Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 44: Kita Berbohong?


__ADS_3

Chapter 44: Kita Berbohong?


"Bunga ini untuk Sima yah?" tanya seorang gadis.


"Iya. Dree, kau sedang membantu ibu mu lagi?" tanya Lomo.


"Seperti kakak lihat sekarang" kata Dree.


Senyum gadis ini begitu menawan.


"Ini bunga mawar nya" kata Dree.


Lomo membawa satu buket bunga mawar merah muda untuk Sima pacarnya.


"Kita udah putus, kenapa kakak terus ganggu aku" kata Sima.


Bunga mawar yang Lomo berikan kepada Sima, gadis itu membuangnya didepan banyak orang.


Lomo tertunduk saat menerima perlakuan ini dari Sima.


Hari itu hari terakhir Lomo belum pergi keluar negeri. Lomo adalah kakak kandung dari Jun yang memilih pergi dari rumah karena terjadi permasalahan yang ia alami dengan Sima.


Pertengkaran hebat terjadi bukan hanya terjadi diantara mereka berdua namun kedua belah pihak orang tua mereka juga demikian.


"Dia kenapa?" tanya Sammy pada Dree.


Dree sedang istirahat setelah berlatih bela diri bersama teman temannya yang lain di ruang latihan bela diri sekolah.


"Nggak tahu. Sejak pagi di kelas seperti itu" kata Dree.


Jun sedang sedih karena kakaknya kabur dari rumah dan tidak tahu akan kembali pulang kapan.


Tidak bisa dihubungi dan tidak membalas pesan Jun, Kakaknya belum ada kabar.


Jun dan Sammy serta Dree satu sekolah menengah pertama yang sama dan juga menggemari olahraga yang sama.


"Pelatih Dan sudah datang, ayo kita latihan lagi" kata Dree.


Dree juara pertama olahraga raga bela diri ketika lomba tingkat nasional yang diikuti oleh Jun, Sammy, serta Bay yang waktu itu mengikuti lomba memanah.


Mereka semua yang ikut olahraga bela diri mengikuti latihan lagi ketika pelatih mereka datang.


Hari disaat Bay mengalami kecelakaan.


"Aku akan menunggu mu" kata Dree.


Dree sedang menunggu Sima disebuah toko yang sudah tutup dan tidak dihuni sementara diantara toko toko disana yang masih berfungsi untuk jual beli.


"Dasar gadis miskin. Untuk apa aku harus berteman dengan gadis kampungan itu" kata Sima.


Sima mengomentari asal usul keluarganya dan penampilannya. Padahal jika dilihat Dree lebih cantik dan menawan dari Sima.


"Kenapa dia belum datang sudah gelap gini?" tanya Dree dengan lugunya masih menunggu Sima yang tidak mau datang.


Berjam jam Dree menunggu Sima didepan toko itu. Hingga segerombolan pemuda keluar dari dalam mobil dan membawa Dree masuk kedalam mobil secara paksa.


Sima memang berencana mengerjai Dree, dia benar benar tidak datang.


Dree sudah berteriak dari dalam mobil namun mereka berhasil membius Dree lalu membawanya pergi jauh dari wilayah itu.


Waktu kembali saat awal tahun Jun masuk ke sekolah menengah atas.


Jun sudah dirumah Sammy duduk bersebelahan dengan Ibunya Sammy di teras rumah.


"Bagaimana kue buatan ibu?" tanya Ibunya Sammy.


"Selalu lezat" kata Jun.


"Kau masih lucu seperti waktu kecil dulu" kata Ibunya Sammy.


Dulu sewaktu Jun dan Sammy kecil mereka bertetangga.


Sammy sedang membersihkan diri di kamar mandi.


Jun ingin bermain di rumah Sammy sekalian ingin bertemu dengan Ibunya Sammy.


"Bibi tidak membuat kue lagi?" tanya Jun.


"Lain waktu lagi. Bibi sedang istirahat" kata Ibunya Sammy.


"Aku dengar bibi sedang sakit" kata Jun.


"Sudah lebih baikan. Oh ya, terimakasih makanan yang kamu kirim kemari tempo hari" kata Ibunya Sammy.


