Ghost Partner

Ghost Partner
Chapter 116: Listen Me


__ADS_3

Chapter 116: Listen Me.


 Pukul delapan malam.


 Bus berhenti didepan rumah sakit. Remaja laki laki itu memberikan salam perpisahan kepada gadis yang baru saja turun dari bus bersama dua perempuan dewasa dan satu anak kecil. Dia terus melihat Red yang sudah turun dari dalam bus sedangkan untuk Ben masih harus melakukan perjalanan beberapa menit lagi untuk sampai didepan rumah.


 Ben melihat ke arah Red.


 Gadis itu sedang menyeberang di tempat penyeberangan didepan rumah sakit bersama dengan banyak orang disana.


 Dia mendapatkan tempat duduk tepat didepan hantu wanita yang sedari tadi ada disana yang ia lihat dan Red lihat belum juga pergi.


 Bersandar ditempat kursi.


 Hantu wanita itu terus menatap suram kepada Ben.


 Angin masuk kedalam kaca jendela bus.


 Ben merapikan jaketnya lagi menyilangkan kedua tangan ke bagian perut.


 Sepuluh menit berlalu Ben beranjak berdiri pergi meninggalkan kursi bus berjalan maju kedepan mengarah dekat pintu depan bus.


 Bus berhenti dan pintu bus terbuka, Ben turun dari bus.


 Baru datang didepan tempat gym.


 Sebuah mobil berhenti disisi kanan Ben yang sedang berjalan disisi kiri jalan menuju tempat gym kaca jendela mobil terbuka dan Ben sudah tahu mobil siapa serta siapa yang sedang memanggilnya.


"Ayah langsung pulang?" tanya Ben.


"Ya" kata Ayahnya Ben.


"Terus ada apa?" tanya Ben.


"Ini. Kamu ambil baju Ayah ditempat laundry" kata Ayahnya Ben.


"Kenapa harus aku. Ada asisten Ayah yang lain?" tanya Ben.


"Ayah maunya kamu yang mengambil" kata Ayahnya Ben.


 Ben menerima kertas untuk pengambilan baju Ayahnya yang ada di toko laundry.


 Bodyguard Ayahnya yang juga sedang menyetir dan juga di kursi depan sebelah kiri agaknya senyum senyum melihat hal ini.


 Ben masih dengan masker dan tas selempang hitam yang ia pakai.


"Sepertinya aku bukan anaknya" kata Ben.


 Ben pergi berjalan menuju toko laundry yang berjarak sekitar sepuluh menit jika dia berjalan kaki.


 Agak jauh tapi ia memilih untuk berjalan kaki.


 Bunyi pesan datang di ponsel Ben.


 Ben mengambil ponsel di saku celana kemudian membuka pesan dan membacanya.


"Ibu sudah mengirimkan makanan ke tempat gym" kata Ibunya Ben.


"Harus dimakan!!!!!!" 


 Pesan dari ibunya Ben.


"Ya" balas Ben langsung.


 Baru saja Ben akan masuk ke toko makanan yang ada di dekat toko laundry. Dia berbalik arah meneruskan untuk pergi mengambil baju milik Ayahnya.


 Tiba didepan toko laundry masuk kedalam toko.


 Memberikan kertas bukti pengambilan pakaian milik Ayahnya Ben.


 Penjaga itu menerima kertas bukti tersebut dari tangan Ben kemudian membacanya.


 Dia melihat ke arah Ben.


 Sepertinya mengingat lagi


"Bang Ben yang artis itu kan?" tanya penjaga toko laundry.


"Artis yang mana?" tanya Ben.


"Yang itu di iklan. Saya punya posternya" kata penjaga toko.


 Penjaga toko langsung bawa gambar Ben dari di dinding toko.


"Sudah lama sekali nggak kemari" kata penjaga toko.


 Ben membuka masker dan ternyata benar yang penjaga toko laundry tersebut tebak. Itu memang Ben.


"Sekalian minta foto bareng boleh?" tanya penjaga toko.


"Boleh" kata Ben.


"Teman teman disini ada Ben artis baru itu!"  teriak penjaga toko laundry.


 Semua orang orang yang bekerja didalam toko dan pengunjung lain yang sedang ada disana ikut foto bersama berebut dengan yang lain ingin berfoto dengan Ben.


