
Chapter 75: Jangan Cemas. Aku Tidak Akan Pergi.
Sew dengan leher yang masih terikat dengan mantra penghilang kekuatan milik seorang pria berbaju serba hitam.
Kedua tangan dan kakinya juga terikat dengan mantra yang sama dengan mantra yang mengikat leher wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu.
Mulutnya tak bisa berbicara akibat ulah pria itu meski ia berbicara tak ada yang bisa mendengarnya. Dia terkena mantra yang bisa membuat orang menjadi tak bisa berbicara.
Red mulai memasuki pintu rumah yang sudah terbuka sekitar empat puluh derajat.
Red masuk kedalam rumah.
Ia melihat televisi yang masih menyala di ruang yang bersebelahan dengan ruang tamu dengan penyekat kayu berukir dengan tema dedaunan dan bunga.
"Kak Sew" kata Red memanggil.
Dia belum mendapat tanggapan.
"Apa kau dirumah?" tanya Red.
Suara Red terdengar oleh Sew yang ada didalam kamarnya yang sengaja di tutup oleh penyandera.
Penyandera Sew sudah memasang jebakan didalam kamar Sew.
Gadis itu semakin mendekat ke arah kamar Sew.
Sew mendengar suara langkah kaki Red.
"Ku mohon jangan datang kemari" kata Sew.
Tubuhnya semakin tak berdaya dengan mantra yang diterima oleh Sew.
Sew dengan wajah penuh darah dan rambut yang sudah acak acakan serta baju kantornya yang sudah kotor terkena darahnya sendiri ada disana di samping tempat tidur berada di lantai. Dia duduk di bawah sana.
Red melihat ruang pribadi Sew yang terlihat tampak rapi dan dalam keadaan baik baik saja.
Red akan masuk kedalam ruangan itu.
"Jangan kemari. Pergi" kata Sew.
Namun, ia mengurungkan niatnya lalu berbalik meninggalkan ruang pribadi Sew tanpa masuk kedalam ruangan yang pintunya terbuka sejak Red datang.
"Bukankah ini aneh?" tanya Red didalam hati.
Dia berbicara dengan Bling.
Red tidak bisa melihat Sew yang masih terpengaruh oleh mantra jahat disana sedang dalam keadaan yang mulai tak berdaya dengan luka luka dan mantra yang menyiksa.
Penyandera itu sedang duduk di bagian dalam ruangan itu menunggu sampai gadis itu datang ke kamar Sew.
Red mengambil permen lolipop didalam saku baju seragamnya kemudian membuka bungkus permen itu dan mengantongi bungkus plastik permen tersebut kedalam saku roknya.
Penyandera Sew langsung keluar menyerang Red.
Tameng pelindung gadis ini segera muncul.
Tebasan pedang itu hampir saja melukai punggung Red.
Serangan itu gagal melukai tubuh bagian belakang gadis didepan penyandera itu.
Red masih menahan serangan darinya.
Red berbalik kemudian dengan limit detik waktu menghadap wajah penyandera itu.
Kilatan cahaya keluar dari tangan Red lalu menyerang penyandera yang akan mengarahkan pedangnya lagi kepada Red.
Penyandera Sew langsung lenyap menghilang di udara tak meninggalkan jejak sama sekali.
Mantra yang di terima oleh Sew langsung lenyap dan kini Sew sudah terlihat kembali oleh Red yang ada di luar pintu kamar Sew.
Dia melihat Sew yang terluka dibagian kepala dan bagian tubuh lainnya akibat penyanderaan barusan.
Red langsung berlari menuju Sew.
"Kau terlihat tidak baik baik saja" kata Red.
Red membantu Sew untuk bangun dari bawah tempat tidur.
"Kita kerumah sakit sekarang" kata Red
"Aku akan mengobati diriku sendiri" kata Sew.
"Aku tahu kamu sangat hebat. Tapi, kekuatan mu hampir diserap habis oleh hantu tadi.
"Aku baik baik saja" kata Sew.
"Coba ku periksa tubuh mu" kata Red.
Red menyentuh kening Sew.
