Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 78: Gadis Kecil Ku


__ADS_3

Chapter 78: Gadis Kecil Ku.


"Kau dimana. Aku tadi menunggu mu tapi kamu tidak datang?" tanya Jimmy.


 Sima mengangkat panggilan dari Jimmy tapi dia tak menjawab pertanyaan dari orang yang meneleponnya. Fokusnya adalah milik Jax yang sedang bersama dengan Flow.


 Jax pergi dari depan rumah Flow.


 Menyusul kemudian setelah Jax pergi Sima juga pergi dari sana.


 Jimmy pergi ke tempat balapan liar bertemu dengan teman teman nongkrongnya disana.


"Hey. Bro!" kata salah satu teman Jimmy.


"Wayne" kata Jimmy.


"Aku tidak melihat bodyguard mu?" tanya Wayne.


"Dia tak terlihat tapi tetap ada" kata Jimmy.


"Kau tidak ikut balapan lagi?" tanya Wayne.


"Malas" kata Jimmy.


"Oh ya. Aku sudah lama tidak melihat Jun kalian satu sekolah bukan?" tanya Wayne.


"Kenapa. Dia terlihat baik baik saja" kata Jimmy.


"Dia belum datang lagi ketempat ini" kata Wayne.


"Pantas saja disini sedikit sepi" kata Jimmy.


 Jimmy dan Wayne tidak mengetahui kedatangan Jun di tempat balapan.


 Jun datang sendiri di tempat itu dengan membawa motor hasil balapan di lain hari yang terparkir lama di rumah Ayahnya Dan.


 Muncul kembali datang membuka obrolan bersama anak anak lain yang sudah lama tidak ketemu.


"Aku selalu bertanya kenapa Red berubah sikapnya kepada kita" kata Wayne.


"Entahlah. Semua orang pasti berubah seiring berjalannya waktu" kata Jimmy.


"Tapi kita sudah berteman dengannya sejak sekolah dasar" kata Wayne.


"Aku merasa kehilangan dia" kata Wayne.


 


 Red sedang perjalanan menuju rumah sakit didalam bus dia menatap ke arah depan dia menahan jangan sampai ia meneteskan airmata didepan orang orang.


"Aku tak bisa bergerak sama sekali" kata Red.


"Tunggu sebentar. Aku yakin ini takkan berlangsung lama" kata Bling.


"Pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu" kata Bling.


 Gadis yang Bling maksud adalah Sima.


"Oh ya. Seingat ku kau juga memberi obat itu juga kepada Sammy. Tapi, kau tidak mengalami dampak apapun" kata Bling.


"Kondisi tubuh seseorang berbeda beda" kata Red.


"Kita sudah melewati rumah sakit" kata Bling.


"Setelah aku baik baik saja. Aku akan menghubungi Sew" kata Red.


 Jun malam ini tidak mengikuti balapan liar lagi. Dia hanya datang disana untuk mengobrol bersama teman temannya yang sudah beberapa hari tidak bertemu.


 Jun melihat ke arah Jimmy begitu juga dengan Jimmy.


 Kemudian, Jun melanjutkan mengobrol lagi dengan teman teman yang ada di dekatnya saat ini.


 Seorang gadis bertanya kepada orang yang ia hubungi sekarang.


"Apa dia ada disana?" tanya seorang gadis muda.


"Hey cantik" kata orang itu.


"Apa Wayne ada disana?" tanya gadis itu.


"Iya. Dia ada didepanku bersama Jimmy" kata gadis ini.


 Gadis ini menghubungi Wayne lewat ponsel kemudian.


"Wayne" kata seorang gadis remaja memanggil.


"Hey. Apa aku tidak salah dengar" kata Wayne.


"Aku mau bicara denganmu" kata Red.


 Wayne pergi dari arena balapan liar itu.


 Wayne adalah sepupu Red.


 Wayne di ikuti oleh Jimmy dari arah belakang motornya.


 Mereka membuat janji bertemu di depan sebuah pusat perbelanjaan dekat area balapan tadi.


"Aku ambil motor ku" kata Red.


 Red pergi setelah mengambil motornya dari tangan sepupunya.


 Wayne pergi dari tempat itu menuju tempat perhentian bus.


 Jimmy berusaha mengejar kemana Red pergi namun tidak berhasil mengejar gadis itu.


