Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 105: Mungkin Ya, Mungkin Tidak.


__ADS_3

Chapter 105: Mungkin Ya, Mungkin Tidak.


"Hari akan gelap cepat pulang" kata Wayne.


 Wayne pergi.


 Sima masih disana melihat koala koala yang ada di pohon pohon sedang saling merangkak lucu.


 Dirumah sakit Red masih berada disana.


 Red mendapatkan pesan dan juga Jun serta Ben juga mendapatkan pesan yang sama.


"Kita pulang dulu. Sorry" kata Jun.


 Mereka bertiga pergi dari ruang rawat Wren.


 Energi merah menyala dari dalam raga Sima semakin menekan psikologis gadis ini.


 Dia pulang di hari akan benar benar gelap garis kantung mata yang lebam dan mata memerah.


 Separuh energi dari dalam tubuh gadis ini telah berubah membiru seperti energi yang dimiliki oleh Red, Ran, dan juga Jimmy kira kira seperti itu.


 Di lain tempat Wayne sedang ada didalam rumah sepupunya memeriksa apa telah terjadi sesuatu disana tanpa sepengetahuan darinya. 


"Jika Kak Flow telah pergi lalu bagaimana dengan saudari ku?" tanya Wayne.


 Dia menyentuh lantai yang kering dan baik baik saja jika dilihat dengan mata manusia pada umumnya tapi dia kemudian mengaktifkan kembali mata putih yang ia miliki membaca sesuatu yang telah tertutup oleh ulah seseorang. 


"Ini tidak benar!" kata Wayne.


 Wayne menggunakan teleportasi dan segera kembali kepada temannya yang masih di sebuah  tempat wisata.


 Sima hampir saja pingsan setelah melihat Wayne muncul di depannya.


"Aku tidak gila" kata Sima.


 Wayne segera menarik membawa Sima mengaktifkan kembali kekuatan teleportasi miliknya serta membawa gadis yang ia pegang tangan kanannya pergi ke suatu tempat.


"Bisa kau jelaskan maksud semua ini?" tanya Sima.


"Sudah tidak ada waktu lagi!" kata Wayne.


 Wayne menarik tangan Sima untuk menyentuh sebuah meja studi yang tidak terdapat apapun diatas sana.


"Kenapa ini tidak muncul lagi?" tanya Wayne.


 Sima masih tidak percaya dia sedang ada dimana yang jelas dia ada di sebuah ruang serba putih tanpa apapun disana selain meja itu dan dia serta Wayne.


 Energi tubuh milik Sima kian berubah menjadi membiru.


 Dan kali ini Sima melihat lagi energi ini.


"Kamu juga melihat ini?" tanya Sima.


"Sudah ku bilang tidak ada waktu lagi" kata Wayne.


 Buku yang Wayne maksud belum juga muncul didepan mereka dan dia mulai panik.


 Sima akan melepaskan tangannya dari Wayne.


"Sabarlah. Kau akan menolong mereka!" kata Wayne.


 Wujud dari buku itu sedikit demi sedikit muncul dari bawah telapak tangan kanan Sima dengan cahaya biru keluar menjadi cahaya yang terbang diantara mereka ada disana didepan meja studi itu.


 Sebelum Sima melakukan hal ini beberapa orang sudah mencoba melakukan ini sebelum nama mereka tertulis didalam halaman buku itu. Namun, belum berhasil baik itu Red, Radan, Jun yang juga muncul dari salah satu halaman buku itu.


 Buku itu kemudian membuka halamannya sendiri dengan sangat cepat menulis sebuah nama.


"Sima!" 


 Sebuah kata mengisyaratkan bahwa seseorang memanggil nama Sima dengan penuh amarah.


 Wayne langsung menaruh kembali telapak tangan Sima diatas buku itu sebelum nama gadis ini terhapus dengan sendirinya.


 Sima mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya disaat hal itu ia lakukan. 


 Dan dia juga menangis bukan tanpa alasan.


 Dia melihat sesuatu yang baru bisa ia lihat selama ini bahwa jalan hidup yang ia jalani jauh lebih beruntung dari dirinya sendiri.


 Semua kesedihan yang di alami oleh orang orang yang pernah tertulis didalam buku itu muncul di mata Sima.