"Bibi seperti bicara dengan siapa. Besok, kalau ada rejeki lagi. Aku pasti memberikan makanan yang lezat lagi" kata Jun.


"Benarkah. Tapi, bibi takut merepotkan mu" kata Ibunya Sammy.


Sammy sudah selesai mandi. Dia sedang mengeringkan rambut kepalanya denga handuk putih kecil datang keluar rumah menemui Ibunya Sammy dan Jun.


"Akrab banget deh" kata Sammy.


"Sammy sudah disini, bibi ke dapur dulu" kata Ibunya Sammy.


Ibunya Sammy masuk kedalam rumah sedangkan Sammy duduk diteras rumah disebelah Jun.


Mereka berdua menikmati sup hangat olahan daging sapi dengan sayuran dan mie sebagai isiannya.


"Tambah nasinya. Ini masih banyak" kata Sammy.


"Aku diet" kata Jun.


"Mulai bercanda" kata Sammy.


Sambil sedikit sedikit memakan sup.


"Oh ya. Ada yang ingin aku ceritakan padamu" kata Sammy.


"Apa cerita saja. Aku bakal dengerin?" tanya Jun.


"Ini tentang Dree" kata Sammy.


"Dree?" tanya Jun.


"Iya. Dree teman kita, ingatkan?" tanya Sammy.


"Kenapa dengan Dree?" tanya Jun.


"Aku bermimpi bertemu dengan Dree" kata Sammy.

__ADS_1


"Terlalu menyedihkan jika kita mengingat teman kita itu" kata Jun.


"Dia pasti menyimpan bebannya sendiri dan kita tak tahu itu" kata Sammy.


Satu jam lebih kemudian Jun meminta izin untuk pulang.


"Kau akan pergi?" tanya Sammy.


"Kau sudah tahu. Aku akan bekerja di kafe Kak Rose" kata Jun.


"Oh. Salam untuknya" kata Sammy.


Jun meminta izin kepada Ibunya Sammy untuk pulang. Kemudian, Jun memakai helm dan mengambil helm kuningnya lalu menyalakan motor.


Sima baru pulang setelah kursus menari balet.


Sima memakai setelan baju merah muda atasan blouse berlengan pendek dan celana pendek.


Lampu kamar ia nyalakan, ia menaruh tas merah mudanya diatas tempat tidur.


Ia berbaring diatas kasur.


Memandang langit kamar putih.


Jarum jam di dinding berdetak terdengar oleh Sima.


Sima mengambil tasnya lagi di sebelah kirinya mengambil cermin.


Sima bercermin menggunakan cermin tersebut.


"Aku memang sangat cantik" kata Sima.


Dia bercermin dan melihat dirinya penuh kebanggaan.


Hantu bergaun hitam datang menyusup raga Sima.


Sima masih tersadar dan bercermin. Lama kelamaan ada suatu keanehan di wajah Sima.


Wajah Sima berubah mengikuti wajah yang dimiliki oleh wajah hantu bergaun hitam pucat tambah pucat. Pori porinya menghitam mengerut mengering perlahan kemudian muncul darah diantara pori pori wajahnya.


Pori pori wajah Sima berlubang kecil kecil merata dan membesar.


Sima tidak berteriak tapi langsung pingsan.


Tiga puluh menit berlalu Sima kembali tersadar dari pingsan. Kembali, mengambil cermin dan bercermin melihat wajahnya.


"Ternyata itu tidak nyata" kata Sima.


Sima melihat arah jarum dinding di kamarnya.


"Sudah pukul sembilan malam" kata Sima.


Sima pergi ke dapur untuk mengambil gelas mengisinya dengan air hangat dan mencampurnya dengan setengah gelas air dingin dari satu gelas berbentuk balok yang ada ditangan.


Setelah mendapatkan air hangat, Sima kembali ke kamar menaruh air dalam gelas itu di atas meja dekat tempat tidur. Sima mengambil obat dari dalam tasnya.


Gelas yang berisi air ia ambil dari atas meja dekat tempat tidur lalu meminum obat yang ia dapatkan dari psikiater itu.


Ini sudah dua bulan Sima menjalani pengobatan dari psikiater karena gangguan halusinasi yang ia alami selama dua bulan lebih. Dalam proses pengobatan tapi kemajuan kesembuhan yang ia rasakan sangatlah sedikit.


