Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 143: Satu banding seratus.


__ADS_3

Chapter 143: Satu banding seratus.


"Ku dengar dia masih ingat kejadian waktu itu" kata Hech.


"Benar" kata Bob.


"Kau tidak kabur?" tanya Hech kepada Darren.


"Kontrak kerjaku masih sangat lama" jawab Darren.


"Selamat datang di dunia ini" kata Hech.


"Ingatan tentang kejadian kemarin belum bisa terhapus" kata Hech.


"Apa rencanamu sekarang?" tanya Bob.


 Hech pergi begitu saja ketika selesai dengan tugas ini.


 Bob masuk ke pintu mobil di bagian kursi belakang pengemudi tapi tidak jadi masuk kedalam mobil.


 Melihat ke arah Darren.


"Kau bisa pulang sekarang" kata Bob.


 Darren tidak menjawab. Dia sedang menutupi rasa takutnya setelah kejadian tadi dengan muka biasa biasa saja tidak ada yang aneh.


"Baiklah. Ikut aku" kata Bob.


 Dia pergi berjalan kembali menuju teman temannya yang mengadakan pesta malam ini diikuti oleh Asisten pribadinya itu.


 Hech kembali di sisi Red bersama dengan tubuh pengganti yang tadi sedang mengawasi Flow. 


"Ada informasi baru?" tanya Red.


"Seseorang sedang membuktikan ketulusannya saat ini" kata Hech.


"Ketulusan?" tanya Red.


"Seseorang yang mencintai Flow juga harus menerima dan merasakan apa yang wanita itu alami" kata Hech.


 Satu notifikasi di dalam ponsel Red dan Hech muncul.


 Red membaca pesan itu.


"Hahhh!" kata Red terkejut.


 Stay cool. Hech.


"Dia. Tidak mungkin" kata Red.


"Tapi, … " kata Red.


"Ini baru awal. Kalau nanti dia memilih orang lain. Kita tidak tahu" kata Hech.


 Orang yang dimaksud adalah orang itu yang kesehariannya mempunyai sumber kebahagiaan dimana mana baik benda tak hidup makhluk bernyawa juga grafik saham yang terus berjalan signifikan. 


 Angin datang menyapa rambut kepala Red dan beberapa helai rambut masuk kedalam mulut gadis ini.


 Hech membantu mengambilnya dengan jemari tangan kanan.


"Terimakasih" kata Red.


 Di luar kendali dari Red, seniornya ini melakukan tindakan mengaktifkan energi penolak untuk Red.


 Hech memberikan sebuah energi seperti cahaya emas keluar dari ujung jarinya langsung mengikat kedalam raga Red dan mengikat energi yang ada didalam tubuh Red.


 Dia memberi benteng pelindung langsung kepada Red agar tidak masuk lagi ke dimensi misterius itu.


 Red terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Red.


"Kau eksperimen pertamaku" kata Hech.


"Kau berhasil mempelajari energi ini?" tanya Red.


"Jangan terlalu terkejut. Aku juga sedang mengembangkan energi ini" kata Hech.


 Red seperti adik yang ingin di belikan mainan mulai menarik jaket merah yang Hech pakai.


"Berbagilah denganku" kata Red.


"Iya. Iya, Kakak Hech" kata Red lagi.


"Tidak akan sebelum sempurna" kata Hech.


"Berarti kalau energi ini menjadi sempurna … " kata Red.


 Dia masih seperti  adik perempuan yang merengek pada kakak laki lakinya meminta dibelikan mainan.


"Tergantung nanti" kata Hech.


"Kakak selalu mengatakan hal ini tapi akhirnya mau mengajariku" kata Red.


"Itu karena perintah Presdir Ma" kata Hech.


"Lihat pipi kakak memerah" kata Red.


"Lepaskan tanganmu!" kata Hech mulai galak.


"Ok" kata Red.


 Dalam isi kepala Red sebenarnya ada sesuatu yang harus dia lakukan tapi tidak jadi ia lakukan karena Hech sudah membaca kemungkinan yang akan dilakukan oleh Red di waktu yang tidak bisa diprediksi.


"Sekali kali bertindak lebih egois itu baik untukmu" kata Hech.


"Bagaimana cara mereka bisa kembali?" tanya Red.


