Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 119: Ada apa sebenarnya?


__ADS_3

Chapter 119: Ada apa sebenarnya?.


 Jemari tangan kanan Sima mulai bergerak buku didalam tas Sima menyala membiru terang keluar sendiri dari dalam tas terbuka dengan sangat cepat dengan sangat cepat pula nama tertulis di halaman buku itu.


 "Ben"


"Marid" 


 Kemudian, Jimmy.


 Sima membuka mata.


  Seorang suster perempuan ada disana sedang bertugas malam ini mengecek kantung infus yang harus diganti karena hampir habis. 


"Syukurlah. Anda sudah sadar" kata suster tersebut.


"Saya akan memanggil dokter sekaligus wali anda" kata suster tersebut.


 Suster tersebut menelepon dokter yang menangani Sima melalui telepon yang tersedia di meja di dekat tempat tidur didalam kamar rawat ini.


 Tidak begitu lama dokter yang menangani Sima segera datang.


 Kedua orang tua Sima juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.


 Ben, Marid dan Jimmy berpindah tempat tepat di dalam kamar rumah sakit ada di kamar Jimmy.


 Red ada dibalik dinding luar kamar rawat Sima.


"Dia sudah sadar cepat ikut Kakak" kata Radan.


 Dia mengikuti Radan yang tadi juga ada dibelakang Red.


 Di sudut lain rumah sakit dia disana sedang memilih sendiri dia tidak mengikuti kemana seniornya pergi. 


 Dia hanya ingin sendiri.


 Jimmy menemukannya disana tidak berada jauh dari kamar rawatnya.


"Ada apa, kau ingin mendekat untuk menjauh?" tanya Radan.


 Ben dan Marid melihat Radan yang mencegah pacar Red untuk berusaha menghibur dan dia tidak mengizinkan hal itu untuk dilakukan oleh Jimmy.


"Pergilah. Kau tahu situasi ini" kata Radan.


 Red sedang jongkok tertunduk disana sendirian menyimpan sendiri tak ingin banyak orang lain bahkan siapapun ada disekitarnya.


 Ben bergerak mundur dari situasi ini.


 Marid melihat momen ini tidak tepat untuknya sekarang berbicara kepada orang orang yang ada ditempat ini tapi dia tidak bisa melihat seorang sahabatnya sedih.  Dia memutuskan menerobos dua pangeran di depannya.


 Marid melewati Radan dan Jimmy.


 Datang kepada Red.


"Kenapa?" tanya Marid. 


 Red masih menunduk dalam kesedihan.


"Aku sedang mengganggu mu" kata Marid.


"Bisakah aku melihat wajah mu?" tanya Marid.


 Red belum mau bicara dengan Marid.


"Anggap saja aku seorang penipu" kata Marid.


"Bangun" kata Marid. 


"Lihat. Pacar mu ada disini cepat bangun" kata Marid.


 Dia akhirnya mau diajak bicara oleh Marid.


 Marid tersenyum menyegarkan kepada Red.


"Dia akan cemburu padaku" kata Marid.


"Sudah. Jangan menangis lagi" kata Marid.


 Marid kemudian pergi dari Red yang sudah mau diajak bicara.


 Akan melewati Jimmy dan Radan.


 Berhenti sesaat disebelah Jimmy.


"Kau harus lebih belajar padaku" kata Marid.


 Didepan lift Ben sedang menunggu Marid yang ia lihat dari sana sedang mengajak bicara Jimmy.


 Jimmy segera menemui Red.


 Marid menuju Ben yang sudah menunggu.


 Tiba di lift yang kebetulan juga terbuka disaat Marid tiba.


"Kita sudah selesai" kata Marid.


 Masuk keduanya kedalam lift. Ben memencet tombol lift.


 Melihat depan pintu lift.


"Hampir saja kau merebut Red dari tangan Jimmy" kata Ben.


"Hampir saja atau bisa saja" kata Marid.


"Hahaha" 


 Mereka berdua tertawa.


"Kau bisa dihajar oleh Jun" kata Ben.


"Oh ya. Aku lupa Panglima Perang itu" kata Marid.


"Kau sangat menyukai teman kita?" tanya Ben.


"Kalian sudah tahu dari dulu" kata Marid.


"Dan kau memikirkan perasaan Jun dan Wren" kata Ben.


