Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 68: Dua Wajah


__ADS_3

Chapter 68: Dua Wajah.


Banyak hal yang di alami oleh Sammy. Dia bahkan harus terus kerja dan kerja tanpa henti bahkan dia sampai tidur sehari cuma dua hingga tiga jam bisa dibayangkan.


Ada banyak hal yang membuatnya selalu cemas tentang masa depan terlalu overthinking itu juga ada benarnya. Dia sedang menatap ke segala arah tapi yang ia lihat hanyalah dirinya sendiri tak ada yang lain.


"Katanya aku memenangkan sebuah kuis hari ini" kata Sammy.


"Kata siapa. Kapan aku mengikuti kuis mana mungkin seseorang dengan mudahnya memberikan banyak uang dengan cuma cuma. Mustahil" kata Sammy.


Sammy baru saja menerima sebuah pesan penipuan dari ponselnya.


"Waktu seperti ini hadir lagi di kehidupan ku" kata Sammy.


Dia ingin menangis tapi ia terlalu lelah.


Dia ingin ini itu tapi hidupnya terlalu sibuk.


Ya. Terlalu sibuk.


Jangankan untuk pergi sekedar berkumpul dengan teman untuk belajar kelompok. Dia tidak punya waktu, tekanan tekanan memaksanya terus seperti roda yang harus di kayuh oleh pemiliknya tak kenal lelah tak boleh. Jika kakinya sakit, dia harus menutup mata bahwa dia tidak merasakan apa apa sistem didalam gen ditubuhnya dipaksa dirancang dengan berbagai modifikasi mesin mesin tahan dari segala hambatan. Dia harus bisa beradaptasi, berimprovisasi dan mengatasi hambatan dan itu semua tidak semudah lisan berkata untuk sekarang dia hanya bisa diam menatap dunia ini kedua matanya menangkap kode untuk bisa menahan air mata yang akan jatuh tanpa sebuah perintah atau sebuah tombol untuk mengaktifkan mode itu semua sudah semua sudah terpasang dalam satu perangkat didalam diri Sammy.


Warna apa yang dipilih oleh Sammy itulah warna hidup pilihannya seberapa kapasitas ketersediaan memori untuk menyimpan segala tentang kesedihan dirinya hanya dirinyalah yang tahu bisa bertambah atau berkurang tergantung suasana hati pemiliknya.


Dia dengan pekerjaan yang baru saja selesai.


"Apa hari ini sibuk?" tanya Jimmy dalam pesannya.


Sammy membalas pesan dari Jimmy.


"Sibuk sekali. Jangan ganggu aku" kata Sammy.


Pukul sembilan malam ketika Jimmy ada di perpustakaan bersama Jun dan Ben serta Radan bodyguard nya.


Jimmy melihat seseorang di sebelahnya sedang berbicara dengan seseorang.


"Oh kau juga sibuk. Maaf telah mengganggu mu" kata Ben.


Ben menutup pembicaraan dengan Sammy.


Jimmy melihat di layar ponsel milik Ben bahwa dia baru saja meneleponnya dan jawaban yang sama Ben terima seperti apa yang didapat oleh Jimmy barusan.


Jun yang sedang membaca buku bahan materi untuk tugas kelompok mereka cuma bisa senyum senyum sinis mendengar pembicaraan Ben dengan Sammy.


"Paket datang" kata seorang pengantar paket makanan.


Radan melihat kearah Leo.


Leo menghampiri pengantar paket mengambil pesanannya.


Beberapa paket makanan dengan jumlah lumayan iya pesan untuk dia yang terutama juga partner kerjanya lebih dulu.


"Ya ampun. Mereka terlihat jelas sekali tidak bisa membaur" kata Leo.


"Anak kecil saja bisa langsung membaca mereka tidak akur" kata Leo.


Setelah Leo memberikan makanan kepada partner kerjanya. Dia kemudian menaruh makanan yang lumayan banyak kepada orang orang didepan mereka.


"Untuk kalian" kata Leo.


Semua orang orang disana masih berekspresi datar.


"Terimakasih Kakak. Kami akan memakannya" kata Jun.


"Jangan sungkan dan makan yang banyak" kata Leo.


