
Chapter 30: Aku ingat Wajah mu.
Jam istirahat pertama di tangga gedung sekolah.
Red melihat Jimmy dengan seorang gadis, dia adalah salah satu teman kelasnya wajahnya tidak begitu jelas karena terkena cahaya matahari yang masuk dari arah belakang kedua temannya itu. Tapi, Red tahu siapa gadis itu.
Keduanya sama sekali tidak merasa gentar atau aneh ataupun terkejut saat masuk kedalam tangga yang digunakan untuk naik ke roof top gedung kelas sekolah.
Red tak mau berurusan dengan masalah dan membuat masalah yang merepotkan. Dia langsung pergi setelah melihat mereka disana.
Red dengan inisiatifnya berbalik meninggalkan mereka dengan anggun menuruni anak tangga keluar dari tempat tersebut menuju pintu keluar dari tangga gedung menuju rooftop tersebut.
"Sulit. Tidak mudah untuk mengubah pandangan jalan pikir orang lain"
Jun melihat Red pergi perlahan menjauh dari kejaran.
"Dia sedang tak ingin berteman dengan ku"
Jun merasakan hal yang ia miliki pergi dengan mudah.
Red bukanlah milik Jun dan Jun bukanlah milik gadis itu. Keduanya, bisa pergi saling meninggalkan satu sama lain atau satu pihak harus menerima jika salah satu dari mereka tidak mau bertahan dalam sirkulasi kehidupan lingkungan yang sedang mereka jalani.
Atmosfer bumi ini terlihat menjadi sebuah pemandangan tak berwarna tetap berjalan semestinya namun seakan modifikasi hidup ini harus memaksa mereka berubah mencari jati diri karena mereka yakin mereka masih memiliki kesempatan untuk memilih mimpi mimpi mereka.
"Hari ini kita tak bisa berteman. Tapi, mungkin besok"
Red melihat ke arah luar dia sudah masuk kedalam bus untuk menuju tempat kerja.
Hari ini ia masih memiliki banyak waktu untuk meraih goal targetnya. Namun, waktu yang ia miliki seperti cepat sekali berlalu dan dia seperti dibuat atau tidak untuk tidak mudah mengerti dengan waktu.
Red melihat Jun dari dalam bus dia ada didepan gerbang sekolah saat ini bersama dengan Sima.
Berlalu bus membawa Red.
"Aku tidak perlu terlalu peduli dengan Jun. Dia juga seorang laki laki"
Satu orang wanita turun dari bus.
Red mendapatkan tempat untuk duduk didalam bus. Ia mengambilnya langsung duduk disana.
Bling juga mendapatkan kursi untuk dia duduk dua menit kemudian di kursi dibagian depan Red duduk tepatnya pada baris ke empat kursi didalam bus.
Bling menjadi terdiam, bingung apa yang harus ia lakukan kedepannya yang ia tahu semua yang telah terjadi saat ini akan mengubah rencananya untuk menjadi alasan ia belum kembali ke dunianya.
Di koridor sekolah.
Good berbicara sendiri saat perjalanan pulang keluar dari sekolah.
"Hidup didunia ini penuh resiko. Terlebih lagi bagi para pecinta keindahan, mereka harus lebih jelih dalam memilih"
"Apa kita akrab?" tanya Jimmy yang ada disisi kiri Good.
Good melihat ke arah Jimmy.
"Apa kita saling kenal. Ku rasa tidak?" tanya Good.
"Dasar anak Mama" Jimmy berbicara kepada Good.
"Iya. Ibuku sangat menyayangi ku. Kenapa, ada yang salah?" tanya Good santai berjalan mendahului Jimmy.
Good pergi.
Datang Sammy berjalan beriringan dengan Jimmy.
Sammy terlihat sedang bermain ponsel dan tanpa memperhatikan ada Jimmy di sebelahnya.
"Jika aku mau. Aku bisa mendapatkannya dengan mudah, mudah sekali menjadi temannya yang ku dapat"
Yang ia bicarakan adalah persahabatan antara dia dengan Jun selama ini.
"Setidaknya sampai saat ini, aku tidak berbuat jahat pada anak itu"
Sammy menambahkan lagi pendapatnya tentang Jun.
Sebuah pertanyaan muncul di kepala Jimmy.
"Kenapa seakan-akan mereka sedang menasehati ku?"
"Kau tidak ikut denganku?" tanya Jimmy pada Sammy.