"Menyedihkan dan itu tetap menyedihkan" kata Marid.


"Hidup mu selalu bahagia" kata Ben.


"Kau benar" kata Marid.


 Red dibantu oleh Jimmy untuk bangun setelah bersembunyi menangis sendiri. Radan pergi di tempat duduknya seperti semula.


 Jimmy membawa Red untuk duduk disebelah Radan.


 Red duduk disana dengan jarak lima kursi di baris yang sama dengan Radan juga Jimmy ada disisi kirinya menghapus air mata yang masih terlihat di pipi gadis ini.


"Kau terlalu dekat denganku" kata Red.


"Oh sorry" kata Jimmy.


 Jimmy menjaga jarak dari Red sedangkan Radan tersenyum mendengar kata kata dari lisan Red untuk Jimmy.


 Dalam waktu tiga puluh detik saja itulah waktu untuk Jimmy bisa bicara dengan Red.


"Aku harus pergi" kata Red.


"Peluk aku" kata Jimmy.


"Waktu kalian sudah habis" kata Radan.


 Dia membunyikan jemarinya lalu dengan cepat Red pergi di kirim oleh Radan untuk sampai di rumahnya.


 Jimmy memang hanya memiliki waktu yang terbatas bertemu dengan Red atau keduanya akan memperburuk mantra yang mereka dapat saat ini juga akan saling menyakiti.


"Jangan merasa bahwa aku jahat" kata Radan.


"Maaf tadi aku salah" kata Jimmy.


"Kenapa?" tanya Radan.

__ADS_1


"Menggunakan kekuatan ku tanpa seizin mu" kata Jimmy.


"Apa yang akan kau sembunyikan?" tanya Radan. 


"Tadi, aku masuk begitu saja ke dimensi lain ketika iseng ingin tahu apa yang dilakukan oleh Ben" kata Jimmy.


"Jadi, ... " kata Jimmy.


"Jadi?" tanya Radan.


 Jimmy melaporkan kepada Radan apa yang ia lihat disana dan apa yang terjadi dengan Marid.


"Tapi, tadi aku sudah menghapus ingatan Marid?" tanya Jimmy.


"Dia sedang ku tangani. Bagaimana dengan level energi mu?" tanya Radan.


"Delapan puluh persen" kata Jimmy.


"Jika kurang dari satu persen lagi. Kau mungkin tidak bisa kembali" kata Radan.


"Kau selalu menakut nakuti anak anak" kata Jimmy.


"Ingat. Aku senior mu" kata Radan.


"Ya" kata Jimmy.


 Jimmy akhirnya mengalah dan kembali di dalam kamarnya dengan luka yang sedang juga disembuhkan oleh Radan dengan energi penyembuh yang sejak tadi ia berikan kepada Jimmy.


 Sima sedang mencoba membuka buku yang terus menyala di tangan membalik lagi membalik lagi tapi tak ada apapun di dalam sana. Kemudian, menaruh lagi kedalam tas hitam miliknya.


 Melihat meja kamar rawat dengan buah buahan yang masih segar juga melihat lagi ke sisi lain ruangan ini terlihat bunga lily yang juga terlihat segar ada didalam vas bunga yang ada di meja dekat ranjang. 


"Apa dia kemari?" tanya Sima.


 Yang dia pikirkan adalah bahwa Jax datang untuk menjenguknya.


 Kedua orang tua Sima datang.


"Kau sudah bangun" kata Ibunya.


"Sudah lebih baik sekarang?" tanya Ayahnya Sima.


"Baiklah Ayah akan menemui dokter yang menangani mu" kata Ayahnya Sima.


 Ibu dan putrinya sedang mengobrol sedangkan untuk Ayahnya Sima pergi ke ruang dokter yang menangani Sima untuk menanyakan lebih detail tentang kondisi putrinya.


 Didepan rumah sakit.


 Marid masih merasa ada yang ganjil sedari tadi dengan dirinya bagaimana dia ada di rumah sakit dan bagaimana bisa dia ada diruang rawat Jimmy.


 Ben sudah jalan lebih dulu menuju pintu keluar rumah sakit.


 Berbalik ke arah Marid.


"Ayo pulang!" kata Ben.


 Marid belum ikut Ben.


"Kau tidak bawa motor?" tanya Marid.


