
Chapter 137: Dia hantu, mana mungkin.
"Sayang mau dengar cerita ku nggak?" tanya Bee.
Melirik dan pura pura tidak dengar.
Ben sedang menanyakan siapa pengirim bunga yellow rose untuknya tadi kepada semua mantan pacarnya melalui pesan.
Good sibuk dengan bisnis kuliner yang sedang ia geluti dengan mencari tambahan informasi bagaimana cara marketing yang bagus melalui internet.
Sekali lagi Bee mengajak bicara pacarnya, dan dia berkata "Sayang, aku mau cerita".
Good memasukkan ponsel ke jaket hitam yang ia pakai.
"Ok. Aku siap dengerin cerita kamu, kamu mau cerita apa?" tanya Good balik.
"Kenapa yah aku mimpi tapi rasanya nyata banget?" tanya Bee.
Speechless.
"Really?" tanya Good.
"Iya. Benar, aku sampai nggak mau tidur lagi saking takutnya" kata Bee.
"Detail mimpinya gimana. Aku boleh tau?" tanya Good.
Excited.
"Beneran?" tanya Bee.
"Iya" jawab Good.
Bad Mood.
"Nggak jadi nanti kaya waktu di perpustakaan kemarin, kamu malah tidur" kata Bee.
"Bener nggak mau cerita?" tanya Good.
Menunggu dua detik.
Bee bersiap dengan cerita mimpi yang akan ia ceritakan didepan Good dan Ben.
Sepasang kekasih ini saling tatap menatap satu sama lain berada diantara Ben dengan kursi mereka masing masing.
Ben sedang pura pura sibuk dengan diri sendiri.
Ben jadi ikutan menyimak.
Mulai cerita.
"Aku mimpi kalau abangku ini punya kekuatan super" kata Bee.
"Pasti keren" kata Good.
"Iya. Keren banget" kata Bee.
Ben agak goyah.
"Terus, gimana cerita selanjutnya?" tanya Good.
"Hebatnya lagi, di dalam mimpiku dia bisa terbang juga mengobati Marid. Aku pikir itu nyata tapi mimpi" kata Bee.
Good mendengar cerita mimpi yang dimimpikan oleh pacarnya itu cukup panjang tapi dia tetap dengerin pacarnya cerita semaunya dia mau selesai sampai kapan.
Ben mendengar mimpi yang dialami oleh Bee kenapa sama persis dengan apa yang dialami oleh dirinya dan teman temannya yang lain yang juga pernah dan masih terjebak di dimensi misterius itu.
Ibunya Ben dan Ibunya Bee datang dengan membawa keperluan Ben serta banyak makanan.
Cerita di pending terlebih dahulu.
"Kita lanjutin ceritanya lagi nanti. Ok" kata Good.
"Ok!" kata Bee.
Bee membantu ibunya untuk menyiapkan makanan untuk di makan malam ini.
Ben berpikir berulang dan berulang lagi tentang mimpi yang dimimpikan oleh Bee.
Ben mendapatkan balasan pesan dari para mantan pacarnya setelah mengirim pesan kepada mereka tentang siapa yang telah mengirim bunga yellow rose untuknya.
Balasan pesan mereka macam macam dan lucu.
Ben senyum senyum sendiri.
"Terjadi sesuatu?" tanya Ibunya Ben.
"Tidak" jawab Ben.
"Ya sudah. Ayo kita makan" kata Ibunya Ben.
Pesanan makanan yang Good pesan datang.
Good menghubungi kedua temannya yang lain dan mereka tidak bisa dihubungi.
Red mengirim pesan untuk Good.
Good membacanya.
"Dimana Red dan Marid serta yang satunya lagi?" tanya Ibunya Ben.
"Mereka pergi menjenguk teman kami yang lain di lain rumah sakit" kata Good.
"Tidak apa apa. Ayo kita makan" kata Ibunya Ben.
Momen makan malam bersama di pukul tujuh malam.
Di dimensi bukan dimensi manusia.
Flow berjalan diantara pepohonan hutan kini ia juga melihat semut semut kecil sedang berjalan bolak balik di sebuah pohon besar dia melewatinya malam ini cukup cerah dia berhenti sejenak melihat ke atas langit.