"Level energi mu sangat lemah. Kau tidak bisa menyembuhkan dirimu sepenuhnya" kata Red.
Red secara paksa memaksa wanita itu untuk pergi ke rumah sakit agar ia bisa segera diselamatkan.
Taksi sudah dipanggil datang didepan rumah Sew.
Red membantu Sew untuk berjalan ke arah taksi.
"Kenapa kau mau repot repot?" tanya Sew.
"Bisa tidak menurut kali ini saja" kata Red.
Sew tertawa dengan kata yang di ucapkan oleh Red.
"Jangan tertawa. Apa kau tidak merasakan sakit" kata Red.
"Cepat antar aku dan kembalilah ke tempat asal mu" kata Sew.
"Kau berkata kasar. Aku kira orang seperti mu tidak bisa" kata Red.
Mereka berdua di kursi belakang Driver taksi tersebut.
Perjalanan ke rumah sakit membutuhkan banyak waktu yang sudah jelas akan mengganggu waktu belajar Red di sekolah.
Sew melihat kearah Red kemudian dengan sisa energi yang ia miliki menyentuh pergelangan tangan Red lalu mengirimnya kembali ke sekolah.
"Kenapa?" tanya Red.
Dia sudah di belakang ruang laboratorium komputer dan disana sudah ada Jun.
Sedangkan untuk Sew dia menggunakan kekuatannya sedikit untuk menghilangkan ingatan driver taksi yang sedang mengantar Sew pergi kerumah sakit menghapus ingatan setelah baru saja ia melihat Red menghilang tiba tiba di kursi belakang taksi.
"Ini untuk mu!" kata Red.
Red memberikan satu permen lolipop kepada Jun.
Dia mengikuti Red kemana gadis ini pergi.
"Jangan mengikuti ku. Orang orang akan membicarakan mu" kata Red.
__ADS_1
"Siapa. Aku hanya pergi ke kelas" kata Jun.
Jun berjalan di belakang Red yang juga akan pergi ke kelas.
"Apa ini adil untuk mu?" tanya Jun.
"Adil. Kita melihat dari sisi manusia. Ini tidak adil" kata Red.
"Kenapa kau masih begitu tenang?" tanya Jun.
"Aku hanya bisa bertahan" kata Red.
"Bukankah ini terlalu kejam" kata Jun.
"Sebelum mereka datang aku bisa hidup lalu setelah mereka datang aku juga bisa melanjutkan hidup" kata Red.
"Kau seperti motivator" kata Jun.
"Bukankah kau jauh lebih cerdas dariku. Kenapa terus memuji ku?" tanya Red.
"Apa salah jika ingin mengobrol dengan mu?" tanya Jun.
"Terserah Tuan Muda saja" kata Red.
Jun melihat ke arah Red dia melihat senyum itu lagi. Dia seperti merasakan nostalgia disaat bersama dengan Red.
"Dia melihat Red" kata Bling.
"Apakah dia tahu bahwa aku ada di raga Red?" tanya Bling.
Saat ini Bling tidak mengendalikan raga Red. Jun tersenyum dengan senyum yang biasa ia berikan kepadanya dulu.
"Aku sampai lupa menanyakan ini kepada Jun" kata Red.
Red membalas senyum remaja laki laki itu.
"Apakah kita punya waktu untuk itu?" tanya Red.
"Kita tak punya waktu untuk itu" kata Bling.
"Jangan sedih kita masih sangat muda" kata Red.
Bel sekolah berbunyi kedua remaja ini bersama menaiki tangga sekolah menuju ke kelas mereka.
Di tangga sekolah.
"Aku tidak akan menjaga mu. Jadi, berjalanlah dengan hati hati" kata Jun.
Jun kemudian pergi lebih cepat dari Red ada disana.
"Itu pria yang kau suka?" tanya Red.
"Dia memang seperti ini" kata Bling.
"Mungkinkah. Disana aku melihat seseorang lebih mengisi hatimu" kata Bling.
Orang yang ia maksud adalah Ran.
Red sudah berada di depan kelas tanpa ragu dengan melihat sorot mata mata yang menekan keberadaan Red ada disana. Dia tetap berusaha tenang dan cool ada di circle ini.