"Tidak" jawab Sammy tanpa basa basi.
"Ibu mu masih ada dirumah sakit kan?" Jimmy kembali bertanya.
Sammy terus berjalan didepan Jimmy.
"Aku akan pergi kesana" Jimmy berkata ini.
Sammy berhenti belum melanjutkan menjauh dari Jimmy.
"Aku akan ikut denganmu" kata Sammy.
"Kau yakin?" tanya Jimmy.
"Aku kira kau masih sebal dengan ku" Jimmy menyambut Sammy.
Bodyguard Jimmy sudah menunggu Jimmy didepan gerbang sekolah.
Diluar mobil Dan sedang bersandar pada mobil dibelakangnya.
Fokusnya pada gadis yang berada disamping Jimmy saat ini berjalan beriringan tanpa ekspresi wajah dendam atau marah.
"Anggap saja aku salah lihat" Dan masih tidak percaya dengan situasi ini.
Bodyguard Jimmy dengan style manly kaus hitam dan jeans hitam dan jaket jeans hitam dan sepatu hitam tampil stylish dengan kaca mata hitam.
Dan berulangkali diminta foto dan nomor ponsel oleh beberapa gadis gadis yang berpapasan dengannya dan dia menolak dengan alasan dia sudah memiliki pacar.
Beberapa gadis terlihat sedih dan beberapa lagi biasa saja. Pergi kemudian dari Dan.
Dan membukakan pintu mobil untuk Sammy.
Sammy benar ikut bersama Jimmy pergi ke rumah sakit.
Kemudian, Jimmy juga masuk kedalam mobil.
Pintu sebelah kanan mobil ditutup lagi oleh Bodyguard Jimmy.
Dan masuk ke kursi mengemudi mesin dinyalakan mobil bergerak pergi sesuai permintaan Jimmy.
Dan kembali melihat kaca mobil yang mengarah ke belakang penumpang mobil.
"Kau sudah memperbaiki mobil ini?" tanya Jimmy.
"Kau balapan lagi?" tanya Bodyguard Jimmy.
"Apa urusannya dengan mu?" tanya Jimmy agak kesal.
"Tidak ada urusannya dengan ku" jawab Dan.
Sammy masih tenang dan patuh belum mau bicara banyak.
"Kita pergi ke supermarket sebentar. Aku ingin membeli sesuatu" Jimmy memberikan perintah kepada Dan.
"Kita akan pergi ke supermarket dekat rumah sakit" kata Dan memperjelas.
Perjalanan pergi ke supermarket kemudian ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya, Ge.
Di dalam supermarket.
Sammy ikut dengan Jimmy.
__ADS_1
Keduanya, masuk kedalam supermarket diikuti oleh Bodyguard Jimmy.
Sammy meraih tangan Jimmy.
Jimmy agak heran. Berhenti sejenak.
Bodyguard Jimmy berhenti saat Jimmy berbicara kepada Sammy.
Jimmy menunjukkan tangannya yang digenggam oleh Sammy.
"Ada apa. Kau tidak suka?" tanya Sammy.
Bodyguard Jimmy menyibukkan diri dengan tugasnya sebagai bodyguard.
"Bukan begitu. Biasanya kau akan marah jika aku melakukan hal ini" kata Jimmy.
"Aku akan melepaskan tanganku?" tanya Sammy.
"Tidak perlu. Ini tidak buruk" kata Jimmy.
Mereka berencana membeli buah-buahan dan makanan.
Bodyguard Jimmy menyimpan senyumnya.
"Terkadang mereka memang manis" Dan menanggapi kisah asmara kedua remaja tersebut.
Jimmy dan Sammy berkeliling di area penjualan buah buahan.
Dan memberi jarak kepada keduanya dan terus masih bekerja.
"Dan!" kata Flow mengagetkan Dan.
"Flow!" kata Dan kaget.
Flow dengan gaun velvet memberikan kesan lembut untuk wanita ini serta sepatu tali bohemian.
Flow menyapa Dan dengan akrab tanpa kesan canggung dia menggenggam jemari tangan Dan.
"Kita ketemu lagi" kata Flow.
"Hah?" tanya Dan.
"Hello Dan" kata Flow menyapa lagi.
"Oh. Kau sendiri disini?" tanya Dan.
"Iya. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini" kata Flow.
"Sebentar" kata Dan.
Dan membetulkan helai rambut Flow disekitar telinganya sebelah kiri.