"Cekrek!"


"Cekrek!"


"Cekrek!"


 Mereka berfoto bergantian dengan yang lain berfoto dengan Ben.


 Sesi temu fans terjadi ditempat itu.


 Marid ada disana melihat sudah dari dua menit yang lalu menunggu Si Penjaga toko ini selesai berfoto dengan Ben.


"Apa aku juga harus berfoto dengan anak itu?" tanya Marid.


 Marid menaruh baju kotornya diatas meja panjang penerimaan baju yang akan di laundry.


"Permisi" kata Marid.


"Permisi" kata Marid lagi.


 Mode galak muncul.


"Permisi!" kata Marid.


 Orang orang yang ada disana terdiam melihat ke arah Marid lalu segera penjaga toko laundry menghampiri Marid dengan cepat.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita penjaga toko yang tadi pertama berbicara dengan Ben.


"Saya mau laundry ini" kata Marid.


"Baik Tuan. Saya akan timbang terlebih dahulu" kata penjaga toko laundry.


 Marid mendapat kertas putih bukti pengambilan baju dan dia duduk sebentar disana di kursi untuk para pengunjung toko menelepon seseorang. 


 Ben masih melanjutkan sesi temu fans.


 Mata Ben berkedip setelah selesai menandatangani sebuah kertas terakhir dari fans.


 Memberikan kertas itu kepada fans yang meminta tanda tangan. 


 Menghampiri Marid.


 Marid selesai dengan membalas pesan kepada seseorang.


"Sudah selesai" kata Marid.

__ADS_1


"Kau menunggu?" tanya Ben.


"Ya. Sekalian aku mau menginap dirumah mu" kata Marid.


 Mereka berjalan santai menuju kerumah Ben. 


 Berjalan santai. 


 Ben melihat ke arah belakang dan tampak biasa biasa saja tak ada yang aneh dengan jalanan yang ramai dengan kendaraan kendaraan transportasi yang lewat di jalan sebelah kiri Ben sedangkan untuk Marid, dia ada disebelah kanannya berjalan beriringan.


 Melewati beberapa toko masih aman aman saja.


"Apa hanya ini perasaan ku saja?" tanya Ben.


"Ada apa?" tanya Marid. 


 Marid menengok ke arah Ben.


"Tidak" kata Ben.


 Marid kembali melihat ke arah depan arah yang mereka tuju sekarang.


 Kakinya berhenti melangkah.


 Semua yang ia lihat seperti berada disebuah hutan berkabut malam.


"Apa aku terlalu banyak menonton film horor?" tanya Marid.


"Sekarang ada apa lagi?" tanya Ben.


 Keadaan kembali seperti sebelumnya.


 Marid terkaget.


"Oh. Aku baik baik saja" kata Marid.


 Berjalan menuju arah rumah Ben masih berlanjut dengan santai.


 Ben mendengar suara langkah kaki.


"Krakkk" 


"Krakk"


"Krakkk"


 Langkah kaki seperti sedang menginjak dedaunan dan ranting pohon kering. 


 Ben mendengar suara tersebut dengan ragu.


"Mungkin suara disini sedang ramai dengan kendaraan" kata Ben.


 Dia fokus lagi dengan kemana arah dia akan pergi.


 Marid terhenti lagi dalam langkah kaki berjalan.


 Dia melihat lagi gambaran hutan belantara di depannya saat ini.


"Apa kau bukan Ben?" tanya Marid.


"Lalu kau apa?" tanya Ben.


"Coba perhatikan sekitar kita" kata Marid.


 Ben menurut saja dengan apa yang diperintahkan oleh Marid. Dia memperhatikan apa yang ada disekitar mereka.


"Cepat kita pulang disini mulai macet" kata Ben.


 Dunia yang Marid lihat tadi menghilang berubah kembali dengan dunia yang ada di pandangan mata Ben.


"Ayo cepat pulang" kata Marid.


"Arrrggghh!" kata Marid.


 Tubuhnya seperti baru saja tertabrak sesuatu.


"Kau sedang bercanda lagi" kata Ben.


 Marid melihat siapa yang baru saja melihatnya ke arah belakang tapi tak ada seorang pun yang ia lihat yang ia lihat orang orang berjalan sesuai arah kemana mereka pergi mengikuti jalan setapak terbuat dari batako abu abu di pinggir jalan untuk pejalan kaki.


