
Chapter 103: Someday, Me and You.
Dia tersenyum pada dirinya sendiri. Dia memeriksa belati miliknya lagi cat kuku merah terlihat dari kuku jemari jemari cantik miliknya.
"Ini terlalu awal untuk mu" kata Sniper wanita itu.
Dari atas meja terdapat sebuah foto milik banyak orang dan foto pertama yang terlihat dari tumpukan foto itu adalah Red.
Senyumnya telah berubah menjadi senyum kebencian.
Belati itu ditancapkan di atas foto foto itu tak berhenti berulang kali dia terlihat dari arah belakang di suasana yang sudah dibilang malam di pukul setengah dua belas malam.
Dimana Jimmy pulang sekarang.
"Rumahmu cukup nyaman. Terimakasih kasih sayang" kata Jimmy.
"Ehmm. Aku pergi tidur dulu" kata pacar Jimmy.
Jimmy ada di salah satu rumah milik salah satu pacarnya yang lain.
Koper hitamnya ia buka memilih baju dari dalam koper.
Jimmy mengambil beberapa baju dari dalam koper hitam.
Isi koper itu terlihat rapi untuk seorang remaja laki laki.
Dia mendapat satu transferan uang dari pacarnya yang juga mengizinkan ia tinggal di rumahnya.
Kedua remaja yang dikatakan sebagai sahabat sedang berbalas pesan.
"Aku mencari mu tapi kau tidak ada dirumah" kata Wayne.
"Aku sedang tidak ada dirumah" kata Jimmy.
"Kau diusir lagi?" tanya Wayne.
"Aku kabur dari rumah" kata Jimmy.
"Aku siap membantu?" tanya Wayne.
"Tidak. Terimakasih, biaya sewa rumahmu cukup mahal" kata Jimmy.
"Fasilitas disini sangat bagus. Kamu tertarik?" tanya Wayne.
"Tidak" kata Jimmy.
"Disini juga banyak yang lain sudah datang?" tanya Wayne.
Yang Wayne maksud adalah teman teman Wayne dan Jimmy ada disana dirumah Wayne.
Berbalas pesan berakhir Jimmy pergi ke kamar mandi dengan membaca kaus putih dan celana tidurnya berwarna hitam.
Gadis itu belum juga tidur.
Dia sedang duduk memandang mesin es krim otomatis didalam ruang dapur yang baru saja ia beli langsung dari sepulang pergi di tempat wahana permainan.
Didalam gelas berwarna pink dengan sendok yang sama gelas yang sama pula ia sudah memakan sampai ke empat gelas kecil di tangan.
Berpikir tapi juga seperti terlihat seperti sedang melamun.
Dia dengan piyama berlengan panjang dan celana panjang di warna yang sama. Putih.
"Tapi kan aku sudah mulai menyukai Jimmy" kata Sima.
"Perasaan ini tidak salah juga kan" kata Sima.
Satu sendok makan es krim rasa blueberry ia ambil dari dalam gelas kecil itu. Kemudian, kepala bagian kanan dibaringkan diatas meja makan melihat ke akuarium dengan tiga ikan koi bermain kejar kejaran dari dalam tempat yang terbuat dari kaca.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja tapi Jimmy memang menyukai gadis itu" kata Sima.
Dia merengek sendirian disana dalam malam dengan lampu rumah yang sengaja dinyalakan dengan mode redup oleh gadis ini.
Dia memeriksa batas waktu hubungan kontrak percintaan antara dia dengan Jimmy kapan akan berakhir.
"Aku jelas jelas akan kalah" kata Sima.
Dia mau menangis dan cemberut raut mukanya. Si Putri kerajaan sedang bersedih.
Di depan rumah Jun sedang membuka pintu gerbang rumah Pamannya yang tidak terkunci.
"Kenapa tidak terkunci?" tanya Jun.
Dia datang di salah rumah yang jauh dari keramaian masih didalam wilayah kota.
Datang kerumah yang tidak menyala lampu depan rumah dan dari dalam masih gelap gulita.
"Bagaimana kalau ada bahaya datang?" tanya Jun.