 Dia juga melihat betapa sedihnya kepedihan yang dialami oleh Dree, dia juga salah satu nama yang ada disana muncul di hari persis setelah ia meninggal.


 Hatinya berkata tentang kisah Dree yang ia lihat di akhir hidupnya.


"Maaf" kata Sima.


"Aku sangat jahat padamu" kata Sima.


"Maaf. Dree!" kata Sima.


 Buku itu kembali tenang dengan cahaya yang mulai menghilang dari sekitar mereka cahaya yang ditimbulkan oleh buku itu.


 Keadaan kembali jauh lebih stabil dan Sima sudah didepan rumahnya sendiri.


"Dimana Wayne?" tanya Sima.


 Dia melihat ke arah sekitar rumahnya berputar mencari remaja laki laki itu.


 Dengan tangan masih gemetar dia mencari ponselnya yang ada didalam tas sekolah.


 Dia mencoba menghubungi Wayne.


"Wayne!" kata Sima.


"Ya" kata Wayne.


"Dimana kamu sekarang?" tanya Sima.


"Aku. Aku bersama sepupuku, kenapa?" tanya Wayne.


"Oh. Tidak" kata Sima.


 Dia langsung menutup ponsel tak melanjutkan berbicara lagi dengan Wayne.


 Dia baru sadar bahwa buku itu ada dibawah kakaknya tepatnya berada didepan kedua sepatu yang ia pakai.


 Sima mengambil buku itu segera ia membuka tiap halaman buku tersebut satu persatu dan tetap saja tak ada tulisan apapun didalam sana.


"Aku yakin aku tadi bersama dengan Wayne" kata Sima.


"Tapi, sekarang apa yang sebenarnya telah terjadi padaku?" tanya Sima.


 Buku itu adalah buku berwarna klasik seperti buku notes berwarna krim kecoklatan tiap halaman dengan sampul cokelat tua dan tali pembatas berwarna merah seperti sebuah pita sebagai pembatas buku.


 Sebuah buku yang sama seperti dulu juga datang kepada Flow dengan sendirinya.


 Dia dengan cepat memasukkan buku itu kedalam tas sekolah dan pergi menuju pintu rumah depan. Namun, ia segera pergi dari sana menuju dimana Wayne ada disana. 


"Aku harap aku belum terlambat" kata Sima.

__ADS_1


 Wayne sudah membuat janji bertemu di sebuah tempat dan itu adalah tempat ini tepat didepan area pemotretan yang dilakukan oleh Jun dan Red serta Ben.


 Di sebuah toko cokelat Wayne sudah menunggu Sima.


 Red hanya melihat sepupunya keluar dari ruang studio disaat ia sedang bekerja.


 Sima sudah datang.


"Katanya mau bicara dengan ku. Kenapa tidak lewat ponsel saja?" tanya Wayne.


"Tidak bisa. Aku harus menanyakan sesuatu padamu secara langsung" kata Sima.


"Ok. Aku akan dengarkan, silahkan cerita" kata Wayne.


 Sima mengambil buku yang tadi ia temukan dan ia anggap buku itu ditemukan bersama dengan Wayne.


"Buku?" tanya Wayne.


"Ya. Tadi, aku menemukan ini bersama denganmu" kata Sima.


 Wayne menerima buku dari Sima memeriksa.


 Buku itu kemudian ia kembalikan kepada Sima.


 Wayne menunjukkan bahwa dia tidak tahu maksud dari perkataan dari gadis yang ia kenal itu.


"Kau mau cokelat aku sedang memesan beberapa kotak?" tanya Wayne.


"Tidak" kata Sima.


 Wayne menerima tiga kotak besar cokelat yang sudah di pesan sebelumnya sebelum Sima datang di toko dibelakang Wayne.


"Terima saja. Cokelat disini cukup enak" kata Wayne.


 Sima menerima cokelat dari Wayne.


"Tapi, ini ... " kata Sima.


 Jendela taksi disebelah Sima berada dibuka dia Sima melihat ke arah Wayne.


 Wayne pergi setelah membukakan pintu taksi yang ia pesan untuk membawa pulang Sima.


 Taksi itu membawa pulang Sima.


 Jimmy datang untuk menjemput Red dengan mobil miliknya.


 Turun dari mobil berpapasan dengan Wayne.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Wayne.


"Menjemput pacarku" kata Jimmy.