"Tidak" kata Ben.


"Aku?" tanya Marid.


"Tidak juga. Cepat!" kata Ben.


 Marid mulai jalan meninggalkan depan rumah sakit mengikuti kemana Ben jalan.


 Menunggu bus di tempat perhentian bus.


 Sudah mulai sepi waktu di pukul sepuluh lebih yang terlihat security di tiap sudut rumah sakit yang terlihat di luar rumah sakit sedang berjaga dan toko toko yang mulai tutup disekitar rumah sakit yang ada hanya mini market dan satu dua toko yang masih buka.


"Aku masih merasa ini tidak nyata" kata Marid.


"Kau sedang bertengkar dengan pacar mu jadi bicaramu ngelantur" kata Ben.


"Tidak. Kita baik baik saja" kata Marid.


 Pintu bus terbuka.


 Ben naik lebih dulu kedalam bus kemudian menyusul Marid.


 Pintu bus tertutup lagi.


 Mereka mencari tempat duduk dan mendapatkan dua tempat duduk.


 Duduk bersebelahan.


 Ben di sebelah kaca jendela bus dan Marid disebelah kanan.


 Ben dan Marid menggunakan masker.


 Ponsel mereka kembali aktif dan tentu tanda getar notifikasi dari dalam ponsel keduanya terus bergetar mendapat banyak pesan.


 Mereka kompak tidak membuka ponsel mereka menyilangkan kedua tangan di bagian perut masing masing.


 Rasa kantuk terasa lebih untuk Marid yang memang sudah sangat ngantuk.


"Aku menginap dirumah mu" kata Marid.


"Ya" kata Ben.


"Biasanya kau akan marah" kata Marid.


"Sedang berhemat" kata Ben.


"Ya sudahlah. Kita memang suka membuat mu marah" kata Marid.


"Sudah terbiasa" kata Ben.


"Menurut mu apa dia benar benar menerima pacarnya?" tanya Marid.


"Maksudmu Red?" tanya Marid.


"Seharusnya kau katakan lebih awal bahwa kau menyukainya" kata Ben.


"Saat itu dia terlihat sangat akrab dengan Ran" kata Marid.


"Dia memang mudah akrab dengan orang lain" kata Ben.


"Kau memang sahabatnya" kata Marid.


"Kau juga" kata Ben.


"Sekarang aku menyesal dan aku tidak rela dia bersama dengan Jimmy" kata Marid.


"Tunggu saja. Mereka akan segera putus" kata Ben.


"Mereka terlihat sangat bahagia" kata Marid.


"Menurutmu" kata Ben.


"Menurutmu?" tanya Marid balik.


"Kenapa aku yang terlihat harus bertanggung jawab?" tanya Ben.


"Sorry" kata Marid.


"Aku hanya menebak dan kau langsung percaya" kata Ben.


"Karena kau yang paling dekat dengannya" kata Marid.


"Sudahlah. Ayo pergi sebentar lagi kita turun!" kata Ben.


 Ben berdiri dari sebelah Marid dan melewati dia yang masih duduk menuju pintu keluar bus.


  


 Marid ikut dengan Ben menuju tempat gym Ayahnya.


 Di tempat gym sudah disana sedari tadi Good yang sedang bermain catur bersama dengan bodyguard bodyguard Ben yang sedang berjaga. Dia disana didepan tempat gym dan disisi lain ada Jun dengan notebook yang sedang ia terus perhatikan layar monitor dan mengetik sesuatu disana terlihat cukup serius.


"Kau sudah dengan pekerjaan mu?" tanya Good.

__ADS_1


"Belum" kata Jun.


"Kau asyik sekali dengan permainan mu" kata Jun.


"Aku tidak akan menyerah" kata Good.


 Di depan Good sudah ada lima bodyguard Ben yang bergantian bermain catur melawan Good dan ini sudah ke empat kalinya dia menang.


 Ini yang kelima kalinya dia bermain catur lagi.


"Bisa tidak kamu kerjakan sendiri pekerjaan mu!" kata Jun.


 Bob mendengar teriakan dari keponakannya dari dalam ponsel.


 Dia sedang makan malam dirumah.


"Tapi kau tetap membantu ku!" kata Bob.


"Sebentar lagi aku kirim hasil kerjaku" kata Jun.


"Aku akan ... " kata Bob.


