tidak ia buka sejak tadi hingga kini Ran mengirim pesan padanya.


Layar ponsel Red kembali meredup setelah menyala tadi akibat pesan dari Ran.


"Dia kenapa, kok dagunya di perban?" tanya Bee melihat Red dari kursi tempat duduknya.


Ran sudah berganti baju olahraga di mata pelajaran kedua ini.


Dia membuka ponsel setelah mengirim pesan tadi kepada Red.


"Apa aku tidak norak dengan pesan yang ku kirimkan barusan?? tanya Ran pada diri sendiri.


"Ahhhh. Sudahlah, dia pasti sedang marah karena aku" kata Ran.


Ran menutup lokernya lalu pergi meninggalkan ruang ganti untuk mengikuti pelajaran olahraga.


Ran bersama teman teman satu kelasnya melakukan pemanasan di lapangan sekolah sebelum memulai materi pelajaran olahraga bola voli pagi ini.


"Ran. Sore ini ada acara?" tanya teman Ran.


"Jam berapa?" tanya Ran.


"Setengah tujuh malam?" tanya teman Ran.


"Aku free. Kenapa memangnya?" tanya Ran.


"Ke wahana menembak dekat sekolah kita. Bagaimana?" tanya teman Ran.


"Oke" kata Ran.


Ran sedang istirahat setelah olahraga bersama dengan teman temannya disana.


Minuman dingin ada disebelah mereka.


Ran sedang mencoba menghubungi Red lagi tapi tidak di angkat oleh Red.


Di kantin sekolah Red bersama anak anak yang lain sedang mengantri untuk membeli makanan. Penuh sesak hari ini membuat semuanya harus fokus dengan antrian yang panjang itu.


"Apa kita masih perlu mengantri?" tanya Good.


Ben mengambil tiga nomor antrian dengan cepat Ikut berebut.


Jun juga tak mau kalah jika ia harus ikut mengantri bersama siswa siswa yang lain.


Red sudah mendapatkan satu mangkuk sup tofu dengan daging dan mie beserta nasi dan sayuran dalam satu nampan secara terpisah dalam beberapa mangkuk.


Menikmati makan siang di meja kantin panjang dengan siswa yang lain dengan satu meja belum terlalu banyak duduk di kursi meja tersebut karena dia datang lebih awal ke kantin dan yang lain masih mengantri.


Tanpa gangguan ia menikmati satu suap demi suap sup dengan nasi dan sayuran di depannya.


Suasana berubah seketika Jun dan kawan kawannya datang untuk makan siang bersama.


Mereka semua makan didepan Red.


"Apa aku harus ikut mereka?" tanya Ran dalam pikirannya.


"Ku pikir aku tak begitu dekat dengan mereka" kata Ran.


Ran masih ragu untuk datang ke wahana menembak sore ini.


Kembali ke Red yang sedang makan siang.


Memakan dengan sangat cepat lalu langsung membawa piring mereka di tempat pencucian piring di kantin menumpuk menjadi satu. Kemudian, pergi meninggalkan kantin.


Menuju lapangan basket yang tidak jauh dari kantin.


Duduk disana menonton siswa siswa lain bermain bola basket.


"Sore ini aku akan menjaga tempat gym lagi" kata Ben.


"Aku akan mengantar makanan lagi sore ini" kata Good.


"Kalau kamu Jun?" tanya Ben.


"Aku. Main ke rumah teman" kata Jun.


Jun selesai bekerja di kafe Kak Rose dia pergi menemui seseorang di tempat wahana menembak.


Di wahana menembak.


"Jun" kata Bob.


"Iya. Ini siapa lagi" kata Jun.


Bob sedang menembak sasarannya.


"Kau mau mencobanya lagi?" tanya Bob.


Jun lebih memilih duduk di sofa yang ada di belakang Pamannya.


Mencoba untuk tidur di sofa.

__ADS_1


Datang orang orang yang juga menyewa salah satu ruang menembak.


"Siapa yang sangat berisik itu?" tanya Jun.


Jun tidak marah marah pada mereka.


Beberapa tembakan terdengar dari ruang di sebelah kanan Jun.


"Kau tidak suka menembak lagi?" tanya Bob.


