
Chapter 23: Ada hantu di sebelahmu!.
Di sebuah toko di sekitar pasar.
"Tunggu disini!" Bee menitipkan kue yang ia beli kepada Good.
Good mau marah gimana diluar juga masih hujan gede.
"Pakai ini" perintah Bee memberikan satu stel baju warna hitam untuk Good dan satu stel baju lagi untuk dia sendiri dengan warna yang sama.
"Kenapa harus pakai ini?" tanya Good.
"Kamu lihat baju kita kotor semua" kata Bee.
"Terus?" tanya Good dengan sengaja.
"Terus cepet pakai baju ini" Bee mulai terpancing emosi oleh Good.
Secara bergantian membawakan kue mereka keduanya saling berganti pergi ke toilet umum dan saling menunggu di luar saat salah satu dari mereka berganti pakaian di dalam toilet.
"Nah. Kalau begini kan keren!" Bee penuh antusias berjalan keluar dari dalam pasar.
Payung sudah dibuka. Good juga demikian.
Beberapa taksi ada di depan pasar dan kendaraan lain.
"Kau ambil taksi itu aku akan naik bus" Good mengatakan ini pada Bee.
"Sepertinya asik. Aku akan ikut denganmu" Bee mengejar Good yang beberapa langkah pergi dari Bee.
Good dan Bee menunggu bus di perhentian bus dekat pasar.
"Masukkan ponselmu di dalam tas atau saku baju mu. Jangan sampai mengundang pencuri untuk datang" Good menasehati Bee yang sedang bermain ponsel.
Bee menurut perkataan Good.
"Kau seperti Kakakku saja, Ben" kata Bee.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Good.
"Aku. Aku mau kerumah sakit seperti biasa. Kamu?" Bee menjawab pertanyaan dari Good kemudian berbalik bertanya kepada Good.
"Aku juga mau pergi ke rumah sakit dekat pasar ini" kata Good.
"Kita satu arah. Kau boleh jauh jauh dariku" kata Bee.
Good tak merespon dengan obrolan dari Bee ini.
Good berbicara tanpa suara, dan berkata "Apakah kita tidak bisa berteman?".
Bus datang lima menit kemudian. Bee sangat kegirangan saat naik bus bersama dengan Good.
"Hati-hati. Kau duduk di sebelah sana" kata Good memberikan tempat duduk kepada Bee di dekat jendela.
"Terimakasih. Ternyata temanku manis juga" Bee mengatakan hal ini dengan begitu saja.
Good terheran.
Dia kemudian duduk di sebelah Bee.
"Kau mau kue ini?" Bee menawarkan kue yang tadi ia beli di pasar bersama dengan orang disampingnya itu.
Tanpa menjawab iya, Bee menyuapi satu kue kepada Good.
"Astaga gadis ini!" kata Good.
Dan merasa bahwa kue tradisional yang ia makan dari Bee sangat lezat.
"Bagaimana. Lezat kan?" tanya Bee.
"Tidak buruk" Jawab Good.
"Aku beli banyak. Kalau kau mau, aku akan membaginya untuk kita berdua" kata Bee.
Good merasa ada yang aneh dengan dirinya kali ini.
"Benci jadi cinta?"
"Apa benar. Tidak mungkin"
"Aku harap itu hanya mimpi"
Good sedang memikirkan ini di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit bersama Bee.
"Aku dengan Bee. Akan jadi apa alam semesta ini, tapi dia imut juga" kata Good.
"Aku sedang berpikir apa. Ini diluar daya pikirku" kata Good.
Good berdiri dari kursi bus.
"Ayo bangun kita hampir sampai" Good mempersilahkan Bee jalan lebih dahulu di depannya.
"Bawakan ini!" Perintah Bee membawakan barang barang miliknya, kecuali tasnya.
Bus berhenti di depan rumah sakit, mereka berdua sedang menunggu lampu berubah menjadi merah sebuah tanda untuk menyeberang di tempat penyeberangan bersama orang orang disana.
Lampu penyeberangan jalan berubah menjadi merah. Mobil-mobil dan kendaraan yang lain berhenti sejenak.
Menyeberang Bee dan Good bersama orang orang disana.
Sebelum lampu penyeberangan berubah memerah.