Jun mengunci gerbang rumah itu dengan kunci cadangan yang ia bawa dari dalam tas selempang dari bagian dalam pintu gerbang.
Motornya ia bawa masuk menuju kedalam garasi rumah.
Sudah pukul sembilan malam waktu mundur dari cerita Sima tadi yang baru saja diceritakan.
Dia sudah dengan kunci rumah yang ada ditangan dan dia membuka pintu itu masuk kedalam rumah menyalakan lampu disana.
Di tempat bar rumah terdengar suara.
Jun datang perlahan dalam langkah.
"Huftt!" kata Jun.
Dia menghela napas.
Jun pergi mengambil air mineral yang ada didalam lemari es.
Dia berjalan cepat mengganti minuman keras dari gelas dan botol di depan Bob dengan air mineral dari dalam lemari es yang tidak jauh dari Bob sedang minum.
"Berhenti minum" kata Jun.
"Hey. Keponakanku" kata Bob.
"Ya. Ini aku" kata Jun.
Disaat Jun datang disaat itulah dia sudah tumbang setelah minum minum sendiri didalam rumah.
"Kenapa kau selalu merepotkan orang?" tanya Jun.
Jun memindahkan Pamannya untuk berbaring di atas sofa yang berjarak tiga meter dari tempat semula ia duduk di kursi yang terbuat dari kayu.
"Flow!" kata Bob.
Dia memanggil namanya dengan keras.
Jun segera memberikan selimut yang berwarna hijau toska kepada Pamannya.
__ADS_1
"Selalu saja minum jika wanita itu menjauh dari mu" kata Jun.
Jun melihat ke arah luar ruangan tersebut yang bersebelahan dengan taman rumah melihat bulan yang terang malam ini dari jendela persegi panjang di depannya.
"Benarkah dia telah pergi?" tanya Jun.
Dia kemudian pergi ke salah satu kamar, kamar yang biasa ia gunakan untuk berganti baju dan tidur disana.
Bob disana memeluk bantal bercover hitam yang Jun berikan padanya satu menit yang lalu dan kembali memanggil nama wanita yang ia sayang yaitu Flow.
"Flow!" kata Bob.
Jun mendengar teriakan dari Pamannya sampai terdengar didalam kamar di saat ia baru saja menaruh tas selempangnya diatas kasur berselimut dan seprei putih juga bantal bercover hitam.
Ke keesokan paginya di sekolah.
Sangat cerah untuk Jimmy atau bisa dibilang oleh keduanya. Red dan Jimmy berangkat sekolah bersama.
Senyum keduanya membuat seisi sekolah dari mulai memasuki pintu masuk gerbang sekolah membuat semua siswa dan siswi disana seperti terjadi sebuah gempa seakan tak percaya bahwa mereka berdua bisa sebegitu dekat yang terlihat sebelumnya.
"Aku tidak setuju dia dengan gadis itu" kata salah satu siswi fans Sima.
"Dimana yang membuat gadis itu spesial untuk Jimmy" kata salah satu siswa.
Jimmy menggandeng tangan kanan Red dengan menatap gadis di sebelahnya ini dengan penuh cinta terlihat dari sorot mata dan senyum yang ia miliki.
Jamie datang berangkat sekolah dengan sepeda miliknya datang di area parkir sekolah.
Fokusnya berubah ke arah kedua orang yang tidak asing baginya.
"Aku lupa mereka juga sama seperti ku belum dewasa" kata Jamie.
Ben muncul disebelah kiri gadis ini.
"Kita bisa taruhan berapa lama mereka akan bersama" kata Ben.
"Kita taruhan apa?" tanya Jamie.
"Gadis ini jika bicara tentang taruhan pasti nomor satu" kata Jun yang juga muncul disebelah kanan Jamie.
"Kita taruhan apa?" tanya Jamie.
"Motor baru mu?" tanya Ben.
"Jangan macam macam kau bisa beli sendiri" kata Jun.
"Ayo cepat ke kelas!" kata Jun.
Dia melihat ke arah Ben yang masih bernegosiasi dalam taruhan.
Ben langsung menuruti kata kata dari sahabatnya itu untuk pergi ke kelas.
"Kau juga!" kata Jun.