 


 Di ruang rumah sakit.


"Kau yakin tidak ingin membantu ku?" tanya Orang itu.


"Tidak" kata Sew.


"Baiklah. Itu pilihan mu" kata Orang itu.


 Dengan mantra yang ia miliki "Orang itu" mengambil energi yang di miliki oleh Sew lalu dengan cepat mengambil nyawanya.


 Sew meninggal di ruang rawat rumah sakit tanpa orang lain tahu.


 Waktu kembali di saat Jimmy terakhir kali melihat senyum Red yang menangis melihat seseorang yang ia anggap sebagai sahabat.


"Kau tak boleh mati" kata Red.


"Kenapa sangat sakit?" tanya Jimmy.


 Jimmy penuh luka akibat ledakan racun yang dibuat oleh "Orang itu" hancur oleh anak buah Presdir Ma yang sengaja menghancurkan racun disebuah bangunan tak terhuni.


 Mulut Jimmy mengeluarkan banyak darah tubuhnya mulai berkeringat dingin dan lemas tak memiliki daya bahkan disaat Red meraih tangannya Jimmy sudah tak bisa. 


 Dia menangis didepan Red tanpa suara ia katakan beberapa kata kepada Red.

__ADS_1


"Jangan pergi. Aku mohon bertahanlah" kata Red.


 Dia menangis disana tak ada yang melihat ini pertempuran di antara Orang itu dan anak buah Presdir Ma masih berlangsung sengit diatas bangunan ini di langit dengan suara senjata senjata mereka terdengar dari kedua remaja ini.


 Red terpaksa meminum semua benda yang sama seperti yang di minum oleh Sima yang seharusnya tidak diminum oleh Red tapi ia terpaksa untuk meminumnya.


 Kekuatan kenangan Red dan Jimmy seakan terulang kembali kemudian dengan cepat hilang begitu saja terserap oleh benda yang berisi obat tadi dengan sangat cepat dalam beberapa detik botol itu terisi penuh.


 Lalu dengan sisa waktu lima detik kenangan yang tersisa gadis ini memberikan obat itu kepada Jimmy yang sedang sekarat.


 Waktu yang Red miliki akhirnya telah habis.


  Dia disana ditemani oleh Sew yang sedang menjaganya.


 Dia belum sadarkan diri di rumah sakit selama seminggu.


 Sedangkan untuk Jimmy ada didepan ruang rawat Red yang masih dalam koma bersama dengan Ran.


"Kau jangan pernah datang lagi" kata Ran.


"Kau punya hak untuk mengatur ku" kata Jimmy.


"Kau membuat nyawa seseorang hampir melayang hanya untukmu" kata Ran.


"Iya benar. Itu semua salahku" kata Jimmy.


"Jika kau sadar mulai sekarang tinggalkan dia" kata Ran.


 Karena Red tidak terkena racun dari "Orang itu" lalu meminum obat penawar racun itu dengan dosis yang sangat tinggi itu membuat nyawanya terancam menghilang.


 Jimmy dan Ran masuk kedalam ruang rawat Red.


"Kau bisa selamat namun setengah kekuatan mu telah menghilang dan kau harus terbiasa dengan itu" kata Sew.


 Mulai hari itu Jimmy meminta orangtuanya untuk menyewa seorang bodyguard.


"Kau harus memilih bodyguard dari anak buah Presdir Ma demi keselamatan kami semua" kata Sew.


 Semua bodyguard Jimmy sebelumnya juga sesuai dengan rekomendasi pilihan Sew dan Jimmy tidak bisa menolak.


 Untuk Red jelas dia takkan mengingat bahwa Jimmy adalah sahabatnya yang sangat dekat dengan Red.


 Meski ia ingat itu hanya sepintas sebagai teman masa kecil yang tidak begitu dekat.


"Red. Kau sudah bangun" kata Sew.


"Aku sudah disini" kata Red.


"Ya. Kamu ada di rumah sakit" kata Jimmy.


"Kak Sew. Dia siapa?" tanya Red.


 Red melihat ke arah Jimmy.


 Kak Sew tidak menjawab pertanyaan dari gadis yang baru bangun dari koma itu.


"Ran. Apa aku mengenal orang ini?" tanya Red lagi.


