
Chapter 113: Kamu tidak sendiri.
"Grruggruggrugrgrgguughhhh!!!"
Suara dari raga Sniper itu akan jatuh ke bawah tepat di atas rumah Red.
Ujung runcing sebuah atap bangunan rumah Red.
"Drdrddrdrdrdrdrddrdrdrdrddrd"
Dia membuka mata tersadar.
Mata putih seperti awan kecil berjalan memutar mengisi lingkaran kornea mata.
Makhluk berkabut itu langsung kembali menyerang Sniper tersebut.
Kepalan tangan kanan siap meninju makhluk berkabut yang datang menyerang dan suara ledakan terjadi diatas langit.
"Boooommmmmm!"
Ditempat lain di luar kedai Bob dan Jax baru selesai makan malam antara Paman dan keponakan.
"Siapa yang ulang tahun?" tanya Jax.
"Aku tidak ulang tahun" kata Bob.
"Selalu saja percaya diri" kata Jax.
"Kenapa?" tanya Bob.
"Tidak" kata Jax.
Langit menjadi hening.
Tangan Sniper itu masih mengeluarkan cahaya putih dan makhluk yang tadi menyerangnya pergi.
Di bagian sekitar pelipis kepala berkeringat. Hidungnya dan dahi terdapat beberapa goresan dari ledakan tadi berdarah.
Cahaya putih terlihat dari luka luka itu menyembuhkan sendiri perlahan menutup luka luka itu menjadi sediakala tak terdapat luka goresan.
Nafasnya mulai terdengar lebih rileks lagi setelah baru saja ia tak menyadari bahwa tubuhnya hampir saja terjatuh dengan sendirinya dari atas langit tepat diatas atap rumah Red.
Matanya belum berhenti melihat ke arah sekeliling menatap tajam dengan indera penglihatan menerawang lagi lebih detail makhluk tadi.
Dia masih berjaga diatas sana.
Rumah masih dalam keadaan tak berubah semenjak pemiliknya telah pergi entah kemana dan tidak tahu dimana dia bisa ditemukan dimana harus mengikutinya bahkan jejaknya tak bisa berbekas dimana harus mencari berikan petunjuk apapun walau itu hanya sedikit dia tak memberi kesempatan terlihat kamarnya yang sejuk terasa seperti setelah dan masih sedang terjadi tidak pernah terjadi.
Lampu menyala terang.
Menyusup lagi menelisik ketenangan didalam rumah hangat di ruang tamu lampu kuning terang memberi sinar di malam ini.
Seperti sedang dikejar waktu dalam ketenangan ini dan ingin berlari sekencang kencangnya pergi dari waktu yang harus tetap dijalani.
Lampu semua rumah itu padam lagi.
Menyala lagi.
"Prakkkkkkkkkk!"
Ada apa dengan lampu lampu rumah itu.
Pecah dengan sendirinya.
Tangannya dengan otot otot tangan terlihat menghitam dan memerah terbuka jemari jemari kuku tangan hitam terlihat tumbuh memanjang dalam keadaan rapuh disetiap ujungnya terlihat.
Lampu lampu itu kembali menjadi bentuk semula utuh dalam satu kali pemilik telapak tangan itu menggenggam.
Menyala meredup lalu menjadi terang seperti itu seperti biasa.
Dia dengan rambut hitam panjang hitam terlihat memandang rumah tempat tinggal Flow.
Dia melihat ke arah bawah menatap batu yang ada di depannya menatap bayangan batu itu melihat ke langit selanjutnya.
Menatap bulan dan bintang bersinar terang.
Dia kembali melihat bayangan batu itu dan dia melihat tak ada bayangan disana bayangan dirinya sendiri.
Dia menggerakkan tangannya ke atas berusaha menyentuh bulan dalam jemari jemari tangan dan dia kembali melihat bayangan batu itu tetap ada dan tak ada yang berubah tapi tetap saja dia tidak memiliki bayangan seperti batu yang ia lihat meski berulangkali dia tidak mendapatkan hal yang sama seperti apa yang didapat oleh sebuah batu yang ia lihat dan dia terdiam dalam kondisi ini.
