Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 130: Sebuah harapan baru.


__ADS_3

Chapter 130: Sebuah harapan baru.


 Apakah ada sesuatu yang luput atau lupa dalam sebuah pandangan. Ya, kali ini perasaan ragu datang diantara berbagai perasaan yang datang bercampur berputar di seluruh isi otak dan hati. Sulit untuk dicerna  di dalam kondisi membutuhkan banyak pilihan.


 Seseorang masih sedang berusaha memecahkan dinding kaca yang mengurung kedua remaja di dalam sana. 


 Marid mengambil alat musik flute putih yang ada didalam tas. 


 Ruang kaca yang semakin menyempit dia harus segera memecah kaca yang mengurung dia dan temannya yang juga terkurung di dalam ruangan itu.


"Dug dug dug dug!"


 Kaca itu ada disebelah kanan Marid dipukul dari dalam oleh Marid.


 Merayap datang muncul dari sudut kaca hitam bergerak lambat mengejar sesuatu ada didalam ruangan itu.


 Marid memperhatikan lebih seksama.


"Bukan cacing. Itu terlihat seperti benang wol bernyawa" kata Marid.


 Mendekat terus mendekat.


"Reggg!"


 Benang benang menjerat semua bagian raga Marid kuat menarik satu sama lain membakar dengan rasa panas menyayat tiap gesekan tarikan asap terbakar keluar dari kulit Marid. Darah mengalir dari benang benang itu mengambil darah Marid dengan brutal. Luka luka itu sudah pasti muncul sungguh menyiksa memaksa menjadi sekarat bahkan lenyap saat itu juga.


 Marid mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. 


 Api biru muncul dari pemantik bergaya antik berwarna silver.


 Semua benar terbakar oleh api yang membakar semua mengikat Marid. Kemudian, seketika itu pula benang benang itu menghilang tanpa jejak sisa benang terbakar.


 Darah berjatuhan kebawah aspal bahkan mengalir jelas dari atas kepala sampai ke kaki jatuh jatuh tersungkur di bawah tangan kanan mencoba ia ulurkan ke arah depan tempat dimana ia mulai membuat retak kaca tebal di depannya saat ini. 


 Dia merangkak dengan berlumuran darah di semua bagian tubuh terluka dia sedang meraih ke  arah seseorang.


 Flute miliknya ia ambil lagi dengan tangan berlumuran darah.


 Dia pukul pukul lagi sekuat tenaga yang tersisa.


 Dia kehilangan banyak darah.


 Orang yang tadi memukul mukul kaca yang mengurung Marid dan Ran berhenti bertindak dan hanya melihat.


  Melihat pandangan dengan datar.


 Nampak puas dan tertawa dalam wajah pucat pembuluh darah menjalar makin menjalar dari leher sudah terlihat menguasai perlahan wajah gadis itu. Marid melihatnya sendiri raga Red sudah menjadi seperti itu.


 Darah mengalir disetiap Marid melihat dia melangkah ke arah remaja ini dengan darah mengucur deras kedua mata Marid tak henti berkaca kaca tetap menganggap bahwa ini tetap halusinasinya saja dan sebuah mimpi buruk.


 Kaca yang ia anggap sulit untuk ia pecahkan ternyata tidak untuk gadis yang sudah menembus ruang sempit itu.


 Menembus sangat mudah ia masuk kedalam dengan setengah wajah tersenyum bibir kiri yang mengucur darah dari sudut bibirnya kepada Marid mengangkat tangan kirinya dengan belati biru menyala kilatan cahaya petir jelas siap melukai siapapun.


 Semua yang ia lihat menjadi sebuah ruang kaca yang penuh kembang api yang menyala kesana kemari semua ruang gelap penuh cahaya kembang api dia ada disana tidak lagi terkejut. 


 Dia membalas senyum Red.


"Kau melampiaskan segalanya padaku?" tanya Marid.


 Red belum berhenti berhenti menatap wajah Marid.


 Terlihat agak bingung dengan apa yang sedang ia lakukan saat ini mata birunya sesekali menyala dan berubah warna menyala hitam.


 


"Arggghhhhhhh!" 


 Belati itu menusuk telapak tangan kiri Marid menusuk seperti tanpa ada rasa bersalah atau takut sama sekali.


