Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 59: Sparkling Friends


__ADS_3

Chapter 59: Sparkling Friends


"Dia tidak ingin pergi"


"Dia ingin tetap tinggal"


"Aku tak memiliki kuasa lagi"


"Dia benar benar ingin melepas ku"


"Dan aku masih berpura-pura semua akan baik-baik saja"


"Aku tidak tahu ada apa dengan diriku?"


"Kenapa aku bisa menangis?"


"Dia sudah pergi dari ku. Itu keputusan yang benar"


"Aku melihatnya duduk di depanku dan tak butuh waktu lama. Dia akhirnya pergi"


Suasana kafe yang belum terlalu malam seseorang dengan menu makanan yang sudah ia pesan belum tersentuh bahkan dia sudah ditinggalkan sebelum makanan makanan itu datang.


Langit malam yang terlihat mendung tak terjadi hujan yang terjadi adalah angin angin malam ini datang dengan jawaban jawaban singkat yang menusuk hati. Dia baru merasakan bahwa dia juga bisa merasakan kesedihan ini.


"Ternyata kau dulu orang yang sangat egois" kata Sima.


Tiga puluh menit berlalu dia ada disana. Sekarang, meja itu telah ditinggalkan oleh Sima.


Sew dan Red sedang membicarakan pekerjaan mereka.


Mereka sedang menyusun rencana lagi agar bisa menyadarkan hantu bergaun hitam itu menghentikan tindakan yang bisa merugikan dirinya sendiri dan tentu orang lain.


"Jika kita terlalu memaksanya untuk berhenti. Dia akan semakin tak bisa dikendalikan" kata See.


"Kau benar. Tapi, coba kita pikirkan lagi matang-matang. Aku rasa dia tidak melakukan semua itu" kata Red.


Maksud Red adalah dia berpendapat bahwa kematian yang terjadi pada teman teman Jimmy bukanlah ulahnya.


"Darimana kau yakin?" tanya Sew.


"Mungkin, Ini hanya intuisi ku saja. Tapi, kita sudah mencari bukti namun tetap saja. Dia tidak bersalah dalam hal ini" kata Red.


"Aku juga merasa heran untuk apa ketua memerintahkan kita menyelesaikan kasus ini. Sedangkan, banyak orang orangnya yang lebih hebat dari kita tidak diberi perintah ini" kata Sew.


"Aku sependapat dengan mu. Jika dia mau sejak dulu dia bisa melenyapkan hantu itu" kata Red.


"Tetap saja dia tidak berhak untuk di lenyapkan. Kita tahu, dia tidak masuk daftar hitam hantu jahat kita" kata Sew.


"Aku pernah mendengar kisah yang juga agak mirip dengan kasus ini. Dan dia tetap tak bersalah" kata Sew.


Mereka ada dirumah Flow.


Flow sedang ada dirumah sakit bersama Sammy seperti beberapa hari sebelumnya untuk ikut merawat ibunya Sammy.


"Oh ya. Kakak menginap disini saja. Ini sudah malam" kata Red.


"Ok" kata Sew.


Red yang juga sendirian dirumah merasa senang karena ada Sew ada disana.


"Oh ya kau bisa menggunakan kamar mandinya. Sudah bisa digunakan lagi" kata Red.


Tadi pagi pipa kamar mandi ada yang retak dan Red telah memanggil petugas yang bertugas membetulkan kran di kamar mandi yang juga masih kerabat dekat Red.


Malam ini Jax menemui temannya yang bekerja sebagai psikiater dirumah sakit tempat adiknya sudah memeriksakan kesehatannya di tempo hari.


"Apa aku menggangu mu?" tanya Jax.


"Aku sudah terbiasa" kata teman Jax.


Didalam ruang istirahat khusus untuk dokter, perawat , dan petugas petugas yang bekerja di rumah sakit.


"Tenang saja. Aku sedang shift malam. Kau mau bicara apa, katakan?" Kata teman Jax.


