
Chapter 147: Duniaku telah berubah.
"Sedang apa dia disini?" tanya Ran.
Tanpa berkata apapun salah satu agen dari Presdir Ma segera menyembuhkan Ran dan Hech.
Ya. Hanya butuh dua puluh detik untuk menyembuhkan Hech.
"Kenapa tiba tiba dia datang sebagai agen seperti kita?" tanya Ran.
Selanjutnya Ran disembuhkan oleh agen itu juga.
Dia belum mengatakan apapun dengan pertanyaan yang ia terima dari remaja yang berusia sebaya dengan dirinya.
Dia selesai dengan tugasnya menyembuhkan mereka berdua.
Akan segera pergi.
"Tunggu. Namamu Benkan?" tanya Ran.
"Ya" kata Ben.
Ben langsung menghilang dengan teleportasi.
"Terima kasih!" kata Ran.
Belum sempat dia mengatakan itu padanya keburu dia pergi.
Mereka berdua juga kedatangan seorang agen lain dengan kelopak bunga mawar merah muda terbang mengitari mereka hantu hantu yang sudah hampir hancur di sekeliling mereka.
Terbang dengan indah cahaya merah muda menyerap perlahan lahan hantu hantu yang ada disana.
"Dia juga datang?" tanya Ran.
"Ini selalu menjadi tugasnya. Kau sudah tahu" kata Hech.
"Aku hanya berusaha untuk ramah" kata Ran.
Dia dengan jubah hitam dan kotak kayu yang berisi para hantu yang lain yang sudah ia tangkap siap menampung hantu hantu yang sudah hampir hancur itu.
"Menyingkirlah!" kata Jamie.
Mereka berdua pergi menjauh dari mantra yang sedang bekerja membereskan para hantu yang mulai terlihat lagi bergerak menyatu perlahan.
Kelopak bunga mawar merah muda sudah selesai dengan tugas mereka kemudian kembali di atas telapak tangan Jamie.
Kelopak kelopak bunga itu dimasukkan kedalam kotak kayu milik Jamie menutupnya kembali terkunci dengan mantra yang diucapkan oleh Jamie.
Sudah, Jamie lalu pergi.
Teleportasi miliknya bekerja sama seperti Ben tadi pergi dari hadapan mereka berdua
Hech melihat pulpen dengan tinta darah yang penuh ada di dalam tempat yang terbuat dari kristal berlian bercahaya dengan darah milik Hech menempel di luar kristal pulpen itu.
Mereka juga menghilang dengan cepat kembali ke Kantor Presdir Ma dengan teleportasi.
Waktu kembali disaat Marid dan Bee menerima serangan dari makhluk misterius.
"Marid!" teriak Bee.
Dia gemetar sambil memanggil nama teman sekaligus tetangganya itu.
Langkah kakinya kini lebih kuat terasa menggetarkan tanah disekitar mereka. Bee bergerak mundur menjauh dari Makhluk misterius itu berlari berlari dan Makhluk itu hanya berjalan dengan biasa bertambah besar ukuran tubuhnya juga tangannya akan memukul raga Bee dengan secepat yang ia bisa.
"Darrrrrrr!"
Satu petir berukuran jauh lebih besar menimpa Makhluk misterius itu meledak begitu saja di depan raga Bee yang masih dengan energi pelindung milik Ran.
Marid kilatan warna darah akibat pukulan makhluk itu dan darah yang keluar dari mulutnya mendekat kepada Bee setelah baru saja berkedip.
Dengan gerak tubuh yang sudah tidak karuan rasanya ia tidak mau seseorang terluka lagi kemudian Bee bangun dari atas tanah berumput berjalan ke arah Marid.
"Kau jangan mati. Lihat semua lukamu" kata Bee.
Bee melihat luka luka yang membuat Marid terlihat menyedihkan.
"Aku belum mati" kata Marid.
"Sudah jangan seperti itu dan jangan nangis!" kata Marid.
"Lalu. Dimana pacarmu sekarang?" tanya Bee.
"Itu yang sedang aku pikirkan" kata Marid.
