
Chapter 41: Memilih untuk Bertemu
Semua orang memiliki mimpi.
Di buku note merah muda, Red membuka kembali notes yang sudah lama ia tulis.
Apakah mimpi mu?.
Kalimat itu menjadi awal dari berbagai impian yang sudah Red tulis didalam notes pribadinya itu. Salah satunya adalah "Aku ingin menonton konser musik bersama orang yang ku sayang".
Malam konser tinggal lima jam lagi sepulang sekolah Red dengan sandwhich vegetarian dan satu kotak susu rasa original. Dia sedang makan siang didepan kolam peternakan ikan bersama Ben yang juga ada disana.
"Kau tidak ingin makan lagi. Aku bisa membelikan makanan lagi untukmu?" tanya Ben.
"Tuan muda sangat baik" kata Red.
Ben tertawa.
"Tuan muda apanya, aku hanya menawarkan makan siang untukmu" kata Ben.
Waktu mereka untuk makan siang tinggal lima menit lagi. Red mencari tempat di sisa waktu lima menit ini untuk menghubungi seseorang.
Ben sudah bersiap untuk bekerja.
Red agak jauh berbicara dengan orang lain dari dalam ponselnya. Dua langkah dari Ben sedang akan mulai bekerja.
"Kau malam ini sibuk tidak?" tanya Red.
"Aku bekerja lagi" kata Ran.
"Benar bekerja?" tanya Red.
"Iya. Aku tidak berbohong" kata Ran.
"Kenapa kerja terus?" tanya Red.
"Apa ini. Kau sudah tahu alasannya, itu karena orang yang ku sayang suka pria yang pekerja keras" kata Ran.
"Tapi, aku tahu itu bukan aku" kata Red.
"Sejak kapan itu bukan kamu?" tanya Ran.
Red tiba tiba saja sesenggukan menangis mendengar apa yang dikatakan oleh Ran barusan.
"Red. Red, kamu nangis?" tanya Ran.
"Sepulang aku kerja mau aku belikan apa?" tanya Ran.
"Tidak, hati hati kerjanya. Jaga kesehatan mu" kata Red.
Ben tak sengaja melihat Red sedang menghapus air matanya.
Red memposting tiket konsernya di akun sosial medianya ia berencana untuk menjualnya.
Tanpa diduga dengan cepat tiket itu sudah dipesan oleh seseorang saat ponsel Red ia masukkan kedalam tasnya.
Dia mulai bekerja.
"Aku tidak melihat mu menangis tadi" kata Ben sedang membersihkan kolam ikan.
Red tertawa kepada Ben dan Ben juga demikian.
Pukul lima lebih dua puluh menit Red selesai bekerja.
"Kau ingin kita jemput kamu nanti malam?" tanya Ben.
"Tidak perlu. Aku akan datang sendiri" kata Red.
Red membuat janji bertemu dengan seseorang yang ia sedikit kenal. Disebuah kafe dekat bioskop dekat dengan gedung konser penyanyi kesukaannya itu.
"Kau benar akan menjualnya padaku?" tanya Gadis yang seumuran dengan Red.
"Mmm" kata Red.
"Oh ya. Sudah lama sekali kita baru bertemu" kata gadis itu.
"Iya. Terakhir kali, saat kau ikut audisi modeling bersama Jimmy waktu itu" kata Red.
"Setelah ini kau ada acara lagi?" tanya Sammy.
"Aku harus pergi ke suatu tempat" kata Red.
"Kedepannya aku harap kita bisa menjadi teman baik" kata Sammy.
"Aku harap juga seperti itu" kata Red.
Jimmy datang dengan membawa es krim yang ia pesan tadi di kafe tersebut.
"Ok. Kita ketemu lagi nanti, sorry aku tidak mau mengganggu kalian berdua. Bye!" kata Red.
"Kau mau kemana?" tanya Jimmy.
"Bye Sammy. Bye Jimmy" kata Red.
Red akan terlihat jahat tapi ia harus melakukan ini dengan alasan yang ia anggap yang terbaik.