"Aku ingin bertanya apa adikku sudah lebih membaik?" tanya Jax.


"Aku sudah memeriksanya beruang kali. Hasilnya tetap sama dia baik baik saja" kata teman Jax.


Teman Jax melihat temannya itu sedang sedikit cemas.


"Sudahlah. Mereka masih remaja, jika nakal dia masih dalam batasan itu" kata teman Jax.


Sima ada didalam rumah di ruang studi.


"Hah. Obat ini bisa muncul lagi" kata Sima.


"Aku tidak tahu. Kenapa, aku harus meminum ramuan ini?" tanya Sima.


"Dan lagi kenapa tadi aku harus menyapa Jax. Ini bukan diriku" kata Sima.


Sima masih belum terbiasa dengan efek obat yang Red berikan kepada gadis ini. Menjadi seseorang yang baru, dia juga belum percaya dia bisa berbuat itu.


"Itu membuatku terlihat lemah di mata orang lain" kata Sima.


Sima mengambil salah satu buku di perpustakaan di ruang studi rumah.


Dia mengambil kursi naik keatas kursi yang ia sudah periksa aman untuk nya naik menggunakan kursi tersebut lalu kemudian mengambil buku yang ia cari yang berada di baris paling atas rak buku di depannya.


"Ini buku yang aku cari" kata Sima.


Hantu bergaun hitam menyelinap datang disela sela rak buku dengan perwujudan asap hitam terbang mengitari seluruh ruangan dan mengelilingi gadis yang sedang membaca buku disana.


Dia berubah wujud menjadi hantu yang sempurna dengan gaun hitamnya itu langsung menyeret Sima melalui lehernya itu dengan tanpa ampun.

__ADS_1


Sima terkejut dengan apa yang ia alami saat itu juga. Hantu itu semakin tak memberi ampun kepada gadis ini.


Hantu itu terus menekan leher Sima lebih kejam dengan satu kali cekikkan darah keluar dari mulut Sima. Piyama putihnya kini kotor terkena noda darah yang keluar dari mulutnya itu.


Tak tinggal diam, Sima juga berupaya untuk membela diri dari amarah dendam si hantu.


Usahanya untuk membela diri sia sia.


Kini ia terlepas dari tangan si hantu lalu selanjutnya apa yang ia dapatkan adalah sebuah kaki penuh nanah darah membusuk menginjak sisi kanan kepalanya.


Sima sedang bertahan.


"Kau tidak bisa membunuh ku" kata Sima dengan suara tertawa.


Kaki hantu itu bertambah menekan menginjak wajah kepala Sima. Gadis ini semakin sulit untuk bisa bertahan.


"Kau masih bisa tertawa?" tanya si hantu kepada gadis ini.


Sima dengan sisa energi yang ia miliki menjawab pertanyaan dari hantu tersebut, dan dia berkata "Ya. Karena, aku belum mati".


Kaki hantu bergaun hitam itu mengeluarkan asap berwarna merah.


Diruangan itu seperti tercium bau daging busuk yang terbakar.


Hantu itu merasakan ada rasa panas di kakinya yang sedang menginjak kepala Sima. Dia akhirnya melepaskan kakinya dari kepala gadis itu.


Selanjutnya, kakinya belum juga berhenti mengeluarkan asap ketika ia sudah melepaskan kakinya dari kepala Sima tadi.


Sima mulai bangkit dengan luka di wajah menarik diri menjauh dari hantu itu.


Saat ia sudah bisa bersandar di dinding dekat tirai cokelat jendela ruang studi. Dia menatap kearah hantu yang tadi menyerangnya.


Kaki sebelah kanan hantu itu langsung terbakar didepan Sima yang berjarak tiga meter ia duduk bersandar di dinding. Api menjalar di tubuh hantu itu dan dia menghilang.


Sima menghela napas dan berusaha bangkit berdiri dari duduknya.


Tak ada suara apapun semua terasa hening tenang kembali.


Sima batuk beberapa kali dan darah dari dalam mulutnya masih keluar meski itu lambat.