 Ben melihat ke arah Marid.


"Ini aneh. Kenapa seperti sesuatu telah terjadi" kata Ben.


"Lalu itu apa?" tanya Ben.


 Dia membaca situasi ini dan melihat bahwa hal seperti ini membuatnya penasaran.


 Suara langkah kaki itu terdengar lagi. Ben terdiam mengikuti Marid.


"Krakk!"


"Krakk"


"Krakk"


"Krakk"


 Suara langkah itu makin cepat.


"Krakk krakk krakk krakk krakk krakk krakk"


 Suara langkah kaki itu berhenti.


 Kedua remaja laki laki ini saling melihat sekeliling mereka memeriksa apakah yang telah mereka dengar bukanlah hal yang aneh.


  Seperti dalam satu kedipan mata semua telah berubah.


 Kabut asap terlihat di mata mereka melihat diantara pepohonan tinggi di waktu yang juga malam.


 Marid melihat Ben.


"Kau bukan Ben kan?" tanya Marid.


"Aku tidak ingin berkelahi" kata Ben.


"Oh ya. Kau memang benar Ben" kata Marid.


 Melihat waktu di jam tangan.


 Jarum jam berhenti berputar terlihat dari dalam jam tangan Marid ditangan sebelah kanan.


"Mati. Coba Kau lihat pukul berapa sekarang?" tanya Marid.


 Ben melihat jarum jam di jam tangan miliknya lalu sama halnya seperti apa yang sedang dilakukan oleh Marid. Mereka berdua melihat waktu di layar ponsel mereka masing masing.


"Mati" kata Ben.


"Kenapa?" tanya Marid.


 Berjalan menjadi lebih kompak mereka ada disebuah tempat yang tidak mereka ketahui yang jelas mereka sedang berada didalam hutan.


 Suara malam hutan hening dan ranting ranting berjatuhan bersamaan dengan dedaunan pepohonan disekitar hutan.


"Krakk" 


"Krakk"


"Krakk"


 Langkah kaki terdengar lagi.

__ADS_1


"Kau mendengar itu?" tanya Ben.  


"Ku kira hanya aku yang mendengarnya" kata Marid.


"Ayo kita cari jalan keluar hutan ini" kata Ben.


"Bisakah kita berpikir jernih. Kenapa kita ada disini?" tanya Marid.


"Bisakah kau gunakan teleportasi?" tanya Ben.


"Didunia ini. Aku tidak percaya" kata Marid.


 Kabut putih berubah menghitam disekitar mereka melihat diatas pepohonan hutan. Di hutan yang sama juga terdengar lagi suara itu.


 Suara kaki sedang berlari pelan.


"Krakk krakk krakk krakk krakk krakk"


 Kemudian lebih cepat lagi.


"Krakk krakk krakk krakk krakk krakk krakk krakk krakk"


 Suara itu berhenti.


 Kedua remaja ini masih bisa mendengar suara langkah kaki di hutan yang mereka datangi. Takut juga was was sudah pasti mereka rasakan.


 Mencari arah kemana mereka bisa menyelamatkan diri.


"Aku ingat sesuatu" kata Marid.


 Dia mengambil sesuatu yang ada didalam tas ransel hitam yang ia pakai.


"Kau selalu bawa itu" kata Ben.


 Marid mengambil kompas yang selalu ia bawa kemanapun pergi.


"Untuk berjaga jaga" kata Marid.


 Mereka berteman sejak sekolah dasar dan ini adalah salah satu kebiasaan dari Marid yang Ben sudah tahu sejak kecil.


 Kompas itu di jalankan dan masih bisa berfungsi.


"Kita pergi kearah mana?" tanya Marid.


"Kau saja yang putuskan biasanya kau pembawa keberuntungan" kata Marid.


"Jika terjadi sesuatu jangan salahkan aku" kata Ben.


"Kau pasti disalahkan" kata Marid.


"Baiklah. Kita ke arah Utara" kata Marid.


 Pergi ke arah utara sesuai arah jarum kompas antik cokelat yang berukuran seperempat telapak tangan Marid.


 Suasana kembali sunyi dalam suara hutan yang dingin juga berkabut.