Dia berjalan masuk kedalam kelas melewati teman temannya itu.
"Aku hanya bisa bilang bahwa aku harus tetap melanjutkan hidup ini" kata Red.
Gadis ini melihat ke arah Jun yang sedang membaringkan kepalanya diatas mejanya.
Sima ada di kursi di samping Jimmy sebelah kanan di baris kedua kursi di kelas.
Dia mengambil langkah berbeda disaat Sima mencoba membuatnya terjatuh karena kakinya yang sengaja menghalangi gadis ini untuk menuju di kursinya sendiri.
Red tidak berbalik menatap Sima. Namun, yang jelas Jimmy melihat kejadian ini dan dengan datar menahan tawa kepada pacarnya itu.
"Ku rasa dia sudah minum obat" kata Bling.
Dia berbicara tentang Sima.
"Kita sudah tahu itu. Dia nampak baik baik saja padahal tidak" kata Red.
Gadis ini kembali duduk di kursinya dengan tanpa hambatan dan ia damai damai saja disana mengikuti mata pelajaran selanjutnya.
"Kenapa dia tak terusik sama sekali?" tanya Sima tentang Red.
Semua mata yang menatap Red disetiap mereka inginkan seakan membenci dan muak melihat apapun yang dilakukan oleh Red sejak kejadian itu.
Sebagian banyak dari mereka juga tidak membuat banyak obrolan dengan gadis ini dan tentunya kabar ini juga menyebar di luar kelas yang semakin memperkecil gerak Red didalam menjalankan aktivitas di sekolah. Dari arah kanan, kiri, depan, dan belakang bagai ingin menyerang dimanapun Red ada di sekolah.
Di kantin sekolah.
"Jangan peduli kan mereka" kata Jun.
Jun memberikan ayam goreng miliknya.
Marid yang melihat ini merasa ini sudah kelewatan.
"Bagaimana kalau aku seperti yang mereka bicarakan?" tanya Red.
"Makanlah makanan mu. Kita akan mencegah hal itu agar kau tidak melakukan hal semacam itu" kata Marid.
"Dimana Good?" tanya Wren.
"Dia sedang bersama Bee mempersiapkan lomba olahraga yang akan datang" kata Jun.
Red memakan makanan yang ia pesan dari kantin.
"Dimana Ben?" tanya Marid.
"Itu dia baru muncul" kata Jun.
Ben datang lalu pergi setelah membeli kudapan tanpa berbicara apapun kepada teman temannya yang ada di kantin.
Lalu dia kembali dan duduk di kursi disebelah kiri Red.
Ben diam disana memakan makanan yang ia beli barusan.
"Wajahmu seperti Pamannya Jun" kata Marid.
"Berhenti menghina ku. Dia terlalu keren" kata Ben.
"Kau tidak makan?" tanya Wren.
"Tidak. Dewa langit" kata Ben.
"Katakan kepada dewa langit. Apa yang kamu keluhkan?" tanya Wren.
"Apakah adil jika seorang rakyat biasa seperti Red diperlakukan seperti ini?" tanya Ben.
Dia terlihat penuh semangat membahas hal ini.
"Habiskan makanan mu nanti kakak marah" kata Jun.
"Sejak kapan kau menjadi kakakku?" tanya Ben.
"Sejak saat ini" kata Jun.
__ADS_1
"Ayo kita habiskan makanan ini" kata Red.
Makan siang di istirahat kedua di kantin sekolah.
Setelah makan siang di kantin sekolah mereka berlima pergi ke lapangan basket menonton anak anak lain sedang bermain basket.
Mereka berlima menikmati pertandingan basket yang diadakan oleh adik kelas mereka saat ini.
Jun masih fokus menonton pertandingan itu.
"Kau disini?" tanya Jax.
Jun masih tak percaya kakaknya datang di sekolahnya.
Teman temannya juga masih bersama menonton pertandingan itu bersama anak anak yang lain.
"Kakak Jax. Ada apa kemari, apa kau mencari Jun?" tanya Red.
"Tidak" kata Jax.