"Aku mau tidur. Jangan tanya lagi!" kata Jun.


Bob berhenti sejenak untuk menembak dan menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya kepada Jun.


"Apa ini?" tanya Jun.


"Buka matamu. Jangan pura pura tidur!" kata Bob.


"Oh" kata Jun.


Jun melihat jelas foto seorang gadis yang rupanya ia juga mengenalnya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Jun.


"Dia adalah tipe ku. Bagaimana menurut mu?" tanya Bob.


"Jangan macam macam. Dia pacarku" kata Jun.


"Hahhhh. Pacar mu?" tanya Bob tidak percaya.


"Iya" kata Jun.


"Lantas bagaimana dengan Bay?" tanya Bob.


"Bay, ... " kata Jun belum menyelesaikan kalimatnya.


Dia berhenti mengobrol dengan Bob.


Dia memberi kode berhenti berbicara kepada Bob.


"Sebentar" kata Jun.


Jun sedang membuat keadaan seakan akan tak menghiraukan apa yang orang orang bicarakan di ruang sebelah Jun.


"Kita apakan Ran itu?" tanya salah satu dari mereka.


"Si anak orang kaya itu?" tanya yang satunya lagi.


"Sebentar lagi dia datang. Kita harus melakukan sesuai rencana kita" kata salah satu dari mereka lagi.


Jun mendengar pembicaraan mereka sedangkan Bob melanjutkan menembak.


Jun mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Ran.


"Kau dimana?" tanya Jun pada Ran.


"Akan pergi ke suatu tempat. Kenapa?" tanya Ran.


"Kau tidak sedang bersama Red?" tanya Jun.


"Tidak. Ada apa dengannya?" tanya Ran.


"Dia sedang membutuhkan pertolongan mu. Datanglah sekarang juga" kata Jun.


Jun mengirim lokasi dimana Red saat ini.


"Kau masih bersama dengan Bee?" tanya Jun kepada Red.


"Iya. Darimana kamu tahu?" tanya Red.


"Itu tidak penting sekarang. Ran akan datang menemui mu segera. Kamu tahan dia agar tidak kemana mana sebelum aku datang" kata Jun.


"Apa yang terjadi?" tanya Red.


"Kau sayang temanmu tidak?" tanya Jun.


Red belum membalas beberapa detik.


"Iya. Aku tunggu kalian" kata Red.


Jun meminjam senapan yang di pakai oleh Bob untuk menembak. Dia menembak dengan tepat dalam beberapa tembakan yang ia lakukan.


"Ini baru keponakanku" kata Bob.


"Aku sedang bosan saja" kata Jun.


"Teruskan kebosanan mu itu" kata Bob.


Jun menembak dengan sangat cepat dan tepat sasaran membuat para pengunjung di tempat itu terdiam dengan jarak ruangan yang saling bersebelahan.


Jun melihat ke arah kanan melihat ke arah remaja remaja yang berencana menjebak Ran dengan tatapan kebencian.


"Seseorang tidak mengenal ku karena dia orang baik. Tapi itu sebaliknya jika tidak" kata Jun.


"Kau bicara apa Nak?" tanya Bob yang tidak tahu letak permasalahannya.


Jun terus menatap teman teman Ran yang masih menatap Jun saat ini.


Dia menembak lagi.


Teman teman Ran diam diam mengambil tas mereka dan kabur dari Jun setelah sadar bahwa Jun adalah salah satu pemimpin dari kelompok tawuran yang terkenal selalu memenangkan taruhan balapan liar dan selalu di takuti oleh remaja remaja geng lain antar sekolah.


Salah satu dari mereka dengan cepat melarikan diri dari keberadaan Jun sekarang.


"Itu Jun. Bos kita" kata salah satu dari mereka yang merupakan teman Ran.


Bob memutar musik sejak Jun mulai menembak dan pura pura tak melihat apa yang sedang terjadi saat ini.


Mereka semua pergi ketakutan melihat Jun ada disana.


"Mereka membuat masalah denganmu?" tanya Bob.

__ADS_1


"Aku tidak kenal mereka" kata Jun.


Dia menembak lagi bermain di tempat wahana menembak milik Bob.


__ADS_2