Kembali di tempat sekarang Bob ada disana melihat bulan di luar kaca jendela bus terang setelah hujan reda lima menit yang lalu.
Asistennya datang dan berkata "Sebentar lagi sampai di hotel".
"Kita turun disini" kata Bob.
Mereka turun kemudian di tempat perhentian bus menuju hotel tempat mereka menginap.
Asisten pribadi Bob akan masuk ke hotel.
"Kenapa berhenti?" tanya Bob.
"Bagaimana kalau saya izin pergi menemui pacar saya?" tanya asisten pribadi Bob.
"Oh gadis yang ada di wallpaper ponselmu" kata Bob.
"Ya" kata Asisten pribadinya.
"Pergilah" kata Bob.
Bob pergi menuju hotel sedangkan asistennya pergi menemui pacarnya yang juga tinggal disana.
Bob ada di depan lift menuju lantai kamar Bob untuk istirahat.
__ADS_1
Diam tenang berbicara dalam hati.
"Bagaimana kabar keponakanku yang belum pulang?" tanya Bob.
"Siapa yang akan menanyakan kabarku jika mereka pergi?" tanya Bob.
"Jax apalagi kerja terus" kata Bob.
Pintu lift terbuka.
Bob masuk disusul dengan pengunjung hotel yang lain.
Bob menekan tombol angka lift lebih dulu dilanjutkan dengan orang orang yang juga berada didalam lift itu. Dua perempuan tiga pria termasuk Bob.
Angka lantai yang Bob tekan di tombol lift tadi sudah menunjukkan angka enam puluh. Lift terbuka Bob keluar dari dalam lift beserta satu wanita yang tadi satu lift bersama dengannya pergi ke arah berlawanan menuju kamar mereka masing masing.
"Ternyata jadi good boy itu sangat sulit" kata Bob.
Bob berhasil membuka pintu kamar hotelnya kemudian masuk ke dalam.
Mengganti sepatu dengan slipper.
Mengambil baju ganti dari dalam koper, setelan baju tidur.
"Aku seperti mayat berjalan lelah setelah seharian bekerja" kata Bob.
Pergi ke kamar mandi membawa setelan piyama berwarna hitam.
Sepuluh menit kemudian, Bob sudah memakai setelan piyama hitam keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut kepala yang basah setelah mandi air hangat barusan.
Melihat ke cermin.
Merenung.
"Usiaku semakin bertambah" kata Bob.
"Aku sudah melewati hidupku dengan banyak air mata" kata Bob.
Mengambil ponsel mencari nomor ponsel orang lain.
Ketemu.
"Ada apa?" tanya Jax.
"Apa kau sibuk?" tanya Bob.
"Tidak ada yang ingin kau katakan?" tanya Jax.
"Aku akan meeting sudah dulu" kata Jax.
"hey … " kata Bob.
Obrolan berakhir di akhiri oleh Jax lebih awal.
Bob melihat ponselnya.
"Hanya karena kita seumuran. Dia selalu begini" kata Bob.
Mencari kontak lain di ponsel yang ingin dia hubungi.
"Coba mantanku" kata Bob.
"Tidak mungkin. Mereka pasti marah marah jika aku menelepon salah satu dari mereka" kata Bob.
"Apalagi yang terakhir benci pake banget sama aku" kata Bob.
Membuka tirai putih kamar melihat keluar jendela kamar malam dingin dengan ketukan piano dari permainan alat musik yang dimainkan oleh Bob dengan piano yang tersedia di samping tempat tidur dekat dengan jendela kamar.
Dia sedang melakukan siaran langsung di akun sosial medianya menyapa para penggemarnya yang mengikuti akun sosial media pribadi miliknya.
Berbagi senyum hangat di sela sela bermain piano.
Dia juga bernyanyi dengan iringan piano yang ia mainkan sendiri.
Banyak penggemarnya memberikan komentar dan tanda suka bertambah di tiap detik waktu siaran langsung di akun sosial medianya malam ini.
Permainan piano tiba tiba saja dihentikan oleh Bob.
Dia melihat layar ponsel.
"Ada apa dengan wajahku lagi?" tanya Bob.
Siaran langsung jumpa fans Bob dihentikan tanpa ucapan perpisahan.
