Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 40: Menjadi Malaikat, Aku Curiga.


__ADS_3

Chapter 40: Menjadi Malaikat, Aku Curiga.


"Kita pulang?" tanya Ran merengek.


"Kau sudah dewasa" kata Red.


Good dan Ben bersikap dipaksa datar.


"Hayo. Kalian bicara apa, cepat sudah mulai gelap" kata Jun.


Perjalanan pulang ke rumah.


Red meminjam buku catatan milik Ran didalam bus bersebelahan duduk bersama.


"Ini juga?" tanya Ran menawarkan sebuah snack manis rasa blueberry.


"Oh" kata Red menerima snack dari Ran.


"Tunggu. Ada sesuatu dibawah dagu mu" kata Ran mengusap sesuatu dibawah dagu Red.


"Sudah?" tanya Red.


"Ya" kata Ran.


Jun dan Good ada disisi kiri Dan duduk bersebelahan dengan Red.


"Apa ada yang aneh?" tanya Ran.


"Seharusnya kita tak satu bus dengan kalian" kata Jun.


"Dasar tukang cemburu" kata Ran.


"Kalian mulai lagi. Berhentilah, kita baru selesai bekerja" kata Good.


"Aku baru tahu punya teman seperti Good" kata Jun.


"Terserah kau saja. Aku hanya ingin cepat pulang" kata Good.


"Kau duduk disini" kata Ran.


"Sudahlah aku berdiri disini saja" kata Good.


"Good kau kenapa, kau terlihat pucat" kata Red.


"Aku hanya perlu istirahat" kata Good.


Good memang benar benar terlihat pucat.


Siapa pagi ini tak masuk sekolah tentu Good tak masuk sekolah. Bangkunya kosong, bangku itu ada di meja baris pertama kelas.


Istirahat pertama di sekolah.


"Ketua kelas kita tak masuk hari ini?" tanya Jun datang.


Masuk kedalam kelas Neo.


Semua terdiam saat Jun masuk kedalam kelas.


"Dia benar benar sakit" kata Jun.


"Pergilah. Jangan dekat dekat dengan Red" kata Neo pada Jun.


Kursi tempat duduk Neo ada di sebelah kanan persis Red.


Red sedang tidur didalam kelas, Jun tak menemukan Ben.


Jun duduk di Kursi didepan meja Neo.


"Dia sedang tidur" kata Neo.


"Ok. Aku akan pergi" kata Jun pergi dari kelas Neo.


Jun pergi dan Red terbangun, dia tidak tidur.


Ia beranjak pergi ke jendela kelas membuka jendela mempersilahkan angin datang kedalam kelas.


Sedikit silau namun hangat cahaya matahari masuk kedalam kelas.


"Kau suka disini?" tanya Neo.


"Aku sedang berfotosintesis" kata Red.


"Bicaramu terdengar lucu" kata Neo.


"Lucu?" tanya Red.


Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sepuluh sebelas Red menghitung dari dalam pikiran.


"Aku ingin pergi keluar kelas" kata Red.


"Dia terus menghindar dari ku" kata Neo.


Red mendapatkan pesan dari Ran.


"Kau harus tetap awasi Jun" kata Ran.


"Why?" tanya Red.


Ran belum membahas pesan dari Red.


Red sedang mengingat seseorang yang ada di Ponsel Jun. Sepertinya dia memang pernah bertemu dengan gadis itu.


Jun sedang berbaring diantara anak tangga menuju lapangan basket. Foto itu bahkan bisa dilihat dari belakang Jun saat ini yang ia anggap tak ada yang melihatnya.


Red memandang foto itu dan mencari informasi dimana ia pernah melihatnya pertama kali.


Awan hitam datang bergerombol menutup langit cerah di sekolah gerimis dan gerimis lalu hujan datang ada Jun disebelah Red disana didepan kelas mereka di lantai pertama.


Siraman air hujan jatuh dari bawah dedaunan berbunga wangi dan indah.


Red menatap Wajah Jun dari arah samping kiri si remaja laki laki ini.


Rasa kantuk masih tersisa.


"Aku yakin ini bukan diriku" kata Red dalam hati.