Jamie menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Aku?" tanya Jamie.
Ben sudah bersama dengan Jun.
"Iya. Disitu hanya ada kamu!" kata Jun.
Hari masih pagi kira kira butuh dua puluh menit lagi bel masuk pertama ke kelas akan berbunyi.
Mereka bertiga menuju ke kelas mereka bersama.
Jun ada di tengah diantara keduanya Jamie ada di sisi kiri dan Ben ada disisi kanannya.
"Kamu sudah tidak marah padaku kan?" tanya Jamie.
"Marah. Tidak, bagaimana itu masih ada disini" kata Ben.
Ben menunjuk ke arah hatinya ketika berkata seperti itu.
Jun tidak begitu terkejut dengan sikap Ben terhadap Jamie.
"Ohhhhh ternyata benar kata Red. Kamu memang anak baik!" kata Jamie kepada Jun.
Suaranya terdengar cukup keras untuk jarak diantara mereka. Berjarak tiga jengkal orang dewasa dari Jun.
Jamie terlihat ceria ketika berbicara dengan Ben mantan pacarnya.
Jun tenang dengan ponsel ditangan sedang membalas pesan dari seseorang.
Kedua siswa disisi Jun kembali akrab lagi bisa dikatakan kondisi saat ini jauh lebih baik dari hari hari sebelumnya mereka baru saja putus.
Jun tersenyum mendengar obrolan keduanya yang kembali akrab.
Senyumnya hilang ketika ia memikirkan Red dan Jimmy kembali akrab seperti dulu sebelum Jun mengenal orang orang yang ia maksud ini.
Menaiki tangga menuju ke kelas melewati beberapa kelas. Jamie berjalan lurus ke arah kelasnya.
"Aku pergi ke kelas dulu!" kata Jamie berteriak.
Ben dan Jun melambaikan tangan kanan mereka kepada gadis yang penuh keceriaan di pagi ini.
Jun dan Ben masuk kedalam kelas.
"Dia sangat ceria" kata Jun.
"Biasanya kau selalu tidak akur. Kalian sudah berbaikan?" tanya Ben.
"Kita hanya salah paham" kata Jun.
Jun dan Ben melewati Jimmy yang sedang duduk di kursi milik Sammy yang belum berangkat sekolah.
Dia Jun berusaha tidak terpengaruh dengan keakraban keduanya tapi dia memang sedang sangat berusaha kali ini dan juga terus berpikir bagaimana ia harus bertindak dalam situasi saat ini.
Dalam hati hantu didalam raganya kembali muncul kembali setelah beberapa waktu tidak mengajak bicara dengan Jun.
"Apa dia yang dimaksud dari kata kata Ran?" tanya Doe.
"Aku sedang menganalisa apakah benar dia sahabat dari gadis ini" kata Jun.
"Sekilas saja terlihat bahwa Jimmy sangat menyayangi Red" kata Doe.
"Apa ini mesin otomatis tidak mungkin kan secepat ini dia berubah. Dia manusia" kata Jun.
"Jimmy. Apakah memang Jimmy seperti ini?" tanya Doe.
"Aku sudah lama bermusuhan dengan dia. Aku melihat kali ini" kata Jun.
"Masih tidak percaya" kata Jun.
Good datang kepada Ben dengan wajah serius.
__ADS_1
"Kalian tidak memberitahu ku kalau Wren masuk rumah sakit" kata Good.
"Hey. Aku tahu kamu juga sedang tidak enak badan jadi kita baru memberitahu pagi ini" kata Ben.
"Pulang sekolah kita menjenguknya lagi. Bagaimana?" kata Jun.
Good melihat ke arah Red.
"Red kau mau ikut menjenguk Wren sepulang sekolah?" tanya Good.
"Sorry. Aku harus pergi bersama Jimmy" kata Red.
"Kita bisa pergi ke rumah sakit bersama?" tanya Jimmy.
"Ide bagus" kata Red.
Ketiga temannya merasa sesuatu telah mengubah isi kepala sahabatnya itu.
Good datang menghampiri Red.
Memeriksa kepala gadis ini dengan kedua jemari tangan.
"Kamu baik baik saja kan?" tanya Good.
