
Chapter 43: Aku Ingin Pulang.
Siapa yang sedang melamun bersandar di mobil yang sedang memuat banyak ikan air tawar untuk di kirimkan ke beberapa restoran dan kafe di wilayah tempat tinggalnya.
Wajahnya merona memerah senyum senyum sendiri. Dunia yang ia lihat saat ini penuh warna berganti seperti layaknya sebuah lukisan yang hidup yang dapat ia sentuh indah dan bernyawa.
"Aku tak bisa lupa, lupa untuk tidak mengejarnya" kata Ben.
Wajah yang lembut penuh kasih yang terpancar di wajah seseorang yang tadi malam ia bertemu tanpa sengaja. Ben tak bisa berhenti menatap wajah Sammy waktu itu dalam beberapa detik. Suaranya membuatnya semakin tergila-gila terngiang di seluruh isi kepalanya.
"Tumben mau ikut bantu Paman?" tanya Bee.
Bee sedang membantu Ibunya Ben untuk menghitung jumlah ikan yang berhasil di panen sore ini.
Ben tidak menghiraukan seseorang sedang bicara padanya dan orang orang berlalu lalang melewati Ben.
Ayahnya Ben datang membawa kunci mobil di belakang Ben. Lewat didepan Ben yang sedang melamun.
Ada Bee disana mengatur ikan ikan yang akan dikirim ke pembeli.
"Bee. Dia tidak terbentur tembok kan?" tanya Ayahnya Ben.
"Coba kulihat. Tak ada luka apapun di wajahnya" kata Bee.
"Dia mau bantu Paman. Tapi, Paman masih merasa agak aneh" kata Ayahnya Ben.
Ben tersadar bahwa Ayahnya sedang meledeknya terus sejak tadi awal datang memeriksa barang yang akan di kirim.
"Sepertinya Ayah lebih suka anak perempuan daripada aku" kata Ben.
"Ya. Aku lebih suka Bee jadi anak perempuan ku" kata Ayahnya Ben.
"Aku tidak sakit hati dengan kata kata mu. Tadi malam saja, aku pulang telat langsung di cariin" kata Ben.
"Sudah melamunnya, bantu Ayah angkat ini" kata Ayahnya Ben.
Ben bersama Ayahnya bersama mengangkat satu box berisi ikan kerapu diangkat ke atas mobil pick up dibagian belakang.
Ben masuk di mobil dan duduk di kursi depan sebelah kiri.
Semuanya terdiam.
"Mau apa?" tanya Ayahnya Ben.
"Ikut mengirim barang dagangan Ayah" kata Ben.
Sore ini atau lebih tepatnya sejak pulang tadi malam Ben sudah mendapatkan aura positif disetiap detiknya.
"Ok. Setiap hari juga boleh" kata Ayahnya Ben.
Ben bersama karyawan Ayahnya mengirimkan barang dagangan di tempat biasa yang sudah menjalin kerjasama dengan Ayahnya.
Bee juga terkaget biasanya dia lebih cuek dan lebih memilih bermain di dunianya sendiri ketimbang membantu pekerjaan Ayahnya.
"Bintang bintang mengikuti Ben pergi. Dia sedang penuh energi positif, kasmaran?" tanya Bee begitu saja isi pikirannya menebak
Tiba di restoran pertama Ben mengirim barang dagangan Ayahnya dan restoran restoran serta kafe kafe selanjutnya.
Ben menerima uang dari pembayaran ikan ikan yang ia dan karyawan Ayahnya kirimkan tadi.
"Dimana Good. Biasanya, dia ada di restoran?" tanya Ben.
Ben ada di restoran ibunya Good tempat Good sering membantu pekerjaan ibunya.
Good keluar dengan membawa pesanan makanan untuk dikirimkan disebuah agensi perfilman.
"Kau mau ikut denganku tidak?" tanya Good.
"Aku ikut" kata Ben.
Ben berbicara sebentar kepada karyawan Ayahnya yang baru selesai menurunkan box box yang berisi ikan air tawar dari mobil.
"Paman. Aku akan membantu temanku sebentar dan langsung pulang" kata Ben.
Ben kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada karyawan Ayahnya yang berusia empat puluh tahunan itu.