 Ponsel Jun dimatikan disaat Bob akan berbicara lagi dengan keponakannya.


 Jun memasukkan ponselnya kedalam jaket yang ia pakai.


 Sepuluh detik kamudian, Ben dan Marid datang.


 Tak ada kata sambutan apapun ketika mereka datang karena semuanya sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.


 Marid segera ikut Ben masuk kedalam ruang pertama gym itu dan Ben pergi untuk mandi di salah satu kamar mandi di tempat gym dan Marid mengambil kamar mandi yang lain untuk mandi dengan air hangat yang juga tersedia disana.


"Kau punya shampoo?" tanya Marid.


"Ambil ini!" kata Ben.


 Dia memberikan shampoo kepada Marid lewat atas dinding pembatas kamar mandi.


 Ben mandi selama lima menit lalu keluar lebih awal dari Marid.


 


 Dia pergi dengan kaus hijau tie die dan celana casual biru tua.


 Dua menit kemudian Marid juga selesai mandi. Dia dengan kaus biru gelap dan celana biru gelap panjang keluar dari kamar mandi.


 Mengambil tas miliknya berjalan ke arah depan sambil mengeringkan rambut kepala.


 Memperhatikan kedua temannya yang sedang sibuk dengan diri mereka masing masing.


"Kalian tidak makan. Aku punya banyak makanan" kata Ben.


 Ben ada disebelah kanan Marid di dekat pintu masuk gym dan tak ada jawaban.


"Kita memang hantu. Mereka tak melihat kita" kata Ben.


"Ayo kita makan!" kata Ben.


 Dia mengajak Marid untuk makan malam.


 Berbagi makan malam.


 Tenang damai.


 Dua Sendok suap makan nasi dengan lauk ikan. Ben.


 Marid sedang makan telur rebus dan tumis sayur pedas tidak lupa satu sendok nasi ia ambil dalam piring.


 Jun sedang menaruh notebook miliknya ke dalam tas. 


"Akhirnya, selesai juga" kata Jun.


 Jun masuk kedalam ruang pertama mendapati kedua temannya sedang makan malam.


 Berdiri disana.


"Kau sedang apa. Ayo kita makan" kata Ben.


"Siap!" kata Jun. 


 Jun ikut bergabung makan malam.


"Good masih main catur?" tanya Marid.


"Ya" kata Jun.


 Marid terdiam.


  Sebuah bayangan hitam muncul disisi mata sebelah kiri Marid. 


 Mengamati sekitar ruangan itu.


 Berbicara dalam hati.


"Apa tadi?" tanya Marid.


"Mungkin aku sedang mengantuk" kata Marid.


 Cahaya putih muncul disisi mata kirinya.


"Warnanya sekarang berubah" kata Marid.


 Marid masih dengan ujung sendok di mulut dengan tangan masih memegang sendok sambil berpikir tentang hal ini.


"Kau kenapa lagi?" tanya Ben.


"Tidak" kata Marid.


 Good datang dengan senyum cerah kemenangan lagi.


"Kau menang lagi?" tanya Ben.


"Begitulah" kata Good.


"Bergabunglah dengan kami" kata Ben.


 Good juga ikut bergabung makan malam bersama.


 Dia mengambil sedikit makanan yang ada di meja.


"Sedikit sekali" kata Ben.


"Tadi sebelum kemari aku sudah makan" kata Good.


"Darimana saja kalian?" tanya Good.


"Tadi menjenguk Jimmy" kata Marid.


"Jimmy!" kata Jun.


"Ekspresi mu mewakili ku" kata Marid.


"Apa yang terjadi?" tanya Jun.


 Dia melirik ke arah Ben.


"Ada apa denganku. Dia yang ingin ikut sendiri" kata Ben.


 Dia makan tumis brokoli dengan daging sapi.


"Ini aneh. Benar kan?" tanya Good.


 Good memberi tumis sayur untuk Jun didepannya.


"Ya bisa dibilang begitu meski kita tahu dia juga teman satu sekolah kita" kata Good.


"Lalu bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Jun.


 Jun membagi ikan bakar untuk Marid.


"Dia mulai membaik" kata Marid.  


"Aku sudah melihatnya tadi sepulang sekolah setelah menjenguk Sima" kata Jun.

__ADS_1


__ADS_2