Melihat ke cermin terdapat luka biru di pipi kiri pria ini dan lagi.
Menunggu reaksi selanjutnya di depan cermin.
Menghitung waktu, menghitung waktu kapan luka lebam di wajahnya menghilang.
Menunggu lima menit belum menghilang tidak juga menghilang.
Di dimensi lain Flow sedang duduk bergerak mundur dari kejaran makhluk misterius itu lagi suara petir gelap terang datang di malam menakutkan dan mengerikan wanita ini sedang mengalaminya. Dedaunan pohon pohon hutan berserakan di antara Flow tersapu oleh langkah kaki tindakan Flow.
Wajah Flow sebelah kiri membiru akibat tamparan dari makhluk yang sedang mengejarnya saat ini panik menjadi panik lagi dalam situasi yang sama dengan sebelumnya.
Satu pukulan akan datang menghajar hidung Flow kali ini.
Bersiap dengan tangan makhluk berkabut tebal abu abu itu.
"Huuuuuuhhhhhhhgggghh!"
Tangannya melayang dan datanglah seseorang.
"Bugggggg!"
Hidung Bob di tinju oleh Makhluk misterius itu langsung tersungkur terdorong jauh oleh makhluk itu bersama dengan Flow yang juga terpental jauh oleh makhluk ini sejauh dua puluh dua meter jauhnya dari makhluk ini.
Darah jelas keluar dari hidung dan mulut.
Bob bangkit dari tersungkur di tanah dan mau tidak mau dia harus cepat adaptasi dengan kondisi ini.
Flow bisa melihat Bob datang di dimensi ini begitu juga dengannya ini sebuah keajaiban untuk mereka.
Bob langsung bergerak mendekat pada Flow yang juga sedang bangun dari atas tanah duduk kembali lalu berdiri sama halnya dengan Bob yang berjalan cepat pada Flow.
"Ayo bangun!" kata Bob.
Flow meraih tangan Bob bangun cepat lalu pergi lari dari kejaran makhluk dibelakang mereka.
Tangan Bob terlihat berdarah terbakar saat menggandeng pergelangan tangan kanan dari Flow namun dia tidak peduli dengan rasa sakit terbakar itu tetap membawa Flow menjauh dari makhluk itu bersama pergi dengannya.
Jantung berdetak jauh lebih cepat dan tidak beraturan di detik detik ini makhluk itu dengan sangat buas mengejar dan mengejar mereka berdua pukulan genderang ditabuh terdengar saat aksi ini berlangsung ditabuh sangat keras menghancurkan apapun yang telah dilewati oleh makhluk misterius itu.
Suara genderang terdengar keras sampai di telinga kedua remaja yang sedang mencari pintu keluar dari dimensi ini berbalik ke segala arah berganti mencari suara itu.
"Disana!" kata Ran.
Ran yang sudah pulih segera pergi ke arah Flow dan Bob yang sedang membutuhkan pertolongan siapapun yang bisa menolong mereka.
__ADS_1
Jun melihat kepulan asap keluar dari dalam hutan dan pepohonan seperti sedang di ledakkan secara bersamaan menjalar cepat maju kedepan.
Berlari cepat berlari melewati pepohonan semak semak di dalam hutan keduanya terdengar langkah kaki cepat juga gemetar dengan apa yang terjadi mengatur nafas sudah terkendali yang mereka pikirkan hanya satu cepat lari menyelamatkan diri dari situasi ini.
Flow melihat Bob yang juga melihatnya membawanya pergi dari usaha tangkapan makhluk itu.
"Jangan lengah!" kata Bob.
Flow mengangguk cepat dengan perintah dari Bob.
Sedangkan untuk Jun dan Ran datang berhenti di atas pepohonan yang sudah rusak.
Mendengar lebih teliti asal suara genderang itu yang makin menjauh namun tetap keras terdengar kedua remaja ini mengejar suara genderang itu bersama pergi dari atas pepohonan pergi dengan teleportasi.
Ran ada diatas mereka juga Jun sedang melihat keadaan di bawah mereka.
Terheran dengan apa yang dilihat.
"Tak ada apapun disini" kata Jun.
"Lalu kenapa semua pohon pohon disini hampir hancur?" tanya Ran.