"Ini untuk Paman. Ambil saja untuk membeli makanan dan minuman" kata Ben.
Karyawan Ayahnya Ben pergi dengan membawa pulang alat transportasi yang tadi digunakan untuk mengirimkan barang dagangan.
Good keluar lagi dari dalam restoran dengan kotak kotak berisi makanan yang siap di kirim.
"Kenapa, aku mengikuti gaya mu. Keren kan?" tanya Ben.
"Kau memang temanku" kata Good.
"Jangan bercanda lagi. Aku bantu bawa ke mobil" kata Ben.
Menuju agensi perfilman.
Di kantor agensi film disana sedang diadakan seleksi wawancara untuk para pendatang baru yang ingin masuk ke agensi mereka.
Keadaan ramai di setiap lorong kantor di lantai pertama dengan para talent talent baru.
Seorang gadis yang terlihat berusia enam belas tahun nampak sedang kebingungan.
Dia sedang mencari sesuatu didalam tasnya berulangkali dan berulangkali. Namun, tetap saja belum ia temukan.
Dia juga mencari dibawah kursi tempat ia duduk saat ini, dan dia belum menemukannya.
"Bagaimana ini, aku harus membayar biaya administrasi dengan apa?" tanya Sammy mulai panik.
"Sebentar lagi aku dipanggil untuk audisi" kata Sammy.
Uang yang sudah Sammy kumpulkan dari hasil kerjanya yang ia bawa didalam tas hilang semuanya. Uang itu akan digunakan untuk biaya administrasi pendaftaran audisi dan lebih penting lagi sebagian uang itu akan ia gunakan untuk biaya pembelian obat untuk ibunya.
Sammy menatap kearah depan dia diam disana.
Para talent lain satu persatu dipanggil untuk melaksanakan audisi sedangkan Sammy sudah gagal bahkan sebelum audisi dimulai.
Tatapan kosong penuh putus asa wajah datar tak berekspresi. Semua amarah telah hilang yang tersisa hanya ada Sammy, ya hanya seorang Sammy.
"Aku ingin menangis"
"Kemana semua uang ku?"
"Kenapa aku sial begini?"
"Apa uang itu ditakdirkan bukan untuk ku?"
__ADS_1
Dalam tatapan kosong yang berisi segala pertanyaan itu didalam hati dan pikirannya.
Good dan Ben datang membawa makanan makanan kepada penanggung jawab konsumsi yang sudah menunggu didepan kantor agensi tersebut.
"Maaf kami terlambat" kata Good.
"Tidak. Kalian datang tepat waktu" kata penanggung jawab konsumsi itu.
Good dan Ben membantu membawa masuk makanan makanan yang sudah mereka pesan kedalam kantor.
Melewati talent talent yang sedang duduk berjejer didepan ruang audisi di kantor tersebut. Ben melihat seseorang yang ia kenal dan sedang duduk diantara mereka.
Satu kali lewat dan Sammy tidak melihat ataupun memperhatikan Ben yang baru saja lewat di depannya. Hingga Ben selesai membantu Good membawa makanan makanan itu masuk ke ruang yang digunakan untuk menaruh makanan makanan tersebut, sebuah meja panjang berukuran empat meter.
Good dan Ben melewati Sammy yang sedang dalam tatapan kosong.
Ben hampir keluar dari pintu gedung tersebut lalu dia kembali untuk menemui Sammy.
Good belum sadar sahabat yang berjalan dibelakangnya tadi tidak ada di belakangnya saat ini.
"Ben, setelah ini kita pergi kemana?" tanya Good.
Tak mendapat jawaban dari Ben, Good membalikkan badan ke arah Ben ada dibelakangnya tadi.
"Dia mau pergi kemana?" tanya Good.
Ben sedang akan pergi ke suatu tempat dan Good mengejar Ben.
Good berhenti saat melihat Ben sedang mengajak berbicara pada seorang gadis salah satu talent didepan Good.
"Aku belum pernah melihatnya, siapa gadis itu?" Good menjadi ingin tahu siapa gadis yang diajak bicara dengan Ben.
Sammy dan Ben.
"Kau masih ingat aku?" tanya Ben.
Sammy menatap wajah Ben.
"Ingat" kata Sammy.
"Kau kenapa?" tanya Ben.