Nasib makanan yang diberikan oleh Leo terselamatkan setelah satu jam kemudian mereka baru mau memakan makanan makanan itu.


Hampir jam sepuluh malam ketika semua akan menyantap makanan yang Leo berikan kepada mereka datanglah seseorang dengan box box lumayan besar. Orang ini tak asing dengan mereka yang sedang menyantap makanan.


"Keadaan apa ini?" tanya Jun.


Jun langsung membantu sahabatnya untuk membawa makanan makanan itu kedalam perpustakaan.


"Kenapa kau tak menelepon ku?" tanya Jun.


"Aku tak mau selalu merepotkan mu" kata Sammy.


Senyum manisnya terlihat lagi didepan Jun.


Jimmy melihat situasi ini dan juga Ben.


Radan sedang fokus dengan bukunya.


Partner kerja Leo kemudian datang setelah ia pergi dari kamar kecil menghampiri Sammy.


"Nona sudah datang" kata partner kerja Leo.


"Ini pesanan Kakak" kata Sammy.


"Kalau ini?" tanya Partner kerja Leo.


"Ini bonus untuk kakak" kata Sammy.


"Baik sekali. Anak anak saya sangat suka kue kue kamu. Terimakasih yah" kata partner kerja Leo.


Partner kerja Leo memberikan uang kepada Sammy sebagai uang pembayaran kue kue yang telah ia pesan.


Dia memang berencana akan segera pulang dan kebetulan sekali suaminya datang ke tempat kerjanya untuk menjemputnya pulang.


"Saya pulang dulu Leo" kata partner kerjanya.


"Hati hati menyetir mobilnya" kata Leo.


"Iya. Jangan khawatir" kata suami partner kerja Leo.


Suaminya membawa semua kue kue yang sudah ia beli dari Sammy.


"Terimakasih Kakak" kata Sammy.


"Iya. Besok, saya pasti pesan lagi" kata partner kerja Leo.


Partner kerja Leo pulang bersama suaminya.


Disana masih ada Sammy berdiri berdampingan dengan Jun.


"Hebat yah sekarang" kata Jun.

__ADS_1


"Apa ini pujian atau apa?" tanya Sammy.


"Aku mau jadi pacar kamu supaya nggak perlu kerja" kata Jun.


"Ngomong apa sih. Sudah malam aku mau langsung pulang" kata Sammy.


Sammy meninggalkan Jun keluar menuju pintu masuk dan keluar perpustakaan.


"Beneran mau pulang?" tanya Jun.


"Iya" kata Sammy.


Jun berjalan ke arah tempat duduknya semula.


"Dia benar benar pergi?" tanya Jimmy.


Ben langsung marah dengan kata kata yang Jimmy ucapkan.


"Jangan sok perhatian padahal cuma basa basi" kata Ben.


Seseorang menghela nafas mendengar hal ini, Radan.


Hera dan Doe sedang makan donat didepan mereka yang sedang makan malam.


"Pegang gengsi mu terus" kata Doe.


"Kamu bicara tentang siapa?" tanya Hera.


"Jimmy" kata Doe.


"Oh makhluk hidup itu" kata Hera.


Sore ketika pukul setengah enam lebih lima belas menit Sammy sedang ada di pusat perbelanjaan untuk membeli barang barang kebutuhan membuat kue. Dia tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal keluar dari toko perhiasan.


Sammy menunduk setelah melihat orang itu ketika dia secara sembunyi sembunyi melihat kedalam toko perhiasan itu dari luar toko. Rupanya orang yang sedang diawasi oleh Sammy tidak menyadari kehadirannya dengan penampilan rok jeans hitam mini dan blouse merah serta tas hitam kecil dan sepatu boot hitam yang ia kenakan kepalanya tertutup topi hitam dan rambut terikat ke belakang.


Sammy melihat mantan pacarnya itu baru saja membeli sebuah kalung dengan tipe rosary.


"Sudahlah. Kau memang tak pernah dihargai oleh Jimmy" kata Sammy.


Jimmy telah pergi diikuti dengan bodyguard nya itu.