Jun menunjukkan rasa curiga kepada kakaknya itu.
"Lalu. Tidak mungkin mencari ku kan?" tanya Red.
"Aku mencari mu. Ini kemarin tertinggal" kata Jax.
"Secara tidak langsung kau mengatakan dia milik mu" kata Jun.
"Siapa dia tiba tiba marah?" tanya kakaknya Jun.
"Dia sudah mulai lupa" kata Jun.
"Terimakasih buku jurnal nya" kata Red.
"Iya. Sama sama, ini juga untuk mu" kata Jax.
Dia membawa banyak makanan untuk Red.
Dan bukan hanya Jun yang mulai merasa ada hal yang mereka sedikit curigai di momen seperti ini.
"Apa kau tidak sibuk bekerja?" tanya Jun.
"Baiklah. Aku akan pergi. Adikku langsung cemburu soalnya" kata Jax.
"Hey. Kau mengusir kakak mu sendiri" kata Red.
"Anggap saja dia hanya bercanda" kata Jax.
"Dimana makanan untuk ku?" tanya Jun.
"Kau bisa beli sendiri" kata Jax.
Sima yang sedang bersama dengan Jimmy dari arah ruang guru berpapasan dengan Jax.
"Kita hiraukan saja mereka" kata Jun.
"Apa hubungannya Sima dengan Kakak mu?" tanya Marid.
Mereka berlima sedang menonton drama horor tragedi yang tak kunjung usai.
"Kau mau menghindari ku terus?" tanya Sima.
"Apa yang harus kita bicarakan?" tanya Jax balik.
Jimmy memberi kesempatan kepada pacarnya untuk bicara dengan orang yang baru ia lihat. Jimmy tak begitu terlihat cemburu atau merasa kehilangan disaat Sima bersama dengan Jax.
"Aku tidak akan kembali padamu" kata Sima.
"Aku memang bukan apa apa sejak dulu" kata Jax.
"Terlalu percaya diri" kata Sima.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Jax.
"Kau harus selalu mengejar ku" kata Sima.
Jax pergi dari sana tanpa melanjutkan pembicaraan ini.
Dimana Jimmy sekarang, dia sedang menggoda adik kelas yang tidak jauh dari Sima.
Sima datang dengan wajah penuh emosi.
"Kau sudah selesai?" tanya Jimmy.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sima.
"Aku sedang mengobrol dengan mereka. Kenapa?" tanya Jimmy.
"Kau sengaja melakukan ini?" tanya Sima.
"Iya. Aku sengaja" kata Jimmy.
"Oh ya. Jangan ganggu adik kelas kita. Jika kau tidak ingin putus dariku" kata Jimmy.
Jimmy pergi dari area lapangan basket dengan ekspresi biasa dan seperti biasanya. Menjengkelkan.
Good dan Bee datang kepada kelima temannya yang sedang menonton drama horor tragedi secara langsung.
"Apa kita terlambat?" tanya Bee.
"Kalian kemana saja. Drama sudah selesai" kata Marid.
"Dia memang remaja luar biasa" kata Bee.
"Awas kau mengejar bocah seperti dia" kata Ben.
Yang Ben maksud adalah Jimmy.
Good langsung pergi dari sana setelah mendengar percakapan terakhir ini.
"Kau tidak kembali!" kata Bee teriak kepada Good.
Good kembali berjalan mendekat kepada Bee.
"Berikan kami kedamaian Tuhan" kata Wren.
"Amin" kata Ben dan Marid.
Good datang di hadapan Bee.
"Kedamaian telah datang" kata Jun.
"Kenapa harus berteriak. Aku tidak berbuat jahat" kata Good.
"Karena aku suka melakukan itu" kata Bee.
Red mulai mengambil makanan dan jurnal miliknya yang diberikan oleh Jax tadi dan mencoba sembunyi sembunyi untuk pergi dari tempat itu.
Dan tanpa di duga mereka juga ikut bubar ketika Red mulai berdiri dari tempat ia duduk sebelumnya semua berlari meninggalkan Bee dan Good.
"Hei" kata Red.
__ADS_1
Hanya Red yang terakhir ada disana.