Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 71: Aroma Rumput Setelah Hujan


__ADS_3

Chapter 71: Aroma Rumput Setelah Hujan.


Sammy sudah kembali ke kelas bersama Ben.


Ben ada ditempat duduk Red sedangkan untuk Sammy ada ditempat duduknya sendiri.


"Apa kita lupa sesuatu?" tanya Sammy.


"Iya. Kita melupakan Red dan Jun, dimana mereka?" tanya Ben.


"Tadi aku melihat mereka dibelakang kita. Kenapa belum datang juga?" tanya Sammy.


"Itu mereka" kata Ben.


Sammy berdiri dari tempat duduknya saat ini melihat kearah luar kelas.


Dia melihat Jimmy sedang bersama Red di kondisi yang penuh resiko untuk Sammy jika datang kesana. Akhirnya, gadis ini kembali duduk dan membuat bahan obrolan dengan seseorang di depannya.


"Bagaimana dengan warna ini?" tanya Sammy.


"Cute and classy" kata Ben.


"Dia yang melukis untukku" kata Sammy berbicara mengarah ke Bee.


Bee hobi sekali menghias kuku kuku semua teman teman satu kelasnya hingga sekarang ia dilihat oleh Sammy dan Ben juga melakukan kegiatan ini.


Sebelum masuk ke kelas Jun langsung melepas tangan Red.


"Maaf. Aku telah menggenggam tangan mu dengan kasar" kata Jun.


"Tidak. Tidak sama sekali" kata Red.


Tiga menit kemudian Red dan Jun datang masuk kedalam kelas.


Red mendekat kearah belakang kelas. Ben akan berpindah ke tempat duduknya namun Red memberikan tempat duduknya sementara kepada Ben.


"Santai saja Ben. Aku akan duduk di kursi mu" kata Red.


"Sip" kata Ben.


Sammy dan Ben melanjutkan obrolan mereka berdua.


Jun ada ditempat duduknya melihat ke arah gadis yang ada disebelah kanannya.


Kelas masih hening hujan turun amat lebat pagi ini. Jun menghadap wajah Red disaat wajahnya ia rebahkan diatas meja mengikuti apa yang dilakukan oleh Red yang sedang menatap keluar jendela.


"Orang yang kita sayang adalah orang yang akan menyakiti kita" kata Jun.


"Karena kedua belah pihak harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing masing. Mungkinkah?" tanya Jun.


"Bocah kecil. Kau sedang bahas apa lagi?" tanya Doe.


"Cinta" kata Jun.


"Sebuah kata yang sulit untuk dijelaskan. Benar tidak?" tanya Doe.


"Kapan kita seakrab itu?" tanya Jun.


"Sopanlah sedikit ketika berbicara dengan orang tua" kata Doe.


"Baik. Tuan Doe" kata Jun.


"Tidak seformal itu juga" kata Doe.


"Terserah Kakak sajalah" kata Jun.


"Lah. Dia tidur" kata Doe.


Ketika pemilik raga itu tidur maka Doe juga akan tertidur juga.


Red melihat kearah Jun yang sudah tertidur di meja kelasnya.


"Suasana kali ini sungguh nyaman sekali untuk tidur" kata Red.


"Kau benar sejuk sekali" kata Bling.


"Pantas saja. Dia cepat langsung tidur" kata Bling.


Sima dan Jimmy datang dengan kemesraan yang mereka perlihatkan kepada semua yang ada di kelas.


Hujan masih turun sangat deras.


Sima duduk ditempat duduknya dan Jimmy mengambil kursi di tempat duduk didepan Sima yang sedang kosong.


"Aku suka kalung ini" kata Sima.


"Kau suka. Aku senang mendengarnya" kata Jimmy.


Teman teman perempuan yang ada didalam kelas juga datang menghampiri Sima untuk melihat kalung yang dikenakan oleh Sima.


"Wahhhh. Kalung mu sangat cantik" kata salah satu teman kelas Sima, berambut lurus sebahu.


"Senangnya menjadi pacar yang cantik sepertimu" kata salah satu teman Sima berambut keriting panjang.


"Terimakasih semuanya" kata Sima.