"Kepalaku baik baik saja" kata Red.
Good melepaskan tangannya dari kepala Red.
Menatap mata Red.
Pergi menjauh perlahan berjalan mundur dari hadapan Red.
Melihat ke arah Ben dan Jun.
"Baik. Kita pergi kesana?" tanya Good.
"Ok" kata Ben dan Jun.
Good akan kembali ke tempat duduknya dengan perasaan tidak yakin dengan peristiwa pagi ini.
Bee datang.
"Sayang" kata Bee.
Good hampir menabrak pacarnya yang baru saja masuk kedalam kelas dengan tas ransel kuning miliknya.
Good tidak menjawab pertanyaan dari Bee dia langsung duduk di tempat duduknya di kelas.
Yang diperhatikan saat ini oleh Bee adalah pacarnya. Good.
Jun dan Ben sedang menyibukkan diri mereka masing masing dengan mendiskusikan mata pelajaran pertama pagi ini.
Sima datang masuk kedalam kelas.
Suasana sangat canggung terjadi dan Sammy datang.
Sammy berjalan mendahului gadis yang lebih pertama masuk kedalam kelas detik ini yaitu Sima.
"Sorry" kata Sammy.
Sammy benar benar terlihat tenang dengan kedekatan kembali antara Red dan Jimmy. Dia langsung mengambil tempat duduknya melepas tas ransel kuningnya kedalam meja.
Sima menyusul dan dia tersadar dengan sikap yang diperlihatkan oleh Sammy padanya bahwa ia juga tidak harus terlihat sedih ketika melihat Jimmy kembali bersama dengan sahabatnya itu.
Dia berusaha toleran dengan ini.
Sima mengirim pesan kepada Jun.
"Kau tidak marah melihat ini?" tanya Sima.
Jun membuka ponselnya.
Membaca kemudian membalas pesan dari Sima.
"Masih terlalu pagi" kata Jun.
"Jangan salahkan aku untuk bertindak lebih" kata Sima.
"Kamu. Kamu tidak mungkin melakukan itu!!!!!!!!!!" kata Jun.
Jun berpikir bahwa gadis itu tidak melakukan hal itu karena energi yang ditunjukkan dari raganya semakin meningkat terlihat lebih bertambah level yang terlihat.
Dan benar apa yang ditebak oleh Jun bahwa dia tidak akan melakukan hal semacam itu.
Dia menunggu Sima melakukan hal yang dikatakan olehnya dan itu tidak bisa dilakukan oleh gadis ini.
"Ini sudah istirahat dan dia masih dengan sikap manisnya" kata Jun.
Sima pergi bersama beberapa teman teman satu kelasnya pergi ke kantin untuk membeli makanan.
Jimmy sedang latihan tenis lapangan dan kali ini Jun tidak ada jadwal latihan olahraga bela diri.
"Ini kesempatan kita untuk bertanya" kata Doe.
Jun berpindah tempat di tempat duduk Sammy didepan meja Red.
Dia sedang makan kudapan yang ia bawa dari rumah dan satu infus water dalam tumbler abu abu.
"Apakah Bling masih disini?" tanya Jun.
"Dia tidak bicara lagi padaku" kata Red.
"Sejak kapan?" tanya Jun.
"Entahlah. Tapi, aku sedang menunggu lagi bisa berinteraksi dengan Bling" kata Red.
"Kau yakin dengan Jimmy?" tanya Jun.
"Yakin" kata Red.
"Bagaimana kalau kau jadi pacarku sekarang?" tanya Jun.
"Hahaha hahaha" kata Red menahan tawa didalam hati.
"Aku serius asalkan kau jangan jadi pacarnya" kata Jun.
"Aku dan Jimmy belum jadian. Tenang saja" kata Red.
Jun mengambil makanan buatan dari Red.
"Kau masih punya kesempatan untuk jadi pacarku" kata Jun.
"Jangan membuat kita menjadi canggung" kata Red.
__ADS_1
"Ok" kata Jun.
Jun tidak marah dengan hal ini dia mengajak ngobrol gadis di depannya saat ini jauh lebih santai itulah yang ingin ia ciptakan.