"Hahahahah"


 Tertawa dengan rasa sakit yang ia terima.


 Marid tertawa keras di depan Red sedang jongkok di sebelah remaja laki laki ini bermain darah yang ada di telapak tangan Marid dengan tangan kanan Red yang masih terbakar dan bercampur energi penyembuh milik Ran.


 Tidak puas dengan itu. Red mulai mengambil langkah menggores kulit Marid dengan belati beracun itu ke pergelangan tangan Marid. Darah keluar dari ujung belati yang sudah melewati pergelangan tangan keatas dan mudah sekali merobek lengan baju remaja ini lalu berhenti. Dia menatap wajah Marid yang juga bersimbah darah.


 Dengan sedang sulit bernafas menatap wajah Red memberikan senyum sapa kepada gadis yang dengan tatapan kebingungan bercampur  rasa penasaran.


"Dug!"


 Darah keluar mengejutkan Marid mengenai pipi kanannya.


 Ujung belati menancap bahu atas Marid.


 Belati ditarik keluar dari bahu Marid.


 Marid menahan rasa sakit lagi dalam tatapan ini keduanya saling menatap satu sama lain. 


 Red tidak melihat siapa yang ada di depannya dan dia benar benar tidak mengingat hal ini bisa ia lakukan.


 Ujung belati yang juga terdapat bekas darah Marid kini ada di atas bibir Marid darah menetes di bibir Marid menunggu apa yang harus di tunggu kali ini Marid sudah menyerahkan bahwa hidupnya akan berakhir dalam detik waktu yang membuatnya pergi kapan saja dia sudah pasrah.


 Marid tersenyum kepada Red.


"Kenapa kau tak melakukannya?" tanya Marid.


 Red terdiam dalam kebingungan.


 Tangan Marid menyentuh pergelangan tangan Red yang juga membuat kedua telapak tangannya melepuh akibat menggenggam tangan gadis ini.


 Darah keluar dari telapak tangan Marid.


"Lakukan!" kata Marid.


 Matanya masih dalam kebingungan terbaca oleh Marid 


 Red masih menahan tangannya dengan belati itu lalu matanya tidak mengeluarkan cahaya lagi kembali normal seperti selayaknya mata manusia normal biasa.


 Dia mundur ke belakang setelah sadar.


 

__ADS_1


 Terkejut.


 Belati di tangan kanan kirinya menguap menghilang kembali di dalam raganya. 


"Sorry" kata Red.


"Kau sudah sadar?" tanya Marid.


"Apa yang sudah ku lakukan?" tanya Red.


 Marid masih dengan kondisi untuk dirinya untuk berbicara banyak.


 Red segera memeriksa keadaan Ran yang sedari tadi telah terkena mantra olehnya.


 Kaca ruang yang menyiksa mereka runtuh menjadi abu pergi dari sisi mereka.


 Red menggenggam kedua tangan Ran yang makin membiru dingin sangat dingin berlumuran darah dari pori pori kulit yang belum berhenti.


"Jangan pergi!" kata Red.


 Marid melihat gadis ini sangat sedih takut jika hal buruk itu bisa terjadi pada remaja yang ada di sisi kirinya ini.


 Red membagi energi penyembuh miliknya kepada Ran.


"Aku juga sedang sakit" kata Marid.


 Red lupa bahwa ada orang lain juga yang membutuhkan pertolongan darinya. Gadis ini meraih tangan kiri Marid dengan tangan kiri Red sedangkan tangan kanannya mengalirkan energi penyembuh untuk Ran.


 Energi penyembuh menutup menyembuhkan luka luka yang mereka dapat menghilangkan rasa sakit yang mereka dapat membuat raga Ran yang sudah membiru kembali memiliki harapan untuknya bisa bertahan dalam ruang dimensi ini.


"Kau sudah kembali?" tanya Ran.


"Sorry" kata Red.


 Senyum hangat Ran ia tunjukkan kepada Red.


"Kenapa kau harus meminta maaf?" kata Ran.


 Ran langsung terbangun padahal ia belum sepenuhnya disembuhkan oleh Red.


"Aku sudah kembali pulih. Kau bisa sembuhkan Marid, dia jauh lebih membutuhkannya" kata Ran.