Di tempat kerja Jun disebuah kafe, dia disana selesai menyanyikan sebuah lagu.
Duduk berdua saling berhadapan selama lima menit lebih.
"Maaf aku tidak bisa ikut menonton konser dengan kalian" kata Red.
Jun masih menatap Red.
"Aku juga sudah menjual tiket itu kepada orang lain. Ini uangnya" kata Red.
Jun belum bisa berkata apapun.
"Maaf atas ketidaksopanan ku" kata Red.
"Aku menyukai mu" kata Jun.
Red terdiam saat mendengar kalimat itu dari lisan Jun.
"Aku sedang berbohong. Jangan percaya kata kataku" kata Jun tersenyum kepada Red.
"Aku seperti berperan dalam film bergenre sedih" kata Red.
"Kenapa kau begitu sangat mendalami peran ini?" tanya Jun.
"Kau juga, kenapa menanggapi ku?" tanya Red.
"Aku hanya suka membully mu" kata Jun.
"Itu saja" kata Jun.
"Tidak apa apa kan?" tanya Red.
__ADS_1
"Tidak apa apa. Iya" kata Jun.
Mereka berdua makan es krim gotik dan vanila asyik tanpa rasa canggung.
"Oh. Ya, aku harus pergi tak apa kan?" tanya Red.
"Silahkan" kata Jun memberi senyum mempesona kepada Red lagi.
Jun melanjutkan menyanyi di kafe milik Rose yaitu sahabat kakak laki lakinya.
Kafe ramai dengan para pengunjung disana mendengarkan Jun yang sedang bernyanyi.
Beberapa orang tak kuasa menangis mendengar lagu yang dibawakan oleh Jun saat ini.
"Kau dengar lagu yang ia nyanyikan ini?" tanya Rose pada Leo kekasihnya.
"Apa dia sedang patah hati?" tanya Leo.
"Mustahil kan?" tanya Rose.
"Tapi, dia terlihat seperti sedang putus cinta" kata Leo.
"Kau tidak tahu seorang Jun. Dia seorang yang selalu berusaha profesional mungkin dalam apapun" kata Rose.
"Pantas saja kafe mu selalu ramai" kata Leo.
"Dia memang anak emasku" kata Rose.
"Kalau aku?" tanya Leo.
Rose langsung pergi saat Leo menanyakan hal itu padanya.
"Dia malu pasti" kata Leo.
Red ada disebuah rumah yang digunakan oleh para pensiunan tentara. Dia ada didepan bangunan itu menunggu seseorang.
Juga hujan sudah menyambutnya lebih awal sejak ia datang disana.
Red berteduh disana menunggu Ran yang akan keluar sebentar lagi.
Sudah pukul setengah tujuh malam jadwal kerja Ran berakhir.
Red menjaga dirinya disana dalam hujan yang cukup deras. Kedua telapak tangan ia gesek gesekan agar tidak terlalu dingin.
Gadis ini sesekali melihat ke arah gedung itu memastikan orang yang ia cari keluar dari tempat tersebut.
"Aku baru baca pesan mu" kata Ran.
Red memberikan wajah ramah pada Ran.
"Ayo kita cari tempat untuk berteduh" kata Ran.
Ran dan Red memakai satu payung hitam yang sama menuju ke mini market di dekat tempat kerja Ran.
"Tunggu aku. Aku akan membeli sesuatu" kata Ran.
Red duduk di kursi didalam mini market sendirian.
Ran sedang membeli sesuatu dan seseorang datang masuk kedalam mini market.
Red tak begitu memperhatikan gadis yang baru masuk ke mini market itu tapi ia tetap memperhatikannya. Seseorang yang ia belum pernah lihat, namun ada di galeri foto akun sosial media salah satu temannya.
"Aslinya cantik seperti dewi" kata Red.
Ran datang membawa minuman hangat.
"Tidak" kata Red.
"Aku sudah membeli susu hangat di kafe sebelah toko ini dan ini rotinya" kata Ran.
"Roti di mini market ini lumayan loh" kata Ran.
"Aku coba" kata Red.
"Benar ini lezat" kata Red.