"Dia teman sekolah dasar kita. Jimmy" kata Ran.


"Benarkah. Sorry, mungkin kita sudah lama tak bertemu" kata Red.


 


 Tidak bisa tinggal diam.


 Itulah yang dilakukan oleh Jun mengenai hal semacam ini. Dia mengikuti kemana Jimmy pergi dan apa yang baru saja di lihat olehnya tentu ini membuatnya langsung mengejar kemana Red pergi.


 Jun mengaktifkan mata batinnya untuk melihat kemana Red pergi sekarang.


 Dia melihat seseorang yang berhenti di depan salah satu kamar rumah sakit. Dia terdiam disana tanpa bicara ataupun menangis.


 Jun berjalan pelan menghampiri gadis itu.


"Dia melihat ke arah ku tanpa sebuah emosi" kata Jun.


"Dia adalah Bay yang ku kenal" kata Jun.


"Dia juga Red yang ku kenal" kata Jun.


"Mereka tak menangis tapi tidak dengan hatinya" kata Jun.


 Jun sampai didepan kamar itu.


 Melihat ke dalam ruangan bercat putih melihat seseorang sudah tertutup dengan kain putih menutup seluruh tubuhnya.


 Red mendatangi orang yang sudah berbaring disana. Membuka penutup kain putih dengan tangan kanannya. 


 Dia melihat seseorang yang ia kenal telah pergi.


 Tak berapa lama Radan datang bersama dengan Jimmy.


"Tidak. Kenapa kakak pergi meninggalkan ku" kata Jimmy.


 Semua anak buah Presdir Ma tahu bahwa dialah orang yang sudah menganggap Red dan Jimmy seperti adik mereka sendiri.


 Tak ada yang datang selain mereka dan anak buah Presdir Ma.


 Pihak rumah sakit segera akan memandikan jenazah Sew.


 


 Langsung malam itu juga setelah selesai di mandikan dan setelah siap untuk dimakamkan tindakan itu akan dilakukan malam itu juga.


 Dia adalah seorang yatim piatu yang tinggal sendiri di rumahnya.


 Hatinya masih tidak percaya bahwa orang yang tadi berbicara dengannya di telepon akan pergi meninggalkannya tanpa pamit.


"Apa benar aku akan tinggal sendiri lagi?" tanya Red.


"Mengapa ini sangat tidak adil bagiku?" tanya Red.


 Red berjalan keluar dari bangsal ruangan yang di pakai oleh Sew sebelumnya.


 Dia diikuti oleh Radan dan Jun serta Jimmy.


 Di ruang pertama rumah sakit mereka duduk disana di kursi masing masing. Red bersandar di belakang kursi yang juga terdapat dinding dibelakangnya persis dia bersandar menatap arah keluar rumah sakit. Dia melihat langit yang semakin malam.


 Didalam hatinya berbicara.


"Semua yang ku sayangi kenapa pergi dari hidupku" kata Red.


 Seperti biasa Bee datang dirumah sakit untuk menjenguk neneknya yang masih di rawat disana dan kali ini bersama Good.


 Mereka berdua masuk kedalam ruangan rumah sakit melewati pintu depan masuk rumah sakit.


"Berhenti sebentar" kata Bee.


"Ada apa?" tanya Good.


 Bee menggandeng lengan kiri Good lalu gerak reflek tak bisa terhindarkan oleh Bee dan Good ketika melihat teman teman mereka sedang duduk di ruang tunggu lantai pertama rumah sakit.

__ADS_1


 Semua melihat keduanya datang masuk kedalam rumah sakit.


"Tak perlu malu. Kita semua sudah tahu" kata Jun.


"Oh" kata Bee.


 Good menarik tangan Bee supaya cepat menuju ruang rawat neneknya.


 Mereka menaiki lift rumah sakit berdua.


"Kenapa kau menarik ku?" tanya Bee.


"Kau tidak lihat. Mereka semua sedang memasang wajah sedingin itu" kata Good.


 Bee mulai tenang.


"Aku tidak tahu. Jimmy akrab dengan mereka" kata Bee.


"Berhenti membahas anak itu" kata Good.


"Iya. Aku tahu kamu takut kehilangan ku kan" kata Bee.


 Good cuma bisa memasang wajah diam tak mau membahas Jimmy.