Ia bersikap seperti tak terjadi apapun jika didepan orang lain terutama kepada orang orang yang ia kenal menjadi seorang Sima yang cantik dan pintar penuh bakat.


"Ini aku, Sima" kata Sima.


"Sima. Kenapa?" tanya Lomo.


"Tidak apa apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu" kata Lomo


"Kau baik baik saja kan?"tanya Lomo.


"Aku baik. Bagaimana dengan kamu?" tanya Sima.


"Aku baik. Syukurlah, aku senang mendengar kamu baik baik saja" kata Lomo.


"Aku merindukan mu" kata Lomo.


"Benarkah. Aku beruntung sekali" kata Sima.


Mereka saling bertanya kabar tentang keadaan mereka berdua. Percakapan diantara mereka tidak begitu lama sekitar sepuluh menit lalu obrolan mereka berakhir.


Sima memegang ponsel ditangan menatap langit kamar lagi.


"Apa salahku padamu Dree?"


"Kenapa kau selalu datang menghantuiku?"


Sima bertanya tentang kesalahannya pada Dree sebelum gadis ini meninggal.


Pukul delapan malam didepan mini market.


Red sedang ada disana bersama dengan Ran. Tak ada yang dibicarakan selain diam selama dua jam ada disana. Ran tak berani bertanya apapun dalam kondisi hati Red saat ini.


Good dan Ben lewat didepan mereka.


"Kau lihat cewek tadi. Kayaknya kita kenal" kata Ben.


"Oh dia. Cewek yang sering ngajak kita berantem setiap hari" kata Good.


"Kita yang selalu ngajak berantem bukan dia" kata Ben.


Ketawa ngakak keduanya.


Good memutar motornya kembali ke arah mini market tempat Red dan Ran ada disana.


Motor terparkir dengan aman didepan tempat gym milik Ayahnya Ben yang berhadapan dengan mini market.


Good dan Ben mulai melihat jalan apakah sudah aman untuk menyeberang.


Sudah menyeberang keduanya.


"Kita bawa semua ini untuk kalian" kata Ben membawa camilan dan minuman didepan Red dan Ran.


Good juga membawa buku buku pelajaran untuk besok dari tasnya.


"Kamu bawa ini?" tanya Red.


"Iya. Aku mau belajar sama Jun" kata Good.


"Jun kok belum sampai" kata Ben.

__ADS_1


"Paling sebentar lagi datang" kata Good.


Ran sedang membaca novel bahasa inggris. Red menatap ke arah jalan lagi setelah bertanya beberapa pertanyaan kepada Good dan Ben barusan.


Good juga membawa buku milik Jun didalam tasnya lebih tepatnya ia akan mengembalikan buku yang ia pinjam itu.


"Apa yang jatuh itu?" tanya Ran.


Ran mengambil satu foto yang jatuh dari dalam buku Jun.


Ran melihat sebuah foto yang terdapat Jun dan seorang gadis yang belum mereka kenal sebelumnya. Kemudian, ia langsung memasukkan kembali foto itu kedalam halaman buku tersebut.


"Bisa gawat kalau Red tahu ini" kata Ran.


Red melihat sekilas foto yang ditemukan oleh Ran dan ia terlihat lebih tertarik pada masalahnya sendiri.


"Aku tidak harus mengusir mereka disini. Setidaknya mereka bisa menghibur Red yang sedang sedih ini" kata Ran dalam hati.


Jun datang sepuluh menit kemudian dan juga memarkirkan motornya di dalam area parkir gym. Setelah itu, dia ikut bergabung kepada yang lain di depan mini market.


Dia mulai ingin menyapa dengan penuh ceria dan itu tidak jadi saat melihat ekspresi wajah Red yang tidak memungkinkan untuk diajak bercanda. Ikut menjadi pendiam seperti lainnya disana yang juga sedang belajar.


Lalulintas sudah cukup tenang satu dua kendaraan lewat tapi tidak begitu mengganggu kegiatan mereka saat ini.


Red tak ingin diajak bicara saat ini. Dia sedang baca buku ekonomi.