"Pacar mu yang mana?" tanya Wayne.


"Red" kata Jimmy.


 Wayne menahan rasa marah dengan jawaban sahabatnya itu tangannya hampir saja melayang menghantam wajah remaja laki laki itu.


"Aku takkan membuat mu menghajar wajahku" kata Jimmy.


"Kapan kau ingin?" tanya Wayne.


"Kamu pikir dia sama seperti gadis gadis ku yang lain" kata Jimmy.


"Gadis ku yang lain!" kata Wayne.


 Perkelahian akan terjadi dan dicegah oleh para petugas keamanan disana di studio tersebut yang sedang berjaga.


 Waktu berhenti sejenak.


 Serpihan kaca datang seketika mengarah Jimmy bukan Wayne tapi tetap saja Wayne ada di dekat Jimmy dan dia terkena serangan ini.


 Kaca kaca penuh api berjatuhan ke tanah menghajar energi pelindung milik Wayne dan Jimmy.


"Siapa yang menyerang kita?" tanya Wayne.


"Aku tidak tahu" kata Jimmy.


"Pacar mu?" tanya Wayne.


"Semua pacar ku tidak seperti ku" kata Jimmy.


 Waktu kembali berjalan seperti mestinya.


 Seseorang dengan bayangan datang dengan sangat cepat menusuk Jimmy.


 Pedang berwarna emas dengan tali yang berwarna emas pula tertancap di pundak kanan Jimmy dengan cepat pelaku mencabutnya dan pergi menghilang di tempat itu pula.


 Dalam satu detik ya satu detik dia mendapatkan luka itu.


 Jimmy langsung tumbang.


 Wajahnya merintih kesakitan membiru energi positifnya menghilang dengan cepat dari bekas luka baru di atas pundaknya.


"Aaaaaaaaaaaaaa!" 


 Jimmy berteriak keras orang orang datang melihat darah keluar deras dari pundak Jimmy. Itulah yang dilihat oleh mereka tidak dengan Wayne.


"Aku butuh Sima. Cepat panggil dia!" kata Jimmy.


"Sima?" tanya Wayne.


"Cepat!" kata Jimmy.


 Red datang dengan gaun merah yang ia pakai setelah pemotretan bersama dengan Jun dan Ben.


 Melihat Jimmy yang sedang sekarat.


 Wayne sedang mencari taksi dan Bob datang.


"Naik ke mobil ku!" kata Bob.


 Bob membawa Jimmy untuk pergi ke rumah sakit.


"Kau tidak ikut dengan Jimmy?" tanya Jun.


"Apa dia semanja itu?" tanya Red.


 Dia balik lagi diruang studio untuk melanjutkan pemotretan lima menit lagi.


 Ben dan Jun agak heran dengan apa yang Red katakan.


 Kedua remaja laki laki ini juga pergi menyusul Red untuk menyelesaikan tugas yang belum selesai.


 Didalam mobil.


 Jimmy sedang terus kehilangan energi kekuatan yang ia miliki.


 Bob tidak tahu dan melihat energi yang Jimmy maksud yang ia tahu bahwa darah dari pundak Jimmy mengalir begitu deras padahal bisa dilihat luka itu hanya berukuran lima sentimeter dari yang ia lihat.


"Ku dengar kau akan mati jika gadis itu pergi?" tanya Bob.

__ADS_1


 Wayne mulai curiga tapi memang benar apa yang dikatakan oleh orang yang sedang menyetir mobil hitam artis aktor terkenal itu.


"Apa kau juga akan memarahi ku?" tanya Jimmy.


"Kau diam saja padahal sedang sekarat!" kata Wayne.


 Wajah Jimmy pucat karena kehilangan banyak darah.


"Panggil kan Sima" kata Jimmy.


"Aku?. Panggil sendiri saja" kata Wayne.


 Sudah terlihat jelas dia ogah dengan permintaan dari sahabatnya itu.


 Bob terlihat tertawa mendengar obrolan mereka.


"Panggil dia!" kata Jimmy.


"Tidak perlu membentak Bro!" kata Wayne.


 Dia juga membentak Jimmy dan sama saja tak jauh berbeda.


 Untuk Sima yang masih dalam perjalanan pulang ke rumah.


"Bisa antar ke perpustakaan kota?" tanya Sima.