Jun memberikan senyum sapa pada Red.


Red tetap tak berkutik diam disana saat Jun membagikan senyum pesonanya yang ia miliki.


"Sadarlah!" kata Red.


Jun menjawab perkataan dari Red.


"Kau tidak apa diluar sini sangat dingin?" tanya Jun.


"Ini hanya hujan. Aku suka hujan petir" kata Red.


Hujan petir seketika datang dan langit diatas mereka lebih gelap dari sebelumnya.


"Aku bisa berubah jahat cepat masuk kedalam kelas" kata Jun mendorong Red masuk kedalam kelas.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Red.


Jun mendorong jauh Red dari di sisinya.


Jun melambaikan tangan kanannya dan pergi dari depan kelas Red.

__ADS_1


"Dia bukan Bay. Dia berbeda darinya" kata Jun.


Jun berhenti dan berbalik lagi menatap Red.


Senyum keduanya tiba tiba hadir tanpa mereka sadari dan Jun kembali kedalam kelasnya.


Dia belum bisa mengartikan perasaan yang ia rasakan saat ini terhadap Red. Dia masih teringat tentang Bay dan malam kejadian yang merenggut nyawa kekasihnya itu.


"Aku hanya memiliki sisa harapan ini" kata Jun.


"Aku takut jika aku terlalu dekat dengannya. Dia juga akan pergi seperti Bay" kata Jun.


"Dan aku tak mau. Ini terlalu dini, untuk menjadi kita" kata Jun.


Jun mengumpulkan angka angka keberanian yang harus ia miliki untuk menghadapi sesuatu yang ia takutkan itu.


"Jika hal itu juga terjadi kepada Red, aku harus bagaimana?" tanya Jun pada diri sendiri.


Hujan terjadi selama lima belas menit dan akhirnya berhenti.


Keesokan harinya di jam istirahat pertama sekolah.


Jun pergi dari kelas membawa tas selempang hitamnya pergi menuju kelas Red.


"Kau mau apa?" tanya Red.


"Ikut denganku!" kata Jun memerintah Red.


Tas ransel Red dibawa paksa oleh Jun juga bersama pemiliknya yang mengikuti kemana ia pergi sekarang.


"Kembalikan tasku!" kata Red.


Jun tak mau berhenti ketika Red memanggilnya.


Mencoba mengambil kembali dan apa yang ia lihat saat ia ada dibelakang sekolah.


Tasnya dilempar di luar sekolah dari balik dinding pembatas didepan Red.


"Ya Tuhan!" kata Red.


"Kau ikut aku atau tidak?" tanya Jun.


Tanpa ada pilihan Jun memaksa Red untuk ikut dengannya pergi ke suatu tempat.


"Buang saja tas ku" kata Red.


Dia tak peduli jika tas dan seluruh isinya dibuang oleh Jun. Dia memilih untuk masuk ke kelas lagi.


Meninggalkan Jun yang akan membolos disana sendirian.


Perjalanan menuju kelas.


"Kau lihat Jun?" tanya Ben.


"Tidak" jawab Red.


"Tadi dia bersama denganmu kan?" tanya Good.


"Minggir. Aku mau ke kelas!" kata Red.


Red pergi meninggalkan Good dan Ben.


"Dia sedang marah pasti karena Jun kali ini" kata Ben.


"Hey. Jangan begitu, tapi bisa jadi" kata Good.


Jun sudah keluar menaiki dinding sekolah untuk membolos.


Jun sudah mengirim pesan kepada anak anak yang lain untuk cepat berkumpul ditempat biasa termasuk Good dan Ben.


Jun sudah mengamankan tas milik Red dibawa dan ia pakai sekaligus dengan tas miliknya itu.


"Dimana Good dan Ben?" tanya salah satu dari mereka.


"Mereka berdua akan segera datang" kata Jun.


"Tas milik siapa itu?" tanya temannya lagi.


"Seseorang" kata Jun.


Good dan Ben datang dua menit kemudian.


"Kau membawa tas Red?" tanya Good.


"Untung saja kau baik baik saja" kata Ben.