"Apa aku telah banyak berubah dan tak ada kesempatan untuk diriku?" tanya wanita itu.
"Benarkah tidak ada hanya untuk ku" kata wanita itu.
"Bisakah kau diam!" kata wanita itu.
Berputar berlainan letak memandang raga wanita itu dari arah belakang berpindah melihat ke depan melihat wajahnya dengan jelas.
Dia bukan Flow.
"Marah?" tanya Wanita itu.
Wajahnya adalah milik Uri.
Wanita yang sedang didepan rumah Flow.
"Tak ada bayangan didalam kaca itu?" tanya Flow.
"Mungkin kita sudah mati" kata Uri.
"Mati?" tanya Flow.
"Kau sama sepertiku" kata Uri.
"Tidak!" kata Flow.
Berteriak.
"Tidak!" kata Flow.
"Hahahahahah!"
Uri berteriak keras sangat gembira dalam wajah menakutkan tersenyum wajah berbalur tanah dan baju merah terlihat seperti setelan baju berbahan sifon tak berlengan dengan rok yang berbahan sama sepanjang selutut.
Dia melihat ke arah kakinya yang juga penuh dengan tanah tak beralas kaki.
Berjalan maju satu langkah dengan jejak kaki yang jelas terlihat penuh darah di atasnya dalam tanah yang ia injak.
__ADS_1
Kemudian menghilang setelah dia melangkah lagi.
Melangkah lagi.
Lagi dan dia ikut menghilang terbawa udara.
Angin datang terus mempercepat membuatnya pergi seperti abu yang terbakar pergi ke udara.
Wajahnya terlihat kian berubah darah keluar terus mengalir dari hidung kirinya mengalir juga darah keluar dari bibir serta mulutnya lagi.
Otot otot wajah kian jelas di separuh wajahnya sebelah kanan merayap lebih kuat makin terlihat jelas di wajah pucat yang terkena tanah akibat terkubur di hutan sebelumnya disaat terakhir kali ditemukan oleh Hera dan juga Radan.
Menyeringai dia tanpa beban terus pergi juga tetap tubuhnya kian menghilang dan hanya tersisa wajahnya dan dia benar benar hilang terbawa angin seperti abu.
Angin lumayan kencang datang pergi di udara dalam malam yang tenang di cuaca yang cerah malam ini.
Langit indah dan terang terlihat dari bawah langit.
Bob ada disana di pusat kota bersama si keponakan yang juga seumuran dengan dirinya. Jax.
"Kau juga menyukai B kan?" tanya Bob.
"Flow B?" tanya Jax.
"Ya" kata Bob.
"Mungkin ya, mungkin tidak" kata Jax.
"Jika dia tidak memilih ku setidaknya dia bisa bersama mu" kata Bob.
"Sungguh?" tanya Jax.
"Ya" kata Bob.
"Aku jadi berpikir negatif dengan kebaikan mu" kata Jax.
"Hey. Aku tidak seperti itu kepadanya" kata Bob.
"Tidak semudah itu aku melepasnya" kata Jax.
"Ya. Kau benar" kata Bob.
"Sudah sangat lama. Kau mengejarnya" kata Jax.
"Aku masih menunggu, menunggunya lagi" kata Bob.
"Harapan mu terlihat nyata tapi aku masih ragu" kata Jax.
"Baiklah. Aku memang seperti itu" kata Bob.
"Terima kasih telah menjaga adikku" kata Jax.
"Dia juga adikku" kata Bob.
Dari kejauhan dia dibalik air mancur pusat kota yang menyala indah di pusat kota dia disana menatap kedua pria yang dulu dengan botol air mineral ditangan kanan Jax dan disisi kiri Bob yang duduk bersebelahan di antara orang orang yang juga ada disana sedang mengobrol.
Dari sisi kiri, dia melihat kedua orang itu dengan tatapan kosong terus melihat tanpa berkedip wajah separuh otot otot wajah sudah sangat terlihat timbul di wajah pucat milik wanita itu.
Warna air disana berubah warna silih berganti cahayanya ikuti menyinari wajah wanita itu.