Sima kemudian mengajak foto teman temannya bersama dan mengunggah di akun sosial media miliknya.


Setelah berfoto bersama teman temannya kemudian Sima mengajak foto bersama dengan Jimmy.


"Ayo kita foto bersama" kata Sima.


"Kita foto nanti saja" kata Jimmy.


"Oh" kata Sima.


Ekspresi wajah gadis ini terlihat akan menangis setelah mendapatkan penolakan Jimmy barusan.


"Sima. Kau baik baik saja" kata Sima didalam hati.


Tubuhnya kembali mengeluarkan asap merah saat itu juga Red merasakan panas didalam tubuhnya lagi.


"Dia sedang bersedih" kata Red.


"Kau mendengar itu dengan jelas" kata Bling.

__ADS_1


"Ini akan menjadi obat obat untuk Sima selanjutnya" kata Red.


"Terkadang berpura-pura bahagia itu apa menyenangkan?" tanya Red.


"Kita juga harus menghargai teman kita itu" kata Bling.


"Pacar mu benar benar tidur?" tanya Red.


"Dia benar benar tidur" kata Bling.


Keduanya berbicara didalam hati membicarakan Sima dan Jimmy.


"Sangat sakit?"tanya Bling.


"Masih" jawab Red.


Red merasakan energi positif yang di ciptakan dari energi Sima.


Ia tahu apa yang dilakukan oleh Sima tidak akan berdampak apapun dengan Red. Gadis ini hanya sebagai perantara Sima, apakah dia sudah terlepas dari energi negatif yang ia miliki.


"Kenapa dia begitu tenang?" tanya Red tentang Jun.


"Yang bisa merasakan apakah kita baik baik saja adalah kita sendiri. Apa aku salah?" tanya Bling.


"Tidak. Itu benar" kata Red.


Ketika itu pukul setengah enam sore sepulang nonton film di bioskop bersama Jimmy dan Sima serta Bodyguard Jimmy. Red sedang mengambil motor bersama Radan bodyguard Jimmy di area parkiran motor dan mobil terdengar dua orang sedang bertengkar dan kedua orang itu sangat familiar untuk Red dan Radan.


"Tunggu. Sebentar" kata Red.


Dia berbicara didalam hati masih dengan mengambil motor dari parkiran motor.


"Biar kakak saja yang ambil" kata Radan.


Radan mengambilkan motor yang dipakai oleh Red.


Red menunggu motor yang ia pakai itu keluar dari barisan panjang motor motor di depannya sekarang.


"Kamu harus ganti kalung ku!" kata Sima berteriak kepada Jimmy.


"Tapi, aku tidak sengaja menarik kalung mu" kata Jimmy.


"Aku tidak mau tahu. Kamu harus ganti" kata Sima.


"Ok" kata Jimmy.


"Berikan kalung mu itu padaku" kata Jimmy.


"Untuk apa. Tidak akan" kata Sima.


"Pokoknya, kamu harus ganti" kata Sima.


"Baiklah. Kita ketemu lagi setelah ini. Aku akan pergi membeli kalung yang sejenis dengan kalung mu" kata Jimmy.


Setelah itu mereka berdua berpisah dengan tujuan mereka masing masing.


Jimmy tak berapa lama datang lalu kemudian Red pergi dengan motor yang ia dikendarai.


Didepan pusat perbelanjaan gadis ini melihat Sima akan masuk kedalam kursi belakang mobilnya dengan wajah biasa saja malah lebih terkesan datar.


Sima terlihat dengan asap merah kemudian berubah menghitam sangat gelap, Red melihat itu didepan matanya sendiri disaat melewati depan pusat perbelanjaan yang baru saja ia disana menonton film bersama teman temannya itu.


"Kita ke toko perhiasan setelah ini" kata Jimmy.


Di perjalanan mengejar Jun yang sudah pergi lebih awal ke kafe tempat Jun pergi untuk bekerja. Red mendapati seseorang ada dibelakangnya ikut bergabung dengan pergi ke tempat tujuan Red waktu ini.


"Dia sedang berbohong. Kalung itu palsu" kata Doe.