"Aku belikan banyak untukmu" kata Ran.
"Terimakasih" kata Red.
Gadis itu masih didalam mini market sedang membeli sebuah mie instan dalam cup.
Berjalan melewati Red dan Ran yang juga duduk di dalam mini market dibagian tempat makan bagi para pengunjung toko tersebut.
Dia memasukkan banyak saus kedalam mie dalam cup di depannya itu saat duduk disebelah kiri Ran.
Dia terlihat seperti habis menangis dan wajahnya memperlihatkan kesedihan.
Red menarik lengan Ran dengan pelan berbisik pada Ran.
"Dia sangat cantik sekali" kata Red.
Ran tanpa basa basi bicara dengan keras.
"Tapi aku hanya menyukai mu" kata Ran.
Red memukul lengan Ran.
"Kenapa kau berteriak" kata Red. Dia melanjutkan makan roti dari Ran.
Gadis yang Red bicarakan itu mendengar apa yang dikatakan oleh Red tadi.
Dia tertawa kecil lalu melanjutkan makan mie.
Dia memakan mie dengan banyak saus pedas yang ia masukkan ke dalamnya.
Dia sampai menangis saat memakannya.
Ran mendengar gadis di sebelahnya seperti sedang menangis dia memutuskan untuk lebih mendekat ke arah Red.
"Ayo kita pergi, cepat. Cepat!" Perintah Ran.
"Tapi, aku belum selesai makan" kata Red.
"Aku akan membawa makanan kita" kata Ran.
Red dan Ran mencari tempat lain pergi dari dalam mini market tersebut.
Dalam perjalanan masih menggunakan payung yang sama. Ran membawakan minuman dan makanan Red.
"Apa aku bisa secantik gadis tadi?" tanya Red.
"Jangan bahas gadis tadi lagi" kata Ran.
"Kenapa memangnya?" tanya Red.
"Nanti kau cemburu bagaimana?" tanya Ran.
__ADS_1
"Cemburu, aku?" tanya Red.
Ran memandang mata Red.
"Sudahlah. Ayo kita pergi mencari bus" kata Ran.
"Lihat. Kau lucu sekali kalau sedang cemberut gitu" kata Red.
Ran terlihat malu malu didepan Red. Dia belum berani berbicara lagi pada Red sampai di perhentian bus.
"Aku lihat lesung pipi mu" kata Red terus meledek Ran.
"Sungguh itu aku melihatnya, kau malu yah" kata Red.
Ran duduk disebelah kiri Red didalam bus. Dia masih belum bisa menyembunyikan rasa malunya pada Red.
"Gadis yang bernama Sima itu. Dia yang ada di foto bersama Jun saat sekolah menengah pertama" kata Red.
Sima masih belum pergi didalam mini market.
Hujan tidak berhenti malah bertambah deras dan banyak petir datang.
"Kau bisa menangis?" tanya seorang wanita dari kejauhan memandang Sima.
"Untuk apa kau menangis. Kau masih bisa merasakan segalanya" kata seseorang itu.
"Kau tak pernah melihat bagaimana orang lain merasa tersakiti oleh ulahmu" kata seseorang itu.
"Kenapa, kenapa kau tak tertawa lagi. Kau senang melihat ku seperti ini kan" kata seseorang itu.
"Siapa lagi yang akan kau hancurkan hidupnya?" tanya seseorang itu.
"Bersyukurlah wajah cantik mu menutupi wajah asli mu" kata seseorang itu.
Seseorang lewat di bawah lampu jalan tempat seorang gadis bergaun hitam ada disana melihat Sima dari luar mini market. Menembus dan melewati bayangan hantu itu. Satu dua orang dan lainnya datang dan melewati dia yang ada disana.
Tatapan mata itu tajam hantu bergaun hitam itu dengan bibir merah dan high heels hitam mengapa belum berhenti menangis.
"Kau pasti akan mengalami hal buruk yang tidak pernah kau sangka dalam hidupmu" kata hantu itu.