Makhluk didepan mereka sedang sekarat dengan suara aneh sekali.
"Zzzgggg zzzggg zzzggg zzzzggg"
Meleleh wujud raganya lagi kembali masuk kedalam pori pori tanah.
Hech masih dengan Jimmy dan Wayne di sebelah kirinya duduk berjajar disana dengan tugas mereka masing masing.
Wayne melaporkan apa yang sedang terjadi kepada mereka yang ada di lapangan yang terjadi kepada Jun dan Ran.
"Kau tidak berbohong kan?" tanya Hech.
"Untuk apa?" tanya Wayne balik.
"Jangan samakan aku dengannya" kata Jimmy.
__ADS_1
Hech dengan rasa sakit di telapak tangan kanan dan kiri dengan nama Ran dan Jun yang belum hilang terus menekan energi yang ia miliki tanpa memberitahukan kedua juniornya ini. Dia menahan luka bahwa energinya semakin terserap makin menghilang akibat dari goresan pulpen kristal yang berisi tinta darah di genggaman tangan kanannya sendiri.
"Energi yang ada di raga Sima hampir mendekati sempurna" kata Wayne.
Cahaya merah menyala terang sudah sepertiga dimiliki oleh gadis yang sedang terlelap tidur itu tanpa tahu bahwa nyawanya bisa saja pergi dari raganya dengan mudah.
Jimmy menjalankan tugasnya memberikan energi penyembuh yang disalurkan melalui meditasi yang ia lakukan.
Tak ada Radan disana pekerjaan yang ia lakukan diberikan kepada Jimmy karena ia harus menjaga energi yang telah berpindah ke raga orang lain setelah orang itu terbukti benar benar mencintai seseorang dengan terjadinya perpindahan energi milik seseorang yang dia panggil sebagai Flow B.
Dari kejauhan dia terus mengawasi Bob yang sedang makan malam dengan api unggun yang menyala indah di depan Bob berjarak sepuluh meter dari tempat duduknya dalam diam diantara teman temannya yang lain yang sedang mengobrol asyik dengan topik pembicaraan berbeda beda dari semua yang ada disana cukup akrab dan hangat perbincangan mereka sedangkan untuk Darren Asisten Pribadinya, dia memilih tidur di kursi diantara mereka.
Bob dengan mata merah sedari tadi di tekan oleh energi yang dimiliki oleh Radan yang sedari tadi menahan agar dia tidak berulah yang membuat orang orang disekitarnya bisa mendapatkan tindakan bahaya dari orang ini.
Marid disebelah kanan Bee melihat makhluk itu semakin hancur hancur menghilang dan menghilang dari hadapan mereka.
Udara menjadi hening kembali dengan energi biru milik Ran yang ikut terbawa angin berada diantara mereka berdua.
"Apa ini sudah berakhir?" tanya Bee.
"Aku tidak yakin" jawab Marid.
"Selanjutnya apa yang akan terjadi?" tanya Bee.
Getaran dari sekitar mereka terasa seperti gempa kecil hadir di sekitar mereka dengan getaran getaran yang terlihat di pagar pembatas lapangan futsal dan juga pepohonan yang bergerak gerak tak terkendali.
"Marid!" teriak seseorang.
Tak ada siapapun selain mereka berdua disana dan suara itu telah pergi dua detik yang lalu.
Marid menunggu suara itu lagi datang.
"Siapa itu?" tanya Bee.
"Seperti suara Pacarku" kata Marid.
"Kau yakin?" tanya Bee.
"Ya" kata Marid.
Getaran itu semakin terasa kuat di tanah tempat mereka berdua berpijak.
Melihat ke arah sekeliling mereka.
"Kau berkedip lagi!" perintah Bee.
"Cepat!" kata Bee memerintah.
Marid berkedip lagi.
Getaran seperti gempa itu berhenti.
Melihat ke arah sekitar kedua remaja ini tak ada apapun selain keheningan malam.
"Sejak kapan kamu tahu ini?" tanya Marid.
"Nanti kita bicarakan ini. Cepat kau lakukan itu" kata Bee.