Hantu pria itu muncul tiba tiba di bagian belakang jok motor Red.


"Kau jangan pura pura tidak dengar" kata Doe.


"Aku dengar. Aku sedang menyetir" kata Red.


"Gadis itu sulit di mengerti" kata Doe.


"Jaga keseimbangan mu agar tidak jatuh" kata Red.


"Aku hantu. Jangan berlebihan" kata Doe.


Red memang mendapatkan sebuah misi untuk membuat Sima setidaknya bisa mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Didalam menjalankan misi dia juga dihadapkan dengan dia dan Jun juga mengalami peristiwa yang sama dengan apa yang mereka alami itu berada didalam keputusan yang mau tidak mau harus dijalani.


"Tak ada kata menyerah. Aku yakin aku pasti punya kesempatan atau setidaknya hidupku bermanfaat" kata Red.


Dia menatap wajah Jun yang ada di meja remaja itu dari mejanya sendiri.


Jun masih tertidur di jam pertama istirahat sekolah.


Red sedang berpikir kenapa pada saat ini orang yang sedang ia perhatikan tidak memiliki banyak gejala aneh seperti yang ia rasakan saat ini.


"Tidak mungkin. Dia tidak memiliki gejala seperti ku" kata Red.


Dia belum berhenti memperhatikan Jun sejak tadi.


Gadis ini mencoba lebih mendalam mendengar apa yang ia tangkap disekitarnya.


Mendengar lagi.


Mencari suara yang terdengar samar samar itu datang diantara datangnya air hujan langit.


"Pasti ada sesuatu yang bisa di bedakan dari suara suara ini" kata Red.


Dia lebih berusaha dengan teliti mendengar suara suara yang Red dengar lagi.


"Dengar itu" kata Red.


Dia berbicara dengan Bling didalam hatinya.


Bling berbisik berbicara dengan Red.


"Suara itu terdengar sangat jauh" kata Bling.


"Tapi. Aku mendengarnya" kata Bling.

__ADS_1


"Suara itu menghilang lagi" kata Red.


Mereka mencari dan menunggu lagi suara suara itu muncul kembali.


Suara itu datang lagi.


Mereka berdua mendengar dengan seksama.


"Kita mendengarnya" kata Bling.


Bel kelas berbunyi tanda istirahat pertama telah berakhir.


Jun terbangun.


Dia melihat Red yang sudah siap dengan buku buku yang akan digunakan untuk bahan pelajaran mata pelajaran selanjutnya.


Jimmy kembali ke mejanya sendiri begitu juga dengan Ben.


Good belum juga kembali ke kelas. Dia dengan pekerjaannya di ruang guru.


Belajar mengajar di kelas sudah berlangsung tiga menit yang lalu dan ketua kelas datang dengan membawa buku buku teman temannya yang ia taruh diatas mejanya yang nanti akan ia bagikan kepada teman temannya. Buku itu adalah buku catatan mata pelajaran sastra yang sudah selesai dicek dan dinilai oleh guru mereka.


"Aku akan menanyakan itu nanti kepada Jun" kata Red.


Waktu kembali berjalan mundur ketika Red baru saja duduk di kursi milik Ben.


Dia melihat Sammy yang tidak bisa dibohongi bahwa dia sedang sedih dengan apa yang baru ia lihat pagi ini. Ya, tentu itu tentang Sima dan Jimmy yang berbicara mesra dari mulai masuk ke kelas di jam istirahat pertama melewati meja Sammy mereka berdua tak segan menunjukkan kemesraan di kelas sampai Sima duduk di kursinya dan Jimmy di kursi didepan meja Sima.


Red melihat itu dengan jelas meski sekilas serta sikap Sima yang melebih lebihkan kalung pemberian dari Jimmy itu. Red cuma bisa senyum senyum sendiri melihat itu.


"Gadis itu begitu emosional sekali" kata Red.


Dia lalu membaringkan kepalanya diatas mejanya dan menerima ketenangan di hujan yang masih deras di pagi hari.


Mendengar tak ingin mendengar obrolan mereka berdua akan tetapi kelas itu adalah milik mereka yang ada di kelas bukan milik mereka berdua kenapa harus pergi dan mereka tidak.