"Jangan jauh jauh dariku!" Perintah Good.
"Kenapa?" tanya Bee.
"Aku melihat salah satu copet ada di seberang penyeberangan jalan sana akan ikut menyeberang. Amankan barang-barang berharga mu" kata Good memberikan informasi ini kepada Bee.
Good tak memberitahukan wajah asli pencopet itu tapi menyarankan agar Bee tetap waspada.
Bee tak jauh jauh dari Good saat sedang menyeberang jalan.
Mereka berdua sudah menyeberang jalan dan telah melewati gerbang masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Akhirnya, kita selamat" Bee mengucap syukur.
"Semua terselamatkan?" tanya Good.
"Iya. Makasih Good" Bee memukul lengan Good dua kali.
Sikap yang biasa ia tunjukkan kepada Ben, ia tunjukkan kepada Good.
"Aku harus pergi, Kakakku sudah lama menungguku" Good berlari kedalam rumah sakit dengan berjalan cepat tepatnya di tempat sekarang Kakaknya mengantri untuk diperiksa oleh dokter spesialis kandungan di dalam rumah sakit.
Bee juga bergegas menuju tempat Neneknya dirawat.
Di pantai.
Ben memberikan minuman hangat dalam cup kepada Sammy dan Jun. Dia membuka tutup minuman cup hangat miliknya dan meminumnya lebih awal.
"Kau sudah berangkat kerja?" tanya Jun.
Red belum membaca atau membalas pesan dari Jun.
Jun menghubungi nomor ponsel Red dan tidak aktif.
"Kau sedang menelepon Red. Aku juga tadi menghubungi dia, dia tak menjawab panggilan dari ku" kata Ben.
Ben memanggil ulang nomor ponsel Red.
"Dan kali ini tidak aktif" kata Ben.
"Dia membuatku khawatir" Sammy juga sudah berusaha menghubungi Red sejak tadi.
"Tapi, tadi Kak Flow menghubungi Red. Katanya, dia sedang bekerja dan tidak bisa diganggu sekarang" Sammy menerangkan.
"Setidaknya kita bisa tenang untuk saat ini" ungkap Ben.
Sammy belum meminum minuman hangat dari Ben.
"Kau benar benar bolos kerja?" tanya Ben pada Sammy.
"Begitulah" kata Sammy.
"Bukan apa apa. Tapi, apa tidak sayang?" tanya Ben menatap wajah Sammy.
"Benar. Aku tidak apa apa" Sammy meyakinkan Ben.
"Kenapa kalian tidak jadian lagi. Sepertinya, kalian sudah saling memaafkan" kata Jun berhenti sejenak ketika sedang membaca e-book di ponselnya.
Belum ada respon dari kedua remaja ini.
Hujan berhenti lima menit kemudian hujan lagi.
Pukul empat sore di perpustakaan.
Leo ada di meja kayu panjang perpustakaan dengan buku buku yang sudah diambil untuk dibaca. Tidak, itu sebenarnya buku buku yang diambil oleh Dan sejak tadi yang akan ia pinjam bawa pulang.
Leo melihat ke sisi kanan dan berganti ke sisi kiri.
"Apa yang mereka lakukan. Mereka saling tak kenal atau saling menjauh" Leo melihat Dan yang berada di sisi kanan dan Flow ada di sisi kirinya.
"Sudahlah aku juga harus menyelesaikan pekerjaan ku" kata Leo menghitung biaya perawatan untuk buku buku di tempat kerjanya saat ini.
Dua hantu dengan berpakaian serba putih dan baju sudah lusuh panjang tak terbentuk utuh dengan darah yang ada hampir di sebagian pakaian mereka. Rambut panjang tak terurus dan wajah pucat mereka serta mata yang hampir keluar.
Sebenarnya mereka berdua tidak saling tidak kenal atau menjauh tapi sejak mereka berada di sana dan baru sadar setelah sepuluh menit berlalu ada dua hantu yang sangat menakutkan ada di setiap sisi Leo duduk saat ini.
Flow dan Dan berbicara dalam hati mereka.
"Mau bilang apa, pasti dia tidak percaya dengan apa yang akan aku katakan" Dan membaca buku.
"Mau pergi tidak mungkin. Aku takut terjadi apa apa pada orang di sebelahku" Flow membalik lembar halaman buku yang ia baca. Sebuah buku resep kue.