 Ran melepas genggaman tangan dari Red disaat itu juga gadis ini menghilang lagi.


 Marid berkedip lagi.


 Red kembali.


"Biarkan aku saja yang mengobatinya" kata Ran.


 Menarik tangan Red dari atas tangan kiri Marid. 


 Tangan Ran ada di atas tangan Marid dengan energi hijau penyembuh yang ia berikan.


 Energi penyembuh milik Ran diaktifkan lagi menyembuhkan luka Marid.


 Wajah Red yang sudah dengan pembuluh darah yang makin menyeluruh mengisi bagian wajah bahkan lengan kanannya telah membuatnya merasa bahwa dia telah berubah menjadi monster.


 Dia memperhatikan Ran yang sedang mengobati Marid kemudian melihat ke dirinya sendiri.


"Ada orang disini" kata Marid.


"Sudah. Energi ini akan bekerja sendiri menyembuhkan lukamu" kata Ran.


"Kau pasti belum makan kan. Ini untuk mu" kata Ran.


 Dia memberikan cokelat yang diberikan dari Jun tadi sebelum semuanya terpisah.


 Red menerima coklat dari Ran.


 Ran memperhatikan bahwa dia sulit untuk memakannya karena kedua tangan penuh luka yang masih dalam proses penyembuhan.


 Ran mengambil coklat itu dari tangan gadis itu


"Buka mulutmu" kata Ran.


 Marid melihat ini berada dalam situasi canggung.


"Ayo kau harus makan" kata Ran dengan potongan coklat di tangan kanan.


 Red akan menerima coklat dari tangan Ran memakan dengan ekspresi agak malu mungkin karena sudah lama tidak bertemu jadi bisa saja itu menjadi alasannya.


 Satu belati datang menerobos coklat itu jatuh ke arah lain.


 


 Red dan Marid didorong oleh  Makhluk misterius di depan mereka.


Red dan  Marid akan menabrak tebing, Jimmy segera menahan mereka dengan energi pelindung.


 Belati biru itu kembali datang kepada pemiliknya.


 Jimmy menggenggam jemari tangan kanannya dan mengikat monster yang sedang menyerupai rupa raga Ran.


 Dia kembali menjadi asap tebal dan kini sudah muncul dengan wujud seperti wujud manusia  dalam bentuk kabut tanpa wajah.


 Makhluk misterius itu langsung meledakkan dirinya sendiri lalu berlari mengejar Jimmy.


"Bugggggghh!"


 Satu pukulan melayang ke wajah Jimmy.


 Jimmy tersungkur ke aspal yang ikut terbawa oleh Jimmy terkelupas.


 Darah keluar dari punggungnya segera dia menyembuhkan diri menutup luka robek yang terlihat dari luar parah.


 Jimmy mengusap darah yang keluar dari mulut di ujung bibirnya  di sebelah kiri.


 Makhluk misterius itu datang lagi menghajar Jimmy di bagian dada perut berulang kali.


 Jimmy langsung bangkit dan menghajar balik 


makhluk misterius itu.

__ADS_1


"Buggghhhh!"


"Buggghhhh!"


"Buggghhhh!"


 Wajah dan dadanya serta perut makhluk misterius itu kemudian ditendang oleh Jimmy.


"Boommmmm!"


 Dia dihancurkan dengan pukulan energi biru miliknya.


 Hancur dan sehancur hancurnya di udara.


"Fuhhhhhhhhhhhhh!"


 Wujudnya utuh lagi seperti semula.


 Marid dan Red mendekat satu sama lain lebih menjauh lagi dari perkelahian ini.


 Energi penyembuh Jimmy terus bekerja menyembuhkan lukanya. 


"Bugggggggggghhhh!"


 Satu pukulan lagi didapat oleh Jimmy tersungkur di atas aspal.


 Dia terlentang diatas aspal yang telah rusak karena benturan kekuatan Jimmy dan makhluk misterius ini.


 Tinju dari makhluk itu memukul remaja ini bertubi tubi Jimmy darah keluar dari mulut dan hidung sangat banyak begitu juga bagian tubuh perutnya yang di tinju.


 Jimmy mengambil nafas dalam situasi aksi ini.