Red menuntut keadilan sebagai penghuni kelas.


Dia sedang ingin melihat ke arah luar jendela dari tempat ia duduk di kursi milik Ben memperhatikan hujan yang turun mengalir datang ke kaca jendela yang terbawa oleh datangnya angin.


Disaat itu Jun sedang menatap gadis yang bernama Red kemudian tak berapa lama remaja itu tertidur di mejanya dengan kepala yang berbaring diatas meja menghadap ke arah Red.


"Dia mudah sekali menikmati suasana ini" kata Red melihat kearah Jun kemudian.


"Aku mendengar suara itu lagi" kata Red.


"Darimana asal suara itu sebenarnya?" tanya Red.


Hatinya berbisik kepada Bling.


"Kau mendengar suara itu lagi" kata Bling.


Waktu istirahat kedua sekolah tiba Red pergi sendirian keluar kelas dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia derita.


Sima terlihat mengeluarkan banyak asap kehitaman dari dalam raganya.


Red sedang tersiksa sendirian disana didalam toilet mata birunya kembali aktif tak terkendali oleh Red menyala padam disetiap kedua mata gadis ini berkedip.


Bling sedang mengaktifkan energi yang ia miliki untuk meringankan rasa sakit yang sedang Red rasakan.


"Dia akan berbuat apa lagi sekarang?" tanya Bling tentang Sima.


Red menjambak rambut kepalanya sendiri dengan menahan rasa sakit itu. Dia ingin berteriak tapi itu tak mungkin jika ia lakukan di area sekolah.


Keringat mulai bercucuran dari raga Red.


Dia menangis.


"Kau tak boleh mati bertahanlah" kata Bling.


Cahaya biru lain muncul disaat Red sedang mengalami kesakitan menembus tubuhnya dengan sekejap.


Red terhenti dari siksaan itu.


"Kau sudah baik baik saja?" tanya Bling.


Kekuatan tadi muncul menyatu dengan kekuatan yang dimiliki oleh Bling membuat Red terhenti dari rasa sakit itu.


Red mengambil nafas lagi.


"Sekarang, aku tak merasakan rasa sakit itu lagi" kata Red.


Red kemudian keluar dari toilet dan membasuh wajahnya dari air yang mengalir melalu kran wastafel di toilet wanita sekolah itu.


Dia membasuh wajahnya kemudian bercermin menatap wajah dan mata birunya.


"Kamu sedang sekarat Red. Kenapa kau mengambil pekerjaan ini?" tanya Bling.


"Karena ini pekerjaan ku" kata Red.


Setelah membasuh beberapa kali wajahnya dia lalu merapikan rambutnya memakai lip gloss tanpa warna lagi yang ia bawa di saku roknya.


Dia terlihat sudah kembali normal dengan rambut lurus sebahunya.


"Aku tidak melihat anting mu lagi?" tanya Bling.


"Jun menyuruhku untuk menyimpan anting itu" kata Red.


"Kenapa?" tanya Bling.


"Karena dia tidak ingin merusak persahabatan diantara aku Ran dan dia" kata Red.


"Dia semakin sulit ku mengerti" kata Bling.


"Andai saja kau masih hidup. Dia memang sangat baik" kata Red.


"Sudahlah. Kau membuatku sedih, Ini sudah takdir ku" kata Bling.


Siswi ini berencana segera pergi ke kelas setelah selesai merapikan pakaian dan penampilannya.


Dia berjalan lebih santai saat ini menghirup udara aroma rumput yang datang setelah hujan turun tercium disekitar sekolah.


"Apa terjadi sesuatu di kelas?" tanya Red.


"Kenapa kelas mu terlihat sangat tegang?" tanya Bling.

__ADS_1


Red ada di depan kelas hampir sampai menuju depan pintu kelas tak ada rasa curiga apapun atas apa yang ia lihat sekarang.


Semua terdiam disaat Red datang ke kelas benar semua mata tertuju kepada Red kecuali siswa yang ada di pojok kelas di bangku baris paling belakang persis di belakang tempat duduk Red. Jun sedang tertidur.


__ADS_2