Bodyguard Jimmy melihat sedikit kearah belakang dan dia tentu menyadari kehadiran gadis ini. Dia berkedip dengan lembut lalu melanjutkan pekerjaannya sebagai bodyguard Jimmy.


Sammy melanjutkan untuk pergi membeli barang barang yang ia butuhkan.


Pagi yang cerah di sekolah.


Good datang di waktu yang sama dengan Sammy datang di sekolah yang memang masih pagi.


"Hey" kata Sammy.


Sammy menyapa Good.


"Morning" kata Good.


"Morning" kata Sammy.


Mereka berdua menuju ke kelas bareng. Mereka terlihat lebih fleksibel dari sebelumnya.


"Menyenangkan melihat mereka berdua" kata Bee.


Dia sedang bersama Ben berangkat bersama dari rumah.


Ben, dia lebih sibuk bermain dengan ponselnya itu.


Bee terlihat berbeda dari biasanya.


Tanpa mereka sadari ada Marid dan Wren di belakang mereka.


"Mereka terlihat cocok sekali" kata Bee.


"Siapa?" tanya Ben.


"Good dan Sammy" kata Bee.


"Good cocok dengan siapa saja" kata Ben.


"Bagaimana kalau dengan ku?" tanya Bee.


"Kecuali kamu" kata Ben.


"Kenapa kau tak berpihak padaku?" tanya Bee.


"Aku hanya bicara jujur" kata Ben.


"Kenapa semua tak berpihak padaku?" tanya Bee.


Marid dan Wren menerobos dua benteng didepan mereka.


"Bilang saja kamu cemburu" kata Marid.


Mereka berdua pergi dari Bee dan Ben menuju ke kelas mereka.


"Aku baru sadar mereka memang temanmu" kata Bee.


"Kau bersama Wren saja. Dia lebih kalem daripada Good" kata Ben.


"Aku tak ingin mengganggu kedamaian orang lain" kata Bee.


"Baru sadar. Kamu santai saja. Good tetap suka kamu" kata Ben.


Masih dirumah Sima dan Jimmy sedang video call bersama sebelum berangkat sekolah.


"Bagaimana penampilan ku?" tanya Sima.


"Selalu cantik" kata Jimmy.


"Ok. Aku berangkat sekolah dulu, bye" kata Sima.


Dia langsung mengakhiri obrolan mereka secara sepihak.


"Padahal aku belum selesai bicara" kata Jimmy.


Jimmy sudah di dalam mobil di kursi belakang dan ada Bodyguard nya yang setia selalu menjaganya.


"Kita berangkat" kata Jimmy.

__ADS_1


Dia berangkat sekolah diantar oleh Radan.


"Oh ya. Kakak setelah ini bisa pergi ke kampus dan jika pulang terlambat. Aku bisa naik taksi untuk pulang" kata Jimmy.


"Ok" kata Radan.


Radan mengemudikan mobil menuju sekolah mengantar Jimmy.


"Ada apa dengan anak ini. Tiba tiba saja lebih lembut" kata Radan.


Jimmy sedang melamun.


Sebentar kemudian menutup mata lalu membuka mata melihat ke arah sisi kanan luar jendela mobil.


"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Radan.


"Tidak" kata Jimmy.


Perjalanan menuju sekolah tinggal lima menit lagi dengan perjalanan yang lancar tanpa hambatan.


"Sayang. Kamu sudah makan?" tanya Sammy.


Jimmy mendengar gadis itu sedang berbicara padanya dan setelah ia membuka mata dan sadar bahwa tak ada siapapun di sebelahnya saat ini.


"Kenapa harus Sammy dari sekian banyak mantan ku?" tanya Jimmy pada diri sendiri.


Pagi ini memang sangat cerah sungguh cerah apalagi jika datang seorang gadis seperti Sima yang memang terkenal paling cantik di sekolah. Dia dengan daya tariknya semua pasti kagum dengan paras yang ia miliki.


Idola sekolah turun dari mobil pribadinya dan mulai berjalan masuk melewati gerbang sekolah.


Hal yang mencolok terjadi di hari yang sangat cerah ini. Jimmy datang berbarengan di waktu yang sama dengan kehadiran sang idola sekolah.