"Mereka bisa kembali lagi kan?" tanya Red.


"Mereka bisa dipercaya" kata Hech.


 Lima hantu yang dikirimkan oleh Jamie telah datang di depan mereka dengan dua berjubah hitam dan sisanya berjubah putih.


 Red dan Hech pergi dari sekitar rumah Flow menggunakkan teleportasi.


 Di rumah sakit.


 Wayne sedang duduk bersama bersebelahan dengan Jimmy yang sedang mengaktifkan energi penyembuh untuk Sima dan Wayne.


 Wayne terlihat sudah tidak tahan lagi masih berada dirumah sakit.


"Aku ingin membaca pikiranmu" kata Wayne.


"Lakukan saja" kata Jimmy.


"Sepertinya kau sedang normal" kata Wayne.


"Nanti kita berantem lagi" kata Jimmy.


"Aku khawatir jika kau seserius ini" kata Wayne.


"Aku sedang sibuk" kata Jimmy.


"Aku sedang mengganggumu" kata Wayne.

__ADS_1


 Wayne tidak mau pergi dan duduk disebelah kiri Jimmy dengan energi biru yang menyala sambil menutup mata.


 Sibuk kemudian dengan memeriksa berapa hari yang terbuang untuknya tidak bisa menghasilkan uang karena berada dirumah sakit.


"Kalau sudah selesai jangan ganggu aku" kata Jimmy.


"Kehadiranku adalah untuk mengganggumu" kata Wayne.


"Terserah kau saja" kata Jimmy.


 Angin seakan lewat didepan mereka.


 Dia sudah berpindah tempat sendirian tanpa Red ikut dengannya.


 Wayne yang juga masih dengan tiang untuk menggantung alat infus yang masih terpasang di tangan Wayne sebelah kanan.


 Melirik ke arah kanan Jimmy.


 Kembali lagi dengan tatapan lurus kedepan  lalu berdiri dari tempat duduknya saat ini akan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Aku hanya ingin melihat juniorku" kata Hech.


"Good night!" kata Wayne.


"Good night" jawab Hech.


 Wayne menyenggol siku tangan Jimmy sebelah kiri.


"Orang kaya!" kata Wayne mulai ngegas.


"Iya. Aku sedang sibuk" kata Jimmy.


"Lukamu belum seratus persen pulih. Aku salut denganmu" kata Hech.


"Biasanya jika seperti ini kau sedang bosan" kata Jimmy.


"Ini misi pertama mu lagi" kata Hech.


"Kita akan akrab lagi" kata Jimmy. 


 Jimmy masih menutup mata di waktu meditasi ini ketika ia tahu bahwa seniornya memang ada disebelahnya sendiri duduk disana menyapa mereka.


 Jadi anak introvert tiba tiba disaat kakak seniornya datang.


 Jimmy sedang grogi saat di sebelah Hech yang notabennya senior sekelas Radan di tempat mereka bekerja menjadi salah satu agen Presdir Ma.


 Hech sudah tahu sejak dulu bahwa Jimmy selalu segan dengannya sehingga mengikuti arah jalan pikiran yang dipikirkan oleh Jimmy.


"Kau baru putus dengan Red?" tanya Hech.


"Uhuk uhuk!" 


 Wayne tersedak ketika sedang minum air hangat dari gelas yang tadi ia bawa dari dalam kamar rawat sendiri.


 Mulai dengan akting cool, Jimmy tunjukkan kepada dunia ini.


"Apa kamu sudah tahu atau pura pura tidak tahu?" tanya Wayne.


"Pilih salah satu" kata Hech.


"Apa aku boleh memilih?" tanya Wayne.


"Kasihan sekali adik ini" kata Hech.


"Kau yang meminta kita putus kan" kata Jimmy menegaskan.


"Itu kamu tahu" kata Hech.


"Syukurlah" kata Wayne.


 Hech bermain main dengan sebuah pulpen yang ia ambil dari saku jaket merahnya.


"Aku sedang menjadi anak baik" kata Jimmy.


"Aku tidak akan melakukan apapun" kata Hech.


"Hey. Kenapa kau takut, dia tidak melakukan apa apa padamu?" tanya Wayne.


"Sekarang, nanti?" tanya Jimmy balik.


"Jimmy dan Wayne" kata Hech.