"Sudah" kata Dan.
"Oh. Terimakasih" kata Flow.
Jimmy melihat ini saat ia mencari bodyguard nya.
"Aku pernah melihat wanita itu" Jimmy menebak.
"Sampai kapan dia memegang tanganku" Dan ingin melepas tangannya dari tangan Flow.
Jimmy mendengar panggilan dari Sammy.
"Sayang. Aku mau ini?"
Jimmy merasa bahwa Sammy lebih mencurigakan.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Aku menerima ini?" tanya Jimmy lagi.
Flow kemudian merapikan dokumen yang akan ia isi kembali dengan hasil survei hari ini di beberapa supermarket.
"Apa aku terlihat lebih fresh lagi?" tanya Flow.
"Always" kata Dan.
Dan memandang wajah Flow.
"Dia masih sama cantik seperti dulu saat di kedai ibuku" kata Dan dalam senyumnya saat menatap wanita ini.
Flow melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Aku pergi bekerja sebentar atau kau mau ikut denganku?" tanya Flow.
"Aku sedang bekerja. Aku akan melihat mu dari sini" Dan dalam posisi standby ditempat itu.
"Aku pergi" Flow pergi ke area buah buahan.
Ternyata Flow sudah menyelesaikan pekerjaan dan sedang menuju ke arah Sammy dan Jimmy.
"Sayang ku. Kenapa ada disini?" tanya Flow pada Sammy.
Sammy nampak dengan ketenangan saat didatangi oleh Flow.
"Aku bersama pacarku" jawab Flow.
"Pacar. Mulai kapan, Kakak tidak tahu?" tanya Flow.
Jimmy merasa akan dimarahi.
"Baru saja" Jawab Sammy.
Flow menatap tajam kepada Jimmy, lalu tersenyum kepada Jimmy.
"Siapa namamu?" tanya Flow.
"Jimmy. Kakak?" tanya Jimmy suaranya lebih sopan.
"Jimmy. Apa Jimmy yang itu?" tanya Flow melihat kearah Sammy.
"Dia tetap pacarku" jawab Sammy.
"Ok. Jimmy. Baiklah, kita bertemu di rumah sakit nanti" kata Flow pada Sammy.
Flow meninggalkan kedua remaja itu.
Dan pura pura tidak tahu kalau Flow kenal dengan Sammy.
Flow kembali lagi kepada Dan.
"Aku sudah selesai bekerja. Apa kau ada waktu luang?" tanya Flow.
"Aku sedang bekerja" kata Dan.
"Kau sedang bekerja ya. Menjadi bodyguard apa sulit?" tanya Flow.
"Tidak selalu. Aku seperti sedang menemani adikku bermain" Dan mengarahkan sorot matanya kepada Jimmy.
Flow mencoba menebak.
"Jangan bilang. Kau jadi bodyguard untuk Remaja laki laki itu?"
"Benar. Ini menyenangkan" Dan melihat Flow.
Saling menatap satu sama lain.
Kembali, ke arah Sammy dan Jimmy fokus mereka.
"Aku akan pergi ke kantor. Dah!" Flow terlihat malu-malu pada saat ini.
__ADS_1
Dan melambaikan tangannya kepada Flow.
"Dah"
Mereka berdua kembali dengan pekerjaan mereka masing masing.
"Mungkin, jika Ge sudah sembuh. Dia bisa bersaing dengan bodyguard ku. Jika tidak terlambat"
Jimmy berpikir demikian.
"Ayo kita pergi ke kasir" kata Sammy.
Bodyguard Jimmy sudah ada di kursi mengemudi mobil didepan supermarket menunggu Sammy dan Jimmy.
Tiga menit kemudian kedua remaja ini keluar dari supermarket tersebut.
Jimmy membukakan pintu mobil sebelah kiri untuk Sammy.
"Aku tahu kamu memang baik" kata Sammy.
Dan geleng-geleng kepala mendengar kalimat yang diberikan oleh Sammy.
Jimmy masuk kedalam mobil.
Perjalanan menuju rumah sakit.
Sammy mencari dan mengambil sesuatu dari tas kuning ransel kotaknya.
Kedua tangannya menyentuh dahi Jimmy.
"Ini pasti masih sakit. Perban mu harus diganti" kata Sammy.
"Aku terbiasa" kata Jimmy.
"Tapi, ini harus diganti" kata Sammy.
Gadis ini melepas perban di dahi Jimmy.