Flow dan Dan tidak mengetahui bahwa mereka berdua memang bisa melihat hantu.
"Sebelumnya tak ada hantu di perpustakaan ini. Dari mana hantu hantu itu?" tanya Flow.
"Kapan mereka jadi penghuni tempat ini. Mereka bukan berasal dari tempat ini" Dan mengingat.
"Mungkin mereka kesasar atau salah jalan. Mungkin saja" Flow menyimpulkan ini dengan sesederhana mungkin.
"Jika dia diberitahu ada hantu di sebelahnya. Ada dua lagi, aku takut ia masuk rumah sakit lagi kayak waktu kuliah dulu" Dan memutuskan membiarkan hantu hantu itu terus disana.
Sepuluh menit kemudian.
Leo sudah selesai dengan pekerjaannya.
Leo mulai membaca buku pelatihan dasar memasak.
"Dan. Menurutmu, apakah aku perlu belajar memasak?" Tanya Leo.
Dan menjawab, "Iya. Perlu, kau akan segera menikah kan".
"Aku tidak profesional namun setidaknya bisa diandalkan sebagai suami jika istriku hamil dan melahirkan nanti" kata Leo menambahkan.
"Iya. Leo. Itu ide bagus" kata Dan masih dalam kegelisahan melihat hantu-hantu di sebelah Leo.
"Aku malu dengan mu. Kau sudah mempelajari ini padahal kamu belum berencana untuk menikah" kata Leo.
Leo kembali fokus membaca buku yang ada di depannya itu.
Pukul enam sore menjelang awal malam.
"Disini hanya mendung. Aku mendapatkan kabar dari teman ku bahwa di tempatnya sekarang sedang hujan deras" Ran memberikan informasi.
"Baterai ponselku habis sejak sore tadi" kata Red.
"Kita masih harus berjalan delapan ratus meter lagi" kata Kak Sew melihat peta secara online di ponselnya.
"Ayo kita istirahat lima menit untuk minum dan makan. Bagaimana?" tanya Kak Sew.
"Baiklah. Lima menit saja" kata Ran.
Makan cemilan bernutrisi dan air mineral lalu lima menit kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Ran menyalakan senter.
__ADS_1
Lampu-lampu sudah lebih banyak terlihat dan menyala lebih terang menyinari jalanan yang mereka lalui waktu ini.
"Kita sudah melalui daerah yang terkenal dengan binatang binatang buas bisa muncul di sana" Kata Ran.
"Iya. Dua ratus meter yang lalu. Untung saja Kak Sew sudah memberitahu kita saat di mobil tadi" kata Red.
"Makasih Kak Sew" kata Ran dan Red berkata bersamaan.
"Kita kan satu tim harus saling membantu itu kewajiban kan" kata Kak Sew.
Mereka bertiga masih berjalan cepat seperti sebelumnya untuk mencegah hal-hal yang tidak mereka inginkan. Mereka sadar betul daerah itu bukan wilayah tempat tinggal mereka.
"Kita semua jangan ada yang bergerak!" Red memberikan instruksi.
Seorang hantu berjalan hantu itu terlihat semakin jelas dari kejauhan mengarah ke arah mereka bertiga dengan bentuk sangat besar seperti beruang coklat kehitaman dan bulu-bulu menyelimuti tubuhnya berjalan seakan terseret-seret air liur terus mengalir dari dalam mulutnya berbau busuk matanya besar merah menyala telinganya lebar dan gigi bertaring serta lidah panjang memerah.
Suara yang ia keluarkan terasa aneh dan asing untuk di dengar tidak seperti hantu-hantu yang biasa mereka dengar.
Ketiga anggota tim ini melakukan meditasi disana saat mereka tahu bahwa hantu itu terus mendekat.
Suaranya terdengar seperti suara anjing yang berlari dan seperti babi yang mengeluarkan suara saat lapar.
Suaranya makin jelas dan jelas datang ke arah mereka bertiga.
Dia datang makin dekat terus melangkah demi langkah menyeret kedua kakinya. Lalu, sedikit tertawa.
Mengejutkan juga membuat gemetar.