Mereka semua bergerak menuju tempat biasa untuk mengadakan tawuran antar siswa sekolah menengah atas dengan siswa siswa sekolah lain yang sudah menjadi musuh mereka sejak turun temurun.


"Dimana tugas kamu. Kamu tidak mengumpulkan tugas?" tanya Guru matematika Red.


Seharusnya ia mengumpulkan tugas yang diberikan oleh guru matematikanya.


Red tak bisa menjelaskan dimana bukunya saat ini.


Dia juga melihat ke arah meja Good dan Ben yang juga tak mengikuti kelas matematika kali ini.


"Rupanya ini alasan mereka tidak masuk kelas" kata Red.


Red sedang menahan kekesalannya pada Jun.


"Jika hari ini kamu tidak mengumpulkan tugas sampai bel pulang sekolah. Ulangan minggu kemarin ibu anggap kamu harus mengulang" kata guru matematika Red.


Tak ada yang ia miliki selain ponsel dan satu stylus pen yang ada di tangannya.


Dia bersyukur masih diizinkan untuk mengikuti kelas hari ini.


"Dia tidak tahu seberapa keras aku belajar matematika. Karena aku tahu, aku tak sejenius kalian" kata Red.


Red yang sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Jun dari Good saat jam istirahat sekolah dia memutuskan memberanikan diri untuk membolos dan mengecek tempat yang dikirimkan oleh Good tidak salah.


Mereka sedang berkumpul setelah tawuran antar sekolah tadi disebuah pasar tradisional sedang makan donat kentang.


"Ada apa. Kau mau donat?" tanya Jun pada Red.


Red mendatangi mereka semua disana.


Suasana mulai berubah mereka sadari itu.


"Kembalikan tasku!" kata Red.


Tas miliknya ia rebut kembali dari tangan Jun.


"Hanya ini?" tanya Jun.


"Berhenti lakukan ini padaku!" kata Red.


Red pergi meninggalkan Jun dan teman temannya disana.


Jun menghabiskan donat ditangan santai menghadapi gadis yang datang marah marah padanya.


"Kau jangan bercanda dengan Red. Neo saja hampir saja dihajar olehnya setiap hari" kata Good.


"Aku malah sering berantem sama dia" kata Ben.


"Kamu sering ambil lunch box milik Red" kata Good.


"Sayang dia perempuan. Jika dia laki laki, pasti sudah ikut gabung kita" kata Marid.

__ADS_1


"Jika ia mau dia juga boleh gabung tim ini" kata Jun.


"Tidak mungkin. Kamu akan melarangnya" kata Marid.


"Bagaimana jika dia terluka saat tawuran. Itu sangat bahaya" kata Good.


"Habiskan donat kita lalu kita kembali ke sekolah" kata Jun.


Good dan yang lain sedikit agak lucu saja dengan Jun yang dikalahkan oleh Red yang galak itu.


"Dia ada benarnya, kita harus kembali ke sekolah lagi" kata Jun.


Siapa yang masuk terlambat ke dalam kelas. Ya, Jun dan geng tawurannya.


Dimarahi guru atau mendapatkan sangsi, mereka sudah biasa. Seperti saat ini, mereka mendapatkan hukuman untuk mendekorasi aula sekolah bersama para pekerja yang sedang menerima proyek acara peringatan guru nasional sampai selesai pulang sekolah. Jumlah mereka yang masuk kembali ke sekolah sejumlah empat puluh siswa dan semuanya telah mendapatkan sangsi masing masing atas apa yang di lakukan dari satu geng yang lengkap itu.


"Besok ada konser. Apakah kita harus nonton?" tanya Ben.


"Kau sudah punya uang?" tanya Jun.


"Aku pasti akan pergi nonton konser rapper itu" kata Good.


"Aku sudah dapat dua tiket" kata Jun.


"Darimana kau dapat itu. Padahal itu susah?" tanya Ben.


"Dari Paman ku" kata Jun.


"Jangan khawatir, aku sudah membelikannya untuk kita berdua" kata Good.


"Aku tahu pasti Jun sudah mendapatkan tiket konser itu. Jadi, aku beli dua untuk ku dan satunya lagi untukmu" kata Good.


"Lalu, satu tiket lagi untuk siapa?" tanya Ben.