"Kenapa kau bisa menemukan mereka?" tanya Uri.
"Entahlah. Aku tiba tiba tahu keberadaan mereka disini" kata Flow.
"Itu bukan dirimu" kata Flow.
"Aku hanya ingin dan ingin mendapatkan aura mereka" kata Uri.
"Siapakah orang yang kau maksud?" tanya Flow.
"Ada apa. Kau ingin bergabung denganku?" tanya Uri.
"Kau berubah pikiran?" tanya Uri.
Tangan kanan Flow ia lihat dan kuku kuku hitam tajam mulai mendekat ke arah wajah mendekat dan mencengkeram wajahnya sendiri dengan tangannya sendiri.
"Hentikan!" kata Uri.
"Hentikan!" kata Uri.
"Tidak. Tidak!" kata Uri.
"Jangan!" kata Uri.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Uri berteriak keras didalam raga Flow.
Dia lupa, Uri bahwa separuh tubuhnya adalah sudah menjadi milik Uri.
Separuh wajah kirinya yang telah menjadi milik Uri dicengkeram oleh tangan Flow sendiri menggunakan tangan kanan darah keluar jelas dari wajahnya sendiri.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Teriakan itu memecah air air yang ada di tengah tengah kota itu menyebar tak beraturan ke segala arah.
"Prakkkkkkkkkkkk!"
Suara lampu pecah memecah lampu lampu penerang disekitar air mancur dan lampu lampu yang ada disekitarnya lagi secara berbarengan.
Teriakan itu terdengar jelas keluar dari raga Flow yang sudah tak terlihat oleh orang orang disana.
Semua terkaget dengan situasi ini.
"Ada apa ini?" tanya Bob.
"Kau seorang penyihir?" tanya Jax.
"Bukan saatnya bercanda" kata Bob.
Serpihan serpihan pecahan lampu yang pecah sampai ada jatuh berada di sekitar mereka yang duduk disana dan juga ada diikuti tempat mereka berdua sedang duduk.
Dia berbalik arah dengan kekuatan pelindung yang masih aktif putih bercahaya menyebar ke seluruh orang orang dan wilayah itu menangkis semua pecahan kaca kaca lampu yang pecah dari teriakan Uri barusan.
Dia melihat ke semua arah dan dia tak menemukan hal hal yang mencurigakan.
"Kenapa aku disini?" tanya Jun.
Tanpa ia sadari dia ada disana dengan pakaian yang ia pinjam dari Ben.
Melihat kakinya yang tak memakai alas kaki.
__ADS_1
"Bukankah tadi aku sedang dirumah Ben" kata Jun.
Dia masih belum mengerti dengan kejadian ini.
Semua pecahan pecahan sudah jatuh di tempat diatas tanpa melukai orang orang disana.
Jax akan melihat ke arah Jun.
Jun menghilang.
Dia langsung kembali pergi berpindah tempat tanpa kehendak yang ia inginkan kembali ke rumah Ben.
Televisi masih menyala dan semua teman temannya sedang tertidur ketika peristiwa ini terjadi padanya.
Jun duduk disebelah Marid yang sedang tidur dan dia sadar bahwa kakinya kotor.
Dia pergi ke kamar mandi tentu untuk mencuci kedua kakinya yang kotor.
Jun menatap cermin menatap wajahnya sendiri dibawah lampu yang terang didepan cermin panjang sepanjang dua meter didepan membasuh muka disana dengan air mengalir dari air kran yang ia nyalakan dari wastafel dekat cermin..
"Byur!"
Suara Jun membasuh muka ia usahakan agar tidak terlalu keras terdengar oleh orang orang diluar yang sedang tidur.
Dia bernapas seperti biasa menatap wajahnya lagi.
"Apa perubahan yang terjadi ini akibat dari mantra obat itu atau diriku sendiri?" tanya Jun.
Jun mengambil handuk putih baru dari lemari dekat wastafel milik Ben.
Membawa keluar dari dalam kamar mandi sambil mengeringkan wajah dan rambutnya.
Duduk lagi di kursi busa di ruangan tadi di kursi yang lain yang tidak digunakan untuk tidur teman temannya.