Ramuan itu muncul di tangan Sima dengan tiba-tiba menyala dengan cahaya merah.


"Tangan ku tidak bisa dihentikan" kata Sima.


Dia tak bisa menghentikan tangan kanannya untuk tidak membuka botol ramuan itu.


Botol ramuan itu ia buka dan satu tetes ramuan itu ia dapatkan diminum oleh gadis ini.


Red yang sedang bermeditasi di sebelah Kanan Sew merasakan bahwa ramuan obat yang ia berikan kepada Sima sudah mulai bereaksi lagi.


Waktu kembali di saat pulang sekolah.


Bee sedang menelepon Good.


"Ponselnya masih aktif" kata Bee.


Ini yang kedua kalinya, dia belum menyerah.


"Apa dia sedang tidak bisa diganggu" kata Bee.


"Ini yang ketiga kalinya, jika dia tidak mengangkat panggilan dariku berarti dia sedang sibuk" kata Bee.


Dan untuk yang ketiga kalinya, Good tak menjawab panggilan telefon dari Bee.


"Aku terlihat seperti budak cinta saja" kata Bee.


Bee akan pergi ke sebuah pusat penjualan makanan yang dibuka sejak pukul empat sore. Dia sudah dengan tas dan baju casual dengan rok merah muda maxi dan kaus putih bergambar kucing cokelat dan rambut di biarkan tidak terikat serta sepatu sport hitam bertali putih.


Didepan rumah.


"Aku ingin naik bus sajalah" kata Bee.


Driver pribadi Bee datang menghampiri.


"Nona mau pergi kemana, saya sudah siap mengantar?" tanya Driver pribadi Bee.


"Aku ingin naik bus saja. Paman dirumah saja" kata Bee.


"Kata Bapak, kalau saya tidak mengantar Nona. Saya bisa langsung berhenti bekerja" kata Driver pribadi Bee.


Bee merasa bersalah jika itu terjadi kepada Driver pribadinya yang sudah bekerja sejak ia masih sekolah dasar.


"Ok. Antar saya di pasar malam dekat sekolah ku" kata Bee.


Bee sedang menghubungi Red dan Sammy.


"Semuanya sedang sangat sibuk. Apa hanya aku yang selalu santai" kata Bee.


Driver Bee sudah mengeluarkan mobil dari parkiran rumah dan keluar dari mobil kemudian membukakan pintu mobil sebelah kanan di kursi belakangnya untuk Bee.


Bee masuk kedalam mobil, mobil ditutup kembali oleh drivernya lalu dia kembali masuk ke kursi mengemudi lalu mengantar Bee ke tempat yang Bee inginkan.


Dalam perjalanan menuju pasar malam.


Dua menit kemudian.


"Nona ingin memutar lagu apa?" tanya Driver Pribadi Bee.


"Lagu jazz kesukaan ku seperti biasa" kata Bee.


"Siap. Nona" kata Driver pribadi Bee.


Lagu jazz di putar didalam mobil. Bee menikmati lagu yang sedang di putar didalam mobil menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Nanti kita memarkir mobilnya didepan kafe ibu saja" kata Bee.


"Ok. Bagaimana kalau saya ikut Nona dari arah belakang?" tanya Driver Pribadi Bee.


"Ya" kata Bee.


Butuh lima belas menit untuk sampai di tempat tersebut.


Ben dan Jun sedang memperhatikan temannya yang sedang sibuk dengan banyak pesanan secara online di usaha baru yang sedang ia bangun sendiri itu.


Jun sedang makan donat rasa keju sedangkan untuk Ben memakan donat rasa daging panggang.


"Kau benar tidak mau pergi dengan kami?" tanya Ben.


"Ya" kata Good.


"Ya sudah. Kami tidak akan memaksa" kata Jun.


Jun yang sedang libur bekerja mengajak Ben dan Good untuk pergi ke pasar malam. Tapi, dia tidak bisa mengajak Good untuk pergi bersama mereka.