"Untuk Red?" tanya Good.


"Apa dia tidak keberatan?" tanya Jun.


"Kita paksa dia untuk datang" kata Ben.


"Ide bagus" kata Jun.


Pagi yang cerah di hari sabtu.


Ketiga sahabat itu berangkat lebih awal dari Red menunggunya sambil minum jus stroberi. Duduk menunggu dan berdiri disana sejak pukul enam pagi, padahal Red sampai di sekolah pukul tujuh kurang sepuluh menit.


"Siapa yang suruh kita berangkat pagi pagi?" tanya Jun.


"Lah. Kamu sendiri, kita nurut aja" kata Ben.


"Boleh kok. Berantem disini" kata Good.


Good sedang makan potongan buah buahan dari rumah.


"Kamu makan sendiri tak bagi bagi kita" kata Ben.


"Tinggal ambil kayak nggak biasanya" kata Good santai.


"Minta satu" kata Jun pada Good.


Good sudah tahu konsekuensinya jika ia tampil sedikit didepan publik. Dia pasti dimintai nomor ponsel dan minta foto bareng.


"Kau tidak ingin jadi aktor?" tanya Jun.


"Belum berminat" jawab Good.


"Ini anak kadang ngeselin. Bilang saja iya, nanti aku bilang sama Paman ku" kata Jun.


"Pasti biaya masuknya mahal" kata Good.


"Gratis bro. Kalau bayar juga buat administrasi wajar kan" kata Jun.


"Iya. Masuk aja, kamu kan sudah dibilang sempurna untuk menjadi aktor" kata Ben.


"Lah ngatur" kata Good.


"Ini anak kok kadang seneng bikin kesel orang lain" kata Ben.


Jun menahan Ben yang akan mengajak Good berkelahi.


Good malah asyik menikmati potongan buah buahan miliknya dari kotak makan.


Good dimintai nomor ponsel lagi oleh beberapa siswi di sekolahnya dan lagi dia hanya bilang.


"Sorry. Aku sudah punya pacar" kata Good lalu memakan buah buahan lagi.


Ben tambah sebal dia merasa dia yang paling jelek diantara mereka bertiga.


"Jangan berisik masih pagi" kata Good pada Ben.


"Memang dia ngeselin" kata Jun.


Red dari seberang jalan setelah turun dari bus mengendap endap masuk kedalam sekolah mencegah ketiga temannya itu melihatnya datang.


"Bisa tidak jangan pagi pagi sekali" kata Red.


Red berjalan berbaur dengan banyak siswa dan siswi yang akan masuk kedalam sekolah.


Melewati mereka yang ada didepan gerbang sekolah disisi kanan gerbang.


"Dia sudah datang, ayo kita ikuti dia!" kata Good.


Good selesai dengan makan buah buahan miliknya memasukkan kembali kedalam tas ransel kotak.


Melewati gerbang sekolah bertiga tepat dua meter dibelakang Red yang berusaha menghindari mereka.


"Jangan dekati gadis yang bernama Red!" kata Jun memerintah.


Siswa dan siswi yang jalan bersama satu arah dengan Red memisahkan diri dari Red memberikan jarak yang jelas untuk gadis itu.


Red berhenti dan berbalik ke arah tiga sahabat itu.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Red.


"Tidak ada" kata Jun.


Lalu mereka pergi meninggalkan Red.


"Ada apa dengan mereka sebenarnya?" tanya Red.


Pagi pagi yang penuh semangat.


"Kenapa kalian berhenti?" tanya Red.


Jun memberikan satu tiket konser.


"Apa maksudnya ini?" tanya Red.


"Kau tidak mau ikut?" tanya Jun.


Red membaca tiket yang diberikan oleh Jun barusan.


Red selesai membaca.


"Kalian aku belum selesai bicara!" kata Red.


Ketiga sahabat itu pergi meninggalkan Red yang sedang membaca tiket konser.

__ADS_1


"Ini kan tiket rapper terkenal itu. Tapi, kenapa mereka tiba tiba jadi malaikat?" tanya Red.


"Jangan salahkan aku yang selalu curiga terhadap kalian" kata Red.


__ADS_2