 Terlihat kedua pasang kaki seorang wanita bersetelan baju dan rok merah berbahan sifon tak memakai alas kaki. 


 Dia sedang bersembunyi dibalik salah satu pohon.


"Hah hah hah hah hah" 


 Suara napas terdengar dari dirinya.


 Dia dalam mode tidak terlihat bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.


 Makhluk berkabut hitam gelap datang mendekat ke arah wanita itu tepat di depannya.


 Mulutnya ia bungkam dengan kedua tangannya sendiri.


 Makhluk itu masih disana mencari keberadaan wanita yang sebenarnya ada di depannya sendiri tapi ia tidak bisa melihatnya.


 Kabut hitam itu pergi menjauh terbang menjauh satu meter dua meter dan makin jauh dari wanita ini.


 Wanita ini mulai sedikit lega karena makhluk itu makin menjauh.


 Jemari kuku yang terkena tanah dan darah akibat goresan luka yang ia dapat selama ini terlihat dalam kulit pucat ia mulai berlari menjauh dari makhluk itu yang belum mengejar lagi. 


 Berlari dan terus berlari.


 Berhenti sejenak dan dia juga memberi goresan tanda di sebuah pohon lagi menggunakan bebatuan yang runcing yang ia temukan tadi dan ia bawa kedalam saku roknya bagian kanan.


 Kemudian, dia segera berlari lagi dari pohon yang baru saja ia tandai itu.


  Kabut hitam itu terlihat kembali mengejar wanita itu.


 Wanita itu merasakan kedatangan dari makhluk itu dan segera pergi berlari sekencang kencangnya menyelamatkan diri lagi.


"Krakk"


"Krakk"


"Krakk"


"Krakk"


 Suara itu kembali terdengar sangat jelas tapi kian menghilang terdengar oleh Ben.


 Marid masih fokus dengan kompas yang ada ditangan sedangkan Ben mendengar suara langkah kaki itu lagi.


"Kau mendengar suara langkah kaki lagi?" tanya Ben.


"Tidak. Kau mendengar itu lagi?" tanya Marid.


"Ya" kata Ben.


 Flow dan Uri terus berlari sebisa mungkin dari kejaran makhluk itu lagi dan lagi.


 Keringat di wajah bercucuran dan tangannya juga mengalami hal yang sama dalam napas yang jelas terengah engah dengan rasa takut dari kejaran makhluk yang tidak ia ketahui siapa makhluk itu yang tiba tiba saja mengejarnya tanpa ampun.


"Bruggggg!"


 Dia terjatuh akibat tersandung akar kayu besar yang ada di depannya lalu dia tak punya waktu lagi untuk bisa mengeluh dia langsung berdiri lagi dengan kaki yang jelas sakit akibat terjatuh tadi. Dia kembali berlari.


 Lututnya terluka darah mengalir dari lutut sebelah kanan dan dia bahkan sudah tidak peduli yang ia pikirkan adalah bagaiman bisa lari dari kejaran makhluk itu.


 Marid berhenti disebuah pohon yang terbelah menjadi dua.


"Ini seperti baru beberapa menit yang lalu terbelah" kata Marid.


 Ben akan menyentuh pohon yang sudah terbelah menjadi dua tersebut.


"Jangan!" kata Marid.


"Kenapa?" tanya Ben.


 Marid menyalakan senter yang ia ambil dari dalam tas ransel.


 Ada sebuah cairan hitam seperti bercampur darah ada disana terdapat dalam bekas potongan kayu yang terbelah menjadi dua dalam batang kayu yang terlihat putih kekuningan dibagian batang pohon.


 Lima menit sebelum mereka datang di hutan. Flow dan Uri belum dalam mode menghilang.


 Flow dan Uri ada dibalik sebuah pohon besar sembunyi dari makhluk yang tidak tahu darimana asalnya.


 Mengejar keduanya yang juga tiba tiba ada disana.


 Sebuah kilatan kabut gelap itu datang menyerang keduanya menembus pohon itu tempat mereka bersembunyi.


"Krekkkkkkkkkkkkk!"


 Dua meter jarak pohon itu terbelah dua langsung oleh makhluk itu didepan Flow dan Uri.

__ADS_1


__ADS_2