Marid berkedip lagi.
Getaran gempa itu datang lagi bergetar kuat di bawah mereka retakan tanah itu muncul di depan mata mereka berdua tanpa basa basi gadis itu segera pergi berlari kearah lain berlari masih area lapangan dan dia berhenti setelah jarak lima meter.
Menggali dan menggali tanah berumput di depannya dengan menggunakan kedua jemari tangan kukunya mulai terlihat patah dan terluka berdarah bahkan dari arah Marid sekarang berdiri.
"Sedang apa kau disana!" teriak Bee.
"Cepat ada pacarmu disini!" kata Bee.
Marid setelah mendengar bahwa ada pacarnya disana setelah Bee memberitahunya kemudian berlari menuju Bee.
Disana dia sudah melihata kuku dengan cat kuku merah berada didalam tanah entah mengapa dia ada disana itu tidak penting yang terpenting bagi Bee bisa menyelamatkan gadis yang terlihat ada didalam mimpinya tadi sebelum terlempar dari dalam kamarnya sendiri memecah kaca jendela kamar lalu terlempar jauh sampai ke lapangan futsal ini.
Bee melihat jemari tangan yang masih bergerak sampai detik ini.
"Sayang. Bertahanlah!" kata Marid.
Suara retakan tanah makin terdengar lagi diantara mereka berdua dan mereka tentu mendengarnya.
Marid menggali dan menggali tanah itu bersama dengan Bee dengan kedua tangan kosong mereka.
Sudah berhasil mereka melihat tubuh bagian kepala Samima mulai ia bisa bernafas lagi kedua matanya menatap wajah kedua orang yang masih terus menggali tanah yang membuatnya masuk terpendam kedalam tanah yang berumput tak ada bekas galian sama sekali terlihat seperti tanah lapangan futsal seperti biasa.
"Marid" kata Samima.
Dia tersenyum pada Marid.
"Kenapa pacarmu sangat cantik?" tanya Bee.
Dia masih terus menggali dan juga Marid.
Retakan tanah kini datang lagi jauh lebih terasa sampai membuat mereka berdua terjatuh saat menggali lebih dalam tanah yang memendam raga Samima.
"Marid!" teriak Bee.
Tanah itu langsung longsor menjadi sebuah jurang yang dalam gelap tak berujung terlihat dengan udara dingin ada terasa.
Hening.
Kali ini dengan mata kepala Marid sendiri ia melihat kedua orang yang ia sayangi ada disana dengan bertahan dari tanah diatas mereka mencengkram kuat.
Marid menangis seketika.
__ADS_1
Bee dengan tangan kirinya masih memegang tangan kanan Samima sedangkan tangan kanannya bertahan dengan cengkraman kuat di tanah di atasnya.
"Bertahanla!" kata Marid.
Marid dengan luka yang masih mengeluarkan darah mengalir di lengan sampai di tangannya menarik segera tangan Bee yang sedang berjuang disana agar jangan sampai jatuh kedalam jurang neraka itu.
Tangis keduanya tak terhindarkan sedangkan untuk Samima masih belum tersadarkan diri disana digenggaman tangan kiri Bee.
"Aku janji tidak akan menjahili kamu lagi. Jadi bertahanlah" kata Marid.
"Itu tidak penting yang terpenting selamatkan kami berdua!" teriak Bee penuh emosional.
Dari arah lain datang seseorang dengan motor sport hitamnya masuk kedalam area parkir lapangan futsal yang terbuka dan di depannya juga masih terdapat sebuah mobil hitam yang tidak ada penumpang di dalam sana. Dia dengan motornya masuk kedalam lagi area lapangan futsal agar lebih aman ia bisa bermain di rumah Marid.
Menaruh helm hitamnya dan kemudian memasukkan kunci motor ke dalam tas selempangnya yang ada di bagian dadanya.
Memeriksa ponselnya kembali.
"Ponselnya masih aktif. Dimana pemiliknya?" tanya Good.
Dia melewati garis lapangan futsal.
"Ya ampun!" kata Good terkejut.