"Tidak apa apa" jawab Sammy tanpa emosi.
Tatapan kosong Sammy kembali.
"Ada apa, coba cerita?" tanya Ben.
"Apa kau mau membantu ku?" tanya Sammy.
"Aku mau, coba katakan apa permasalahan mu?" tanya Ben.
Sammy menarik napas.
"Uang ku hilang semua termasuk untuk mendaftar audisi ini, bagaimana ini?" tanya Sammy.
Sammy tak menangis tapi yang jelas dia benar benar sedang sedih.
"Kau pasti tak percaya denganku kan" kata Sammy.
"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Ben.
"Tentu. Katakan, berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Ben.
"Tapi, jika aku menipu mu bagaimana?" tanya Sammy.
"Aku percaya kamu karena kamu teman Jun" kata Ben.
Kedua mata Sammy berkaca-kaca.
"Lalu, bagaimana jika aku tak lolos audisi?" tanya Sammy lagi.
"Jangan bagaimana dan bagaimana lagi. Aku mau membantu mu, itu saja" kata Ben.
Ben membantu Sammy membiayai pendaftaran talent baru di audisi saat ini ia ikuti.
"Kamu baik banget" kata Sammy.
"Udah jangan sedih lagi. Kamu bisa ikut audisi" kata Ben.
Good senyum senyum melihat sahabatnya itu. Lalu, ia mengambil ponsel saat Ben kembali ke arahnya menyibukkan diri.
"Good. Sorry, membuat mu menunggu" kata Ben.
"Kau sedang menargetkan seseorang?" tanya Good.
"Mungkin" jawab Ben.
"Siapa dia?" tanya Good.
"Teman Jun" kata Ben.
"Teman Jun. Aku baru tahu?" tanya Good.
"Sudah. Sudahlah, ayo kita pergi dari sini" kata Ben.
"Jika tak mau jawab, aku akan mengejarnya juga" kata Good.
"Tidak percaya. Kau lebih cocok dengan Bee" kata Ben.
"Aku menyerah jika kau berkata tentang Bee" kata Good.
Good dan Ben pergi dari dalam gedung agensi film itu.
Sammy baru menerima panggilan telefon dari pacarnya setelah berulangkali ia menghubunginya sejak awal ia tahu uangnya telah hilang.
"Dia marah lagi?" tanya Jimmy.
Sammy belum mengangkat panggilan telefon dari pacarnya itu.
Di sebuah pesta yang diadakan oleh teman temannya, pesta anak muda yang diadakan di area balapan liar tempat biasa mereka melakukan pertandingan.
"Kau menghubungi Sammy lagi?" tanya Ge.
"Kau sudah lihat" kata Jimmy.
"Dia tidak mengangkat panggilan dari mu?" tanya Ge.
"Bisa dibilang begitu" kata Jimmy.
__ADS_1
"Sammy sangat cantik dan imut. Kau tidak menyesal jika dia pergi?" tanya Ge.
"Menyesal. Kau lihat kita sedang bersama siapa?" tanya Jimmy.
Mereka sedang dikelilingi oleh gadis gadis seksi dan cantik.
"Memang. Tapi, kasihan juga gadis itu" kata Ge.
"Kasihan?" tanya Jimmy.
"Dia sedang ikut audisi akting kan?" tanya Ge.
"Iya. Lalu, aku harus apa?" tanya Jimmy.
"Dia pasti butuh kamu saat ini" kata Ge.
"Aku tidak menyangka kau memiliki sifat ini" kata Jimmy.
"Itu karena dia pacar sahabatku" kata Ge.
"Kau tahu aku cuma main main dengannya" kata Jimmy.
Jun ada disana menjadi juara bertahan lagi dalam balapan liar sore ini.
Ikut dalam pesta ini tapi dia tak begitu membaur dengan Jimmy dan kawan kawannya. Dia lebih memilih duduk sendiri dan sesekali berbicara dengan orang orang yang mengikuti pesta.
Tempat Jun duduk juga tidak jauh dari Jimmy dan Ge sedang membicarakan tentang Sammy sejak tadi. Dia mendengar semua yang dikatakan oleh Jimmy kepada pacarnya sekarang, Sammy.