Televisi masih menyala dan tidak mungkin di matikan oleh Jun.
"Nanti, dia bangun" kata Jun.
Yang dimaksud adalah Marid, remaja ini tidak bisa tidur dengan televisi dalam keadaan tidak menyala.
"Bisa bahaya" kata Jun.
Dia telah berpindah tempat lebih jauh dari tempat semula berada di sebuah stadion di pusat kota dia ada disana berada tepat di tengah tengah lapangan sepak bola itu sendiri lampu menyala terang padam satu persatu semua mati dan kini mati semua gelap langit sedang melihat dan mendengar nafasnya terengah engah seperti baru saja berhenti berlari.
"Heh heh heh heh heh"
Flow dan Uri disana.
Tangannya kembali akan mencengkeram wajahnya sendiri mencengkeram bagian raganya yang telah dimiliki oleh Uri.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Dia berteriak sekeras kerasnya disana dalam stadion yang sepi gelap tanpa lampu menyala.
"Tolong aku!" kata Uri.
Red membuka mata disaat masih melakukan meditasi mendengar suara ini.
Jun juga berhenti dari aktifitasnya mengeringkan rambutnya yang terkena air setelah membasuh muka.
Merintih menangis dalam rasa sakit luar biasa darah terus mengalir dari wajah wanita yang memiliki raga yang ditempatinya saat ini.
Flow separuh tubuh yang masih miliknya tersenyum separuh bibir dengan apa yang ia lakukan.
Dia tak bisa mengendalikan itu dan ia tetap mencengkeram wajahnya sendiri tanpa ampun.
Darah terus mengalir dan dia belum berhenti.
Sebelum Flow dan Uri mendatangi Bob dan Jax di air mancur yang berada dipusat kota.
Radan masih melakukan meditasi dan dia tak mendengar teriakan ini, dia masih disana menjalankan tugas.
Sesuatu sedang mulai masuk kedalam ruang rawat Sima yang tertutup rapat disana dia masuk dalam ruang yang terang terlihat cahya merah bertambah terang menyala dari dalam raga Sima disaat seseorang itu datang.
Dia mulai mendekat.
Percikan cahaya dari raga Sima mengenai makhluk berkabut hitam itu dan dia mulai menghilang tentang dirinya setelah terkena percikan energi dari Sima.
Melangkah mundur dan dia ada disana.
Dia melihat buku yang terus menyala menyala membiru terang seperti sedang berdetak bagai detakan jantung yang normal semakin dekat makhluk itu datang maka semakin cepat ritme cahaya yang di timbulkan oleh buku yang ada di tas Sima tersebut.
Terus mendekat mendekat dan cahaya di buku itu mulai tenang dalam bersinar membiru terang dihadapan makhluk itu.
Sekali lagi tanpa suara dia mendekat ke arah buku itu.
Raga berkabut hitam tebal masuk kedalam tas itu.
Buku itu ia ambil.
Di buka buku itu dan dia melihat sebuah nama disana kembali tertulis.
Kabut hitam itu berusaha untuk merobek halaman yang sudah tertulis nama Flow dan Uri. Namun, itu tidak berhasil dan sulit dilakukan.
Dia tidak kehabisan akal kemudian dia dengan kabut hitam itu muncul sebuah api.
Dia membakarnya.
Api itu padam.
Dia mencoba lagi.
Api itu padam.
Mencoba lagi.
Berhasil.
Halaman buku dengan nama Flow dan Uri terbakar perlahan dengan kabut yang terus mengeluarkan api agar kertas itu bisa habis terbakar sesuai yang ia inginkan.
Di luar sana ditengah tengah stadion sepak bola masih dalam gelap. Dia disana merintih merasakan rasa sakit yang luar biasa dengan apa yang dilakukan oleh Flow tanpa bisa ia hentikan.
"Hentikan itu!" kata Uri.
Dia tak mau berhenti dari tindakan itu.
Raga Flow benar benar terbakar dibagian raganya yang telah dikuasai oleh Uri.
Mata sebelah kanan Flow menangis.
__ADS_1