"Ada apa denganku. Aku tidak berbuat salah akhir akhir ini" kata Wayne.


"Tebakanku hampir benar. Dia sedang bosan" kata Jimmy.


"Dia sebenarnya sangat baik. Jangan menyerah" kata Hech.


"Ya" kata Jimmy.


 Hech mulai bekerja bersama dengan Jimmy.


"Tugasmu sudah selesai. Ini sudah menjadi pekerjaanku" kata Hech.


"Makasih Kakak sudah memberikan obat itu untukku" kata Jimmy.


"Sesama agen harus tolong menolong" kata Hech.


 Dia sedang berada di area ice skating sendirian bermain disana. Gadis itu sedang bermain ice skating menikmati permainannya sendiri serpihan serpihan lantai dingin terlihat tergores oleh langkah kaki gadis yang menari dengan indah.


 Red tiba tiba saja ingin datang ke tempat area ice skating.


 Dingin benar dan dia hanya ingin pergi melihat seseorang saja melihat dari luar pagar gadis itu sedang bermain ice skating.


 Dia dengan memasukkan kedua jemari tangan kedalam saku jaket miliknya yang berwarna hitam polos berbahan jeans.


 Jamie melambaikan tangan kepada Red.


 


 Red membalas hal yang sama seperti melambaikan kedua tangan kepada Jamie.


"Ayo pulang!" teriak Red.


 Jamie membalas dengan senyuman kemudian berlanjut bermain ski lagi.


 


 Menunggu sambil duduk dan makan rainbow crepe.


 Dia sengaja membawa banyak makanan karena tahu bakal lama di sana jika menemui Jamie yang sedang bermain skating.


 Ponsel Red berbunyi.


 Dia mengambilnya dan melihat ponsel miliknya mati lagi.


"Dia pasti sedang berada disana" kata Red.


 Ucapan Red mengacu pada Uri yang sudah kembali bersama dengan raga orang lain yang menjadi tempat tinggalnya saat ini.


 Hatinya sedang berubah ubah apakah dia akan tetap menganggap bahwa pacarnya yang sudah meninggal itu bisa diajak berteman lagi.


 Memegang rambut  kepalanya sendiri dengan kedua tangan kemudian melihat ke langit.


 Danau itu masih sama ada disana tetapi tidak dengan isi dan orang orang yang berkunjung di tempat itu.

__ADS_1


 Radan selalu berpikir bahwa kematian kekasihnya disebabkan oleh dirinya yang pada saat itu sedang menangani kasus "Orang itu".


 Dia melihat mata Uri di mata Flow tapi tidak untuk dirinya kini yang sudah berubah tidak sama semua tidak sama dan dia dihadapkan kenyataan dengan hal itu.


 Bekerja dan bekerja itulah caranya melanjutkan hidup.


 Malam ini danau itu sangat ramai dengan para pengunjung di malam minggu ini.


Selain memikirkan Uri dia juga sedang memikirkan bagaimana keadaan adiknya Ran yang belum juga kembali dari dimensi itu.


"Kenapa kedua anak itu belum juga kembali?" tanya Radan.


 Hari ini adalah hari ulang tahun adiknya yang berusia delapan belas tahun.


"Apa aku harus membeli kue?" tanya Radan.


 Melihat luasnya danau dengan pemandangan lampu malam kapal kapal wisata pembawa wisatawan berkeliling danau dan juga gedung gedung indah dengan warna cahaya mereka yang menyala berwarna warni seperti di malam malam biasanya.


 Red sedang makan kue rainbow crepe  tanpa lilin diatasnya karena dia tahu hari ini adalah hari ulang tahun Ran.


"Tapi, dia tidak ada disini" kata Red.


 Sambil makan kue, dia menahan agar dia tidak menangis meski ia tahu tidak ada orang disana selain dia dan Jamie yang sedang bermain ice skating.


 


 Sekarang, dia sudah memakan kue itu dengan dua potong kue yang ada di tangan dengan sendok merahnya.


 Jamie mulai mendekat di pagar pembatas lapangan  ice skating.


"Ini harinya kan?" tanya Jamie.


 Red melihat Jamie sambil makan kue pelan.


"Aku selesai. Tunggu aku" kata Jamie.


 


 Jamie bersiap untuk melepas sepatu ice skaiting dan akan beranjak pergi menemui Red.