 Driver taksi tersebut menjawab, dan berkata "Baik, Nona".


 Rute perjalanan ia ubah.


 Dia mendapat panggilan telepon dari Jimmy.


 Dia hanya melihat dan tidak menjawab panggilan dari Jimmy.


 Didalam mobil Bob.


 Wayne sedang mencoba menghubungi nomor ponsel Sima dengan ponsel milik Jimmy yang ia rebut paksa.


"Kembalikan ponsel ku" kata Jimmy.


 Wayne tidak mau mengembalikan ponsel Jimmy.


"Dia tidak mengangkat panggilan dari mu maka kau akan cepat mati" kata Wayne.


"Kau bisa berbagi kekuatan mu padaku kan?" tanya Jimmy.


"Tidak mau" kata Wayne.


 Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Sima lagi dan lagi lagi mendapat penolakan dari gadis yang sekarang Wayne hubungi.


"Ada apa?" tanya Sima.


 Dia mengirim pesan kepada Jimmy.


 Wayne kegirangan membaca pesan ini. Dia langsung membalas pesan tersebut.


"Aku akan mati, tolong aku!" kata Wayne.


 Wayne patuh dengan ponsel Jimmy dan Sima membalas lagi pesan darinya.


"Kamu tidak pernah akan mati!" kata Sima.


 Dan Wayne tertawa keras membacanya.


"Sorry sorry!" kata Wayne.


 Wayne mengirim alamat kemana Jimmy akan pergi kemana dengan berbagi lokasi melalui pesan dari ponselnya.


 Sima tidak membalas pesan itu dia hanya membacanya.


"Kau akan perlakukan dia seperti Sammy?" tanya Wayne.


"Ya" kata Jimmy.


"Cepat putuslah dengan Red" kata Wayne.


"Tidak" kata Jimmy.


"Jangan terlalu percaya diri. Kamu tidak terlalu berkuasa dalam banyak hal" kata Wayne.


 Kalimat terakhir yang Wayne katakan membuat suasana lebih seperti di dalam hutan belantara.


 Jimmy beserta Wayne dan Bob tiba di rumah sakit. Bob langsung kembali ke studio untuk memeriksa beberapa aktris pendatang baru miliknya sedang bekerja.


 Apa itu cinta, mungkin seperti ini.


 Dia tidak jadi pergi ke perpustakaan setelah mendengar bahwa seseorang tidak hidup lama. Itu yang ia tahu.


 Dia bersama dengan Wayne di luar ruang Unit Gawat Darurat menunggu Jimmy yang sedang mendapatkan tindakan pertolongan dari dokter dan para perawat.


 Wayne melihat ke arah Sima.


 Sima melihat ke kedua mata temannya itu.


 Tidak mau banyak bicara disaat seperti ini duduk di baris yang sama bersebelahan.


"Kau sedang buang buang waktu disini" kata Wayne.


"Dia memberi kabar padaku bahwa dia akan mati" kata Sima.


 Wayne tertawa dengan apa yang ia dengar dari Sima.


"Kau. Kau benar benar naif sekali" kata Wayne.


"Maksudmu, aku jauh lebih bodoh dari mu?" tanya Sima.


"Kau memang pintar dalam bidang akademis tapi tidak dalam bidang ini" kata Wayne.


"Malas sekali berbicara denganmu" kata Sima.


 Wayne menyandarkan kepalanya di tembok dibelakangnya duduk sekarang di deretan kursi besi depan ruang unit gawat darurat rumah sakit.


"Apa imbalan ku jika aku menolong mu?" tanya Wayne.


"Aku tidak butuh bantuan mu" kata Sima.


"Tapi aku harus menolong mu" kata Wayne.


 Sima kembali sibuk dengan kegiatan belanja online dari dalam ponsel.


 Dia sedang memilih beberapa buku yang akan ia beli yang juga ia sedang mencari buku buku yang ia maksud.


 Sepuluh menit berlalu.


"Jangan pernah kembali" kata Wayne.


"Ini tentang ku?" tanya Sima.


"Ya" kata Wayne.


 Sima mengekspresikan bahwa ia malas berbicara dengan Wayne.

__ADS_1


"Dia tidak mengirim pesan itu tapi itu aku" kata Wayne.


"Hebat" kata Sima.


__ADS_2