 Rombongan keluarga datang dengan mobil keluar dari mobil berwarna merah dan hitam terlihat dari depan rumah sakit.


 Red melihat beberapa orang itu keluar dari sana.


 Dia menghilang dari sana tidak menggunakan teleportasi melainkan kabur berlari dari tempat duduknya.


"Apa dia sedang bermain petak umpet?" tanya Radan.


 Orang orang itu datang memasuki pintu utama rumah sakit dan Red masih bersembunyi ditempat persembunyian teraman. Dia ada dibalik balkon tangga menuju ruang VVIP rumah sakit.


"Disini ku rasa aman" kata Red.


 Mereka melewati Red dengan menggunakan lift menuju ruangan yang mereka tuju.


"Dia seperti menyembunyikan sesuatu dengan kita" kata Jun.


"Kau tidak tahu siapa Red sebenarnya" kata Jimmy.


"Apakah berteman dengan seseorang harus melihat strata sosial mereka?" tanya Jun.


"Dunia berkata demikian" kata Radan.


"Aku tidak ingin berteman dengan Jimmy" kata Jun.


"Siapa yang berniat berteman denganmu" kata Jimmy.


"Berhenti kalian seperti anak kecil saja" kata Radan.


 Mereka semua telah pergi dengan lift dan Red keluar dari tempat persembunyian.


 Dia akan pergi ke tempat lain yang menurutnya lebih aman.


 Ada Wayne datang menyusul.


"Hey. Mau kemana?" tanya Wayne.


"Bukan urusan mu" kata Red.


"Kau mau cari uang lagi?" tanya Wayne.


"Bukan urusan mu" kata Red.


 Wayne datang melewati pintu masuk rumah sakit dan melihat para pemuda pemuda sedang duduk diruang tunggu depan rumah sakit.


"Tadi kalian bersama Red?" tanya Wayne.


"Tidak. Kami baru datang" kata Jun.


"Kau juga bersama dengan Jimmy. Sejak kapan kalian berteman?" tanya Wayne.


"Bisa diam tidak!" kata Jimmy.


"Ok. Aku pergi" kata Wayne.


 Wayne kabur dari sana.


"Jangan bahas Red lagi. Itu bukan urusan kita" kata Dan.


 Dan pergi untuk mengejar Red yang ia pikir gadis itu tidak akan pergi jauh dari rumah sakit.


 Radan melihat gadis itu sedang ada di kantin rumah sakit.


"Makan adalah hal yang menyenangkan" kata Red.


 Radan tersenyum melihat kearah Red. Dia juga mengusap rambut kepalanya.


"Dasar anak rajin" kata Dan.


"Sebentar lagi aku lulus. Kau bisa menjadi pilihanku" kata Red.


"Aku. Bagaimana dengan Ran?" tanya Dan.


"Dia. Dia pasti punya pacar sebelum aku lulus" kata Red.


"Kita akan membuatnya menangis" kata Dan.


"Itu karena Kakak selalu baik padaku" kata Red.


"Ok. Ok" kata Dan.


 Dan sudah tahu di saat gadis di depannya sekarang sedang sedih. Dia pasti memesan makanan dengan porsi banyak dan memakannya di depan banyak orang tidak peduli itu yang namanya diet atau apapun itu.


"Kau juga harus makan. Ayo makan bersamaku" kata Red.


"Gadis kecilku makan yang banyak" kata Dan.


"Aku gadis kecil. Sekarang, aku sudah dewasa" kata Red.


 Dan memesan satu gelas kopi dan menemani Red yang sedang makan disana.


"Kau akan tinggal sendirian di rumah Sew?" tanya Dan.


"Iya. Ku rasa seperti itu" kata Red.


"Kau tidak takut?" tanya Dan.


"Tidak" kata Red.


"Kau bisa tinggal di asrama sekolah" kata Dan.


"Apakah masih ada kamar kosong?" tanya Red.


"Aku bisa mengurusnya sekarang juga" kata Dan.


"Aku lupa siapa kakak sebenarnya" kata Red.


"Jangan terlalu memuji" kata Dan.

__ADS_1


"Kalau begitu makan Ayam goreng ini?" tanya Red.


 Dan menerima makanan dari gadis di depannya.


__ADS_2