Jalanan masih terguyur hujan dan lampu lampu penerangan belum berhenti menyala di jam tujuh lebih sepuluh menit. Sima keluar dari mini market itu dia dengan payung kuningnya pergi ke arah barat menjauh dari pandangan hantu gadis bergaun hitam itu yang melihatnya disana ditempat yang sama.
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya seseorang muncul disebelah hantu tersebut.
"Bukan urusanmu" kata hantu bergaun hitam.
"Ya. Bukan urusanku" kata Hera.
"Apa aku harus menyakiti gadis itu?" tanya Hera.
"Kau juga bisa menyiksanya atau membunuhnya" kata hantu tersebut.
"Aku percaya kau dulu bukan orang seperti itu" kata Hera.
Hantu disebelah kiri Hera telah pergi.
"Apa begitu sulit untukmu. Kau pasti sangat kesepian dalam rasa sakitmu" kata Hera.
Hera juga pergi menghilang dari tempat itu.
Menit demi menit hujan belum juga berhenti bertambah petir dan guntur mengisi ruang atas bumi.
Konser akan di mulai setengah jam lagi para penonton sudah masuk kedalam gedung stadion untuk menonton konser tentunya.
"Tadi sore dia tidak berkata apa apa padaku" kata Ben.
"Dia datang padaku tadi sore untuk meminta maaf" kata Jun.
"Kenapa kau tak mencegahnya?" tanya Good.
"Kita tahu siapa dia kan" kata Jun.
"Rasanya sepi tak ada Red disini" kata Good.
Lima menit lagi konser di mulai light stick menyala di pegang oleh para penggemar diangkat keatas.
Konser dimulai.
Ramai oleh para penggemar yang mengikuti lirik lagu saat lagu dinyanyikan oleh rapper idola mereka.
Jimmy ada bersama Sammy juga teman teman Jimmy yang lain menikmati konser malam ini yang sudah berlangsung setengah jam.
Sammy menikmati konser bersebelahan dengan Jimmy tapi ada sesuatu yang membuatnya berhenti untuk menari.
Dia terpaku dengan seorang gadis yang ia lihat di depannya itu.
Seseorang bergaun hitam melewati dan menyenggol bahunya.
Awalnya dia tak merasakan kejanggalan apapun disana. Namun, setelah itu ia tak bisa bergerak ketakutan bercampur menjadi satu. Keringat muncul dari kening dan pelipis wajahnya.
"Apa aku baru saja melihat hantu?" tanya Sammy.
Sammy kemudian mencari jalan untuk bisa ia pergi meninggalkan konser. Tapi, dia tidak bisa banyak sekali penonton disana sedangkan hantu itu ada di depannya sedang berdiri di belakang teman teman Jimmy.
"Bukankah dia sudah meninggal. Kenapa dia ada disini?" tanya Sammy.
"Apakah aku telah berbuat salah padanya?" tanya Sammy lagi.
"Ku rasa tidak. Seingatku aku tak melakukan hal jahat padanya" kata Sammy.
Dia mulai bertambah gelisah.
"Dia melihatku lagi" kata Sammy.
"Untuk apa dia disini?" tanya Sammy.
Sammy mulai menggigit jemari jemari tangannya. Dia bertambah cemas dengan situasi ini.
"Dia sudah meninggal. Kenapa dia masih disini?" tanya Sammy.
"Aku takut Tuhan. Tolong aku" kata Sammy.
Musik konser terus berlanjut dengan lagu lagu hits yang mereka bawakan. Penonton lain juga sangat menikmati konser malam ini.
Sammy melihat kearah Jimmy, dia juga terlihat sangat senang.
"Konser masih cukup lama. Apa aku akan tetap disini?" tanya Sammy.
"Apakah hanya aku yang bisa melihatnya?" tanya Sammy.
Lima menit sebelum konser dimulai.
Hantu bergaun hitam itu sedang mencari seseorang dan dia adalah Jun.
Hera sangat penasaran kemana hantu bergaun hitam itu pergi ternyata dia pergi ke sebuah konser musik.
"Apa kau ingin masuk kedalam tubuh remaja itu?" tanya Hera mencegah hantu itu masuk kedalam tubuh Jun.
__ADS_1