 Satu tendangan kuat terkena dada makhluk misterius ini dan di melesat terbang ke langit.


 Makhluk itu datang lagi dengan cepat akan melayangkan tinju kepada Jimmy.


"Rtrtrtrtrtrt!"


 Jimmy bangun dan segera akan meninju makhluk ini.


 Kedua energi mereka berlawanan saling menyerang.


 Mereka berdua terpental. 


 Terjatuh di tempat yang berbeda.


 Makhluk misterius itu memandang Jimmy mengambil beberapa langkah awal lagi setelah terjatuh.


 Jimmy dengan luka berdarah darah matanya lebam sebelah kanan mengeluarkan darah dan wajahnya yang terluka beberapa bagian robek di bagian pelipis. 


 Dia. Makhluk misterius itu dalam diam memperhatikan Jimmy tanpa suara benar tanpa suara.


 Jimmy belum ingin menyerah dengan perkelahian ini dia terbangun dengan apa yang ia dapati terasa biasa pernah ia alami.


 Mengepalkan tangan kanannya dia mengikat lagi monster itu lagi monster yang berjarak dua puluh lima meter darinya.


 Membekukan kabut itu menjadi makhluk padat bukan saat seperti asap tebal dan dia berhasil dengan hal ini.


 Dia terlihat kesakitan melawan tindakan yang dilakukan oleh Jimmy. Dia mengangkat tangannya mengarah ke arah Jimmy menariknya mendekat ke arah dirinya.


 Jimmy sedikit demi sedikit jarak mereka makin semakin dekat bukan hanya itu tapi tindakan yang dilakukan oleh Jimmy pada makhluk misterius ini berbalik dialami oleh Jimmy mengikat kuat dan membuat bagian tubuhnya makin terluka sendiri seperti ditekan dari berbagai sisi darah keluar dari mulutnya. 


"Hahahaha!"


 


 Jimmy tertawa dengan apa yang melukai dirinya.


"Kau tidak akan menghancurkan diriku" kata Jimmy.


 Red matanya mulai kembali menyala berubah warna menjadi merah menghitam dan Marid melihat ini energi yang ia rasakan dari gadis di sebelah kirinya terlalu bahaya jika dia tetap disana. 


 Marid pergi perlahan mundur dari pertempuran yang akan segera dimulai lagi.


 Aura energi merah muncul dari raga Red datang mendekati kedua makhluk yang sedang berkelahi itu.


 Jemari tangan kanan terbakar mendekat ke arah Jimmy. Dia penuh dengan rasa kebencian yang tiba tiba saja datang mengikat segala jiwanya tak ada lagi tentang dirinya sebagai Red yang Jimmy kenal berubah benar benar berubah.


 Red mencekik Jimmy menariknya kembali melempar dia segera menjauh dari makhluk itu.


 Jimmy terlempar sejauh lima puluh meter jauhnya.


 Red datang dengan belati miliknya.


"Setiap yang ada pada dirimu adalah kebohongan" kata Red.


 Dia menggores belati di dahi lurus ke arah bawah menuju hidung darah mengalir ke mulut Jimmy. 


 


"Apa yang kulakukan?" tanya Red.


 Red bergerak menjauh dari depan Jimmy.


 Makhluk itu bergerak mendekat ke arah belakang lalu berbalik gadis ini meninju makhluk itu tersungkur dia ditekan oleh Red dengan tangan biru kilatan di dadanya di atas aspal tertahan oleh Red. 


 Dia menendang perut Red dengan sangat kuat. 


 Red mengaktifkan energi biru pelindung dan dia tidak jadi terlempar di bebatuan besar.


 Marid melihat ponselnya membuka pesan pesan yang belum dibaca dari orang tuanya.


"Kenapa dirumah saja sulit. Ibu sudah memasak banyak makanan untuk mu?" 


 


 Pesan dari Ibunya Marid.


 Marid makin terharu.


 Ia juga membaca pesan dari Ayahnya.


 Marid dari balik bebatuan besar sedang bersembunyi dari pertempuran berbahaya ini yang belum juga usai dan tidak tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya. 

__ADS_1


"Sepertinya aku tidak akan kembali ke dunia ku" kata Marid.


__ADS_2