Sebelum ia mendengar pembicaraan ini, sudah sering mewanti wanti sahabat perempuannya itu yang tetap keras kepala dengan pilihannya itu.
Setelah Jimmy berhenti membicarakan tentang Sammy, Jun pergi dari pesta itu dan pergi ketempat Sammy ada sekarang.
"Gadis itu akan tetap menunggu si brengsek itu disana" kata Jun.
Jun mengambil helmnya lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Jimmy sudah tahu bahwa Jun pasti akan pergi menemui Sammy karena dia sahabat pacarnya itu.
Jimmy menatap kearah Jimmy pergi dengan perasaan kesal.
"Kenapa tidak sekalian kau rebut Sammy dariku?" tanya Jimmy dalam isi pikirannya.
Ge merasa bahwa Jimmy akan memecahkan gelas di tangannya karena terlihat jemari tangannya menggenggam dengan kuat gelas ditangan Jimmy.
"Kau akan menghancurkan gelas itu" kata Ge.
Ge berhasil mencegah Jimmy melakukan hal yang di tidak perlu menurut Ge.
Motornya melaju cukup cepat menuju tempat Sammy mengikuti audisi akting butuh sepuluh menit Jun sampai disana.
Dia tidak melepas helmnya saat masuk kedalam gedung itu karena ia tak mau Pamannya akan heboh ketika melihatnya ada disana.
Memakai helm mencari tempat duduk didepan ruang audisi.
Dia menjadi pusat perhatian orang orang disana sejak awal kedatangan dengan style pembalap motor dengan jaket balap dan celana jeans hitam dan sepatu boot hitam.
Menjadi pusat perhatian tentu terutama bagi gadis gadis yang mengikuti audisi tersebut.
Sammy ditunggu oleh Jun yang sudah tiga belas menit diluar ruang audisi.
Sammy keluar dari ruangan tersebut bersama empat peserta audisi yang lain.
Tidak untuk Sammy meski Jun telah memakai helm tetap saja dia bisa mengetahui bahwa ia adalah Jun. Kenapa, karena helm yang Jun pakai warna putih di helm hitamnya bertuliskan nama Bay dan Jun dari sisi kanan helm dengan gambar hati yang menempel jelas berwarna merah muda.
"Lepas saja helm mu" kata Sammy.
Jun melepas helmnya.
Seluruh peserta audisi tercengang dengan wajah dibalik helm itu.
Sammy menelepon kekasihnya dan Jimmy tak mengangkat atau membalas pesan dari Sammy.
Di pesta di tempat balapan liar.
"Kau yakin tidak menjemput Sammy pulang audisi?" tanya Ge.
"Aku akan datang, jika dia sudah menjadi artis terkenal" kata Jimmy.
"Kau memang gila" kata Ge.
Ditempat audisi akting.
"Dia tidak datang kan?" tanya Jun.
"Kenapa tebakan mu selalu benar?" tanya Sammy.
"Kenapa kau keras kepala sekali?" tanya Jun.
"Karena aku adalah teman mu" kata Sammy.
Jun memberikan satu cup strawberry ice untuk Sammy.
"Minum itu dan jangan menangis disini" kata Jun.
"Aku. Aku menangisi Jimmy" kata Sammy.
"Iya. Siapa lagi selain orang itu?" tanya Jun.
Sammy meminum strawberry ice dari Jun.
"Kau tidak mau?" tanya Sammy.
"Kau lebih membutuhkannya" kata Jun.
Sammy sekali lagi menghubungi Jimmy dan dia tidak memberikan respon apapun kepada Sammy.
"Serius. Jangan nangis disini, orang orang akan mengira aku telah jahat padamu" kata Jun.
Jun mengambil tas Sammy membantu membawakan tasnya.
Cukup tenang situasi kali ini mereka ciptakan.
"Aku akan mengantarmu pulang" kata Jun.
Sammy belum bicara lagi.
"Ayo pulang ibu kamu sudah menunggu dirumah" kata Jun.
Satu helm berwarna kuning yang juga di sisi kanannya bertuliskan nama Bay dan Jun dengan tanda hati merah muda Sammy membacanya lagi, lagi disetiap melihat helm di tangannya itu.
__ADS_1
"Aku ingin pulang" kata Sammy.