Sammy membuka bungkus perban lalu kemudian menempelkan perban itu pada dahi Jimmy.
"Sudah" kata Sammy.
Wajah Jimmy memerah.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Sammy akan menyentuh pipinya.
Jimmy menghindar.
Sammy berusaha memeriksa wajah Jimmy.
Jimmy mulai terlihat gugup.
Dan sedang berpura pura batuk.
Kedua remaja ini lalu duduk dibelakang Dan sambil melihat ke arah luar jendela mobil.
Perjalanan kerumah sakit tiga menit lagi.
Di rumah sakit.
"Kamu mau kemana?" tanya Ayah Ben.
"Aku akan mengantar ini kepada temanku" Ben dengan bunga mawar kuning.
Satu keranjang buah ia bawa juga.
Ada Bee juga disana yang sedang menjaga Neneknya.
"Aku takkan lama. Jadi, aku sendiri saja" kata Ben.
Keempat bodyguard Ben ada diluar ruang rawat Neneknya Bee.
Jimmy mulai membuka pintu kamar rawat seorang pasien wanita yang seusia hampir sama dengan ibunya.
Dia memberikan bunga mawar kuning itu dan makanan kepada suami dari seorang ibu yang baru meminum obat dan tertidur.
Suami dari ibu itu menyambut Ben dengan hangat.
"Maaf Paman. Saya baru menjenguk Bibi lagi" kata Ben.
"Waktu menjenguk mu lebih banyak dari tidak" Paman ini nampak menerima kunjungan Ben.
Ben ada disana sekitar lima belas menit dan meminta izin untuk pergi.
Pintu kamar ia buka, ia melangkah keluar dari pintu kemudian menutupnya lagi.
Ben sedang menuju ruang rawat Neneknya Bee.
Dia berpapasan dengan seseorang dan orang itu sama sekali tak menatap Ben padahal dia tepat di depannya.
Ben berhenti ingin menyapa tapi ia membatalkannya. Ia tersenyum dan kembali ke tempat tujuan sebelumnya.
Saat Jimmy melihat Ben dari arah depannya mendekat berjalan berlawanan arah.
"Ada apa Ben keluar dari ruang rawat ibunya Sammy?" Sebuah pertanyaan muncul di pikiran Jimmy.
Hingga akhirnya mereka saling berpapasan satu sama lain.
"Sammy tak mempedulikan adanya Ben disana" Jimmy merasa ada yang aneh.
"Benarkah. Dia Sammy, dia bahkan tak seperti ini dulu" kata Jimmy lagi.
Isi pikiran Jimmy penuh banyak pertanyaan sejak Sammy mulai mendekat padanya lagi sepulang sekolah tadi.
Ben berpapasan dengan Bodyguard Jimmy.
"Untuk apa aku peduli. Kita juga sudah putus" Ben berjalan pergi dari mereka. Berbicara dalam hati.
Dua menit berlalu keduanya didalam Sammy terus memperhatikan Ge.
Jimmy sedang mencari jawaban yang tepat dengan situasi ini.
Ge berusaha berbicara dengan Jimmy.
"Kau tidak di hajar gadis ini lagi?" Bisik Ge.
"Aku juga merasa ini juga aneh" Jawab Jimmy.
"Dia terlihat lucu saat seperti itu" kata Ge.
"Itu alasan ku menyukai Sammy" Jimmy berkata ini.
Ponselnya menerima panggilan dari seseorang.
Jimmy kemudian pergi keluar sebentar dari ruangan Ge.
Sammy menatap terus Ge.
"Aku sedang dirumah sakit. Kau sudah pulang?" tanya Jimmy.
"Kau masih bersama dengan dia?" tanya Jimmy.
"Kita hanya bermain-main kita sudah sepakat. Jadi, kau tahu cerita selanjutnya" kata Jimmy.
Dan mendengar hal ini seperti hari hari biasa dan ia tak heran dengan hal ini. Dia hanya bertugas menjadi bodyguard Jimmy.
Didalam ruangan, Ge sedang di cekik oleh Sammy sejak Jimmy keluar dari ruang rawat Ge.
Jimmy belum kembali.
Ge sedang ditunggu oleh malaikat pencabut nyawa yang datang berkunjung lagi.
__ADS_1
Ge melihat wajah Sammy bukanlah wajah Sammy. Tapi, wajah orang lain dan ia mengingat wajah itu lagi.