"Kita pergi" kata Ben.


"Beneran ini?" tanya Jun.


Jun meledek temannya lagi.


"Kami di tempat biasa. Kau bisa menyusul" kata Ben pergi dari dapur restoran milik Ibunya Good.


Setelah sudah memarkirkan mobil di depan kafe ibunya. Bee mulai berjalan kaki disana diikuti oleh driver pribadinya untuk menjaganya dari arah belakang.


Disana banyak orang orang yang datang dari berbagai usia semuanya ada disana.


"Wuihhhhhh ramai" kata Bee.


Banyak orang orang berswafoto begitu juga dengan Bee.


"Aku akan melakukan hanya satu kali saja" kata Bee.


Bee membeli satu cup mango juice di salah satu kedai yang ada di pasar malam tersebut. Dia mengambil satu kursi dari kedai tersebut duduk agak masuk kedai tapi tetap terlihat dari arah Drivernya yang sedang mengawasinya.


"Aku akan memposting foto ku tadi" kata Bee sambil meminum mango juice dengan tangan kanan.


"Apa yang harus aku tulis di foto ku ini" kata Bee.


"Aha. Aku punya ide" kata Bee.


Bee sudah memposting fotonya di salah satu akun sosial medianya.


"Aku cantik banget" kata Bee.


Dia menuliskan kalimat itu di keterangan foto yang ia posting barusan.


Dia mendapat like pertama dari Good. Kemudian, disusul teman teman yang lainnya yang mengikuti akun sosial media Bee.


Dia tidak hanya mendapat banyak pujian tapi juga hujatan.


"Sombong banget kamu" kata salah satu orang yang berkomentar pada fotonya.


Bee tak peduli. Dia tidak membalas komentar itu.


"Memang aku cantik. Aku masa harus bilang jelek, aku kan sedang jujur" kata Bee.


Bee juga membeli beberapa jajanan jalanan di kedai yang ada di sebelahnya.


"Saya ambil ini dan ini" kata Bee.


Satu piring makanan laut dan olahan daging siap di bakar setelah barusan sudah di marinasi dengan bumbu racikan pedagang sendiri.


Makanan yang Bee pesan sedang di bakar di bara api.


Bee menunggu beberapa menit agar makanannya siap di makan.


Makanan yang ia pesan sudah datang.


Dia siap dengan sarung tangan plastik yang tersedia di kedai tersebut.


"Wah. Rasanya tetap sama, masih lezat" kata Bee.


Nenek penjual makanan itu melihat kearah Bee tersenyum senang karena Bee sedang menikmati makanan yang ia buat.


Lima menit disana melihat orang orang yang lewat. Dia sudah tenang kalau dia lagi makan.


Suara langkah sepatu begitu cepat dari arah barat. Bee sedang duduk menghadap utara di kursinya.


Dia melihat dari arah dia sekarang. Ya, dia melihat dua orang sedang dikejar oleh gerombolan remaja yang terlihat seusia dengan mereka.


"Mereka tidak tawuran lagi kan?" tanya Bee.


Jun dan Ben sedang berlari cepat dengan sekuat tenaga melarikan diri dari musuh mereka dari sekolah lain.


Mereka semua melewati Bee yang sedang bersantai.


Jun dan juga Ben melihat kearah Bee yang terlihat tak peduli dengan urusan mereka itu.


"Ku rasa ide itu menarik" kata Jun saat tiga langkah melewati Bee.


Dia berteriak menunjuk kearah Bee dan berteriak keras menyebut nama Bee.


Semua tahu kalau Bee memang sudah terkenal dan menjadi salah satu ratu di media sosial karena kecantikan natural yang ia miliki.


Benar saja semua remaja remaja itu berhenti seketika ketika mendengar Jun menyebut nama Bee di depan mereka.


Driver pribadi Bee ada disana dan juga pengawal rahasia yang sudah bermunculan dan dilihat oleh Bee.

__ADS_1


"Pasti ini ulah anak itu" kata Bee.


__ADS_2