"Aku harap kamu baik baik saja dimanapun kamu berada" kata Red.


 Jamie datang dengan sepatu ice skating sudah di tangan.


"Aku juga ada es krim mangga disini" kata Jamie.


 Jamie memberikan satu bungkus es krim mangga dari dalam box kecil berisi buah dan es krim di sebelah kanan tas biru miliknya yang juga disebelah cake milik Red.


"Aku akan bukakan  bungkusnya" kata Jamie.


 Menaruh bungkus es krim ke dalam tempat sampah di dekat mereka sedang duduk di depan lapangan skating.


"Ini" kata Jamie.


"Terima kasih" kata Red.


"Sejak kapan kamu suka es krim ini?" tanya Red.


"Sejak Jun memberikannya kemarin padaku" kata Jamie.


  Red menatap Jamie dengan tatapan manis.


 Jamie menjadi salah tingkah.


 Red menahan diri agar tidak berkomentar lebih jauh untuk saat ini.


"Ada apa?" tanya Jamie.


 Gadis ini salah tingkah oleh tatapan Red.


"Aku melihat bunga bunga tumbuh di sekitarmu" kata Red.


"Aku seperti princess. Jika kau berkata begitu" kata Jamie.


"Ok. Kita fokus lagi" kata Red.


 Jamie masih malu dengan arah pembicaraan ini.


 Dalam hati Jamie dia bersyukur bisa membuat sahabatnya itu tersenyum lagi.


"Kau beli begitu banyak es krim yang sama" kata Red.


"Setidaknya kita bisa selalu mengingat mereka dengan memakan makanan kesukaan mereka" kata Jamie.


 Berada di  dimensi misterius kedua remaja itu dengan keringat bercucuran bercampur darah para hantu.


 Nafas terengah engah.


 Saling membelakangi keduanya sedang ada di situasi segala tekanan dari berbagai macam hantu yang siap menghancurkan mereka. 


 Apa yang bisa dilakukan jika semua mata mata itu tertuju pada kedua remaja ini mulut robek mereka berdarah berlendir menguning berwarna terlihat bernanah menghijau jatuh menjatuhi baju putih kusam lusuh robek mereka jatuh juga di tanah.


 Bau amis anyir darah melekat menyiksa mencekik paru paru mereka dan sangat cepat mereka harus beradaptasi dengan ini.


 Pedang panjang milik keduanya sudah berlumuran darah sejak beberapa jam lalu.


 


"Ini hari ulang tahun mu kan?" tanya Jun.


"Kau tahu dari Red?" tanya Ran.


"Aku harus tahu siapa rivalku" kata Jun.


 Genggaman tangan pedang mereka sudah dengan lendir dan darah darah mereka para hantu.


 Coba lihat dibawah mereka.


 Semua adalah hantu hantu yang behasil mereka tebas.


 Tanah tempat mereka berpijak basah dengan darah mereka  dan bagaimana dengan remaja remaja ini.


 Sudah berubah warna baju yang mereka pakai menjadi merah semerah darah.


 Mereka sudah beberapa kali sudah mereka tebas dengan pedang mereka dan kini mereka bergerak menjauh dari darah darah dibawah mereka bergabung lagi dengan teman teman mereka tubuh mereka menempel merekat menjadi utuh kembali dengan jejak tebasan yang jelas terlihat membekas dari batas penyatuan kembali tubuh mereka.


"Mereka pasti memiliki kelemahan" kata Jun.


"Bagian tubuh mana  lagi yang belum kita lumpuhkan?" tanya Ran.


 Kristal kristal kekuatan Jun datang menyembuhkan luka luka yang Jun dapat di bagian punggung.


 Ran dengan energi penyembuh  bergerak cepat menyembuhkan luka di bagian kepala dan kakinya.


 Suasana lebih hening mereka tak bersuara lagi.


 Wajah datar dengan mata tajam akan keluar melihat kedua remaja ini.


"Apa mereka tidak kenal Jamie?" tanya Jun.


"Mereka tidak memiliki tanda kelopak bunga mawar di dahi mereka" kata Ran.


"Aku kira mereka salah tangkap" kata Jun.


"Itu pernah terjadi tapi itu satu banding seratus" kata Ran.

__ADS_1


 


__ADS_2