Terkejut dengan apa yang dilihat serpihan daging tak beraturan ada disana berserakan di seluruh area lapangan.
Sesuatu juga baru ia rasakan terinjak oleh sepatu boots hitam bertali hitam miliknya melihatnya kemudian ia mundur satu langkah ke belakang.
"Ada sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Good.
Dia belum melihat siapapun yang terlihat selain serpihan daging ada disetiap mata ia melihat dengan bau busuk dan anyir darah menusuk menutup hidungnya rasa ingin muntah yang ia rasakan saat ini.
Bayangan bayangan itu terlihat lagi dari bau bau yang membuatnya bertambah pusing.
Marid melihat seseorang itu berjalan dengan masih ragu ragu melihat mereka yang sedang berjuang disana.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Good.
"Ceritanya nanti!" kata Marid ngegas.
"Cepat kemari!" teriak Marid.
Bayangan yang ia lihat makin jelas dan saat itu pula ia berlari kepada Marid yang sedang menarik tangan Bee.
Melewati serpihan daging para hantu.
Dia meraih tangan Bee segera bersama Marid menarik menarik membawa mereka berdua naik ke atas tanah itu lebih cepat segera.
Suara retakan tanah terdengar lagi oleh semua remaja yang ada disana rupanya bagian tanah yang telah berubah menjadi jurang mulai kembali ke bagian awal mereka berasal semakin menutup kembali
Bee berhasil ditarik kembali ke atas tanah lalu menyusul kemudian retakan itu cepat menutup kembali.
Samima berhasil diselamatkan setelah hampir saja bagian kakinya terjepit tanah yang menutup kembali itu.
Bee meraih kedua tangan Samima menghangatkan tangannya yang sangat dingin dengan menggosokkan telapak tangan Samima berulang kali.
Marid mengusap wajah Samima yang terkena tanah.
"Sayang. Ini aku, bangunlah!" kata Marid.
Good melepas jaket hitamnya dan menutup tubuh Samima yang masih dengan darah dan bekas gigitan makhluk tak kasat mata sebelumnya terlihat dari kaos berlengan panjang yang ia pakai.
Hech sudah mendapatkan botol yang berisi cairan merah milik Sima yang telah datang di hadapannya sendiri beserta buku yang tersimpan di tas hitam milik Sima.
"Dia sudah pulih tapi kalian harus tetap menjaganya" kata Hech.
Jimmy dan Wayne tetap disana menjaga Sima.
Hech pergi dengan risiko yang akan ia terima.
Kembali dengan ke empat remaja yang masih berada di lapangan itu.
Retakan demi retakan datang dari berbagai arah mereka berada
Mulai waspada mereka semua yang ada disana melihat ke sekitar jantung berdetak tak stabil lagi kembali di rasakan semua juga untuk Good mulai merasakan momen ini.
Hech datang.
Getaran itu terasa oleh Hech.
Berjalan melewati serpihan serpihan daging hantu hantu di kakinya berpijak.
Udara masih dengan energi milik Ran membiru terlihat petir diantara keempat remaja yang menjadi perisai energi pelindung.
"Mereka berdua belum kembali" kata Hech.
Makhluk misterius itu muncul diantara retakan retakan tanah yang mengepulkan asap ketika Hech datang mendekat kembali menjadi wujud aslinya.
Mendekat semakin mendekat.
Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Hech yang ia pedulikan adalah dengan benda benda yang ada di tangan kanannya.
"Ini yang kau cari" kata Hech.
Keduanya saling berlari dengan sangat cepat seperti akan menabrakkan diri beradu banteng dan Hech segera naik ke atas langit dengan cahaya kristal yang kembali menyatu bersama dengan datangnya benda yang ia berikan kepadanya.
Jun muncul kembali dan meraih benda kristal miliknya yang telah hilang dengan raga yang mulai kembali utuh.
Kekuatan Hech menurun cepat jatuh kemudian dia ke bawah dengan cepat hampir saja nyawanya menghilang untung saja perisi energi milik Ran datang menyelamatkan.
__ADS_1