Mereka mencari mencari sumber suara genderang yang masih ia dengar disana dengan seksama mendengar.
"Sulit dipahami" kata Jun.
Kembali ke hotel tempat Bob tadi menginap terlihat wajah sedih ada di raut wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun yang bekerja sebagai Asisten Pribadi Bob masuk ke dalam hotel dengan langkah yang kurang bersemangat dia pergi menuju pintu lift.
Menunggu pintu terbuka.
Pintu lift terbuka.
Pemuda ini masuk ke dalam lift sendirian kemudian memencet tombol lift tombol angka yang sama yang ditekan oleh Bob tadi nomor enam puluh.
Melihat layar ponsel.
Tambah sedih.
Foto pacarnya ia lihat lagi yang masih menjadi wallpaper layar ponsel pintar berwarna hitam sebagai casing ponsel.
"Sekarang, sudah mantan bukan pacar lagi" kata Asisten Pribadi Bob.
"Aku sedih dan aku tidak bisa tidak menangis" katanya lagi.
Dia dengan polosnya berkata seperti itu dan menangis di dalam lift sendirian.
"Brrruuuggg!"
Flow dan Bob muncul menabrak dinding dalam lift
yang sedang aktif itu.
"Ya ampun!" kata Asisten Pribadi Bob terkaget.
"Siapa kalian?" tanya dia.
Wajah Bob sudah penuh darah begitu juga dengan Flow yang lebam di beberapa bagian wajahnya datang muncul di depan pemuda karyawan baru Bob.
Bob membantu Flow bangun dari lantai lift berwarna coklat gelap serta dindingnya dengan warna yang sama.
Masih syok.
"Siapa kalian?!" kata Asisten Pribadi Bob lagi.
Bob melihat ke arah Asisten Pribadinya.
Asisten pribadinya mundur satu langkah tapi di belakangnya sudah berakhir dengan batas dinding ruang lift.
Bob mendekat.
Dia tambah takut.
"Jangan mendekat. Kalian alien, jangan mendekat!" berteriak pemuda ini.
"Ini Atasanmu" kata Bob.
Flow masih juga dengan mengatur nafas terengah engah dengan perpindahan dimensi ini.
"Jangan mendekat!" kata Asistennya lagi.
"Pergi!" katanya lagi.
Bob melihat gambar dirinya dari dinding lift ruangan itu dan menyadari bahwa dia terlihat menakutkan sekali dengan penampilan wajahnya saat ini yang penuh luka membuat wajahnya tak beraturan karena darah dan kulit yang terlihat mengelupas di bagian hidung menjalar di mulut.
"Pergi aku mohon!" kata Asisten pribadinya.
"Aku belum mau mati!" katanya sangat ketakutan.
"Jangan sakiti aku!" katanya lagi.
Bob menatap Flow.
Lalu, dia mengambil ponsel di tangan kanan karyawannya itu.
"Lihat!" kata Bob.
"Sudah tidak takut sekarang?" tanya Bob.
Tangannya yang masih dengan darah segar dan kulit terkelupas di bagian telapak tangan kanan.
Mulai sadar.
"Oh ternyata kau Bos" kata Asistennya.
Bob mengembalikan ponsel pemuda itu.
"Lalu dia siapa?" tanya Asistennya.
Asistennya bisa melihat Flow.
Pintu lift terbuka.
"Ikut aku" kata Bob.
Mereka keluar dari lift menuju kamar hotel.
Asistennya berjalan di sebelah kirinya sedangkan Flow ada di sisi kanannya masih menyesuaikan diri memperhatikan orang orang disekitarnya.
Flow menghindar dari beberapa orang yang berjalan lurus akan menabraknya.
Bob berhenti dari langkah kakinya menyusul pemuda di sisi kirinya.
Suaranya serak dan sulit untuk bicara seperti sedia kala.
"Mereka tidak melihatku" kata Flow.
"Apa aku sudah menjadi … ?" tanya Flow.
"Kata siapa?" tanya Bob.
Asisten pribadi Bob mundur satu langkah dari situasi ini.
"Gajimu akan ku naikan lima kali lipat. Kau mengerti tugasmu kan" kata Bob.
__ADS_1