Ran menawarkan camilan kepada Red. Dia menerima dari suapan makanan dari Ran tanpa ingin bicara.


Sebuah tontonan gratis disebuah bioskop langsung dari tempat pembuatan filmnya tanpa reka adegan ataupun reka ulang. Sungguh sangat natural bagi para pemain peran ini.


Di depan pusat gym ada dua orang yang sedang bertengkar sebut saja Jimmy dan pacarnya yang selalu cantik.


Jun membukakan camilan untuk mereka yang ada di sebelahnya itu berbagi keripik kentang.


Red yang tadinya tak mau bersemangat menjadi sedikit lebih bernyawa.


Suara tamparan dari seorang gadis yang merupakan pacar dari Jimmy sampai terdengar didepan mini market dalam hening malam ini.


Jimmy di tampar dua kali.


"Lawan Jimmy. Lawan!" kata Jun.


Semua teman temannya melirik ke arahnya.


"Sorry, bercanda" kata Jun.


Menonton Jimmy dan pacarnya lagi.


Bertengkar sampai sepuluh menit didepan pusat gym sampai mereka dipisahkan oleh satpam yang sedang bertugas malam ini.


Hening.


Jimmy kemudian tak sengaja melihat ke arah mini market dari seberang jalan ia berdiri selesai bertengkar tadi.


Semuanya melambaikan tangan kepada Jimmy dan tersenyum manis dari kejauhan.


Gitar di petik semangat oleh Ran dan Jun bernyanyi bersama tak mempedulikan Jimmy yang baru saja putus dengan pacarnya. Bersenang-senang bersama sampai Jimmy benar pergi menjauh dari mereka.


Tak berapa lama Jimmy dijemput oleh mobil driver pribadi memakai mobil hitam.


Jimmy pergi dari depan mereka di seberang jalan.


"Dia sudah pergi" kata Good.


Pukul sepuluh malam.


Mereka belum juga pulang dari tempat itu, masih di depan mini market.


Jun bertanya kepada Red, dia bertanya "Kau tidak pulang?".


Ran asyik makan kacang panggang saat mendengar pertanyaan ini.


"Red. Mau ini?" tanya Ran dengan santai pada Red.


"Aku mau" kata Red.


Satu bungkus kacang mereka makan bersama.


"Dimana rumahmu?" tanya Jun.


Dia belum menjawab.


"Rumahnya ada disana" kata Ben.


Ben menunjuk ke rumah disebelah tempat gym milik Ayahnya sendiri.


Sebuah rumah bercat putih yang tak berpenghuni selain dengan asisten asisten rumah tangga yang sibuk bekerja. Sebenarnya, itu adalah salah rumah Jun yang sengaja dibuat kemudian dijual kepada orang lain.


"Lalu kenapa kau tak masuk kesana?" tanya Jun.


"Aku takut. Aku takut sendirian disana" kata Red.


"Lalu kau tinggal dimana?" tanya Jun.


"Di dalam mini market dibelakang kita ini" kata Red.


Red sedang menjaga mini market lama yang dimiliki oleh neneknya itu. Dia sedang shift malam dan dia duduk didepan mini market tanpa bekerja semua pekerjaan asisten neneknya yang selalu bekerja.


"Aku ingin kerja. Tapi, jika aku bekerja disini. Dia akan segera dipecat" kata Red menunjuk ke arah karyawan neneknya itu.


"Aku bisa apa?" tanya Red pada dirinya sendiri.


"Terdengar merendah untuk meninggikan. Tapi, dia memiliki alasan yang tidak semua orang harus tahu" kata Ran.


"Dan kalian percaya. Aku sedang berbohong" kata Ben.


Jun dan Good lalu mencoba untuk mencekik dan menggoncangkan tubuh Ben. Namun, Ben menikmati keceriaan ini.


Red dan Ran cuma bisa tahan tawa.


"Ternyata siswa tercerdas di sekolah kita bisa ditipu juga" kata Ben.


Ben kegirangan saat Jun mengalami ini.


"Ayo kita foto bersama" kata Red.


Mereka foto bersama secara bergantian berganti posisi dan gaya berfoto yang berbeda.


"Kenapa malu malu. Ayo kita foto" kata Red.

__ADS_1


__ADS_2