Hantu itu melirik kearah anak muda itu, terdiam. Kemudian, berhenti disana. Di sisi kiri persis Ran berdiri sedang bermeditasi yang berjarak hanya satu meter.
Detik-detik sangat menguji nyali.
Tiba tiba saja burung-burung gagak berdatangan ada yang terbang diatas mereka dan ada yang berjalan di sekitar mereka berdiri sekarang. Seakan menunggu sebuah kepastian.
Jantung mereka berdetak dengan stabil di usahakan tetap rileks dan itu tidak mungkin jantung mereka berdetak dengan sangat cepat saat itu juga hantu itu belum mau pergi dari sana.
"Huaaaaahhhhhh!"
Hantu itu mengeluarkan suara tepat di depan Ran lalu terdiam kembali menatap wajah Ran.
Bau busuk sampai tercium oleh Red dan Sew membuat kepala mereka sangat pusing seketika. Apalagi dengan Ran saat ini tapi dia tetap tahan dengan itu.
Udara bertambah dingin dari sebelumnya angin ikut menambah suasana semakin horor bertambah horor lagi.
Hantu itu mulai menyentuh wajah Ran dan akan mencongkel matanya.
Hantu itu menghilang tepat di depan Ran saat Red menusuk tubuh hantu itu dengan kelima jari milik Red yang mengarah seperti pedang saat melakukan penyerangan barusan.
Burung burung berterbangan jauh melarikan diri setelah melihat hantu tadi yang telah hancur karena kekuatan yang dimiliki oleh Red.
Lampu lampu mulai berfungsi kembali.
Ketegangan berkurang diantara mereka bertiga.
"Hampir saja aku mati" kata Ran.
"Terimakasih Tuhan. Terimakasih Red" Ran mengucapkan ini.
"Kau kan punya kekuatan juga. Kenapa harus Red yang sampai turun tangan?" tanya Sew.
"Aku hanya ingin menguji gadis ini" kata Ran tersenyum lepas.
"Bagaimana kalau kau pergi beneran?" tanya Red.
"Aku tak menyangka dia langsung hancur. Kekuatan gadis ini cukup luar biasa" kata Ran.
"Apakah aku harus menghancurkan mereka. Aku terlihat jahat?" kata Red menilai tentang dirinya sendiri saat ini.
"Sudahlah. Mereka mungkin tak harus dihilangkan tapi mereka juga mempunyai batas waktu untuk tetap tinggal berdampingan dengan kita" Sew menenangkan pikiran Red.
"Awal pertama aku bekerja dengan Kak Sew juga sama sepertimu tapi kau akan terbiasa" Ran menyemangati Red.
"Ayo. Perjalanan masih jauh" Kak Sew menggandeng tangan Red.
Perjalanan pulang berlanjut.
"Jadi, kita tak boleh berkemah?" tanya Ran.
"Kau mau pulang sekarang?" tanya Kak Sew.
"Iya. Aku mau pulang" jawab Ran.
Pukul lima sore.
Bling dan Hera pergi ke tempat kerja Jun dan Red tak ada mereka disana. Di rumah tempat sekarang Red dan Jun tinggal tidak ada mereka di sana juga mereka sudah memeriksa keduanya.
"Kita harus mencari mereka kemana lagi?" tanya Bling pada Hera.
"Jun ada di pantai pukul tujuh malam nanti dan ini masih pukul lima sore" kata Hera.
"Apa kita harus putus asa secepat ini?" tanya Bling.
"Ok. Ayo kita cari lagi mereka!" Hera menebarkan semangat.
Kisah di perpustakaan masih berlanjut.
"Kalian kenapa diam saja dari tadi?" tanya Leo.
Flow dan Dan tetap tak mau bicara.
"Hai nona, kau mengenal pemuda tampan di sebelah kanan ku, kan?" Leo menegaskan.
Flow tetap diam.
Sudah satu jam disana mereka bertiga berjejer masih memberikan jarak. Dan hanya memberi jawaban pada Leo pada awal-awal mereka ada disana.
Seorang anak sekolah dasar datang dengan buku yang ia ambil dari rak perpustakaan disana. Duduk satu meja dengan mereka bertiga tepat didepan Leo.
"Om. Ada hantu di sebelahmu" kata anak kecil itu.
"Hantu!"
Leo terkejut dan dia pingsan.
__ADS_1