Berjalan bergandengan tangan kini tanpa sembunyi sembunyi lagi terang terangan menunjukkan bahwa mereka sudah jadian.


"Mereka tidak lihat. Ini masih sangat pagi" kata Jun.


Jun melihat ini.


Dia ada dibelakang kedua pasangan baru ini.


Di mana teman yang terpilih dimana belahan dunia yang terpilih menjadi tempat tinggal untuk melanjutkan hidup siapa yang bisa menebak tentang masa depan tak ada siapapun tak akan bisa.


Dunia ini dengan segala gemerlap surgawi menghibur setiap manusia dengan cara mereka sendiri.


Apa yang harus di gambarkan dengan apa yang sedang ia lihat.


Hatinya berkata dengan sedikit luka tercipta.


"Dia dengan kekasih barunya" kata Sammy.


Good ada disebelah kanan Sammy sedang membantu Sammy mencari kue kue baru untuk tambahan menu usaha mereka melalui internet.


"Kenapa aku selalu ada di posisi ini?" tanya Good.


Sammy melihat kedua tangan mereka yang bergandengan saat masuk kedalam kelas sampai di depan kelas mereka belum berhenti bergandengan hingga mereka sadar ada Sammy disana datang lebih awal ke kelas barulah mereka bersikap lebih normal.


Jun datang masuk ke kelas.


"Sudah ku duga ini akan terjadi" kata Jun.


Jun dengan tanpa berpikir siapa yang ada di depannya menerobos melewati kedua pasangan kekasih baru itu.


Jun duduk dengan cepat di tempat duduknya.


Melihat Sima dan Jimmy belum selesai beberapa detik dengan urusan mereka.


"Kalian menghalangi jalan" kata Red.


Dia datang.


Semua yang melihat ini tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Red.


Mereka berdua akhirnya duduk di kursi mereka masing masing.


Bee memanggil Good untuk pergi ke ruang guru bersama dengannya.


"Pak Gerry memanggil kita berdua" kata Bee.


"Ayo kita pergi" kata Good.


Bee dan Good pergi ke ruang guru.


Siswa siswi lain terus berdatangan ke kelas detik bertambah lagi bertambah lagi awan awan hitam menyelimuti langit yang baru saja cerah kemudian sangat mendung.


"Aku melihat kalung itu. Kalung yang di pakai oleh Sima" kata Sammy.


Kalung yang ia maksud adalah kalung tipe rosary yang ia lihat sore itu. Kalung yang Jimmy beli di salah satu toko perhiasan di salah satu dipusat perbelanjaan.


Cuaca pagi hari ini sangat mendukung suasana di kelas.


Jun melihat sesuatu terjadi lagi kepada gadis yang ia sukai. Dia melihat cahaya terang di punggung Red lagi.


"Terjadi lagi" kata Jun.


Dia juga melihat lagi kearah Sima yang mengeluarkan aura itu. Asap kemerahan muncul kembali berubah menjadi hitam.


Dia berkedip agak sedikit gemetar.


"Biasakanlah ini hanya imajinasi ku saja" kata Jun.


Red tentu merasakan sesuatu hal aneh yang bisa ia rasakan. Rasa sakit yang ia rasakan melebihi sebelumnya ia rasakan.


Dia sudah memperhatikan Sima sejak ia masih didepan kelas sebelum mereka berdua duduk di kursi kelas mereka masing masing.


"Kau terlihat tidak baik baik saja" kata Bling.


"Apa dia baru saja menyakiti hati orang lain?" tanya Red.


"Sima maksud mu?" tanya Bling.


"Apa aku hanya berpikir negatif tentang gadis itu?" tanya Red.


Red melihat ke layar ponsel tentang bagaimana keadaannya sekarang.


Dia segera mengambil tas miliknya lalu pergi meninggalkan kelas dengan berlari.


Red memakai masker biru yang ia ambil dari dalam tas sekolah.

__ADS_1


Karena Jun khawatir sekaligus ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Red, dia mengejar gadis itu keluar dari kelas.


Jun pergi dari kelas tanpa membawa tas hitam ranselnya. Dia pergi dengan ponsel yang ia bawa dan kemudian ia masukkan kedalam saku celana sebelah kanan.


__ADS_2